
Keesokan paginya Nadia terbangun karena mendengar bunyi suara pistol ia segera mencuci wajah dan memakai gaun biru berenda indahnya untuk menanyakan hal yang terjadi. Vella, Bella, maupun Putri juga terbangun lantaran terbangun karena bunyi alat-alat Perang.
“Eh ada apaan sih nih? gangu gua lagi bobo cantik aja.” Tanya Vella.
“Iya nih pagi-pagi udah berisik aja.” Timpal Bella.
“Yaudah ayo lebih baik tanya aja ama Hellen.” Ajak Putri.
Pada akhirnya di setujui tiga gadis itu ia melihat Hellen sedang di mempersiapkan persembunyi di ruang bawah tanah.
“Hellen ada apaan sih ini?” tanya Vella yang selalu ingin tahu.
“Hari ini Jendral Willem menyatakan ingin menyerang kadipaten angalarang.” Jelas Hellen, “sebaliknya kalian ikut ik bersembunyi.” Ujar Hellen.
“Kalian sembunyi dulu aku pengen ketemu papa!” Nadia berlari untuk menemui ayah mertuanya tanpa peduli panggilan dari teman-temannya.
“PAPA!!” Nadia berlari mendekati Willem saat sedang mempersiapkan senapan dan bom.
“Nadia, apa yang je lakukan disini?” ucap Willem sambil memegang kedua bahu menantunya.
“Aku akan ikut...” Ucap Nadia.
“Nadia berhenti berbuat konyol...ayo sekarang ikut ik je harus bersembunyi.” Ucap Willem dengan bulat sambil menarik tangan Nadia menuju ruang bawah tanah.
“Setidaknya lakukan untuk melindungi anak ini.” Ucap Willem.
“Ik akan baik-baik saja.” Nadia menganggukan kepala setelah menatap mata biru milik mertuanya kemudian menyuruh Nadia bergabung bersama Hellen, dan teman-temannya bersembunyi.
__ADS_1
Nadia memikirkan cara agar keluar dari sini pasalnya kunci pintu ada di saku baju Hellen, ia akhirnya punya ide untuk keluar menunggu mereka semua tertidur kemudian mengambil kuncinya di saku baju milik Hellen lalu pergi menyusul mertuanya ke medan tempur.
Siang harinya Nadia melihat semuanya tertidur pulas ia keluar dengan mengambil kunci secara pelan-pelan dari saku baju Hellen lalu keluar ruang bawah tanah mengambil senapan laras Panjang dan beberapa peluru kemudian menunganggi kuda.
Nadia melihat dari atas bukit pertempuran dari kerajaan Angalarang dan belanda sampai suatu ketika ia sadar bahwa kelemahan kerajaan angalarang berada pada sang pangeran Argani yang dengan gagahnya bertarung melawan belanda.
Nadia melihat cahaya bersinar dari lengan Argani berwarna hijau zamrud ia tahu jika para pemimpin siluman kelemahannya berada pada dimana titik mustika itu, Nadia segera mangambil senapan yang ia bawa di punggungnya kemudian memasangkan peluru.
Sialnya peluru pertama bukan mengenai Argani melainkan salah satu patih kerajaan, yang kedua pun juga sama malah mengenai prajurit belanda, sampai peluru yang ketiga berhasil mengenai lengan sang pangeran dan Argani tewas di tempat hal itu membuat para pasukan Angalarang menjatuhkan senjata kemudian berjongkok dengan kedua tangan di atas leher.
Willem heran bagaimana mungkin bisa padahal Argani sangat sulit di dapatkan sampai ia sadar Nadia dengan kudanya mendekatinya dan ia turun dari kuda membungkukan badan dengan susah payah karena perutnya yang sudah membesar.
Di markas ruang bawah tanah Vella terbangun. “Bell...Bella bangun!!” ujar Vella sambil menguncang-gucangkan tubuh Bella.
“Apaan sih lo bangunin gua...masih ngatuk tahu.” Bella bicara sambil menguap.
“Eh ini Nadia kagak ada?!” Vella yang panik membuat Bella membulatkan matanya dan rasa kantuk Bella menjadi hilang seketika.
Hellen di beri tugas agar menjaga istri sahabatnya sebelum ayahnya dan Mayor Jendral Willem pergi untuk bertempur, Hellen langsung memeriksa kunci di saku bajunya dan benar saja kuncinya sudah hilang lalu gadis indo-Belanda tersebut berlari mengecek pintu ruang bawah tanah, rupanya dugaan Hellen benar Nadia melarikan diri menuju medan tempur.
“Teman-teman ini gawat, rupanya Nadia menuju medan tempur.” Kata Hellen menduga-duga.
“What!!” Bella membulatkan mulutnya lalu menaruh telapak tangannya di mulutnya itu.
Para gadis itu segera keluar dari ruang bawah tanah dan saat mereka sampai depan para tentara sedang bersorak gembira, yang membuat ke empat gadis itu kebingungan Nadia dengan perut yang sedikit membuncit malah membawa senapan.
“Bella! Putri! Vella!! Kita menang kadipaten berhasil dikalahkan!” Nadia sangat gembira yang akhirnya ia bisa kembali pulang bertemu Adik dan Ibunya hatinya sudah amat merindukan keduanya, begitu juga Bella dan Vella yang juga bahagia akhirnya bisa pulang bertemu orang tua mereka.
__ADS_1
“Asyik akhirnya gua bisa ketemu nyokap ama bokap gua.” Vella yang antusias.
“Iya gua juga.” Ucap Bella dengan senang.
Sudah seminggu lebih mereka di alam gaib ini dan waktu yang tak seharusnya, wajah Putri tampak tak bahagia entah apa yang ia pikirkan apa dia tak mau bertemu orang tuanya.
Putri tak ikut makan untuk menyambut kemenangan ia malah lebih memilih di taman depan rumah dengan awan mendung solah mewakili hatinya ia duduk di atas ayunan yang ada di pohon, tak lama seseorang melingkarkan tangannya di pinggang Putri.
“William aku tahu itu pasti kamu.” Putri yang nampak sedih.
“Mengapa je tak ikut makan?” tanya William berjalan untuk bertatapan wajah dengan Putri.
“Aku gak mau pisah dari kamu...” Ujar Putri dengan lirih.
“Hey...” William mendongkakan dagu Putri dengan pelan mata mereka bertatapan sejenak.
“Ik akan selalu di hati je begitu juga ik...” Ucap William.
Tak lama Putri langsung bangkit dari ayunan untuk memeluk tubuh William, “ik hou van je.” Putri rupanya sudah bisa berbahasa belanda karena belakangan ini ia selalu bersama William van Ort. Kegiatan mereka tanpa sadar di perhatikan oleh Hellen dan Nadia dari jauh.
Nadia tak tega memisahkan keduanya sama seperti perasaannya kepada Hanson, rupanya tak hanya dirinya yang merasakan cinta berbeda dimensi maupun waktu tapi juga temannya.
Singkat cerita di depan markas Nadia, Vella, Putri, dan Bella di kumpulkan oleh Willem dan Baron, “kalian sudah bantu ik sesuai janji ik akan pulangkan kalian.” Willem berkata kemudian mengeluarkan 4 botol ramuan kecil seukuran 5 centi meter berwarna hijau isinya adalah mustika yang berubah cair dari tubuh Argani yang dapat mengirim mereka kembali keluar dari alam gaib atau waktu ini.
“Sebelum kalian meminumnya mintalah harapan dulu.” Ucap Hellen.
Nadia mengangguk ia meminta agar keinginannya menjadi seorang penulis tercapai, Vella meminta ingin menjadi bintang sekolah atau lebih tepatnya cewek populer pantas selama ini ia kepo agar bisa mendapatkan perhatian ia rela mencari informasi, dan Bella meminta dalam hatinya agar ia menjadi tokoh internet, seperti selebgram dan youtuber terkenal.
__ADS_1
Putri meminta hal yang tak terduga tapi entah apa hanya ia dan hatinya yang tahu apa yang diminta.
Mereka semua menengguk ramuan itu sesaat ada cahaya putih yang menarik mereka keluar dari alam gaib tersebut, Nadia memikirkan rahasia apa yang dimaksud kakeknya sedangkan 3 temannya dibuat lupa seolah tak terjadi apa-apa.