
Malam harinya Nadia sedang bersantai sambil menonton televisi dengan memakan kerupuk balado dan teh manis dingin di lantai atas.
“Nadia nanti je gendut!” Ujar Hanson yang tiba-tiba muncul duduk di sebelahnya.
“Bisakah kamu pergi!” Ucap Nadia yang sudah kesal lantaran malam sabtu adalah favorit untuknya dan malam minggu.
“Ik akan pergi jika je berhenti makan.” Ujar Hanson dengan melipat tangan lalu menyilangkan kaki.
“Baik aku berhenti makan.” Dengan kesal Nadia mematikan televisi lalu menutup toples kerupuk tersebut, setelah-nya pergi ke kamar untuk belajar karena senin ia sudah harus UANBM.
Nadia melihat jadwal ulangan untuk memulai belajar dengan giat, waktu terus berlanjut tak berselang lama Nadia melirik jam dinding ternyata sudah menunjukan pukul 11 malam jadi Nadia menutup pintu balkon kemudian mengambil handuk untuk melakukan kebiasaan-nya sebelum tidur, menyikat gigi, mencuci wajah, dan mengambil air wudhu.
Nadia memakai cream wajah sebelum tidur serta menggunakan lotion, setelah selesai ia tidur dan Hanson mematikan lampunya, Nadia mulai melepaskan roh dari tubuhnya berjalan melewati waktu berputar-putar seolah suara jarum jam terdengar sampai ia terbangun setelah melewati pusaran waktu di Buitenzorg atau bogor ia terbangun dengan mengedipkan mata menyesuaikan cahaya yang masuk.
Ya ini sudah sangat pagi sedangkan Hanson tak ada di sebelahnya tetapi ia mendengar suara gemercik air dari kamar mandi itu pasti Hanson, Nadia turun dari ranjang untuk ke kamar mandi setelah Hanson.
Hanson keluar dari kamar mandi dalam keadaan harum Nadia menunduk untuk melewati Hanson untuk masuk ke kamar mandi. Hanson tersenyum jahil di otaknya sudah ada rencana untuk mengerjai Nadia.
Di ruangan makan wajah Nadia jadi merah padam seperti kepiting rebus karena Hanson, meja makan di rumah yang ia tempati sangat antik hanya design yang sedikit berbeda dari rumahnya di Batavia dulu, saat Nadia memasuki ruang makan untuk pertama kali ia melihat meja makan yang memanjang dan ada banyak kursi serta di tengah meja ada lilin.
Nadia menarik kursi kemudian duduk di meja makan tak lama, Hanson datang ke ruang makan ia tidak dengan pakaian dinas malahan pagi ini ia memakai baju yang santai kemeja lengan pendek serta celana hitam.
Nadia menundukkan kepalanya karena pagi ini ia sangat kesal dan malu karena tingkah Hanson yang tadi di kamar mandi, Nadia dengan mati-matian menutupi punggung-nya dengan baju tertutup karena ada tanda kepemilikan hasil karya Hanson yang dibuat saat di kamar mandi.
“Nadia apa je ingin berjalan-jalan di kota ini?” tawar Hanson yang sudah makan sambil mengusap mulutnya menggunakan serbet putih, Nadia hanya menganggukkan kepala tanda masih takut dengan Hanson.
“Sekarang je siap-siap, akan ik ajak je jalan-jalan berkeliling Buitenzorg.” Nadia tersenyum setelah mengusap mulutnya dengan menggunakan serbet putih Nadia langsung bersiap-siap menuju ke kamarnya dengan Hanson.
Setelah selesai Nadia menuruni tangga hari ini ia menggunakan gaun selutut dengan lengan pendek yang mengembang, rupanya Hanson telah menunggunya di bawah sambil mengusap arloji-nya.
“Je sudah siap?” Hanson tersenyum antusias lalu Nadia tersenyum tipis sambil menganggukkan kepala dan menggamit lengan Hanson untuk menuju ke dalam mobil, saat perjalanan Hanson menyetir mobil sedangkan Nadia menghadap ke luar jendela mobil.
Gadis itu sepertinya masih takut dengan Hanson. “Je mau belanja?” ucap Hanson.
__ADS_1
“Barang masih banyak Hanson di rumah...” Ujar Nadia berusaha tak takut saat menatap Hanson.
“Bagaimana kalo kita berdua menghabiskan waktu di taman?” permintaan Nadia kepada suaminya, Hanson tersenyum lalu mengangguk setuju.
Hanson mengemudikan mobilnya kemudian memarkirnya, banyak mobil-mobil orang kalangan elite atau Eropa yang terparkir.
Di taman yang tak jauh dari area pusat kota Nadia menuruni mobil sambil menggamit lengan suaminya menuju area taman.
Nadia melihat banyak sekali orang di taman itu, Hanson merubah posisi tangan menjadi merangkul pinggang Nadia dengan tangan yang Nadia gandeng tadi.
“Hanson...” Kata Nadia dengan terkejut lalu mengajaknya ke danau yang terdapat angsa putih sedang berenang.
Di taman terdapat sebuah patung laki-laki besar di tengah-tengah taman sambil mendekap sebuah buku, tak lupa juga banyak anak-anak belanda berlarian kesana-kemari dengan riang, serta wanita-wanita Belanda berbincang-bincang sembari berjalan-jalan dengan membawa payung di tangan-nya.
Nadia juga melihat para Nyai Pribumi sambil mengandeng anak mereka dari hasil hubungan-nya dengan tuan Belanda mereka, Nadia tersenyum melihat wajah-wajah anak campuran itu nampak cantik dan tampan. Apa suatu hari dirinya akan memiliki anak bersama Hanson.
Disini siang ini langit nampak mendung sekaligus cerah Hanson membawa Nadia duduk di kursi taman sambil melihat angsa yang berenang di sertai kupu-kupu mewarnai taman siang ini.
Nadia juga selalu menggamit lengan Hanson sambil sesekali menyandarkan kepalanya di dada bidang milik Hanson di tambah angin yang berhembus secara semilir.
“Kapan je mengandung anak ik?” tanya Hanson.
“Sabar Hanson jangan sekarang, nanti saat lulus dan aku masuk sekolah menengah atas aku janji akan mengandung.” Kata Nadia sambil sesekali memegang dagu suaminya. Hanson membelai surai hitam milik Nadia lalu mulai bicara pada istrinya.
“Ik akan terima anak dari je, ik juga tak peduli laki-laki atau perempuan!” ucap Hanson, sontak membuat pipi istrinya merona merah, Nadia memandang dua angsa putih yang sedang bersama itu seperti bayangan dirinya dengan Hanson.
Tak lama seorang anak berambut pirang dengan kemeja putih dan rompi coklat, serta menggunakan celana pendek hitam.
Melempar batu ke danau pada dua angsa putih yang sedang berenang berdampingan dari lemparan batu anak nakal barusan membuat angsa putih itu menjadi berpisah.
“Adriaan!! Kemari dasar anak nakal!” Ucap seorang wanita belanda paruh baya berambut pirang sambil menarik tangan anak tersebut menjauh dari para angsa.
Semua orang yang berada dekat area danau menjauh karena para angsa keluar menuju daratan siap untuk menyosor semua orang tanpa terkecuali, Hanson membopong tubuh Nadia agar menjauh dari area danau.
__ADS_1
Setelah berlari cukup jauh dari para angsa yang mengamuk. Nadia memeluk Hanson yang tingginya hanya setengah dada, lalu terisak.
“Nadia, kenapa dengan je?” ucap Hanson kepada istrinya, Nadia hanya mengeluarkan suara isakan seperti tangis dari mulutnya.
Hanson memeluk istrinya agar menenangkan gadis itu. “Sudah jangan menangis,” Hanson juga mencumbu leher dan bahu Nadia.
Nadia melepaskan pelukan-nya lalu tak berani menatap Hanson, Nadia merasa saat dua angsa putih tadi di lempari batu oleh anak nakal itu menjadi terpisah ia takut jika dirinya dan Hanson akan bernasib seperti dua angsa yang terpisah itu.
“Hanson aku...” Saat Nadia belum selesai bicara Hanson menyuruhnya berhenti dengan mengisyaratkan jari telunjuknya di bibir warna orange milik Nadia.
“Sekarang je ikut ik jalan-jalan di taman,” Nadia mengangguk patuh kemudian menggamit lengan suaminya, bibir penuh dan merah milik Hanson tersenyum lantaran bisa menenangkan istrinya.
Nadia menghabiskan waktu hari ini bersama Hanson lalu saat siang ia pulang dengan menaiki mobil dan Hanson yang menyetir.
“Ik akan dinas nanti?” ujar Hanson.
“Apa ada masalah soal senjata?” Hanson terkejut lalu mengangguk sebagai jawaban-nya.
“Saranku cobalah buat senjata yang bisa diarahkan dari jarak jauh.” Hanson terdiam lalu tersenyum. Memang selama ini karir-nya dalam militer begitu mulus saat bersama Nadia karena berkat saran dari istrinya ini ia bisa berkarir dalam militer.
Sesampainya di rumah Hanson menyuruh sang kacung untuk memarkirkan mobil antik itu di garasi, pada masa itu mobil klasik ini sangatlah mewah dan mahal.
“Ratih bisa kamu siapakan air hangat untuk mandi Hanson!!” Nadia sedang berjalan memanggil Ratih agar di siapkan mandi air hangat untuk suaminya tapi Hanson mulai aksinya dengan membopong tubuh Nadia, sontak Nadia yang terkejut lalu melingkarkan kedua tangan-nya di leher Hanson.
“Hanson apa yang kamu lakukan?! malu banyak orang.” Ucap Nadia yang sangat malu tetapi Hanson sangat tak peduli para pekerja pun tidak risih melihat majikan mereka bermesraan seperti sekarang ini.
Hanson membopong tubuh Nadia ke kamar yang terletak di lantai atas, kemudian menjatuhkan tubuh mungil Nadia di ranjang yang terdiri dari empat tiang di setiap sudutnya.
“Je sangat cantik, ik sudah menahan rasa ini sejak tadi.” Hanson menindih tubuh Nadia lalu mencumbu istrinya itu.
Nadia tersenyum siang ini setelah selesai melakukan hubungan, tubuh keduanya tanpa sehelai benang dengan peluh bercucuran di tubuh keduanya. Nadia menyelimuti dirinya dengan selimut dan melihat Hanson bersiap-siap dengan seragam dinas-nya setelah Hanson melepaskan semua hasrat birahinya.
“Apa kamu nanti makan malam di rumah?” tanya Nadia dengan terduduk di atas ranjang dan berusaha menutup tubuh nya dengan selimut.
__ADS_1
“Ik akan makan malam bersama je, di rumah tunggu ik.” Hanson mendekat lalu mencium kening istrinya.
Nadia memakai gaun-nya kembali setelah itu ia hanya melihat kepergian Hanson dari jendela atas kamarnya dengan menaiki mobil, Nadia kembali merebahkan dirinya di ranjang sesekali matanya terpejam sambil membayangkan momen saat bersama Hanson.