
Mereka tersadar saat matahari sudah bersinar.
“Eh bangun udah pagi!” Seru Putri membangunkan Teman-temannya.
“Sumpah demi apa kita dimana?” tanya Bella.
“Yaudah ayok kita cari tahu.” Ajak Bella.
Mereka berjalan dan sampai mereka memperhatikan orang-orang atau penduduk desa memakai pakaian jaman dulu tetapi yang mereka tak tahu siapa orang-orang ini.
Nadia tahu karena ia bisa lihat tanpa harus menerawang, mereka itu siluman yang tentu dari tatapan mereka melihat ke Nadia.
“Eh kok mereka pake baju begini sih, kaya jaman kerajaan dulu aja.” Celetuk Vella.
“Sama feeling gua juga gitu.” Nadia berujar sambil berjalan. Saat mereka berjalan dan ingin bertanya pada orang yang lewat. Ada para prajurit dengan membawa pedang dan tombak mengepung mereka.
“Bawa mereka semua ke istana!!” Perintah seorang wanita dengan menungangi kuda memakai pakaian keraton serta rambutnya tersanggul juga ada emas yang menghiasi rambutnya.
“Baik Ratu!” Patuh para prajurit.
“Eh apa-apaan nih, eh lepasin!!” Rupanya Vella berontak juga Putri dan Bella, sedangkan Nadia hanya diam dan tahu apa yang selanjutnya akan terjadi, mereka semua menghadap ke singasana emas dan di duduki Ratu.
Nadia mentap tak suka lantaran ia juga sudah lihat wujud mereka semua seperti apa, teman-temannya pada heran melihat perut Nadia sedikit membuncit seperti orang hamil Vella yang super ingin tahu ingin bertanya tetapi diurungkan karena takut.
“Nadia van buthjer... menantu mayor jendral.” Ujar sang ratu dari singasana.
Para gadis berbaju ospek tersebut terduduk di lantai sedangkan dibangku-bangku berjejer yang dikanan-kirinya duduk para patih kerajaan.
“Apa yang anda inginkan?” tanya Nadia berani bertanya membuat ketiga temannya membulatkan mata menatap Nadia yang berani, sang ratu hanya tertawa melihat Nadia dengan ejekan.
“Kamu akan lihat apa yang akan aku lakukan padamu dan juga calon bayimu.” Ucap Ratunya.
“Pengawal!” Jeda. “Bawa mereka semua ke ruangan yang sudah aku siapkan.” Ujarnya. Gadis-gadis tersebut berontak dan mereka di hempas dengan kasar oleh para pengawal.
Tapi seseorang mengintip memberikan isyarat pada Nadia bahwa semua akan baik-baik saja, ‘apa dia yang dimaksud Papa? orang dalam yang menjual informasi?” batin Nadia. Vella, Putri, Bella, dan Nadia saling berpelukan sambil menangis.
Mayor jendral willem.
“Apa!! mantu ik di tahan oleh kadipaten Anggalarang!!” ucap marah mayor jendral. “Apa yang harus saya lakukan jendral?” Tanya senopati Wisena, “jaga mantu ik dengan kawannya dan jangan biarkan ia makan apapun di sana.” Perintah Willem.
“Baik jendral.” Ucap Senopati Wisena. “Dan ik akan hancur leburkan kadipaten itu, dari tiga hari ik akan kumpulkan senjata dan pasukan, tugas untuk je buat mereka biasa saja.” Perintah Willem.
“Baik jendral.” Patuh Senopati Wisena untuk kembali ke kerajaan. “Wat is er, Willem?” tanya Baron seorang pejabat Belanda ayahnya Hellen teman dekat Hanson.
“Mijn schoondochter, Nadia. Werd gevangengenomen. Als gijzelaar ze willen vrijheid. Ik ben bang dat mijn toekomstige kleinzoon en schoondochter in gevaar zijn, Baron!” Jelas Willem tentu Baron juga panik bukan main.
“Rustig aan, Willem!” Baron berusaha menenangkan Willem. “Apa Nadia dalam bahaya!!” ucap Hellen yang menguping pembicaraan keduanya dari balik tembok.
“Sumpah gua takut kagak bisa balik.” Ucap Bella sambil menangis.
“Seharusnya gua dengerin lu, Nad.” Ucap Putri.
“Tapi lu pada tahu kan mereka semua bukan manusia tapi siluman?” tanya Nadia.
Tapi teman-temannya hanya menganggukan kepala sebagai jawaban, “udah jangan terpuruk pasti ada jalan keluar kok.” Kata Nadia menenangkan teman-temannya.
“ppsssttt....” Nadia menoleh ke arah jendela memperlihatkan seseorang pribumi tetapi memakai pakaian elit ala keraton menyuruh Nadia mendekat.
“Lu pada disini aja gua kesana dulu.” Ujar Nadia.
__ADS_1
“Mau ngapain, lu?” tanya Putri, “udah pokonya tunggu sini aja.” Ujar Nadia.
Mereka semua mengangguk. Nadia berjalan mendekati jendela untuk menghampiri orang yang ia tebak memihak belanda.
“Ada apa? siapa kamu?” tanya Nadia.
Laki-laki itu mencium punggung tangan Nadia yang membuat heran teman-temannya.
“Nyai saya senopati disini,” ujarnya.
“Apa!! tapi... apa yang kamu inginkan?” tanya Nadia dengan marah.
“Tenang saja aku sudah mengabari mayor jendral tentang keberadaanmu.” Jelasnya.
“APA!!” teriakan Nadia membuat seluruh prajurit kerajaan mendekat dan melihat ke arah keduanya. Senopati itu dengan cepat mendorong tubuh Nadia.
“Jangan coba kabur!!” setelah itu senopati tersebut menutup jendela.
“Nad lu gimana ceritanya bisa hamil?” tanya Vella heran. Nadia tersenyum dan mengatakan.
“Nanti lu pada bakal tahu, gua bingung harus cerita darimana?” ucap Nadia.
“Yaudah kita istirahat aja, nanti ada kok yang nyelametin kita.” Lanjut Nadia.
“Kita gak mau tidur sebelum lu cerita semuanya ama kita.” Ujar Vella yang di setujui oleh keduannya.
“Gua...hamil anak hantu Belanda...” Ujar Nadia.
“What!!” ketiganya terkaget bukan main tatkala mendengar penuturan Nadia.
“Dan... karena lu!! Kita jadi kejebak di alam gaib!!” Ujar Bella yang tiba-tiba marah karena sudah lelah dan takut.
“Kok lu jadi nyalahin gua!!!” Nadia juga berusaha tak mau disalahkan.
“Cukup!!” Putri menengahi keduanya.
“Gua mau nawarin diri buka mata batin lu bertiga biar lu pada bisa liat wujud asli mereka!! siapa yang mau?!” tawar Nadia pada ketiga temannya.
“Gua.” Vella rupanya menjawab lebih dulu karena ia super ingin tahu.
“Gua kagak, lebih baik gak tahu sama sekali daripada takut.” Ucap Bella sambil memeluk lututnya dengan kedua tangan, “lu Put, mau kagak?” tawar Nadia kepada Putri
. “Gua...” Akhirnya dijawab anggukan kepala oleh Putri.
“Oke, abis kalian keluar melewati gerbang gaib, kemampuan indigo lu berdua bakal ilang.” Nadia segera membuka mata batin kedua temannya membuat mereka langsung bisa melihat wujud asli para prajurit yang berlalu Lalang dari jendela ruangan.
“Dih...Nad. wujudnya kok gitu?” ujar Vella.
“Ssssttt bisa mingkem gak sih conggor lu.” Ucap Nadia sambil menaruh jari telunjuknya di bibir.
“Apa yang lu liat?” tanya Nadia dengan suara berbisik.
“Gua liat kok mulutnya nyatu gitu.” Ujar Vella.
“Emang iya mereka kan kaya sejenis...” Belum sempat Nadia menyelesaikan kalimatnnya tiga orang prajurit masuk ke dalam dengan mulut bagian atas yang menyatu seperti biawak dan buaya.
Nadia, Putri, Vella, juga Bella langsung berdiri dengan was-was.
“Kamu! Nadia ikut kami.” Tunjuk prajurit itu pada Nadia dan segera mencengram masing-masing tangan Nadia.
“Nadia!!” ujar Putri, Vella, maupun Bella yang berusaha mengejar tetapi di hentikan dengan kekuatan yang di keluarkan oleh salah satu prajurit yang membuat tiga gadis itu jatuh terjungkal.
“Bella! Putri! gimana nih, Nadia.” Ucap Vella panik.
__ADS_1
“Gua juga bingung, anjir.” Ucap Putri dengan panik sambil menahan rasa sakit karena baru terjungkal. Di perkemahan mereka semua pada panik mencari keberadaan Vella, Putri, Nadia, dan Bella yang menghilang entah kemana, menurut warga sekitar mereka diambil oleh penunggu kerajaan gaib.
...⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─...
“Pak gimana nih? anak murid kita yang hilang.” Ucap protes kepala sekolah SMA Garuda Bangsa.
“Tenang Pak, kami akan usahakan untuk membantu cari anak murid Bapak.” Kata Polisi.
“Ya ampun Bella...hiks...hiks.” Seorang wanita dengan rambut ikal diwarnain merah dan memakai baju gaun modern sambil membawa tas clutch merek channel.
Nadia masuk saat para prajurit menyuruhnya masuk ke ruangan dengan di dorong kasar yang sudah ada seorang perempuan dengan memakai kemban untuk menutupi tubuh bagian atasnya dan rok batik berwarna emas, dan di kepalanya ada mahkota emas bertengger dengan indah.
“Nadia van buthjer...” Jeda. “Kalian bisa tinggal kami.” Ucap wanita beraroma melati di depannya.
“Baik kanjeng...” Patuh para prajurit itu keluar ruangan dalam wujud buaya. Setelah di tinggal prajurit wanita itu mendekat tetapi Nadia melangkah mundur berusaha menghindar karena ia tahu kalo wanita ini bukan manusia.
“Aku sudah menunggumu...” Ucapnya sambil berjalan mendekat tetapi Nadia melangkah pelan sambil menghindar tak lupa ia selalu memegang perutnya yang membuncit.
“Apa yang kamu mau?” tanya Nadia sambil terus menghindar, “Hahaha...aku ingin rambut dan kukumu, yang paling terpenting janin yang ada di perutmu!!” wanita itu tertawa jahat.
“Tolong jangan...anak ini.” Ucap Nadia sambil berjalan mundur dengan ketakutan.
Wanita itu mengubah jari telunjuknya menjadi sejenis pisau lalu menarik pergelangan tangan Nadia, “Kalo begitu berikan aku rambutmu.” Ucap wanita itu sambil menyeringai ke wajah Nadia.
“Rambut dan darah dari seorang gadis indigo sangat berarti untuk bangsa kami.” Setelah itu wanita tersebut memotong sehelai rambut Nadia dan tak lupa mengeluarkan cangkir kecil untuk menampung darah yang keluar dari punggung tangan Nadia yang ia lukai dengan jarinya yang berbentuk pisau.
“Darah dan helaian rambut gadis indigo yang sangat berguna untukku,” ujar wanita itu.
“Rambut ini.” Kata wanita itu sambil menunjukan rambut Nadia yang hitam legam.
“Aku gunakan untuk melawan mertuamu, tikus-tikus belanda yang telah membuat rakyatku menderita.” Ujarnya.
“Darahmu aku gunakan untuk kesaktianku serta kecantikanku...seorang gadis indigo sangat jarang yang sudah memiliki cakra sempurna seperti dirimu.” Lanjutnya mencengkram kedua dagu Nadia dengan tangan kanannya yang sudah seperti semula tak berbentuk pisau lagi.
“Gua gak pernah ada masalah sama lu!!” Nadia berteriak marah lantaran ia sudah lemas lantaran darahnya lagi di tampung di dalam wadah berwarna emas dengan luka sayat di tangannya.
“Lapor kanjeng ratu.” Dua prajurit menghadap ke ratunya, “ada apa?” tanyanya dengan kesal.
“Para Belanda sedang membakar desa di ujung selatan.” Ujarnya.
“Apaa!! beraninya mereka!! Aku akan hadapi mereka!! Dengan rambut ini.” Ucapnya setelah itu ia keluar sebelum keluar ia menyuruh senopati untuk menjaga Nadia agar tak kabur. Setelah kepergian wanita itu senopati menutup pintu ruangan.
“Astaga Nyai Nadia!!” ucap senopati Wisena lalu merobek kain yang ada di kepalanya untuk menyeka atau menutup luka sayat yang di tangan Nadia.
‘Cantik sekali.’ Batin senopati Wisena.
‘Dia tampan tapi sayang bukan selera gua.’ Batin Nadia dengan terduduk lemas.
“Terimakasih, Senopati.” Ujar Nadia.
“Nyai tenang saja teman-temanmu aman, dan Mayor Jendral Willem sedang menyusun rencana.” Jelasnya membuat Nadia sedikit tenang.
“Apa yang sebenarnya terjadi mengapa...harus saya yang jadi kambing hitam?” tanya Nadia.
“Sebenarnya sebangsa kami sangat takut jika seorang gadis atau pemuda indigo melahirkan seorang anak setengah hantu Belanda, dan secara otomatis anakmu nanti bisa mengusai dunia kami dengan ilmu putih.” Jelas Senopati Wisena.
“Apa salahnya yang penting anak kami tidak...” Perkataan Nadia di potong cepat oleh Senopati Wisena.
“Sebaliknya jika anak kalian lahir maka mereka akan mengendalikan kami itu sebabnya kamu selalu ada Kskek yang menganggu hidupmu.” Jelas Senopati.
“Apa lu juga mau bunuh anak gua?” tanya Nadia yang berharap.
“Tidak...” Ucapnya sambil mengelengkan kepala
__ADS_1