
Pagi ini tanggal 16 oktober waktunya pengukuran seragam dan pengambilan buku, Nadia hari ini berpakaian dengan celana jeans dan kaos lengan Panjang berwarna kuning dengan gambar siluet kucing, di padukan kerudung pashmina berwarna senada dengan tuniknya.
Sesaat Nadia sedang mengenakan kerudungnya ia melihat di pantulan cermin ada seorang penari jawa yang ia ketahui itu adalah nenek buyutnya.
“Eyang aku gak ada waktu nanti aja pulangnya kalo mau ngomong.” Ucap Nadia sambil menyemprotkan parfum ke tubuhnya kemudian mengambil tas selempang berisi ponselnya, sebelum Nadia membuka pintu penari yang Nadia panggil sebagai eyang mengatakan sesuatu.
“Nadia ada yang harus aku katakan. Aku minta jangan telat pulang!” perintah sang penari.
“Oke aku akan pulang lebih awal, I promise.” Ucap Nadia mengatakan janji di akhir ucapannya, “aku berangkat.” Nadia menyalimi penari itu yang ia yakini adalah Eyangnya yang terdahulu. Nadia menuruni tangga dan memakai sepatu sport andalannya, sang ibu masih sibuk memoles lipstick membuat Nadia memutar bola matanya jengah.
Nadia dan Defani di bonceng dengan motor menuju sekolah SMA Garuda Bangsa, sesampainya di tempat yang di tuju Nadia menaiki tangga untuk ke ruang kelas sebagai tempat pengukuran seragam sekolah, sesaat menunggu Nadia memilih melihat-lihat sekolahnya saat di lorong yang terdapat banyak sekali pintu yang mengarah ke ruang kelas.
Gadis berbaju kuning tersebut tiba-tiba kelilipan tentu saja ia mengucek matanya setelah lebih baik Nadia melihat di ujung lorong ada seorang gadis seumurannya menggunakan pakaian SMA lengkap tetapi sayang wajahnya tertutup rambut yang Panjang, kakinya memang menapak tetapi tak memakai sepatu sekolah.
Nadia langsung mematung sosok tersebut mendekat dan tepat di depan wajah Nadia, kakinya mengeluarkan darah perlahan sosok tersebut menghilang saat mengedipkan mata di saat itu dengan rasa takut yang luar biasa Nadia langsung berlari menuju ruangan pengukuran seragam, awalnya para guru melihat Nadia curiga sehabis lari marathon tetapi Nadia mengatakan bahwa ia tadi melihat-lihat isi sekolah dan ke ingat ia harus mengukur seragam.
Nadia baru mendapatkan baju olahraga, rok abu-abu, baju putih lengan Panjang, baju batik hijau, serta baju muslim. Untuk Almamater (Almet) berwarna kuning karena tubuh Nadia sedikit besar tak ada ukurannya, sedangkan rok putih juga tak ada ukurannya karena rok putih tersebut kependekan, tubuhnya Nadia juga tergolong tinggi.
Setelah semuanya Nadia mengambil buku pelajaran lalu di ajak sang ibu ke sebuah restoran dulu. Ya ampun mungkin Nadia lupa dia sudah berjanji untuk pulang lebih awal kepada Eyangnya.
“Nadia!!” panggil Hanson saat gadis itu sedang membaca buku di rerumputan, Nadia dengan cepat menghampiri Hanson.
“Ada apa, Hanson? kenapa kamu teriak-teriak?” ujar Nadia.
Hanson siang ini memakai kemeja lengan pendek dengan celana hitam tak lupa tali hitam di kedua kemejanya sebagai pemanis, rambutnya pirang tersisir rapih, serta mata biru.
“Ik akan di pindah tugaskan lagi ke Batavia.” Kata Hanson dengan lesuh. Nadia siang ini memakai gaun berwarna putih kekuningan dengan renda dan tak lupa di tengah kerah ada tali untuk pita.
“Apa yang salah tak masalah Hanson, tapi secara otomatis aku harus meninggalkan teman-temanku disini, madam Eva dan Beatrice.” Ucap Nadia sambil merangkul pundak suaminya.
“Ik tak bisa berbuat banyak, lieve.” Hanson bicara dengan mengeluarkan nafas Lelah.
“Hanson secara otomatis kamu akan bertemu, Elsje lagi.” Kata Nadia dengan rangkulan tangan yang melepas dari Hanson.
“Nee, mengapa je bicara seperti itu. Elsje hanya masalalu untuk ik, dan je adalah masa depan untuk ik.” Hanson menatap Nadia.
“Ik hou van je, ik juga tak mau kehilangan anak ik.” Hanson menarik Nadia kedalam dekapannya.
__ADS_1
“Aku takut jika...” Kalimat Nadia terputus tatkala Hanson mencium bibir Nadia lalu mengusap lembut bibir istrinya itu.
“Elsje sudah menikah dengan atasan ik, Kolonel.” Ucap Hanson, Nadia mengusap perutnya yang masih rata untuk menenangkan diri.
“Je adalah sebuah keberuntungan yang ik miliki.” Ujar Hanson sambil menyatukan keningnya atau jidat dengan kening milik Nadia.
“Bedoel je, Hanson?” tanya Nadia yang sudah sedikit bisa berbahasa belanda.
“Bedoel ik.” Jeda. “Karir militer ik selalu mulus berkat saran dari je. Jadi apa ik sebodoh itu untuk melepaskan keberuntungan yang telah ik miliki.” Nadia tersenyum senang, memang pangkat militer Hanson sekarang menjadi Mayor naik pangkat sekali dari kapten.
Nadia tanpa sadar ingin bermain lebih jauh bersama Hanson karena suaminya ini sudah mencium lehernya akhirnya mereka berdua melakukan hubungan suami-istri di sofa ruang tengah.
Sore harinya Nadia berpamitan dengan Nyonya Eva sesudah menceritakan suaminya akan di pindah tugas lagi dan akan segera pergi menemui Beatrice teman kerjanya di pertambangan menuju ke sebuah restoran.
Nadia akan di tempatkan di pertambangan laut oleh pemerintahan karena ucapannya Nadia yang mengatakan kalau laut punya banyak tambang.
“Nadia ik akan sangat sedih atas kepergian je.” Ucap Beatrice.
“Mau bagaimana lagi ini sudah takdirku, suamiku juga akan di tugaskan di Batavia. Padahal aku sudah nyaman tinggal di Buitenzorg karena tak terlalu panas malahan sejuk.” Keluh Nadia.
“Nadia tangan je?” tanya Beatrice.
“Ini yang kemarin waktu kekacauan aku kena pecahan kaca restoran karena bersembunyi di balik tong depan kaca restoran.” Jelas Nadia.
Sesampainya di rumah Nadia melihat teman-teman Hanson duduk di sofa teras ada yang menyalakan cerutu juga.
“Hanson!” Panggil Nadia membuat pria-pria belanda itu melihat ke arah Nadia yang baru datang sambil memegang topinya.
Nadia langsung menekuk lututnya tanda kesopanan karena ia pernah melihat di film barat abad pertengahan, “aku permisi Tuan-Tuan selamat bersenang-senang.” Ucap Nadia di sertai senyuman tipis membuat beberapa teman Hanson terpesona melihat Nadia yang masuk ke dalam rumah.
“Bi Arum!! Tolong buatin saya air jahe.” Perintah Nadia yang menghampiri Arum saat menyapu lantai atas.
“Baik, Nyonya.” Patuh Arum lalu menuruni anak tangga menuju dapur.
Nadia terduduk di depan meja rias yang di hadapannya ada cermin tangannya mengambil sisir lalu menyisir rambutnya sambil berpikir apa yang di katakan nenek buyutnya dalam bentuk penari saat pulang dari sekolah untuk mengambil buku dan seragam beberapa hari yang lalu.
“Nadia kamu harus berfikir jernih saat menghadapi masalah, dan jangan terpuruk apalagi mengeluh.” Seolah nasihat Nenek buyutnya adalah pesan terselubung dan kali ini Nadia merasa akan ada masalah yang menerpanya setelah ia masuk SMA tapi apa, perasaan orang indigo kadang lebih peka dengan keadaan yang akan terjadi nanti.
Nadia langsung terbuyar dari lamunannya tatkala Hanson memeluknya dari belakang sambil mencumbu bahu dan lehernya.
“Hanson teman-teman kamu udah pulang?” Tanya Nadia menaruh sisirnya di meja rias.
__ADS_1
“Nyai...” Itu suara Arum yang mengetuk pintu membawakan air jahe, “makasih bi Arum taruh aja di meja!” Arum mengangguk lalu segera ke bawah untuk menyiapkan makan malam.
Hanson masih sangat posesif memeluk Nadia dari belakang sambil mencium bibir Nadia.
Nadia dan Hanson serta ibu dengan saudara perempuan Hanson makan malam dengan hidangan Erwtensoep (snert) malam ini permintaan Nadia di kabulkan entah mengapa semenjak hamil ia ingin masakan berdaging dan cemilan manis, untuk makanan penutup yakni kroket isi daging. Nadia meminum chocomel di cangkir yakni coklat panas terakhir meminum air putih.
Setelah selesai makan malam Nadia kembali ke kamar untuk meminum obat yang di berikan dokter Stefania padanya untuk mengurangi rasa mual dan kelelahan.
“Nadia!” Panggil Brechtje dari depan pintu.
“Ada apa Brechtje?” Tanya Nadia berdiri sambil memegang perutnya.
“Papa ada di bawah ia ingin bicara dengan je.” Ujar Brechtje.
“Aku akan ke bawah.” Ucap Nadia menaruh obatnya di nakas samping tempat tidur.
“Ya ampun Mayor Jendral mau apa dia kesini?” batin Nadia entah mengapa setiap ada Ayah mertuanya yang satu itu Nadia merasa takut memang tampang Mayor Jendral bisa di bilang sangar dan galak tetapi Nadia tahu di dalam lubuk hati pria paruh baya itu ada jiwa ke Ayahan yang jarang orang lain tahu.
Nadia duduk di sofa dengan para keluarga inti mertuanya, hanya keluarga inti.
“Hanson, je akan di tugaskan kembali ke Batavia. Ik akan di tugaskan ke suatu daerah,” Nadia langsung mengerutkan keningnya tanda keheranan.
“Maksud Papa daerah sebelah mana? Apa daerah gunung?” tanya Nadia. Willem hanya mengangguk tanda tebakan Nadia benar.
Hanson, Brechtje, dan Anna langsung melihat Nadia. “Papa aku ingin bertanya soal nanti Papa di tugaskan?” tanya Nadia, Willem hanya mengangguk membiarkan menantunya bertanya.
“Apa karena daerah itu sulit untuk di taklukan?” tanya Nadia.
“Jaa.” Ucap Willem.
“Papa daerah itu menggunakan semacam sihir, apa Papa pernah menembak salah satu pemberontak tetapi ia hidup kembali dengan pindah daerah.” Ucap Nadia.
“Maksudku contohnya Papa menembak orang dan tiba-tiba orang itu hilang lalu secara tak terduga orang tersebut berada di...” Nadia terhenti tatkala Willem menyuruhnya berhenti dengan mengisyaratkan lewat tangannya yang terangkat.
Nadia langsung berhenti tatkala Willem menyuruhnya berhenti, gadis itu susah payah menelan salivanya takut jika ucapannya menyinggung tetapi dugaannya salah Willem, Hanson, dan Anna malah bertepuk tangan kecuali Brechtje yang masih diam dengan mulut membentuk huruf O.
“Ada apa?” tanya Nadia hati-hati takut menyinggung mereka semua.
“Je hebat bisa menebak semuanya.” Puji Hanson. Nadia tersenyum canggung bercampur malu.
“Baiklah sebaliknya je tidur, ik tidak mau terjadi sesuatu dengan je apalagi Cucu ik.” Ujar Willem sambil tersenyum, Nadia menganggukan kepala ia berdiri dari sofanya lalu menekuk lututnya sambil mengucapkan selamat malam untuk kembali ke kamar di lantai atas.
__ADS_1
Nadia merebahkan dirinya di atas kasur sambil menatap langit-langit kamar saat itu juga ia melayang da melewati pusaran waktu, ini aneh sekali biasanya the black robe tak menarik tangannya untuk kembali ke masa tahun 2000 an. Seolah ada sesuatu yang mengintai dirinya tetapi Nadia tak sadar apa yang sebenarnya terjadi.