Nadia, The Indigo Girl

Nadia, The Indigo Girl
Extra part


__ADS_3

Pagi ini Nadia mengemasi barang-barangnya tak lupa ia memasukan sebuah bingkai foto. Gadis berusia 25 tahun itu mengusap lalu menitikan air mata ia mencium bingkai foto itu. "Ayah aku udah sukses, aku udah bisa jadi tulang punggung keluarga. Tapi ibu selalu mendesakku untuk segera menikah," batin Nadia dalam hatinya.


Tak lama suara sang ibu memanggilnya. "Nak cepat udah jam 7, sarapan dulu nanti ketinggalan kereta!" suara ibunya melengking. "Iya Bu," sahut Nadia pada sang ibu.


Gadis itu segera memasukan bingkai foto itu pada kopernya ia akan ke Magelang hari ini untuk bisnis perwakilan antara perusahan Jepang bekerjasama dengan perusahan perhotelan di Magelang. Nadia menaruh koper dan barang bawaannya sambil sarapan.


Nadia membuka laptopnya memeriksa file yang nanti akan di presentasikan di depan Tuan Hinakamura. Agar aman Nadia mengcopy-paste filenya lalu di simpan di flasdisk dan di ponselnya.


"Kak Bawain gua oleh-oleh dari Magelang dong," pinta Defani pada kakaknya.


Devani sudah berusia 19 tahun dan sekarang ia sedang kuliah, "apaan? oh gua tahu lu pasti minta boneka jelangkung 'kan?" cetus Nadia.


"Itu mah lu!! lu 'kan indigo sedangkan gua kagak."


Devani merasa jengkel pada sang kakak yang sejak dulu selalu usil padanya, "Iya nanti gua beliin tapi duit lu mana?" ucap Nadia.


Tiba-tiba sang ibu datang sambil menaruh gorengan pagi dan daging panggang. "Kamu seneng banget ngadalin adek kamu dari dulu."


Nadia hanya nyengir tanpa dosa melihat sang ibu dan adiknya jengkel, "Lu dari dulu bener-bener ya kak!!" umpat kesal Devani pada kakaknya.


Nathan sedang persiapan kelulusan studi kemiliterannya nanti saat keluar pangkatnya Letnan satu. Pria berkulit coklat tersebut akan segera mengutarakan isi hatinya dari dulu kepada teman masa SMA nya. Nadia Sabrina, keduanya sama-sama memiliki kemampuan indigo dan jika punya anak yang memiliki kemampuan yang sama akan sangat mudah menangani dan memahami anaknya.


"Gua bakal ngelamar lu Nadia." Nathan berucap sambil mengenang masa SMA saat bersama Nadia.


Matanya menerawang ke atas memikirkan Nadia tapi saat sedang asyik melamun tiba-tiba ada sesosok perempuan sedang berdiri di atas langit-langit kamar dengan rambut ke bawah semua. Nathan langsung terperanjat kaget dan berdiri ia menatap perempuan yang berdiri terbalik di langit-langit kamarnya.


"Siapa kamu!!? mau apa kamu?!" gentak Nathan yang kesal.


Perempuan itu hanya cekikikan dan tertawa, Nathan heran ia belum pernah melihat hantu ini di rumah kakeknya apa mungkin hantu ini masih baru di rumahnya. Perlahan-lahan mahluk itu hilang sendiri entah kemana.


"Aselole gua di kerjain ama tuh Ijem!!" Nathan mengumpat.


Nathan mengusap rambutnya yang cepak ke belakang, Nathan melihat foto-foto kenangan masa SMA nya dengan Nadia.


Nathan memeluk foto masa SMA nya dengan sahabat sekaligus pujaan hatinya waktu SMA. "Aku akan menikahimu Nadia karena hanya kamu yang sampai sekarang mengisi ruang hatiku, seandainya kamu bisa datang besok di hari spesial gua."


Nathan amat bahagia besok ia akan lulus dari strudi kemiliterannya dan akan menyandang pangkat letnan satu. Tapi ia akan mencari tahu bagaimana keadaan Nadia sekarang, "Sarah apa dia tahu ya?" batin Nathan pada sahabat Nadia yang bernama Sarah.


Nathan yang sedang bucin(budak cinta) selayaknya anak SMP malah di ejek oleh okuntilanak yang sedang duduk. "hihihi," tawa kuntilanak itu, Nathan yang tak terima saat di cengin ama kuntilanak langsung mengusirnya dengan menghunuskan keris.


"Anjir tuh kunti gua di cengin," maki nathan kesal saat kuntilanak itu berlari keluar.


Nathan segera bersiap untuk besok. "Oh ya besok gua ampe lupa, gara-gara Iyem tuh." Nathan mempersiapkan semuanya karena besok adalah hari kelulusannya.


Di kota Magelang Nadia memasuki apartemen yang di fasilitasi dari kantor saat di resepsionis ia mengambil kunci yang dititipkan, tiba-tiba Nadia berhenti sejenak ia merasa ada sesuatu yang akan terjadi ia memegang tengkuk lehernya perasaannya kalut.


Nadia membaringkan tubuhnya di atas ranjang saat sudah sampai kamar yang terletak di lantai 14, ponselnya berdering di tengah malam membuatnya terbangun saat di angkat Nadia terkejut panggilan itu dari seseorang suaranya wanita dan meminta tolong.


Nadia langsung membulatkan matanya rasa kantuk yang ia rasakan tiba-tiba menghilang, "halo!" ucap Nadia.


"Eh serius lu jangan coba-coba ngeprank gua!!" maki Nadia yang tak suka malam-malam ada suara tangis. "Tolong__hiks__hiks__tolong saya."


"Sumpah ini kayanya beneran deh." Nadia membulatkan matanya.


"Haduh, ini kayaknya Qorin orang deh lagi minta tolong!" ucap Nadia.


Nadia langsung menarik nafas dalam-dalam memejamkan matanya dan melihat masalalu seorang gadis yang di bunuh dan di kuburkan dekat pohon, Nadia langsung terperajat ia segera memakai baju lalu pergi mencari bantuan orang lain.


Nadia akan memberikan kesaksian jika ia hanya sedang duduk di pohon lalu menemukan aroma busuk hanya itu saja. Nadia melihat ponselnya menunjukan pukul subuh. Setelah memberikan kesaksian Nadia segera bersiap untuk meeting ke kantor bersama tuan Hinakamura.


Nadia berjalan kaki karena dekat dengan kantornya ia membeli kopi starbucks untuk mengisi perutnya karena terburu-buru Nadia yang malang sampai lupa sarapan, perutnya terus berbunyi tak di hiraukan ia akan makan nanti setelah selesai menjelaskan presentasi dan selesai meeting.


"Jadi ini kita jelaskan kita bisa memasarkan produk kita tidak hanya di Bali saja tapi kita bisa memasarkannya di Papua ataupun pulau Sumatra, Meskipun di pulau Jawa penduduknya paling padat tapi banyak saham yang bisa kita tanamkan di negara kita ini."


Nadia menjelaskannya dalam bahasa Jepang yang membuat Tuan Hikamura bertepuk tangan mengaggumi gadis itu, semua orang di ruangan meeting itu langsung bertepuk tangan.


Nadia bersama Lina wanita berparas Cina mencari tempat makan, Lina  yang juga bernasib sama seperti Nadia yaitu lupa sarapan karena keterlambatan juga ikut mencari tempat makan.


Saat Selesai makan Nadia dan Srah berminat kembali ke kantor sampai ia tanpa sengaja bertabrakan dengan Nathan yang sedang mengendarai mobilnya, "Nathan!"


"Nadia!"

__ADS_1


Mereka membeo wajah mereka sejenak bertatapan, "Oi ayo kita telat nanti jam makan siang bentar lagi abis." Lina bicara.


Nadia yang buru-buru tak menghiraukan apa yang di katakan Nathan, sampai Nathan memutuskan mengikuti Nadia lalu menjemputnya setelah pulang.


Singkatnya Nadia dan Nathan kembali bersatu bahkan menghabiskan waktu bersama mereka mengingat masa SMA mereka yang penuh Nostalgia dan juga kenangan. "Gua disini cuman seminggu terus gua harus balik lagi ke Depok."


"Yaudah gua ikut lu."


"Lah lu 'kan lagi tugas."


"Eh gua mau di pindah tugas Di Jakarta Selatan."


"Oh yaudah."


Nathan Nadia berusaha saling kenal secara seksama sampai tiga tahun lamanya di usia mereka yang menginjak 28 tahun, dikarenakan Nathan sibuk dengan karir militernya dan Nadia sibuk dengan Karirnya untuk jadi Manager perusahaan.


Nathan melamar Nadia di Ancol saat sore hari dengan cincin emas putih, Nadia menjawab iya setelah mendapatkan persetujuan dari kedua belah pihak keluar akhirnya Nathan dan Nadia menikah.


Pernikahan mereka di gelar di gedung untuk para anggota militer, Nathan yang sekarang berpangkat Lettu. Menikahi pujaan hatinya sejak SMS dulu.


Kemampuan Indigo lah yang mempersatukan cinta mereka, Nathan mencintai Nadia karena satu hal mereka pernah hidup bersama di masa lalu.


Nadia tetap melakukan pekerjaan seperti biasa setelah menikah, Nathan di tugaskan selama sebulan di Kalimantan setelah menikah memang sangat kesepian tapi mau bagaimana lagi inilah resikonya.


Nadia hanya bisa berdoa untuk suaminya, "Mas semoga kamu cepat pulang. Coba aku punya anak pasti gak akan kesepian," batin Nadia dalam hati.


Nadia menatap cincin pernikahan nya dengan Nathan, tak lama ada dua anak hantunya. "Mama jangan bersedih sudah ada kami yang menemani Mama," ucap Ana.


"Mama kami akan pergi," ucap anak laki-laki Nadia.


"Kemana?" tanya Nadia.


"Nanti kami akan terlahir menjadi anakmu lagi dalam wujud manusia, mama harus bisa terima nanti anak mama akan di bully."


Nadia mengerti apa maksud anak-anak hantunya, anaknya kelak akan memiliki masalah jadi Nadia berusaha menjadi perisai nanti dan akan berusaha menjadi bersikap.


"Kalian kemari dulu."


Nadia memeluk putra dan putri nya untuk terakhir kali sebagai tanda perpisahan ini akan menjadi terakhir kalinya.


Minggu depan Nathan Aditya rejaya akan pulang dia sudah tak sabar untuk menunggu suaminya kembali.


Nadia segera mengambil cuti kantor untuk menemani suaminya. Nadia akan memberitahu Nathan untuk merencanakan segera memiliki anak.


...****************...


Nathan di Kalimantan melatih para tentara ia amat merindukan istrinya, ia melatihnya di hutan gangguan mahluk halus biasa baginya di hadapi.


Bahkan saat Nathan lengah seperti biasa Nathan akan mengalami kerasukan, hal itu sudah biasa untuk Nathan juga anak buahnya.


Nathan juga banyak melihat mahluk aneh di hutan, tak jarang ia melihat desa gaib di hutan belantara.


"Kalian jika ke sasar di berikan makanan oleh seseorang jangan mau karena bisa menarik kalian ke alam jin selamanya."


"Siap!" ucap anak buah Nathan.


Nathan berusaha berbicara pada ketua desa alam gaib agar tidak menganggu dia dan kesatuannya bertugas.


Nathan juga pernah berkunjung ke desa gaib hanya untuk melihat tapi itu hanya di malam hari, Pertama Nathan mendengar alunan musik tradisional seperti pesta rakyat.


Nathan amat mengagumi keindahan adat desa gaib ini, bahkan Nathan selalu menolak saat di tawari makanan dengan alasan dia sedang puasa.


Tak jarang ada bangsa jin yang menggodanya sejenis wanita dengan menggunakan kemban dan berwajah cantik, Nathan yang merasa telah memiliki Nadia dia menolaknya.


"Aku hanya mencintai Nadia,"batin Nathan.


Kemampuan Indigo yang di miliki oleh Nathan dan Nadia tersambung antara satu sama lain jadi mereka tanpa di sadari memiliki ikatan batin secara tak langsung.


Minggu depan Nathan tak sabar untuk segera pulang karena ia amat merindukan istrinya itu, "gak sabar buat pulang buat nemuin kamu."


Nathan melihat foto ponselnya melihat foto pernikahan dirinya dengan Nadia, senyum Nadia yang manis membuat dirinya menghangat sampai senyum di wajah Nathan hilang karena mengingat dua hari yang lalu.

__ADS_1


Yups, dua hari yang lalu Nathan mengingat bermimpi dengan seorang pria berwajah bule memakai seragam militer meminta agar Nathan menjaga anaknya kelak.


"Siapa kamu?" tanya Nathan dengan heran ia melihat sekeliling ternyata ini di kota tua dalam keadaan malam hari.


Nathan melihat kakinya tak menapaki tanah ia melihat sekeliling banyak hantu tempo dulu berseliweran serta ada Noni Belanda yang sedang berjalan dalam wujud arwah.


"Ik Hanson Van buthjer mantan suami Nadia."


Nathan langsung teringat dengan anak-anak hantu Nadia yang wajahnya mirip sekali dengan wajah pria ini.


"Aku tahu, dan apa maumu? Nadia sudah menjadi Istriku!" ungkap Nathan dengan ketus seolah tak ingin Nadia diambil oleh Hanson.


"Ik hanya minta satu hal pada je," ucap Hanson pada Nathan.


"Apa yang lu minta?" tanya Nathan sambil menaikkan sebelah alisnya. "Gua gak mau lu ambil istri gua lagi!" lanjut Nathan.


"Ik hanya minta nanti anak-anak ik akan lahir menjadi anak je dan Nadia jaga baik-baik mereka."


"Tanpa lu ngomong gua pasti udah lakuin!" maki Nathan tak suka.


"Manusia itu naif Nathan, ik akan pegang ucapan je jika je melanggar ucapan je maka jangan salahkan anak-anak je jika mereka akan melawan pada je." Hanson seolah tahu apa yang akan terjadi di masa depan pada rumah tangga mereka.


Nathan memperhatikan wajah mantan kekasih Nadia Hanson, mata yang biru dan rambut yang pirang.


'emang dasar perempuan kagak bisa ngeliat yang kinclong Ama licin dikit langsung serempet.' batin Nathan bicara dalam batin tentang kelakuan Nadia.


'Meskipun setan tetep aja yang penting kinclong dan licin,' ucap Nathan.


"Ik bisa tahu apa yang je pikirkan?'


Hanson mulai menunjukkan wujud aslinya dengan kepala berputar seperti gangsing.


"Deh itu pala lu kenapa?! tuh dulu pala lu diapain?" ucap Nathan pada Hanson.


"Je mau tahu," ucap Hanson pada Nathan.


"Udah balikin badan gua!" ucap Nathan kesal.


Hanson hanya menunjuk dengan telunjuknya ke arah pusaran cahaya seperti gelombang air laut.


"Eh Londo lu gak ngejebak gua 'kan?" maki Nathan.


"Coba tatap mata ik," kata Hanson meyakinkan Nathan.


Nathan langsung masuk ke dalam pusaran itu seolah ia masuk dengan waktu dan suara jarum jam, dia mendengar dan melihat orang-orang dari masa ke masa.


Sampai Akhirnya Nathan tersadar dari tidurnya, Nathan tiba-tiba tersadar dari lamunan nya tatkala atasannya menyentuh pundaknya.


"Aku tahu sampeyan merindukan istri sampeyan tapi mau bagaimana lagi ini 'kan tugas negara."


Dia adalah Arjuna senior Nathan waktu pendidikan Akmil di Magelang, hubungan mereka seperti kakak dan adik karena Arjuna mempunyai kemampuan Indigo juga dari keturunan neneknya yang dari Solo.


"Yaudah tinggal seminggu lagi sabar aja."


"Siap Komandan, udah yuk masuk nanti kita malah di jailin lagi kaya kemaren."


mereka masuk akhirnya.


Semingguan telah berlalu Nathan turun dari pesawat dan melihat Nadia dengan menggunakan pakaian ibu-ibu Persit lalu memeluk Nathan.


"Mas aku pengen punya anak biar di rumah ada yang nemenin aku kalo kamu lagi dinas," pinta Nadia.


Nathan mencium kening istrinya lalu mengiyakan keinginan istrinya untuk punya anak, kita akan punya anak biar kamu gak kesepian.


*


*


*


Bagi yang nanya sequel kedua untuk anak-anak hantu Nadia udah ada, di ceritakan nanti anak-anak hantu Nadia bereinkarnasi menjadi anak Nadia dan Nathan. Satria dan Dania semasa kecil mereka selalu mendapat perundungan atau pembullyan karena memiliki altar dalam jiwanya kecuali Rendy putra bungsu Nathan dan Nadia.

__ADS_1


Rendy beruntung tidak dibully tapi bocah itu memiliki darah manis yang disukai mahkluk gaib dan sangat diincar tubuh dan jiwanya untuk tumbal istimewa.



__ADS_2