
Malam ini Nadia sibuk menyiapkan semuanya untuk besok mulai dari baju, sabun, dan lain sebagainya karena besok ospek, ibunya juga sibuk memasukan barang ini dan itu untuk ospek di puncak bogor.
Nadia memutuskan tidur karena ia sedang berhalangan jadi ia tak solat isya dulu, Nadia mulai melepaskan roh dari tubuhnya berjalan melewati waktu berputa-putar seolah suara jarum jam terdengar sampai ia terbangun setelah melewati lorong waktu.
Nadia mempersiapkan diri karena hari ini ia dan Hanson akan pindah kembali ke Batavia padahal Nadia lebih suka Buitenzorg karena udaranya tak terlalu panas.
Sesampainya di Batavia Nadia turun dari kereta dengan di jemput Ardi sebagai supir, Hanson masih bersikap datar dan dingin kepada para Inlander atau Pribumi.
“Hanson bersikaplah tidak terlalu dingin.” Bisik Nadia yang terduduk di kursi belakang mobil.
“Nadia, 'kan je stil zijn!!” bisik Hanson dengan marah menyuruh istrinya diam. Nadia hanya bisa menghembuskan Nafas lelah melihat tingkah suaminya seperti ini tak pernah mau berubah.
Ardi menyetirkan mobilnya di pekarangan rumah dinas dengan halaman luas, rumah dari luar nampak kecil tapi saat masuk kedalam sangat luas dan ada tangga kayu yang mengarah ke atas ada dua kamar, pemerintah hindia belanda tak main-main memberikan semua ini padanya juga suaminya hanya karena ia bekerja sebagai pencetus alat di pertambangan untuk hindia belanda.
“Nadia!!” panggil Hanson yang berada tepat di ambang pintu, secara otomatis Nadia menoleh menatap Hanson yang datang menghampirinya.
“Hanson, aku akan ikut beres-beres.” Kata Nadia yang langsung pergi melewati Hanson tetapi malah tangan Nadia di tarik oleh Hanson, gadis itu benar-benar tak mengerti apa yang ingin Hanson lakukan, tetapi pria belanda itu terduduk di kasur sambil menengelamkan wajahnya di perut Nadia yang sedikit membuncit.
“Hey, Liefste. Papa tidak sabar menunggu je untuk lahir.” Ucap Hanson yang memeluk Nadia dengan tangan melingkar memeluk Nadia dan wajahnya masih setia di tengelamkan di perut Nadia.
__ADS_1
“Dia akan lahir Hanson.” Ucap Nadia dengan senyuman tipis, tangannya membelai lembut rambut pirang milik Hanson.
Nadia tak menyangka kehidupan seperti sekarang inilah yang sangat ia idamkan menikah dengan pria bule tetapi apa bisa ia hidup selamanya di dimensi dan waktu saat ini, dan bagaimana dengan ibu dan adiknya di waktu masanya hidup.
“Nadia mulai besok je harus aktif di acara nonformal kantor ik.” Ucap Hanson.
“Iya, aku akan datang besok,” patuh Nadia, Hanson melepas pelukannya lalu berdiri dari sofa.
“Ik ingin ke ruang kerja ik ada sedikit pekerjaan yang harus ik kerjakan.” Ucap Hanson.
“Hanson sebaliknya kamu, pakai cara 2 aku yakin cara itu paling berhasil untuk melakukan perlawanan kepada etnis asia.” Hanson yang ingin menuruni tangga menjadi terhenti dan menatap istrinya yang hanya setinggi dada.
“Aku tahu bangsamu ingin menghentikan para pemberontak,” Nadia tersenyum kemudian ia membisikan sesuatu di telinga Hanson dan suaminya itu langsung tak percaya apa yang di katakan oleh Nadia barusan, Hanson menganggukan kepala.
Nadia memilih membaca buku di kamarnya dengan hanya mengandalkan penerangan cahaya lilin ia membaca di atas kasur yang berhias empat tiang, Nadia mulai kegerahan udaranya sangat panas untuk itu ia berfikir membuat sebuah alat agar dirinya tak kepanasan besok ia akan menemui rekan kerjanya untuk membuat alat pendingin ruangan.
Tak lama Nadia menaruh kembali bukunya di samping meja melihat Hanson masuk ke dalam kamar dengan melepas pakaian, Nadia menelan salivanya memperlihatkan tubuh Hanson yang memiliki kulit putih gading hanya menyisakan celana Panjang menuju lemari sambil memilih pakaian dari lemari kayu.
Nadia bangkit dari kasur lalu mendekati Hanson yang masih memilih baju dari lemari kayu, Hanson berbalik badan sedikit terkejut melihat Nadia yang berjalan mendekatinya.
__ADS_1
“Nadia ada apa?” tanya Hanson sambil mengerutkan dahinya tanpa di sadari Nadia malah berjinjit kemudian mencium bibir Hanson.
Pria Belanda itu malah ******* bibir Nadia mereka saling bercumbu sampai akhirnya sebelum mereka berbuat lebih jauh ada seorang bendide bernama Rusminah mengetuk pintu kamar majikannya.
“Siapa?!” kata Hanson dengan kesal karena membuat kegiatannya terhenti bersama Nadia.
“Saya Rusminah, Meneer.” Jeda. “Saya sudah menyiapkan makan malam,” ucap Rusminah sambil mengetuk pintu secara hati-hati.
“Ik dan Nadia akan segera ke ruang makan!!” kata Hanson dengan kesal karena menganggu saat sedang melakukan kegiatan bersama Nadia.
“Terimakasih, Rusminah.” Nadia menyahut dengan ramah.
“Hanson cepat pakai baju kamu!” Nadia yang memerintah Hanson.
Malam ini Nadia memakai gaun yang berbahan adem karena ini Batavia sudah di pastikan sangat panas berbeda jauh dengan Buitenzorg yang dingin dan selalu turun hujan.
Makan malam ini Nadia dibuatkan soto daging sedangkan Hanson memakan soep ercis mereka makan dengan hanya di temani dentingan alat makan sedangkan para kacung sibuk menyalakan lampu rumah. Setelah selesai makan Nadia kembali ke kamar bersama suaminya.
Nadia sedang merapikan tempat tidur dan di sampingnya Hanson sudah menyiapkan tempat tidur bayi terbuat dari kayu jati dengan gaya antik di samping tempat tidurnya, Nadia mendekati tempat tidur bayi itu sambil mengelusnya lalu tangannya mengelus perutnya yang sedikit membuncit tak lupa senyum yang selalu terukir di wajahnya.
__ADS_1
Tanpa menyadari Hanson ikut terduduk di belakang Nadia sambil melingkarkan tangannya, tak lupa Hanson mencium bahu Nadia yang ber-aroma bedak.
“Sudah malam waktunya kita tidur.” Hanson mengaggukan kepala lalu mematikan lampu dengan meniup lilin untuk tertidur bersama.