
Sekembalinya Nadia dari masa tempo dulu ia berusaha mengedipkan matanya menyesuaikan pandangannya ia meraba kasurnya untuk mencari ponselnya saat menyala ia melihat jam dinding di depannya menunjukan pukul 5 pagi sontak ia bangun untuk berwudhu setelahnya melaksanakan solat subuh.
Nadia tak habis pikir dengan hidupnya yang ia dengar dari bibinya ibu atau bisa disebut neneknya menceritakan jika ia pernah terus-menerus menangis sewaktu kecil karena ditinggal ayahnya waktu dinas di aceh tahun 2003 saat itu karena terus-menerus menangis ia sampai tak ingin makan apalagi minum jadi seluruh keluarga berunding untuk membawa Nadia ke pak haji yang terkenal bisa meruqyah. Nadia yang belum genap berumur 2 tahun jadi lupa oleh ayahnya dan menjalankan kehidupan dengan normal.
Tetapi setelah ayahnya kembali dari aceh Nadia malah takut dan pergi ke pelukan neneknya karena takut jadi saat itu besoknya ia di bawa ke pak haji untuk di ruqyah dan menjadi ingat kembali dengan sang ayah. Mungkin saja di saat itulah hal yang berupa magic atau gaib datang menerpa dirinya.
Setelah selesai solat Nadia menulis diary untuknya ia membuka kunci buku hariannya lalu menceritakan semua keluh kesahnya.
__ADS_1
Diary, Nadia
Keluh kesahku hari ini jika aku sulit untuk menetukan pilihanku. Tuhan tolonglah aku kemana sebenarnya arah tujuanku. Aku tak mau menjadi egois dengan memikirkan diriku sendiri, ingin sekali rasanya hidup di masa saat bersama Hanson tapi bagaimana dengan ibu dan adikku serta seluruh keluargaku jika aku tinggalkan sendiri.
Gadis tersebut memutuskan turun ke lantai bawah untuk merebus air hangat d an membuat teh tanpa gula. Saat Nadia menaiki anak tangga sambil membawa air teh menuju kamarnya ia melihat Hanson berdiri di tengah tangga Nadia yang keheranan malah mendekati Hanson kakinya tak menapak tampak melayang.
“Han-son.” Ucap Nadia dengan hati-hati. Nadia bisa melihat Hanson diam saja tanpa ekspresi pagi ini ia memakai celana hitam dan kemeja pendek berompi hitam, “kamu...baik.” Kata Nadia sambil menatap wajah pucat Hanson yang datar. “Nadia!!” ibunya berujar membuat Nadia hampir saja menjatuhkan gelasnya.
__ADS_1
“I-bu.” Nadia tergugup sambil menelan salivanya, “kamu ngomong ama siapa?!” suara bariton sang ibu sukses membuat Nadia mengucurkan keringat dingin. Nadia mengelengkan kepala karena tak ingin mendengar kicauan dari ibunya ia memilih ke kamar menyetel music dengan headset dan tanpa menghiraukan ibunya terus bersuara Nadia buru-buru ke kamar menutup pintu lalu menguncinya.
Ia mengambil ponselnya lalu menyetel music dengan headset sambil melihat jendela kamar meperlihatkan matahari terbit sembari meminum teh, saat menyesap teh ia memainkan ponselnya dan di sambut beberapa pesan lewat whatsaap dari grup ospek sekolah SMA dan pesan dari sarah.
“Ngapain sarah ngechat gua.” Batin Nadia dalam hati. Nadia mengechek pesan dari sarah lalu membuka pesan dari grup ospek ternyata pemberitahuan hari jum’at ia harus ke puncak untuk melakukan ospek.
Dia menyesap tehnya lagi lalu merebahkan diri di atas ranjangnya, ia menoleh ke samping ternyata Hanson dalam wujud hantu belanda juga ikut membaringkan diri di sebelahnya lalu mengambil tangan milik Nadia bibirnya Hanson yang pucat tersenyum.
Nadia bisa merasakan tangan yang dingin sedingin es saat di gengam oleh Hantu belanda ini, secara tak terduga Hanson mengecup punggung tangan milik Nadia. Sinar mentari pagi masuk melalui celah jendela seolah menyinari cinta mereka berdua sepasang kekasih yang berbeda dimensi dan waktu.
__ADS_1