Nadia, The Indigo Girl

Nadia, The Indigo Girl
BAB 48


__ADS_3

Nadia akhirnya boleh keluar dari rumah itu dengan 5 orang prajurit berwujud hantu yang di suruh oleh Willem ayahnya Hanson mengawal Nadia sampai perkemahannya untuk menjaga keamanannya apalagi Nadia tengah mengandung cucunya, lagi pula banyak juga yang mengincar Nadia. Sesampainya di kemah tentu Nadia tak luput dari kemarahan kakak pembinanya.


“Kamu!! Darimana?!” debrak marah kakak-kakak pembinannya. Nadia menunduk dan mencari alasan yang tepat.


“Aku tadi nyariin uang aku kak yang ilang, tapi udah ketemu.” Bohong Nadia dengan kepala masih tertunduk.


“Yaudah sekarang kamu gabung sana, baris pertim!!” perintah Kakak alumni dengan marah.


 “Tapi sebelum itu jalan jongkok.”  Perintahnya lagi tentu Nadia berjalan jongkok sampai ke barisan kakinya akan terasa pegal.


Nadia dibarisannya tak luput dari pertanyaan teman-temannya yang sekelas maupun yang berbeda kelas, Nadia tak terasa waktu menjelang sore, Nadia yang sedang datang bulan menganti pembalutnya dengan membuangnya di plastik hitam bareng dengan temannya.


Setelah ganti pembalut Nadia benar-benar di aula yang berbentuk saung dan tak berani kemana pun karena habis dimarahi oleh kakak alumninya.


“Eh tadi lu abis dari mana?” tanya teman-temannya yang lagi datang bulan maupun yang non muslim.

__ADS_1


“Tadi gua nyariin duit gua jatoh.” Bohong Nadia.


“Yaelah berapa sih yang jatoh?” tanya cuek temennya yang Namanya Elisa.


Nadia malah mengelengkan kepala, “yaudah sih pada kepo banget dah.” Ucap Salsa yang tomboy menghentikan semuanya.


Di akhirnya semuanya pada melakukan panjat tali dan alat-alat outbond. Setelahnya semuanya pada mandi karena seluruh tubuh mereka di penuhi lumpur.


Para murid makan malam sesudahnya mereka di kumpulkan di lapangan lagi untuk menyalakan api unggun sambil melihat pertunjukan ekstrakurikuler yang akan di pilih nanti oleh para siswa, udara di bogor cukup dingin apalagi ini masih daerah perkampungan dan terletak di gunung Nadia menggunakan jacket berwarna merah dan celana hitam Panjang di padukan kerudung langsung warna coklat.


 Semua siswi memakai celana hitam dan kerudung coklat kecuali anak laki-laki atau yang non-muslim tak memakai kerudung, untuk jacket yang para siswa-siswi serta guru yang di kenakan karena udaranya sangat dingin berbeda warna dan model masing-masing.


Nadia menoleh kesana kemari sambil mendekap tubuhnya yang sedang mengigil kedinginan.


“Kamu lihat gadis berbaju merah itu.” Ucap seorang wanita dari kejauhan yang dimaksudnya ialah Nadia sedang berbincang dengan Salsa dan Putri.

__ADS_1


“Iya kanjeng ratu.” Ujar suara laki-laki.


“Aku ingin gadis itu, karena selain rambut, kuku, dan darahnya yang sakti. Gadis itu juga menantu dari Willem van buthjer, lebih menguntungkan lagi ia sedang mengandung cucunya Willem.” Ucap Wanita itu.


“Lalu apa yang kami harus lakukan kanjeng?” tanya sang pengawal.


 “Kita akan jadikan Sandra dan sebagai gantinya kita akan suruh belanda-belanda itu pergi dari kerajaan kita kalian mengerti.” Ujarnya.


“Mengerti kanjeng Ratu.” Patuhnya.


“Ayo laksanakan.” Perintah ratunya. “Baik kanjeng.” Ucap mereka serempak.


Nadia tanpa sadar tertidur karena terlalu lelah saat ini waktu menunjukan pukul 11 malam sudah melewati waktu tidurnya, sampai kakak kelas 12 memetikan jarinya untuk membangunkan Nadia.


“Woy!! Bangun bentar lagi selesai kok.” Ucap kakak kelasnya.

__ADS_1


“Maaf kak saya ketiduran.” Ujar Nadia. Setelahnya kakak kelas yang mengenakan almamater berwarna kuning tersebut itu pergi melanjutkan pemotretan dengan membawa kamera.


“Sabar gua juga ngatuk.” Ujar Putri.


__ADS_2