Nadia, The Indigo Girl

Nadia, The Indigo Girl
BAB 52


__ADS_3

Keesokan paginya Nadia bangun saat sinar matahari masuk ke dalam celah jendela kamarnya, Nadia membersihkan diri kemudian memakai gaun putih yang Hellen berikan semalam untuk keluar kamar menemui teman-temannya.


Nadia melihat Putri bergaun santai berwarna biru di taman mengendap-ngendap saat itulah Nadia melihat Putri yang secara diam-diam menemui Sersan Wiliam Van Ort. Nadia bersembunyi di balik tiang sambil memperhatikan keduanya.


“Tuan...Eh...Maksud saya Mister William aku...” Belum sempat Putri menyelesaikan ucapannya jari telunjuk William mengisyaratkan berhenti tepat dibibir Putri.


“Putri ik sebenarnya menyukai je karena...kedewasaan je dan kebijakan Je dalam berfikir.” Ucap William yang di tangannya sudah memegengam setangkai mawar.


 William menempatkan rambut Putri di samping telinga lalu meletakan Mawar merah itu di atas daun telinga milik Putri, mereka bertatapan sejenak saat William ingin mencium bibir ranum milik Putri.


“Sersan Van Ort.” Salah satu tentara berparas belanda menghampiri William, jika ia di panggil jendral karena ada sesuatu yang ingin di bicarakan.


Nadia segera pergi dari tempat itu untuk menemui Vella dan Bella karena takut ketahuan jika ia mengintip Putri saat sedang bermesraan dengan William.


Nadia berjalan menuju kamar teman-temannya saat sedang berjalan ia di jegat oleh 3 kacung pribumi matanya menyala dan mulutnya mendesis seperti ular, “siapa kalian?!!” ujar Nadia dengan berjalan mundur lalu berlari mencari pertolongan tapi hasilnya nihil mereka merubah bawah kakinya berwujud menjadi setengah ular dan melilit tubuh Nadia tak lama dari arah belakang.


“Hei!!” ucap 3 serdadu sambil menodongkan senjata.


“Kalian!! Kerajaan Darmasoma mau apa kalian!!?” ucap serdadu Belanda.


“Kami ingin janin Nyai Nadia.” Nadia langsung membulatkan mata tak lama.


DOR!!


suara tembakan yang di lepaskan mayor jendral Willem van buthjer membuat yang melilit Nadia menjadi melepaskan Nadia.


“PAPA!!” Nadia berlari ke ayah mertuanya lalu memeluk tubuhnya.


“Je tak apa?!!” tanya Willem dengan panik.

__ADS_1


“Tak apa papa.” Ucap Nadia.


 “BAGAIMANA BISA ADA PENYUSUP MASUK!!! OVERDOMSE!!” Maki Willem ke anak buahnya. Setelah puas memarahi anak buahnya Willem mengajak Nadia sarapan, Di meja makan mereka semua berkumpul termasuk teman-teman Nadia kecuali para serdadu.


 “Papa kerajaan Darmasoma itu kerajaan mana?” tanya Nadia membuka pembicaraan.


“Itu kerajaan yang setengahnya berhasil ik hancurkan hanya tinggal ik robohkan saja bangunannya, dan tentu menghabiskan jutaan gulden.” Jawab Willem kepada menantunya sambil minum susu hangat.


“Papa kami harus pulang...keluarga kami pasti sedang mencari kami.” Ujar Nadia mewakili teman-temannya bicara.


Pagi ini Vella, Putri, dan Bella memakai gaun santai berenda indah.


Willem menghembuskan nafas lalu menjawab menantunya.


“Nadia ik butuh saran dari je...ik akan pulangkan je semuanya setelah kadipaten Anggalarang hancur.” Janji Willem.


“Bagaimana je mau bantu ik?” tawar Willem.


“Iya Papa...” Ucap Nadia tanpa pikir Panjang karena ini juga demi teman-temannya yang harus terseret karena dirinya juga. Teman-temanya heran dengan Nadia yang ternyata tak bisa dijelaskan bagaimana.


Setelah makan tadi Nadia dan Hellen mengajak Vella, Putri, dan Bella berkumpul sambil merumpi di taman depan rumah dengan tikar dari kain sambil di temani camilan.


Willem tersenyum melihat itu semua jadi ia putuskan masuk ke ruang kerja untuk menyelesaikan pekerjaan dan tak lupa mengirimi putranya yang berada di Batavia sebuah surat tentang Nadia yang di culik oleh kadipaten angalarang sebagai Sandra dan sekarang keadaannya sudah aman.


Untuk Mayor Hanson van Buthjer


Hanson, papa menemukan istri je sedang di tahan oleh kadipaten yang sedang ik taklukan tapi yang hampir menjadi korban disini adalah Nadia dan kandungannya. Ik tak mau ambil resiko jika terjadi sesuatu pada calon cucu ik dan yang patut di salahkan adalah je yang tidak becus menjaga istri dan calon anak je, ik akan pulangkan Nadia dan teman-temannya yang juga terperangkap di alam ini kembali bersama keluarganya jika ik sudah berhasil menaklukan kadipaten Angalarang karena ik juga butuh saran menantu ik.


Dari Mayor Jenderal Willem van buthjer.

__ADS_1


 


Willem menyandarkan punggungnya sesudah menulis surat untuk putranya yang berada di Batavia dan menyelesaikan pekerjaannya.


‘Bersiaplah untuk nanti malam menciptakan alat menantuku.’ Ujar Willem dalam bahasa belanda sambil menatap jendela dari ruang kerjanya.


Nadia menghabiskan waktu bersama teman-temannya sebelum waktunya mereka semua pulang di taman banyak sekali terdapat patung-patung khas eropa berwarna bercat putih. Dari penalaiannya Willem van Buthjer memang egois dan berjiwa ke ayahan tapi sayang itu semua pasti terselubung sikap adanya keinginan.


Putri yang masih mengenakan gaun biru berenda indahnya sedang menikmati sunset atau terbenamnya matahari di jaman kolonial ini sangat indah, pikiran Putri juga melayang pada keluarganya yang pasti sekarang tengah khawatir memikirkannya, tak lama ada yang memegang bahu kirinya.


“Mister!!” Kata Putri terkejut.


“Putri ik minta cukup panggil nama ik saja.” Minta Willem pada Putri.


“Iya, William kamu ngapain disini?” tanya Putri.


“Untuk menemui seseorang yang sudah membuat hati ik mengentar saat pertama kali bertemu.” Ucap William, Putri menahan senyum malu untuk pipinya sudah seperti merah tomat.


 “Putri... ik hou van je.” Ucap William sambil mengengam kedua tangan Putri lalu mengecupnya yang membuat Putri mengerutkan keningnya tanda tak mengerti.


“Apa artinya?” tanya Putri.


“Ik cinta je.” Jawab William yang mengenakan seragam militer.


DEG!! DEG!! DEG!!


Jantung dan hatinya Putri berdebar kencang lantaran William mengukapkan perasaannya, ia juga tak bisa menampik perasaannya kepada pria belanda ini meskipun di alam dan dimensi yang berbeda.


Putri secara spontan memeluk William di saat Sunset atau terbenamnya matahari menjadi awal satu kisah lagi cinta berbeda dimensi dan waktu, Putri juga tak berfikir apalagi ia akan kembali bersama keluarganya dan akan meninggalkan William cintanya. Sampai sebuah kalimat terucap dari bibir milik Putri.

__ADS_1


“William aku...juga...mencintaimu.” Ucap Putri terbata-bata setelah mengucapkan kalimatnya dengan susah payah Putri berlari ke kamar yang di tempatinya dengan Vella dan Bella.


Sebelum ke kamar ia mengambil sebuah mawar yang diletak William di telinganya tadi pagi, ‘Cinta terkadang indah dan kadang juga dapat melukai.’ Batin Putri sambil memejamkan matanya dan menyandarkan tubuhnya di dinding.


__ADS_2