Nadia, The Indigo Girl

Nadia, The Indigo Girl
BAB 58


__ADS_3

Hari ini ia harus berenang untuk kelas 10 buat yang perempuan dan mata pelajarannya hari ini sejarah Indonesia dan Seni budaya hanya dua pelajaran saja, setelah jam habis Nadia bersama teman-teman harus membayar uang 25 ribu di berikan pada bendahara.


Mereka berenang sehabis solat jum’at. Para murid perempuan menunggu di kelas sampai selesai solat jum’at baru setelahnya mereka bersiap ke kolam renang hotel bumi wiyata.


Nadia dari tadi merasakan perutnya yang sakit gadis tersebut berfikir mungkin saja ia ingin datang bulan jadi dia memutuskan menjejerkan bangku untuk menidurkan diri. begitu juga dengan anak perempuan lain sambil menunggu solat jum’at mereka menidurkan diri di bangku yang mereka susun atau di atas meja.


Nadia menidurkan diri di bangku yang disusun sambil memainkan ponsel dan tak lupa memakai headset kecil di kedua telinganya.


“Nad, lu kenapa?” tanya temannya.


“Gak cuman mules palingan sejam sehat lagi.” Ucap Nadia di sertai cengiran


. Setelah kepergian temannya Nadia malah merasakan sakit pada perutnya, ia merasa kontraksi yang di rasa seperti melahirkan.


Matanya terpejam untuk meredam rasa sakitnya saat membuka matanya ia melihat kondisi kelas sudah sepi dan keadaannya malam hari gelap tanpa ada cahaya, sontak dalam keadaan seperti itu tentunya dia ingin berlari tapi entah mengapa ia tak bisa bangun karena perutnya yang tiba-tiba membesar sendiri seperti waktu di Batavia.


Nadia melihat dari kegelapan ruangan kelas yang tanpa ada cahaya datang seorang perawat berambut pirang keriting dengan wajah menyeramkan serta dokter laki-laki dengan mata yang ilang sebelah mendekati Nadia.


“AAAAAA!!” Nadia berteriak ketakutan dalam keadaan seperti ini, tiba-tiba tangannya di gengam dari samping oleh seseorang ternyata itu adalah Hanson yang memakai seragam militer dengan kepala yang bisa memutar seperti gangsing.


“Ik disini, Liefste.” Ucap Hanson. Entah kenapa Nadia merasa tak takut saat menoleh ke Hanson seolah ia merasa terlindungi, perawat berambut keriting pendek tersebut menekan perut Nadia membuat berteriak kesakitan.


“AAAAA!! Sakit!!” Ucap Nadia dalam jeritannya, “Nadia lihat ik...” Ucap Hanson setelah gadis tersebut menatap suaminya dokter tersebut menarik seorang bayi dari perutnya suara tangis memenuhi ruangan gelap gulita itu.


“Gefeliciteerd Menner van buthjer, een meisje van de baby...” Dokter tersebut berujar dengan senyuman sambil menegendong bayi yang di penuhi darah tentunya berbau anyir yang membuat Nadia ingin muntah.


Dokter tersebut bicara dalam bahasa belanda yang artinya selamat tuan, seorang bayi perempuan. Nadia melihat bayi itu ditimang oleh Hanson dan tiba-tiba di belakang Hanson muncul sosok Anna.


Anna berambut sanggul pirang, berbaju putih yang seluruhnya di penuhi bercak darah dan setengah wajahnya hancur.


“Oh!! Mijn kleindochter!!” Anna sangat Antusias mengendong bayi perempuan itu ke pelukannya meskipun belum di bersihkan dan masih banyak darah.

__ADS_1


Nadia akhirnya bisa bernafas lega dengan perjuangan sakit luar biasa ia bisa mengeluarkan anak itu yang nanti akan mengawalnya seperti Sarah yang memiliki Pauline dan Hellene yang selalu mengawal dan membantunya. “Nadia je punya anak akan disini!” Ucap Anna.


Perawat yang berwajah pucat dengan rambut keriting pirang membawa suntikan di tangannya kemudian menyuntikannya pada lengan Nadia, seketika setelah Nadia mengucek matanya keadaan ruang kelas kembali normal ada suara berisik dan ada yang memainkan ponselnya. Nadia berusaha terduduk meskipun masih terasa sakit. “Woy!! Ayo anak-anak kelas IPA udah pada mau berangkat.” Ucap Farah sang ketua kelas dari depan pintu kelas.


Nadia melihat rok putihnya ada darah apa mungkin ia sedang datang bulan kalo benar sudah pasti mengurungkan niatnya untuk berenang. Nadia bisa bernafas lega lantaran teman-teman sekelasnya tak bisa melihat bercak darah di rok nya yang berwarna putih.


Mereka semua bersiap untuk ke kolam renang hotel bumi wiyata, Nadia berjalan pelan lantaran masih terasa sakit. “Nad, lu napa? jalannya kaya orang kesakitan.” Ucap salah satu anak perempuan.


“Biasa mau datang bulan biasanya gini...” Alibi Nadia agar teman-temannya yang sedang menuruni tangga sekolah tak curiga dengan apa yang terjadi barusan padanya.


Singkatnya sesampainya mereka di kolam renang Nadia memutuskan agar tak berenang dengan alasan datang bulan pada guru olahraganya, yaitu pak Hardi malah memakluminya jadi Nadia berkumpul bersama anak perempuan lainnya yang sedang datang bulan juga.


Nadia menghubungi Sarah dan menceritakan tentang yang terjadi pada dirinya, ekspresi Sarah di panggilan ponselnya tentu bahagia dan senang lantaran sahabatnya sudah melahirkan anak perempuan meskipun hantu.


Setelahnya Nadia menutup panggilan telepon dari Sarah lalu ia menaruh ponsel di tas-nya saat sedang berjalan untuk membeli sosis bakar dan minuman ada yang sengaja mendorong Nadia untuk menceburkannya ke kolam renang sedalam 2 meter.


Tentu saja hal itu malah membuat murid-murid dari sekolahnya maupun dari sekolah lainnya bersikap panik, tak ada siapapun saat itu Nadia berjalan dalam keadaan sepi tanpa ada orang yang sedang duduk kecuali diujung.  Nadia berteriak minta tolong.


“Tolong! Tolong!” Nadia sambil berusaha menyelamatkan diri mengapai pinggiran kolam renang tetapi tubuhnya seperti ditarik untuk ke tengah kolam.


Nadia tak sadarkan diri tubuhnya ditekan agar bisa mengeluarkan air ia melihat murid dari sekolahnya maupun dari sekolah lain mengerubutinya.


“Yang lain tolong jangan mengumpul begini!!” Perintah penjaga kolam renang. Nadia samar-samar mendengar Sofu atau kakeknya bersama Hanson melawan penari berwajah tengkorak itu. “Berani sekali kamu menganggu cicitku!” Tak terima Sofunya malah membuat penari itu setengah wajahnya tengkoraknya melepuh.


“Berani je membuat istri ik celaka!!” Hanson dengan amarah membuat perut penari tersebut bolong. Penari berwajah tengkorak itu pergi sambil mengatakan. “Aku akan menghabisi keturunanmu Kogawa!!” Ucapnya dengan tertawa mengerikan.


“Uhuk...Uhuk...Uhuk.” Nadia terbatuk-batuk lantaran ia tersadar dalam keadaan basah kuyup, “Nadia kamu pulang aja...” Ucap Pak Hardi guru olahraganya.


Beruntung Nadia membawa baju ganti karena berfikir ia akan berenang tapi nyatanya tidak dan baju seragam sekolahnya ia masukan ke dalam plastik juga sepatu serta kaos kakinya ia masukan ke dalam plastik untuk membawa sendal jepit yang biasa ia gunakan untuk ke musolla sekolah saat melaksanakan solat zuhur dan asar, Nadia memesan ojek online lewat ponselnya untuk pulang karena keadaannya sedang sangat syok ia pulang menggunakan sendal jepit.


‘Kenapa sih dia kok dendam banget solah mau bunuh gua...” Batin Nadia dalam hati ia memikirkan sebenarnya masalah apa yang terjadi antara eyangnya gadis tersebut merasa di kambing hitamkan dalam posisi ini.

__ADS_1


Sesampainya di rumah Nadia menyalimi ibunya, “kamu udah pulang?” tanya sang ibu yang sedang bersantai. “Udah...” Jawab Nadia lesuh. “Gimana renangnya?” tanya wanita itu lagi pada Nadia yang menaruh seragam sekolahnya di tempat cucian kotor. “Ya begitulah...yaudah aku mau ke atas capek...” Kata Nadia yang nampak pucat.


“Yaudah istirahat...” Ujar sang ibu di sertai anggukan kepala. Di kamarnya Nadia melihat ke cermin setelah menaruh tasnya dan selesai mencuci sepatu dan kaos kakinya yang basah karena tadi di kolam renang.


Nadia membaringkan diri di kamarnya sambil melepas kerudung lalu melemparnya ke sembarang tempat, ‘gua telepon Sarah aja kali ya.’ Batin Nadia. Tangannya terhenti tatkala ia ingin mikir tak mungkin selalu merepotkan sahabatnya itu, Nadia menghembuskan nafas lelah sambil menarik nafas panjang dia menatap langit-langit. MEONG!! MEONG!!


Suara kucing membuat Nadia kembali terduduk di atas kasur ia menoleh kesana kemari memastikan jika tak ada kucing masuk kamarnya, “Kok ada kucing...” Nadia melihat kucing itu memasuki kamarnya berwarna hitam pekat tanpa adanya bulu.


BRUKKK!!


“AAA!!” Nadia berteriak karena terkejut lantaran sebuah buku yang ia temukan di perpustakaan tempo hari terjatuh dari meja belajarnya.


Kucing itu mendekati buku yang terjatuh entah mengapa hati kecil Nadia tak berdaya mengusir kucing hitam tanpa bulu ini, kucing tersebut menempelkan telapak kaki depannya di sebuah kunci buku yang mana darah sarah dan keringat Nadia menetes langsung terbuka.


Setelah kucing tersebut menempelkan telapak kaki depannya kemudian buku tersebut terbuka dan berlembar-lembar halaman terbuka sangat cepat.


Nadia mendekat ia menarik nafas panjang sambil menyelipkan rambutnya di daun telinga kanannya.


MEONG!! MEONG!! Nadia melihat lembaran tengah buku yang terbuka ia melihat sebuah tulisan kuno langsung ia meraih ponselnya untuk menerjemahkan tulisan itu dengan memfoto tulisannya, saat ia menoleh ke buku itu kucing hitamnya sudah hilang Nadia melihat jendela yang terbuka ia berfikir mungkin saja kucing itu sudah keluar lewat jendela jadi gadis itu hanya mengendikan bahunya ke atas untuk bersikap acuh.


Buku itu sudah di terjemahkan lewat aplikasi ponsel miliknya hasilnya sungguh di luar dugaan isinya mengatakan sesuatu yang membuat Nadia tak bisa bicara, “Nadia je baik?” Hanson dalam wujud hantu duduk di sebelahnya yaitu lantai kamar.


“Entahlah Hanson...aku takut.” Suara Nadia parau menatap Hanson dengan mata berkaca-kaca, Hanson menyentuh dagu Nadia kemudian mereka saling bertatapan meskipun antara Nadia dan Hanson berbeda dunia tetapi dengan kekuatan cinta mereka tak peduli lagi, “jika je dalam masalah ik akan selalu di samping je,” kata Hanson yang masih menyentuh dagu Nadia.


“Bagaimana keadaan anak kita?” tanya Nadia pada Hanson, hantu belanda itu tersenyum kemudian memeluk Nadia. “Ik sudah kasih nama untuk anak kita.” Kata Hanson sangat senang seperti anak kecil yang di kasih es-krim.


“Siapa nama anak kita, Hanson?” tanya Nadia penasaran sambil mengerutkan keningnya. Hanson tersenyum kemudian ia mengangguk.


Nadia mengajak Defani ke kamarnya mereka makan sosis bakar dan batagor, “Defani gua udah ngelahirin.” Ucapan Nadia tentu membuat adiknya tersendak.


“Serius lu Kak,” Defani minum jus mangga. Nadia selalu bercerita rahasianya pada Defani jadi adik dan kakak itu tak ada rahsia-rahasian.

__ADS_1


“Berarti gua punya ponakan dong kak.” Ujar Defani.


“Iya,” Nadia menjelaskan jika wajah Victoria mirip dengannya tetapi ada wajah bule juga, rambutnya tidak terlalu pirang sedikit agak gelap, dan matanya biru seperti Hanson. Defani dalam hati antara percaya dan tak percaya karena adiknya tak seperti sang kakak yang indigo.


__ADS_2