Nadia, The Indigo Girl

Nadia, The Indigo Girl
akhir


__ADS_3

Setelah makan malam Nadia ke kamar Victoria memastikan anak itu memakan buburnya setelah itu memberikannya obat agar cepat tidur, “my dear kamu sudah makan?” tanya Nadia yang memasuki kamar anaknya.


 “Maaf nyonya makannya cuma separuh katanya gak mau makan sebelum dengar cerita.” Adu bendide yang bernama Darmi. “Sini makanannya yu. Biar saya aja kamu rapi-rapi aja di dapur bareng Rusminah!” Perintah Nadia. “Baik nyonya.” Patuh Darmi.


“Victoria ayo di makan buburnya...mama punya cerita kalo Victoria gak mau makan buburnya ceritanya gak jadi.” Tawar Nadia. Akhirnya bujukan Nadia berhasil ia bercerita sambil menyuapi Victoria.


“Jadi Hansel dan Gretel tertangkap oleh penyihir itu, dan Hansel di penjarakan di sangkar sedangkan Gretel...” Nadia menghentikan dongengnya untuk memberi suapan pada Victoria.


“Gretel di suruh merapikan rumah penyihir itu,” Nadia terus mendongeng sampai buburnya habis tertelan oleh Victoria. “Akhirnya penyihir itu di dorong oleh Gretel ke dalam kuali besar yang mendidih akhirnya penyihir itupun mati...” Nadia memotong dongengnya. “Terus apa yang terjadi ma?” tanya Victoria. “Minum obat dulu.” Ucap Nadia.


Victoria mengaguk demi memuaskan rasa penasarannya. “Akhirnya Hansel bisa terlepas dari sangkar itu mereka pun berlari dari tempat penyihir itu kemudian Hansel dan Gretel bersatu kembali dengan ibu tiri dan ayahnya.” Selesai mendongeng Victoria tertidur pulas karena obat.


Nadia segera membawa piring dan gelas kotor ke dapur dengan menuruni tangga. “Nyonya biar saya aja.” Rupanya Darmi yang belum kembali ke pavillium melihat Nadia membawa piring kotor, “gak usah yu...saya bisa sendiri.” Tolak Nadia pelan. “Lebih baik YU Darmi ke pavillium aja istirahat.” Ucap Nadia.


“Terimakasih nyai.” Darmi membungkukan tubuhnya untuk ke pavillium tempat para kacung atau Bendide melepaskan lelah. Nadia dari dapur pergi ke kamar untuk melepaskan lelah.


“Apa kamu sudah tidur Hanson?” Nadia melihat Hanson terbaring sambil menatap langit-langit kamar. “Nee.” Ujar Hanson yang berarti tidak. “Ik belum mengantuk.” Hanson terduduk kemudian melihat Nadia ke depan meja rias untuk menyisir rambutnya sebelum tidur, Nadia terduduk di pangkuan Hanson ia menatap wajah tampan Hanson dalam hatinya ia berharap pria ini hidup pada zamannya.


 


Nadia akhirnya bisa keluar dari lorong waktu setelah tak bisa keluar, tubuhnya mengeluarkan keringat ia melihat jam dinding di depannya menunjukan pukul 4 pagi. “Nadia.” Hanson memanggil Nadia dalam wujud hantu. “Han...son.” Nadia tergagap karena kaget.


“Ik minta maaf.” Nadia melihat Hanson yang berwujud hantu sudah membaringkan diri di sebelahnya. “Min..ta maaf. Tapi kenapa?” Nadia heran sambil mengerutkan keningnya. “Ik sudah egois seharusnya je menikah dengan manusia juga.” Ucap Hanson.


“Aku mencintaimu dalam wujud apapun, aku berharap bisa bertemu Hanson lainnya di masa depan nanti.” Nadia tersenyum menatap wajah Hanson yang pucat tetapi sangat tampan.


Malam ini mereka saling bertatapan seolah malam yang menjadi saksi atas cinta berbeda dua alam, seorang gadis indigo yang mencintai hantu belanda memang terdengar konyol tapi begitulah cinta tanpa di duga.


 


 


Pagi harinya Nadia memakai baju putih abu-abu dan tak lupa membawa almamater berwarna kuning ia bercermin di kaca, sesampainya di sekolah Nadia ke kelasnya teman-temannya banyak yang menjauhinya mungkin karena sikapnya yang membuatnya tak punya teman.


Nadia hari ini sedang datang bulan jadi tak solat dulu setelah bel berbunyi seorang guru yang menjadi wali kelas Nadia yaitu, Bu Belinda datang ke kelas. “Nadia kamu abis zuhur ke ruang BK.” Ujar Wali kelasnya Nadia hanya menganggukkan kepala.


Setelah abis zuhur Nadia ke ruang BK duduk di sofa. saat di situ Nadia di pertemukan dengan seorang guru yang bernama Pak Hansan meskipun banyak murid yang tidak suka padanya karena di gossipkan galak. Nadia awalnya sedikit takut karena Pak Hasan adalah bagian ke siswaan.


‘Ya ampun Pak Hasan lagi.’ Batin Nadia sambil menelan salivanya. Nadia sedikit lega ternyata pak Hasan tak seburuk apa yang di bilang oleh orang lain pada akhirnya Pak Hasan meminta tangan kanan Nadia. “Kamu ini ada sikap jelek jangan di ikutin, kamu bagus jelek di ikutin.” Jelasnya tak lama guru BK yang bernama Bu Sinta menyahut. “Bapak saya juga mau di gituin.” Ujar Bu Sinta. “Saya juga mau pak.” Ujar Bu Belinda.


Pak Hasan menekan tangan Nadia membuat gadis itu tertawa, “HAHAHAHA.” Tawa Nadia yang terus menerus. “Terus keluarin semua, emang sengaja.” Pak Hasan.  Nadia diam hatinya sedih mengingat ayahnya yang meninggal, tak lama gadis tersebut tertawa lagi.


 “Udah sini ayo ikut ama pangeran kuda putih.” Ucap Pak Hasan pada tangan Nadia. Pak Hasan mengucapkan sesuatu dari balik punggung Nadia yang membuat penunggu tubuh ini keluar semua. “Sekarang kamu liat semua ini.” Pak Hasan. Nadia mundur-mundur dan duduk di ujung sofa.


“Hiks...Hiks...Hiks.” Nadia menangis ketakutan menyuruh agar di hadapannya pergi, “kamu liat tuh sekarang...kamu liat.” Pak Hasan dua bu guru yang melihat itu ke heranan. ‘Apa yang mau diliat.’ Batin Bu Belinda.


“Bu! Bu! tolong takut jatoh.” Ucap Pak Hasan. “Hiks...suruh pergi pak saya...hiks...takut...”  Nadia menangis tanda tak sanggup. “Nadia istigfar.” Ujar Bu Belinda sedangkan Bu sinta sibuk merekam dengan kamera ponsel. “Buka mulut kamu...” setelah membuka mulutnya Nadia terbatuk-batuk. Ini pertama kalinya ia di ruqyah yang paling ekstrim dalam sejarah hidupnya Nadia juga sudah di ruqyah sebelumnya setelah selesai. “Ini kamu minum dulu.” Ujar Bu Belinda pada Nadia yang sudah tak berdaya. “Makasih bu.” Ucap Nadia dengan lemas.

__ADS_1


“Sekarang kamu tinggal jalanin saja. Sekarang kamu sedang ada di proses pendewasaan.” Jelas Pak Hasan. “Ini tangan saya sakit nih gara-gara maemunah.” Hal itu membuat Bu Belinda dan Bu Sinta tertawa sedangkan Nadia tak mampu tertawa karena tubuhnya seolah kehilangan rasa.


“Nadia sekarang kamu kamu ke kelas jadi Nadia yang baru.” Setelah mendengar penjelasan panjang dari Bu Belinda Nadia mengangguk, “nanti kamu di rumah cerita semua sama mama kamu.” Kata Bu Belinda. “Ibu...ibu aja yang cerita sama mama saya...saya gak tahu apa-apa.” Ucap Nadia dengan jujur.


‘Iya juga nih anak kan gak sadar diapain aja tadi.’ Ucap Bu Belinda dalam hati, “Yaudah nanti saya yang ngomong sama mama kamu, nanti malam saya telepon.” Ujar Bu Belinda. “Yaudah sekarang kamu ke kelas biar saya antar.” Lanjutnya. Nadia mengaguk kepala ia berjalan di belakang wali kelasnya untuk menuju kelas yaitu 10 IPS 2 saat masuk kelas sedang pelajaran bahasa Indonesia.


Para murid di kelas melihat Nadia masuk tentu saja dalam hati mereka heran kenapa Nadia masuk kelas dengan keadaan lemas, Nadia duduk sendiri karena jumlah muridnya di kelas ganjil. “Nad tadi lu kenapa dah?” tanya temannya. “Gak kok.” Ucap Nadia menutupi, “jadi gak ulangan?” tanya Nadia.


“SSSTTT.” Ucap temannya. “Ups sorry.” Ujar Nadia.  Setelah hari itu Nadia melewati waktu sendiri gadis itu jadi pendiam di kelas karena malu akan perbuatannya membuat anak-anak bertanya pada wali kelasnya, Bu kenapa Nadia di kelas jadi diam, Bu kenapa Nadia kemarin masuk kelas jadi lemas, dan masih banyak pertanyaan lainnya.


Hari-hari Nadia di lalui hanya bersama Victoria anak hantu hasil hubungannya dengan Hanson, saat mendekati ulangan tengah semester tubuh Nadia bentol-bentol sang ibu baru memberi tahu Nadia saat bentol dan rasa gatal di tubuhnya makin parah. Jika sebelum Nadia bentol atau gatal ibunya pernah bermimpi dari tubuh putrinya keluar kotoran dari tangan dan kaki.


 Pak Hasan memberitahu ibunya jika itu adalah bekas atau rontokan dari mahluk yang menempeli Nadia selama bertahun-tahun. Nadia di suruh mengambil air dan garam dari Pak Hasan tentunya sebelum keluar kelas Nadia di jauhi dari teman-temannya.


Gadis itu bisa memaklumi keadaan mereka saat sedang pak Hasan memberi intruksi pemakaiannya, “ini nanti airnya panas terus garamnya taro baca doa ini dan itu.” Ucap Pak Hasan. “Yaudah makasih banyak pak.” Nadia menyalimi pak Hasan. Saat Nadia menoleh untuk ke kelas teman-teman sekelasnya yang perempuan melihat Nadia dan bagian kesiswaan menjadi mematung.


Nadia menaruh di tas barang-barang yang di berikan pak Hasan tadi, “Nadia lu tadi ngapain ama Pak Hasan?” hal itu membuat Nadia jadi bingung harus jawab apa. “Eng....gak ini pesenan Bu Belinda buat nyokap gua.” Nadia menjawab. Semuanya hanya ber-oh ria saja.


Nadia berusaha berbuat baik lumayan ada hasil meskipun emosinya kadang tak bisa tertahan. Ia juga masih ke Batavia bersama Hanson meskipun hantu belanda itu sudah pergi waktu di awal ia di ruqyah oleh teman mendiang ayahnya, Victoria setiap jam 11 malam harus ke Batavia karena ada sekolah kelas malam untuk para hantu.


Tak terasa waktu berlalu saat sedang Ujian akhir kenaikan kelas, Nadia di pertengahan Ujian hamil lagi anak Hanson van Buthjer tetapi jika di dunia manusia perutnya tak membesar hanya saat roh nya diajak ke Batavia saja perutnya membuncit selayaknya ibu-ibu hamil, ia melahirkan di kamar waktu jam 2 malam kali ini seorang bayi laki-laki yang sangat di idamkan oleh Hanson. Bayi itu langsung di bawa Hanson ke Batavia. Sedangkan Nadia hanya memejamkan matanya mungkin karena lelah.


 


KELAS 11 ATAU KELAS 2 SMA.


 


 Hari ini senin Nadia memakai memakai atasan baju putih dengan dasi abu-abu dan rok warna abu-abu, sehabis upacara bendera ternyata ada tas anak laki-laki yang di sebelahnya.


Hal itu tentu saja membuat para anak murid perempuan di kelasnya saling bertanya. “Duduknya ama Nadia kan?” Ujarnya. “Iyalah orang Nadia duduk sendiri kok.” ujar anak perempuan lainnya. Saat jam pelajaran di mulai seorang anak laki-laki berseragam putih abu-abu masuk kelas sepertinya anak baru. Anak laki-laki itu berkulit sawo matang dan berambut dengan potongan cepak seperti polisi dan tentara memang sangat tampan dia juga tinggi. Duduk di sebelah Nadia awalnya anak murid perempuan pada iri dengan keberuntungan yang di dapat oleh Nadia.


“Eh nanti gua liat buku lu ya?” ucapnya. “Iya...” Kata Nadia. Anak baru itu namanya Nathan Aditya Rejaya pindahan dari Magelang, saat Nadia sudah selesai dengan buku paket geografinya ia memberikan pada Nathan. “Lu alasannya pindah ke sekolah ini apa?” tanya Nadia so basa-basi. “Bokap gua kan tentara pindah dinas ke depok jadi gua sekolah di sini.” Ucapnya.


“Oh.” Kata Nadia singkat. Tiba-tiba Nathan mendekat membuat Nadia heran suaranya berbisik, “itu samping lu dua anak bule ngapain?” ucap Nathan sambil berbisik, tentu saja Nadia membulatkan matanya ke heranan. “Sumpah demi apa lu bisa liat mereka berdua.” Nadia berbisik dan hampir melompat karena kaget.


“Lu ternyata indigo juga.” Ucap Nathan dengan santai sambil menulis. Entah mengapa Nadia merasa ada sebuah pistol yang menempel di kepalanya ia sungguh takut jika anak-anaknya dalam bahaya.


“Gua minta satu ha lama lu,” ucap Nadia.


“Minta apaan?” Nathan yang sibuk menulis.


“Tolong jangan sakitin mereka berdua.” Pinta Nadia.


“Yaelah Slow aja kali, ngapain gua nyakitin mereka 'kan gak salah apa-apa.” Jawab Nathan.


“Woy!! Cieee!! Nadia sama Nathan!!” kata salah seorang Nadia tentu tak sadar saat dirinya berdekatan dengan Nathan.

__ADS_1


Kedua pipi Nadia dan Nathan langsung merah, bibirnya juga menahan senyum karena di soraki satu kelas. Saat ia pulang melihat Nathan sedang bermain basket di lapangan sebenarnya Nadia hari ini ada eskul menari tapi tidak jadi karena kakak eskul tarinya sedang sakit, ia lebih memilih menulis PR Sejarahnya di dekat lapangan dengan di temani Victoria dan Jason.


“Nad lu ngapain dah?” kata temannya. “Ini gua ngerjain PR males abis kalo udah di rumah.” Nadia menjawab. “OH yaudah gua duluan ya.” Kata teman sekelasnya.


“Oh iya hati-hati,” ucap Nadia dengan tersenyum. “Mama besok aku gak bisa temui mama.” Kata Victoria. “Loh kenapa?” tanya Nadia pada Victoria. “Karena aku ada tugas banyak, terus sekolah ngadain acara ma.” Jelas Victoria. “Oh...yaudah gak apa.” Nadia tersenyum pada anaknya.


Gadis itu memasukan buku-bukunya ke dalam tas untuk pulang ke rumah tapi Nathan yang selesai bermain basket malah menghampirinya. “Lu belom balik than?” tanya Nadia. “Belom...lah lu emang belom balik?” tanya Nathan kembali ke Nadia. “Ini gua baru mau,” kata Nadia. “Bareng gua aja.” Tawar Nathan. “Udah gak usah gua naik gojek aja.” Kata Nadia.


“Nolak rejeki gak baik loh.” Nathan berusaha dekat dengan Nadia.


Pada akhirnya Nathan mengantar Nadia dengan motor ninja Kawasaki warna biru, senja yang indah menjadi saksi antara dekatnya seorang pemuda indigo dan gadis indigo. Nadia memeluk pinggang Nathan karena takut jatuh, entah ada rasa aneh mengelayar saat Nadia melingkarkan tangannya di pinggangnya. ‘Nadia Sabrina lu cewek yang gua cari selama ini, beruntung bokap gua pindah tugas ke Depok dan ketemu ama lu.’ Batin Nathan dalam hati


.


...⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─...


Keesokan paginya Nadia bangun memakai atasan baju putih dengan dasi abu-abu dan rok warna abu-abu, karena gak eskul hari ini pulang jam 3 sore. Sesampainya di kelas Nadia belum melihat Nathan pagi ini jadi ia putuskan untuk keluar kelas sebentar saat itu seorang anak perempuan menggosipkan jika Nadia dan Nathan sudah pacaran padahal belum.


Jam pelajaran di mulai entah mengapa Nathan selalu melihat Nadia seperti itu seolah ia pernah bertemu Nadia sebelumnya. “Lu ngapa liat gua begitu?” tanya Nadia pada Nathan. “Gak papa, lu pagi ini kayaknya sempurna.” Nathan mengombali Nadia.


Jam pulang sekolah Nadia berjalan dan melihat Pak Hasan tersenyum padanya, Nadia menyaliminya. “Gimana kabarnya sehat? ibu sehat?” tanya Pak Hasan. “Sehat pak Alhamdulilah.” Ujar Nadia. “Yaudah saya mau photocopy ini dulu besok ada ulangan sejarah.” Kata Pak Hasan. “Iya pak.” Ujar Nadia dengan tersenyum.


Gadis itu merasa tangannya di gengam oleh seseorang ia langsung menoleh ke samping. “Nathan!” Nadia sedikit kaget dan menghempaskan tangannya. Murid-murid dari kelas lain termasuk kakak kelas yang lewat keluar gerbang melihat adegan itu langsung menyoraki keduanya membuat pipi Nathan dan Nadia merah merona.


“Ayo ikut gua ada hal penting yang harus gua kasih tahu ama lu.” Kata Nathan sambil menarik tangan Nadia menuju Patio atau taman bagian tengah sekolah, entah mengapa Nadia langsung menurut seperti kerbau yang di cocok hidungnya.


“Lu mau ngomong apa?” tanya Nadia heran.


“Lu liat gua...apa lu masih inget gua Nadia Sabrina.” Kata Nathan.


“Lu ngomong apa sih? ngaco lu.” Kata Nadia merasa Nathan ini aneh.


“Nad gua serius lu inget gua 'kan?” Nathan sekali lagi bertanya sambil memegang kedua pundak Nadia.


“Than sumpah lu aneh tahu gak, udah ah gua mau balik, bye.” Kata Nadia tetapi Nathan malah menarik tangan Nadia yang membuat gadis itu ke pelukan Nathan saat itu Nadia menatap mata Nathan sekelibat masa lalu muncul di pengelihatan Nadia tentang dirinya bersama Nathan dahulu.


“Lu Ardi...gua Nindita...” Ujar Nadia sungguh tak tahu. “Lu tahu sekarang cinta kita dulu gak bisa bersatu karena lu mau di comblangin ama menner belanda yang tua, dan gua masuk pejuang buat dapetin lu lagi tapi sayangnya kita malah ngelakuin hal bodoh, yaitu bunuh diri bareng.” Jelas Nathan.


Nadia malah mengeluarkan air mata demi menenangkan Nadia. Pria itu mendekap Nadia ke pelukannya, “gua kali ini gak bakal lepasin lu lagi, Nindita.” Ucap Nathan.


“Ik hou van je.” Nadia mengucapkan itu dalam bahasa belanda. Nathan menganggukan kepala lalu membalas juga dalam bahasa belanda, “ik hou ook van je, Nadia Sabrina.” Kali ini waktu telah mempersatukan dua orang remaja indigo agar selalu bersama, Nathan setelah lulus akan di masukan ke sekolah AKMIL (Sekolah tentara angkatan darat) di magelang oleh ayah dan kakeknya, sedangkan Nadia akan kuliah mengambil jurusan sastra Indonesia.


Nathan berjanji dalam hati kali ini ia tak akan mau melepaskan Nadia karena ia merasa jika gadis itu adalah belahan jiwanya yang selama ini ia cari, setelah selesai Pendidikan ia Nathan berjanji akan melamar Nadia.


 


 

__ADS_1


__ADS_2