Nadia, The Indigo Girl

Nadia, The Indigo Girl
BAB 36


__ADS_3

Nadia membasuh wajahnya lalu buru-buru masuk kamar karena ketakutan dan tidur di sebelah kak Alina. Kemudian mulai melepaskan roh dari tubuhnya berjalan melewati waktu berputa-putar seolah suara jarum jam terdengar sampai ia terbangun setelah melewati pusaran waktu melepaskan roh dari tubuhnya untuk menjalankan aktivitasnya sebagai istri Hanson di Buitenzorg.


 Nadia terbangun di Kasur yang empuk berhias empat tiang dan melihat ke arah jendela kamar memperlihatkan rintikan air hujan, pantas saja udaranya terasa dingin.


“Nyai...Menner memanggil nyai ke bawah katanya ada hal yang harus di bicarakan.” Ucap Ratih.


“Katakan saya akan kesana.” Ucap Nadia. Setelah itu Ratih pergi dengan membungkukan badannya keluar kamar.


Setelah kepergian Ratih, gadis berambut kepang ke samping tersebut langsung mengingat perkataan Ratih tadi.


Tak ingin terus-menerus berdiam di kamar Nadia ingin ke dapur untuk menyuruh Bi Arum membuatkannya jamu, lalu pergi menemui Hanson.


Saat sedang berjalan menuruni tangga tiba-tiba terdengar suara dari arah ruang tamu ia melihat pria berparas Eropa berusia paruh baya mengenakan seragam militer serta membawa beberapa anak buah berbicara kepada Hanson di ruang tamu.


Nadia melihat pemandangan tersebut menjadi terhenti di tengah tangga yang menghubungkannya langsung dengan ruang tamu.


Nadia tidak mengerti bahasa yang mereka bicarakan satu sama lain, tetapi ia mengenali pria paruh baya yang duduk sedang bicara serius dengan Hanson.

__ADS_1


“Ya ampun itu bukannya Mayor Willem. Ayahnya Hanson matilah gua.” Batin Nadia yang masih setia berdiri di tangga sambil terdiam menatap dua orang ayah dan anak itu.


“HAI JE!!” Panggil Ayahnya Hanson sambil menunjuk ke arah Nadia yang berdiri mematung membuat Hanson dan semua orang di ruang tamu melihat Nadia sedang berdiri di tangga, sesaat Nadia terbuyar dari lamunannya.


“JAA JE!! KOM SNEL HIER!” Ucap pria itu sambil mengisyaratkan lewat tangannya. 


Tentu saja Nadia paham kalau pria berwajah sangar itu menyuruhnya mendekat meskipun gadis bermata hitam sekelam malam tersebut sama sekali tak tahu arti bahasa yang digunakan oleh pria paruh baya yang masih duduk di ruang tamu, Nadia memilih duduk di samping Hanson suaminya gadis itu menengadah melihat anak buah ayahnya Hanson satu persatu.


Mata Nadia langsung beralih ke Hanson tatkala pria yang empat tahun lebih tua darinya yakni Hanson tiba-tiba saja menganggam tangannya, sontak Nadia menatap mata biru milik Hanson seolah mata biru seindah lautan tersebut menenangkannya dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.


“Meisje!” ucap Willem dengan nada dingin.


“Wat is je naam?” tanya Willem dengan menatap Nadia yang duduk di sebelah putranya.


‘Tenang Nadia ini alam bawah sadar kalo lu gak kuat, lu pasti bakal lewat.’ Nadia bergumam dalam hati untuk menenangkan diri sendiri, gadis itu melihat mennir Willem matanya biru dengan kumis yang pirang serta rambut yang tipis putih kepirangan.


 “MEISJE, IK HEB JE ANTWOORD OP MIJN VRAAG NODIG?” gentak Willem yang tak sabar dengan diamnya Nadia.

__ADS_1


“Mijn...Naam ...Nadia.” Ucap Nadia yang tergagap karena takut lalu menelan salivanya.


Willem menatap Nadia dengan tersenyum entah senyum kematian atau senyum keselamatan.


 “Ik ben blij dat jij het bleek te zijn, zoals wat mensen zeggen.” Kata Willem lalu menyalakan cerutunya menghisapnya lalu menghembuskannya asapnya dari mulutnya, Nadia mengerutkan keningnya tanda tak mengerti artinya.


Hanson tersenyum kemudian membalas ucapan Ayahnya.


“Papa, wat ben je wil Nadia al accepteren als je schoonzoon?” tanya Hanson dalam bahasa belanda yang sama sekali tak di mengerti Nadia seolah ia hanya menjadi pigura.


 “Oke, tijd ik ben thuis.” Nadia mengerti kalo Ayahnya Hanson sudah ingin pulang karena pria itu berdiri dari sofa, Hanson menghentikannya dengan menawarkan makan malam tetapi Willem ingin kembali karena gundik-gundiknya yakni pribumi sudah menunggunya di rumah.


Nadia dan Hanson mengantar Willem sampai di depan pintu, sebelum Willem menaiki sado ia berhenti sejenak.


“Nadia!” Nadia mengerti panggilan itu menyuruhnya mendekati mertuanya.


Tak lama pria paruh baya yang bertampang menyeramkan itu membelai lembut rambutnya. Nadia yang awalnya ketakutan menjadi tenang ia memberanikan diri menatap manik mata biru mertuanya.

__ADS_1


“GOED, Perlancar bahasa Nederland je.” Ucapnya setelahnya pria itu menaiki Sadonya, Nadia membungkukan kaki kemudian senyuman mulai terukir di bibir Willem memperlihatkan wajahnya yang keriput.


Nadia kembali ke Hanson lalu mengamit lengan suaminya. Setelah kepergian Willem kemudian menyandarkan kepalanya di tubuh Hanson.


__ADS_2