Nadia, The Indigo Girl

Nadia, The Indigo Girl
EPILOG


__ADS_3

6 Tahun kemudian.


Pagi ini Nadia sedang bergegas bekerja di kantor sebagai bagaian dari tehnik mesin di perusahaan Jepang. Selain bekerja di perusahaan Jepang Nadia juga memiliki sampingan sebagai penulis buku atau kisah karangan indonesia masa lalu.


"Nad!" seorang wanita berumur sepantaran Nadia, keturunan setengah Cina menghampiri gadis itu yang duduk dengan komputernya.


"Apaan Lin?" tanya Nadia beralih ke teman satu kantornya itu.


"Gua minta tolong dong," pinta wanita itu.


"Minta tolong apaan?" tanya Nadia pada Lina teman kantornya.


Wanita itu mengeluarkan ponselnya lalu memperlihatkan foto seorang bayi. "Nih anak gua nangis mulu setiap magrib sama tengah malam, gua minta tolong dong ama lu."


Nadia menghentikan sementara pekerjaannya. "Coba maaf gua minjem HP lu sebentar."


Lina menyerahkan ponselnya kemudian Nadia melihat ada sesosok mahluk seperti perempuan sedang di belakang anak bayi itu.


"Lin ini anak lu di gangguin, suka lu tinggal ya pas magrib?" tanya Nadia.


"Gua 'kan ada pengasuh. Ya lu tahu 'kan suami gua Dokter terus gua pulangnya jam malam kadang jam 9 malam."


Nadia menghembuskan nafas lelah lalu ia berdiri dan bicara berbisik pada Lina. "Gini 'kan lu ada kaya kalung salib, itu kepercayaan lu."


"Iya terus," ucap Lina pada Nadia.


"Ya lu kalo mau tidur, coba lu berdoa dulu sesuai kepercayaan lu." JEDA "terus itu kalung salib lu pake ama anak lu."


Meskipun Lina keturunan Cina dan beragama berbeda tapi Nadia juga tak segan membantu wanita itu, Lina menikahi seorang Dokter di rumah sakit ternama di daerah Jakarta selatan, suami Lina adalah pria keturunan Manado yang menikahi Lina.


Umur Nadia dan Lina sama tapi Nadia belum juga menikah meskipun sudah di desak oleh ibu dan tetangga rempong di rumahnya yang selalu menanyakan kapan menikah, "thanks Nad. Balik lu gua traktir deh."


"Lah terus Johanna gimana anak lu?" tanya Nadia.


"Ah, ada Bi Nis." Lina bicara soal pengasuh putrinya.


"Ya kagak bisa gitu, lu urusin dulu Johanna kasian anak lu."


"Besok-besok 'kan bisa," ungkap Nadia.


"Yaudah deh."


"Tapi gua gak bisa minggu, lu tahu 'kan gua minggu mau ibadah." Lina bicara sambil duduk di kursi putarnya.


"Iya besok 'kan selasa kita ada meeting di cafe yaudah lu traktir gua dah tuh."


"Iya."


Nadia dan Lina berteman karena dekat sejak Nadia melamar kerja di perusahaan Jepang, Karena berkat Lina lah Nadia di terima bekerja di kantor ini. Nadia juga tak segan setiap idul fitri memberikan kue nastar dan sagu keju pada Lina.


Begitu juga sebaliknya Lina juga tak segan memberikan sesuatu jika hari besar keagamaannya tiba kepada Nadia seperti coklat dan lainnya. Meskipun banyak teman-teman kantor yang mengenalkan Nadia pada seorang laki-laki di mulai dari Pilot, Dokter, CEO, Polisi, Tentara, Dan lainnya.


Tapi Nadia merasa tak cocok dengan mereka semua hanya kepada Nathan Aditya Rejaya yang sedang menjalankan pendidikan militernya di Magelang, Nadia menunggu Nathan karena pria itu berjanji untuk menikahi Nadia karena mereka terikat satu sama lain.


'Aku masih menunggumu Nathan Aditya Rejaya,' batin Nadia sambil berjalan pulang di malam hari.


Suasana malam nampak sepi Nadia sedang menunggu ojek online di malam hari, Lina sudah di jemput oleh suaminya. Saat sedang menunggu tiba-tiba ada Victoria.


"Mama mau pulang?" tanya Victoria yang berumur kira-kira 15 tahun.


"Jaa Liefste," ujar Nadia dalam bahasa Belanda.


"Mama aku mau es-krim," pinta Jason yang tiba-tiba muncul di sebelah Nadia.


"Yaudah ayo mama beliin," kebetulan di hadapan Nadia hanya menyebrang jalan raya ada minimarket jadi Nadia ke minimarket sebentar.


Untuk memenuhi permintaan putra hantunya dan putrinya yang meminta Es krim. Setelah membayar Di kasir Jason langsung menyambar Es-krim itu tentu rasanya sudah hambar karena sari-sari makanan yang di makan oleh hantu akan terasa hambar.


Disaat keluar minimarket Gojeknya sudah menunggu terpaksa Nadia menyebrang lagi lewat jalan raya, ia masuk mobil setelah memakan es-krim yang tiada rasanya itu.


"Mau pulang Neng, kok malam?" tanya abang ojeknya.


"Iya soalnya banyak kerjaan Pak," jawab Nadia menaiki motor sambil berbicara ringan pada abang ojek onlinenya.


Sesampainya di rumah ia langsung membayar, "Neng ini kembaliannya."


"Gak usah Pak," ujar Nadia.


"Makasih banyak ya Neng," kata abang gojeknya.

__ADS_1


"Iya sama-sama."


Nadia membuka pintu rumah melihat Defani sedang belajar dan ibunya sedang asyik bermain ponsel. "Udah pulang kamu," tanya ibunya.


"Iya Bu, Yaudah aku mau mandi dulu." Nadia menyalami ibunya.


Nadia langsung menaiki anak tangga untuk menuju kamarnya, saat sedang mandi dan membersihkan diri Victoria dan Jason sedang melompat-lompat di kasurnya.


"Jason! Victoria! turun sekarang!"


"Jaa Mama," patuh keduanya dengan suara lirih.


Nadia merasa tak tega melihat kedua anaknya nampak sedih meskipun hantu, Nadia yang masih mengenakan handuk langsung mendekati anak-anaknya.


"Mijn knappe en mooie zoon," ucap Nadia menyamakan tinggi anak-anak hantunya. Artinya : (Anakku yang tampan dan cantik)


"Jullie twee zijn volwassenen, stop met je als kinderen te gedragen." Artinya : (Kalian berdua sudah dewasa, berhenti bertingkah seperti anak-anak.)


Nadia berusaha bicara lembut kepada kedua anaknya sambil membelai rambut mereka berdua. "Victoria, je bent volwassen en mooi. Weet je nog op wie je verliefd werd op school?" tanya Nadia berusaha meledek putrinya yang sudah puber.


(Artinya:Victoria, kamu dewasa dan cantik. Apakah kamu ingat dengan siapa kamu jatuh cinta di sekolah?)


Victoria tersenyum dengan wajah pucat dengan malu-malu, Jason selaku anak bungsu langsung meletup. "Namanya pasti Arnold," ucap Jason yang meletup seperti gunung api.


Victoria langsung menoyor kepala adiknya lalu membuat Nadia tertawa melihat tingkah dua anak hantunya. Nadia segera memakai baju setelah selesai gadis itu ke balkon teras rumah untuk menenangkan pikiran sampai suara Jason dan Victoria membuat Nadia menoleh.


"AAAAAA," dua anak Nadia menjerit ketakutan.


"Jason! Victoria!" Nadia segera berlari menuju asal suara yang ternyata berasal dari kamar.


"Kenapa kalian berdua berteriak!" ungkap Nadia.


"Mama!" tangan Jason menunjuk sesuatu dan Nadia langsung melindungi kedua anaknya.


"Kalian berdua di belakang mama!"


Victoria dan Jason menuruti permintaan ibunya. Nadia melihat keris terbang di lihat sepertinya tak terlalu berbahaya ia melihat jendela kamar lupa di tutup.


"Apa mau anda? jangan ganggu anak-anak saya!" peringat Nadia dengan nada tegas seolah melindungi kedua anaknya.


Keris itu bersinar dengan warna hijau terang dan pegangannya berukir dengan indah, "pergi! saya tidak pernah berbuat masalah denganmu!" tegas Nadia berusaha melindungi anak-anaknya dari keris itu.


Keris itu tidak menyerang tapi dia hanya terbang di depan Nadia dan dua anak hantunya, lalu keris itu mendekat dan mendekat membuat Nadia semakin memeluk erat kedua anaknya.


Nadia menatap keris itu sambil memeluk kedua anak hantunya berusaha untuk agar dua anaknya tak terluka. "Apa maumu?!" tanya Nadia dengan nada marah.


"Aku akan menjadi pewaris putramu di masa depan, saat kamu menikah dan Jason anak hantumu lahir menjadi manusia sepertimu."


Nadia dan Victoria menatap Jason yang ketakutan lalu beralih ke keris itu. "Jadi?" ungkap Nadia.


"Aku akan menemui putramu saat dia berumur 16 tahun lalu aku siap melayani putra sulungmu."


Setelah itu keris itu menghilang secara tiba-tiba membuat Nadia lega Jason dan Victoria segera menatap ibunya, "Mama Ik masih takut," ucap Jason.


"Kalian malam ini jangan jauh-jauh dari Mama, sebelum Papa kalian menjemput."


Victoria dan Jason hanya menganggukan kepala tanda mengiyakan ucapan sang ibu. "Kalian tetap disini. Mama ingin menutup jendela dan pintu, kalian istirahatlah." Nadia bicara pada dua anaknya itu.


Mereka lalu menganggukan kepala tanda mengiyakan ucapan ibunya, Nadia segera buru-bru menutup jendela kamar lalu menutup pintu balkon rumahnya dan segera pergi tidur.


Nadia tetap menjalin kontak dengan Nathan Aditya Rejaya yang sedang mengikuti Akademi latihan militer di magelang. Dia tak berani bercerita pada Nathan karena Nadia tahu jika pria itu sekarang sedang sibuk dengan pendidikan militernya.


Tapi gadis itu tak tahu jika Nathan sebenarnya juga mengalami masalah mulai dari pendidikan Akmilnya dan masalah dunia gaib sama seperti dirinya, Nadia memeluk kedua anaknya dalam pelukannya karena insiden keris tadi.


Memang tak masalah tapi Nadia tak akan percaya sepenuhnya karena itu bisa saja tipu daya mahluk gaib yang berusaha mengakalinya.


Nadia segera menutup pintu dan jendela setelah selesai ia segera kembali ke kamar melihat dua anak hantunya meringkuk ketakutan di atas kasur.  "Victoria! Jason!"


Gadis itu mendekati dua anak hantunya lalu mereka berpelukan, Nadia merasakan dingin pada tubuh dua anaknya. Meskipun dua anaknya ini hantu tapi Nadia tetap mempunyai ikatan batin yang kuat antara ibu dan anak. "Ya allah tolong satukan hamba dan anak-anak hamba," batin Nadia dalam hati dengan air mata yang mengalir.


Nadia akhirnya tidur karena ia besok harus ke kantor bekerja, sampai jam 3 pagi dini hari. Suara Hanson dengan lembut membangunkannya. "Nadia...Nadia."


Gadis itu terbangun dengan mendudukan dirinya lalu mengucek-ngucek matanya, Nadia melihat Hanson yang masih tetap sama dan abadi dalam tubuh awet muda seperti awal pertama pertemuan mereka. Karena hantu akan tetap sama meski umur mereka sudah lebih dari ratusan tahun.


"Wil je de kinderen nu ophalen?" tanya Nadia dalam bahasa Belanda. Artinya : (Apakah Anda ingin menjemput anak-anak sekarang?)


"Jaa, want hun vakantieperiode zit erop." Hanson mengandeng Victoria dan Jason di tangannya, mereka bertiga berkulit sangat pucat dari mata ketiganya tergambar wajah kesedihan. Artinya :(Ya, karena masa liburan mereka sudah berakhir.)


"Wanneer kan ik de kinderen weer zien?" Nadia bangkit dari tempat tidur meskipun masih setengah mengantuk. Artinya : (kapan aku bisa melihat anak-anak lagi?)

__ADS_1


"Later als hun schoolvakanties aankomen," ucap Hanson. Artinya : (Nanti saat liburan sekolah mereka tiba.)


Nadia mendekati Hanson meskipun kakinya mengambang tak memijak lantai, Nadia menyamakan tinggi Jason dan Victoria. "Kalian berdua sering-seringlah mengunjungi Mama," kata Nadia sambil memeluk mereka yang tubuhnya sangat dingin.


"Jaa Mama." Victoria berucap mewakili adiknya.


Nadia melepaskan pelukan dua anaknya ini sudah beberapa kesekian kalinya karena dia harus menerima sebab-akibat dari perbuatan masa lalunya yang salah memilih jalan, setiap perbuatan pasti ada sebab-akibat.


Gadis itu mau tak mau harus merasakan akibatnya meskipun dulu ia melakukannya masih remaja dan labil. Nadia berdiri menatap Hanson yang tingginya seperti pemuda Bule, gadis yang kini berusia 24 tahun itu yang berumur lebih tua dari Hanson.


Menatap mata mantan kekasih masa lalunya warna mata yang berwarna biru seperti laut yang tenang tapi bisa menengelamkan, begitu juga sebaliknya Hanson menatap warna mata Nadia yang hitam seperti malam kelabu tetapi bertabur bintang kelap-kelip.


Mereka bertatapan sejenak lalu menurunkan kelopak matanya masing-masing, Nadia dan Hanson masih mengenang masa lalu yang indah cinta perbedaan alam dan dimensi. di antara gorden kamar yang berterbangan Hanson dan anak-anaknya pamit untuk pergi.


"Vaarwel mama." Victoria.


"Vaarwel mama." Jason.


"Vaarwel Liefste." Hanson.


Mereka menghilang di balik gorden yang berterbangan di tengah malam, Nadia menengok keluar jendela yang terlihat hanya kesunyian malam dan bulan purnama. Hatinya terasa berat harus meninggalkan anak-anaknya.


Tapi ia pernah mendengar caranya anak-anak hantu menjadi manusia dengan reingkarnasi dari Sarah sahabat lamanya anak dari teman ayahnya. Sekarang Sarah menjadi manager di Cafe dan suaminya bekerja sebagai Pilot angkatan udara, sekarang sudah memiliki anak kembar perempuan.


Penjelasan Sarah selalu terngiang-ngiang di telinganya. 'Anak-anak gua Pauline dan Hellene bisa bereingkarnasi tapi anak-anaknya saat masuk alam sekolah akan di bully oleh teman-temannya, karena memiliki altar.'


Nadia melamun di tengah kegelapan malam memikirkan ucapan Sarah ia khawatir akan masa depan anak-anaknya kelak, tapi disisi lain ia ingin bersatu dengan anak-anaknya.


**********


Nathan Aditya Rejaya sedang menyiapakan diri untuk kelulusan dan akan di tugaskan di daerah Jakarta, ia memandang foto masa SMA nya dulu dan hanya melihat satu gadis yaitu, Nadia Sabrina. "Tunggu gua Nadia," ujar Nathan lalu memasukan foto gadis yang dulu waktu SMA yang menemani masa-masa indahnya.


Pria itu keluar sebentar dari asrama melihat udara malam sambil menunggu solat subuh ia melihat bulan purnama tapi di matanya bulan itu berwarna merah darah atau di sebut *RedMoon *Tapi sampai akhirnya ada teman satu rekannya yang membuyarkan lamunannya.


"Nathan!" tepuk Surya teman satu akademinya.


"Apaan?!"


"Kenapa kau? ku tengok wajahmu nampak tak beres pula," ucap Surya.


"Itu gua ngeliat Red moon," ujar Nathan.


"Bicara apa kau? Red moon apa pula itu?" tanya Surya sambil mengeryitkan kening.


Nathan termasuk anak yang aktif dalam teknologi dan termasuk gaul sama seperti Nadia hanya saja mereka berdua sangat tertutup pada teman-teman sekolah mereka dulu.


"Redmoon bahasa inggris, artinya bulan merah."


Surya tertawa dengan keras, "kenapa lu ketawa?" tanya Nathan tak suka.


"Coba kau lihat lagi, mana ada pula bulan warna merah," Jeda "Lucu kali lah kau bulan merah lah, tak perlu lah tuh bicara Inggris." Surya berkata. Nathan kaget warna bulannya tak berwarna merah hanya bulan purnama biasa.


"Ya perlu dong gimana nanti mau masuk dunia kerja."


"Alamak, cintailah bahasa negara sendiri apalagi bahasa daerah."


"So puitis lu, denger kata lu gua mau melayang." Nathan langsung pergi.


"Nathan mau kemana kau?" tanya Surya.


Nathan kesal lantaran teman seangkatannya itu banyak bicara dan seperti ibu-ibu tukang sayur. Surya berhasil meraih tangan Nathan lalu pria keturunan Aceh itu bicara sesuatu. "Nathan kau ada hubungan kah dengan Nadia?" tanya Surya.


"Gua mau taaruf," jawab Nathan.


"Ngapain lu nanya calon istri gua?!" lanjut Nathan dengan Nada ketus tak suka.


"Alamak garang kali lah kau, aku hanya bertanya lagipula jika kau hanya berteman apa salah aku mendekati Nadia."


Hati Nathan di bakar api cemburu mendengar perkataan temannya yang seperti kaleng rombeng, "gua kasih tahu dia calon istri gua!! gua lagi Taaruf ama dia!!" ujar Nathan lalu langsung pergi.


"Garang kali lah macam, harimau Jawa." Surya menjawab karena ia melihat Nathan adalah keturunan Jawa asli sedangkan Surya keturunan Jawa-Aceh. Darah Jawa di dapat dari Kakeknya ia besar dan tinggal di Aceh.


Nathan meskipun ia orang Jawa tapi pria itu lebih dominan berbahasa gaul ala youtuber dan selebgram. Tak lama senior mereka menghampiri mereka. "Ada apa ini?!" tanya sang senior.


"Tak apalah kakak."


"Sampeyan loro ini gawane gelut mulu!!" ucapnya dalam bahasa Jawa.


"luwih becik kowe lunga menyang mesjid, wong sing dudu muslim nginep ing kamar asale dhewe-dhewe."

__ADS_1


(lebih baik kalian ke masjid yang non muslim silahkan di kamar Asrama masing-masing.)


#Bersambung


__ADS_2