
Nadia membuka matanya tatkala ia terbangun saat melihat jam dinding di hadapan-nya ternyata sudah jam sepuluh siang untung tanggal merah hari ini, matanya mengedarkan pandangan ia melihat sesosok hantu Belanda yang tepat berada di jendela dengan gorden berterbangan karena tertiup angin.
Mata gadis itu berusaha melihat secara detail ternyata itu adalah Hanson tetapi bedanya kakinya sudah tak menampaki tanah, Nadia memanggil dengan hati-hati. “Ha-Hanson.” Panggil Nadia yang dengan posisi terduduk diatas Kasur.
Pria rambut pirang itu menoleh 'kan kepalanya dengan memutarkannya ke belakang tetapi tubuhnya masih dengan posisi yang sama.
“Je sudah bangun.” Ucap Hanson. Nadia hanya menganggukan kepala karena ketakutan.
“Tidak perlu takut dengan ik. Sekarang je akan jadi Istri ik.” Ucap Hanson, entah mengapa Nadia menghangat tatkala Hanson bicara seperti itu.
“Aku ingin mandi dulu.” Saat Nadia beranjak dari tempat tidur, tiba-tiba hantu itu menghalangi agar Nadia tak ke kamar mandi dan mendengarkan pendapat-nya.
“Sinyo apa yang kamu mau? awas aku mau mandi!” ujar Nadia dengan nada yang kesal.
“Setidaknya dengarkan ik terlebih dahulu! ik ingin bicara!” ucap Hanson dengan suara bariton tetapi hanya Nadia dan orang-orang special saja yang mempunyai kemampuan ini seperti Nadia.
Gadis itu diam lalu mengagguk tanda siap mendengarkan Hanson bicara. “Ik hou van je.” Ucap Hanson dalam bahasa Belanda yang sama sekali tak di mengerti oleh Nadia artinya aku cinta kamu, tetapi di jawab oleh kerutan kening di dahi-nya.
“Maksudnya?” balas Nadia dengan mengakat sebelah alisnya tanda tak mengerti.
“Bedoel ik? ik cinta je.” Ucap Hanson mampu membuat Nadia menegang, tanda antara senang dan kaget.
“Ik ho-u van-je.” Ucap Nadia yang terbata-bata tanda sulit mengucapkan dengan benar di mulutnya.
“Dan apa artinya, be-doel ik?” tanya Nadia.
“Maksudnya.” Jawab Hanson menjelaskan artinya singkat.
“Hanson, aku gak bisa terus-menerus hidup tanpa ragaku, apalagi kalo sampai ibuku tahu urusan-nya bisa repot.” Jelas Nadia, tetapi Hanson malah tersenyum menanggapi gadis-nya ini.
“Ik hanya membawa je saat malam hari disaat je tidur pulas, maka arwah je ikut dengan ik.” Terang Hanson.
“Hanson aku gak mau di jadikan…” Kalimat Nadia belum selesai tetapi sudah di potong cepat oleh Hanson.
“IK tidak akan jadikan je sebagai gundik, tetapi sebagai istri.” Ucapan Hanson seperti sebuah janji mampu membuat Nadia mengakat kedua alisnya.
“Jadi?” Nadia.
“Je akan ikut ik dengan wujud arwah je, ik tahu je akan sekolah paginya jadi sebelum pagi menjelang roh je sudah kembali ke raga je.” Jelas Hanson.
“Baiklah kita bicarakan nanti, sekarang aku mau mandi!” ucap Nadia. Barulah setelah Nadia mendengarkan penjelasan Hanson ia membiarkan gadis itu pergi ke kamar mandi.
Nadia memasuki kamar mandi sambil membawa handuk yang menggantung di gantungan, gadis itu menyikat gigi setelahnya ia mengguyur tubuhnya dengan menggunakan gayung yang di isi air sambil melamun memikirkan tawaran Hanson yang bisa saja ini kesempatan emas.
Setelah Mandi Nadia masuk dalam kamar lalu ke lemari dan memilih pakaian, tak lama ia baru menyadari kalo ia tak sendiri di kamar saat mata-nya memperhatikan sekitar ia melihat Hanson memperhatikan-nya sambil duduk di atas tempat tidur.
“AAAAA!!!! APA YANG KAMU LAKUKAN DISITU!! CEPAT KELUAR!!” teriak Nadia sambil menutupi tubuhnya dengan handuk dan pakaian yang di pilih-nya, debrakan Nadia justru malah membuat Hantu pirang itu tertawa selayak-nya tidak waras.
“CEPAT KELUAR!!!” bentak-nya lagi, “ik akan keluar tapi jawab dulu ya atau tidak.” Ucap Hanson lalu bangkit.
“KAMU KELUAR DULU!! DASAR HANTU MESUM!!” Nadia memaki lagi seolah Hanson meledek-nya.
__ADS_1
“Baik Ik keluar, tapi jawab dulu.” Ucap-nya sambil senyum meledek.
“NANTI AKU JAWAB SEKARANG KELUAR!! AKU MAU PAKE BAJU JANGAN MENGINTIP!!!” Nadia marah setelahnya Hanson keluar tanpa melewati pintu dengan menembus tembok sambil tertawa.
Nadia memakai baju dengan dress gambar mickey mouse dan celana bahan pendek warna hitam, saat sudah selesai berpakaian ia keluar kamar untuk turun ke bawah karena perut-nya lapar.
“Apa yang kamu lakukan Hanson!!” ujar Nadia yang kesal lantaran hantu itu malah memanggil teman-teman-nya yang berupa hantu.
“Kalian!! apa yang kalian semua lakukan disini!!” teriak Nadia dengan marah, terlihat dari mata gadis itu yang sudah memerah karena sudah sangat kesal dan marah.
Bagaimana tidak lantaran Hanson mengundang teman-nya, ya berupa hantu belanda berwujud memakai seragam dan ada yang membawa senjata api.
“HANSON!! SURUH TEMAN-TEMANMU KELUAR DARI RUMAHKU!!! SEKARANG JUGA!!” di akhir kalimat Nadia menekan kata-nya.
Nadia sangat tidak suka dengan kehadiran mereka semua di karena ia melihat ada yang mabuk dan tidaklah sopan, contohnya: tertawa keras sambil mabuk, bagi yang berkemampuan special seperti Nadia maka akan mencium bau orang mabuk.
“Nadia!” secara tiba-tiba Hanson berdiri di belakang-nya, Nadia langsung berkacak pinggang tingginya hanya sebawah dada-nya Hanson tetapi tak menciutkan nyali-nya Nadia untuk memarahi Hanson.
“KENAPA KAMU UNDANG MEREKA SEMUA TANPA IZIN DARIKU!!!” debarakan Nadia mampu membuat semuanya menoleh ke arah dua insan yang sedang cek-cok tersebut. Hanson dengan sangat menyebalkan membalas ucapan Nadia dalam bahasa belanda yang membuat Nadia semakin kesal.
“Ik wil gewoon je huis beschermen, ik ben nu je toekomstige echtgenoot!!!” ucap Hanson dalam bahasa belanda yang artinya: aku hanya ingin melindungi rumahmu, aku calon suamimu sekarang sambil melipat kedua tangan-nya di dada.
“En maak geen ruzie met mij!!! prober een onderdanige vrouw te zijn!!!” lanjutnya lagi, yang di ucapkan Hanson artinya: dan jangan berdebat denganku!! cobalah menjadi istri yang penurut!!!, kali ini Nadia mengeryitkan dahinya tanda tak mengerti.
Nadia juga tak mau kalah dia malah membalas Hanson dengan bahasa inggris. “SPEAK CLEARLY, GHOST!!” ujar Nadia dengan kesal, “sekarang bawa teman-teman hantu itu keluar dari rumahku!!” ucap Nadia lalu melegang pergi menuruni tangga melewati Hanson.
Hanson hanya tersenyum seperti tertawa melihat tingkah Nadia yang menggemaskan, tak hanya cerdas tetapi sangat lucu kalo soal cantik dan manis wajah-nya lebih dominan manis hanya saja tubuhnya yang sedikit gemuk membuatnya gemas.
“Nadia kamu SMA mau dimana? Garuda bangsa atau di negeri cisalak?” tanya sang ibu.
“Garuda bangsa yang perkotaan.” Ucap tegas Nadia.
“Yaudah nanti daftar kesana.” Ucap sang ibu. Nadia! kamu tadi di atas ngomong ama siapa?” Lanjut sang ibu mampu membuat Nadia diam lalu berfikir, apa alasan yang cocok untuk menutup rahasia-nya.
“Tadi ada mahluk di atas gak jelas pengen ganggu, yaudah aku usir aja.” Bohong Nadia yang nampak-nya berhasil.
Sang ibu ber-oh saja karena yang wanita itu dengar Nadia tadi berteriak marah seperti sedang mengusir jadi ia percaya saja, Nadia mengambil lauk dan sayur di atas piring-nya lalu memakan-nya.
Nadia makan sambil memikirkan Hanson dan Elsje bagaimana mungkin bisa dirinya hanya di jadikan Hanson sebagai pelarian atau bisa disebut pelampiasan (kiasan), Sang ibu yang sedang memainkan Handpone-nya melihat Nadia yang makan seperti orang kesetanan.
Entah karena kesal atau lagi marah wanita itu tak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada putri-nya yang bisa di bilang punya dunia tersendiri, “Nadia!!!” tegur sang Ibu.
“Kenapa, bu?” ujar gadis itu menghentikan makan-nya. “Kamu kenapa? makan kaya kesetanan? kamu anak perempuan loh, coba makan yang bagus.” Ucapan sang Ibu.
“Iya bu.” Ucap Nadia lalu gadis itu melanjutkan makan.
Setelah makan Nadia di suruh sang ibu mencuci piring dan Nadia mendengar dari atas ada suara orang, kalo Defani gak mungkin karena anak itu lagi kerja kelompok di rumah teman-nya, Nadia sudah bisa menebak itu pasti Hanson.
“Itu suara apa sih, diatas?” ujar Sang ibu, Nadia pikir hanya ia seorang saja yang mendengar ternyata ibunya juga mendengar.
“Mungkin angin, Bu. Terus jatohin barang.” Ucap Nadia, tentu saja karena pintu atas selalu di buka kecuali malam hari.
__ADS_1
“Nadia!! kamu belajar soal-nya tanggal akhir April kamu UANBM.” Ucapan sang ibu seolah mengingatkan Nadia karena ia juga lupa.
“Yaudah bu, aku ke atas. Ini udah selesai.” Ucap Nadia.
“Yaudah. Belajar jangan main HP mulu!” ujar wanita itu.
“Iya bu.” Ucap Nadia singkat kemudian segera berlari menuju kamar.
Gadis itu lupa bahwa bagian bawah lantai masih basah karena sehabis cuci piring mungkin ia lupa mengelap lantai jadi saat ingin berlari ke kamar yang terletak di lantai atas ia malah terpeleset.
“AAAA!!! ADUH.” umpat Nadia sambil mengelus bokongnya.
“Kenapa? sakit? lagian kan udah di ingetin ini bawah abis cuci piring di elap pake keset nanti rumah tanggaan anakmu nasibnya kaya kamu sekarang gimana!!” ceramah sang ibu.
“Bu sakit.” Adu Nadia.
“HAHAHAHA.” Tetapi hanya di tertawai oleh Ibunya dengan sangat menyebalkan Nadia perjalan ke atas menuju kamar-nya sambil memegang bokong-nya dengan satu tangan.
Nadia menaiki tangga saat berada di lantai atas betapa terkejut-nya gadis itu tatkala semakin banyak hantu, lebih tepat-nya hantu bule berpakaian militer dan lebih membuat Nadia kesal serta muak lantai atas di jadikan barak, kecuali kamar-nya, kamar mandi, dan kamar tamu.
“HANSON VAN BUTHJER!!!!” teriak Nadia dengan emosi lantaran ia sudah muak dengan tingkah hantu yang satu ini baru juga tinggal sehari sudah bikin ulah serta membuat Nadia menjadi darah tinggi.
“Ada apa, lieve.” Hanson menaiki tangga dengan sempoyongan serta membawa gelas yang berisi anggur putih.
“Hanson!!! Kamu gila!! Maksudnya apa?!” maki Nadia sambil berkacak pinggang.
“Dan kamu mabuk!!!” gentak Nadia dengan marah sambil menunjuk dengan kelima jarinya karena muak dengan kelakuan hantu belanda yang satu ini, seperti tidak ada etika.
“Sekarang ikut aku ke kamar dan aku ingin bicara?!” Hanson mengikuti Nadia ke kamar dengan di bantu anak buahnya menuju kamar Nadia, kali ini Nadia melihat anak buahnya sedang memapah Hanson lalu menidurkan-nya di Kasur spring bed milik Nadia.
Gadis tersebut tahu kalo orang dalam keadaan yang sedang mabuk akan sulit di ajak bicara jadi ia biarkan saja Hanson sementara waktu untuk merebahkan diri sambil mengeluarkan racauan yang tidak jelas.
Nadia memutuskan belajar untuk mempersiapkan UANBM yang terjadi pada akhir bulan April, sambil menyuruh para tentara yang berwujud hantu sedang bersantai sambil merapikan barang mereka.
“Sersan De Hugh!” panggil Nadia, sang empu secara cepat berdiri di belakangnya.
“Nyai!” ujar-nya dari belakang Nadia melihat sekilas dia sambil menunjukan wujud aslinya berwujud tangan yang hilang sebelah dengan memperlihatkan tulang dan dagingnya, serta mata sebelah kiri yang keluar.
“Ini perintah Sinyo tolong semuanya suruh diam.” Ucap Nadia sambil menahan rasa takut-nya yang bisa saja gadis itu pingsan karena ketakutan.
“Baik Nyi.” Setelah itu anak buah Hanson hilang. Nadia segera masuk ke kamar dan masih melihat Hanson dengan racau-an yang tidak jelas.
Melihat itu Nadia hanya bisa mengeleng pasrah dengan rasa cuek atau tak peduli, dia memilih untuk jadwal pelajaran besok dan persiapan UANBM. Nadia juga tak sabar untuk segera keluar dari sekolah itu yang menurut-nya seperti neraka.
Tiba-tiba Hanson pulas Nadia bersyukur akhirnya hantu itu bisa diam juga dan membiarkan-nya belajar dengan tenang, menggunakan bantuan handpone ia bisa secara mudah mencari sumber untuk ia pelajari.
Tanpa sadar matanya melihat sesuatu yang aneh ia pernah mendengar bahwa temannya juga punya kemampuan seperti dirinya, sama dengannya ia juga memiliki suami hantu Belanda dan malah juga sudah punya anak menurut penjelasan-nya jika ia menikah dengan manusia maka nanti anak-nya juga memiliki kemampuan sepertinya.
Ini selalu jadi rahasia bahkan sahabatnya selalu menutupi dari orangtua-nya, teman-nya Nadia Namanya Sarah, dia bertemu Sarah saat sang mendiang Ayahnya sewaktu masih hidup mengajak-nya ke kantor waktu itu keadaan Nadia baru pulang sekolah dengan memakai seragam putih-merah.
Nadia juga ingat waktu itu dia merengek dengan sang Ayah untuk di belikan makanan ikan tetapi Ayah-nya malah menyuruhnya pergi ke kantornya, dengan di bonceng menggunakan motor oleh Ayahnya setelah pulang sekolah untuk menuju kantor-nya saat bertugas, di saat itu ada Sarah anak teman kerja sang Ayah.
__ADS_1
Itulah awal Nadia bertemu dengan Sarah dua anak indigo yang ditakdirkan bertemu untuk menjalin persahabatan.