Nadia, The Indigo Girl

Nadia, The Indigo Girl
Hantu Belanda Yang Posesif


__ADS_3

Tepat satu minggu yang lalu Defani hidayatul sakit demam berdarah dan harus di rawat di rumah sakit, jadi terpaksa ibunya menitipkan Nadia ke rumah neneknya yang berada sedikit jauh dari rumahnya tetapi posisi rumah neneknya cukup dekat dengan sekolahnya jadi Nadia pulang sekolah cukup berjalan kaki saja dan bisa menabung uang sakunya.


 Hari ini adalah senin Nadia sibuk untuk menyiapkan berbagai macam sumber dan di masukan kedalam tas untuk UANBM, setelah selesai Nadia mengambil handuk dan memasuki kamar mandi.


 “Nadia! Kamu udah bangun, Oh lagi mandi ya!!” Ucap Sang nenek. Nadia hanya menjawab iya agar neneknya segera pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan.


Setelah selesai mandi Nadia mengambil air wudhu dan kembali memasuki kamar tidur memakai lotion dulu sebelum mengenakan seragam putih berompi hitam dan rok putih lalu ia memakai kerudung putih karena hari ini adalah senin.


 Terakhir Nadia menyemprotkan minyak wangi dan memakai lip blam. Selesai sarapan Nadia diantar oleh kakak sepupunya yang bernama Alina menggunakan motor, sesampainya di sekolah Nadia turun dari motor lalu menyalimi kak Lina. Setelahnya ia masuk ke dalam sekolah menaiki tangga mata gadis itu tak melihat salah satu sahabat-sahabatnya pagi ini.


Nadia menaiki tangga dan saat ingin melewati anak tangga dirinya dicegat oleh Hurifah dan Wulan, “Eh ada si cewek...” Belum sempat Hurifah menyelesaikan kalimatnya tetapi kakinya di jegal oleh Hanson sontak gadis itu langsung terjatuh mengelinding tangga.


Wulan menghampiri Hurifah yang tak sadarkan diri sedangkan Nadia malah berlari ke kelas karena ia takut kena masalah. Nadia duduk di kelas dengan keringat bercucuran dan susah payah ia menelan salivanya ia takut terlibat masalah.


UANBM tetap berjalan seperti biasa ada 4 pelajaran sekaligus sedangkan untuk Hurifah bisa menyusul, Nadia menyelesaikan Ujiannya dengan dua pelajaran lalu istirahat saat berjalan ia menjadi bahan omongan karena Hurifah jatuh, setelah pulang nanti ia akan bicara pada Hanson agar tidak berbuat sembarangan lagi saat ingin melindunginya karena ini sudah dua kali.


 Nadia pulang jam 12 siang ia pulang berjalan kaki bersama dengan Ningrum melewati komplek yang masih terdapat rumah bergaya antik khas kolonial. “Ningrum!!” Panggil Nadia di kerumunan banyak murid. “WOY BEB’S.” Ujar Ningrum dan Ananda yang ikut mendekat, para gadis mencari tempat duduk lalu membeli makanan.


“Ningrum jadi pulang bareng gak?” tanya Nadia sambil memakan potongan siomay di baluri saus kacang. “Jadi Nad-Nad.” Ujar Ningrum seperti bernyanyi yang mampu membuat Ananda tertawa terbahak-bahak. Setelah puas berbicara Panjang lebar mereka bangkit untuk pulang.


“Eh Nad, sebelum balik gua mau beli es dulu.” Ucap Ningrum.


“YDH Tapi GPL Ya.” Ucap Nadia.


“GPL?” tanya Ningrum.


“GAK PAKE LAMA.” Ucap Nadia.


Mereka berdua Nadia dan Ningrum berjalan melewati area komplek yang rata-rata rumahnya bergaya antik dengan cat putih tidak hanya mereka berdua yang melewati area komplek tersebut, tetapi anak-anak murid yang satu sekolah juga melewati area komplek yang berisi rumah tua itu mungkin rumahnya banyak di area komplek ini.


“Ningrum gua kan tadi pagi di cegat tuh sama wewe gombel dan mak lampir, terus masa mak lampir jatuh sendiri.” Ucap Nadia


. “Iya gua udah tahu tapi dia kayaknya nyalahin lu! Padahal saksinya gak ngeliat lu nyandung kakinya dia!” Ucap Ningrum berapi-api.


“Ya udah mau di gimanain juga sikapnya gitu.” Ucap Nadia sambil memegang tas ranselnya.


 “Eh rum, itu Aris kan?” tunjuk Nadia yang melihat Aris dari kejauhan dengan berlari di tengah jalan.


“Iya. Mau bunuh diri kali tuh anak.” Kata Ningrum.


“Hush!! Sompral banget kalo ngomong!” Tegur Nadia sambil mengibaskan tangan tepat di hadapan wajahnya Ningrum.


“Lah emang iya udah tahu ini jalanan umum malah jalan di tengah, berasa jalan nenek moyangnya kali.” Ucap Ningrum sepertinya lagi bad mood, jadi Nadia berusaha mengerti dengan mengangkat bahunya acuh.


Saat sudah sampai di persimpangan jalan Ningrum dan Nadia berpisah sambil tos ala persahabatan, Ningrum ingin mengarah ke luar area komplek sedangkan Nadia terus berjalan memasuki komplek.


Setelah Nadia berpisah dengan Ningrum, anak laki-laki yang sedang berjalan dan naik sepeda memperhatikan Nadia yang berjalan sambil diam dengan memegang tas ranselnya, mereka anak laki-laki amat mengagumi Nadia tapi sayang para anak laki-laki tahu jika cinta mereka tak akan pernah di terima jadi lebih baik diam daripada di tolak.


“Nadia, ik vind het niet leuk dat je door die jongeman wordt gezien!” Ucap Hanson yang secara tiba-tiba ada di sampingnya, Nadia menoleh ke samping melihat Hanson memakai kemeja Panjang dengan rompi serta celana hitam Panjang tetapi kakinya tak menapaki tanah.

__ADS_1


 Nadia juga masih melihat banyak anak laki-laki dari sekolahnya yang sedang berjalan melihat ke arahnya.


Gadis itu mulai membuka pembicaraan saat keadaan jalan sepi karena kalo ramai sudah pasti ia dikira orang gila.


“Apa artinya?” ujar Nadia.


“Ik tidak suka je dilihati oleh para laki-laki itu.” Kata Hanson yang berjalan di sampingnya dengan memasukan kedua tangan-nya kesaku celana, Nadia belok ke kanan gang yang luas sampai mobil pun muat untuk masuk.


Nadia heran mengapa neneknya lebih memilih tinggal di area komplek yang rata-rata berisi rumah model antik seperti ini, Nadia juga melihat hantu belanda di salah satu rumah yang sudah di ganti design-nya dan di tempati pemiliknya yakni Ibu rumah tangga yang menyirami tanaman, Nadia melempar senyum kepada Ibu rumah tangga yang sedang menyirami tanaman lalu di balas senyum juga oleh ibu itu.


Hanson melihat hantu itu juga tetapi pandangan-nya masih setia mengarah depan, merasa jalanan sepi Nadia mulai membuka pembicaraan pada suaminya.


“Cantik ya, yang tadi?” Nadia meledek suaminya, Hanson menghembuskan nafas sambil setia mengandeng lengan istrinya.


 “Masih terlihat cantik je Nadia van Buthjer, mungkin mereka pada mengaggumi kecantikan je tulip hatiku.” Mendengar penuturan Hanson yang berwujud hantu Belanda membuat pipi Nadia merona, bibirnya menahan senyum sambil terus berjalan menuju rumah Neneknya.


Sesampainya di rumah neneknya yang dari luar terlihat sangat antik dengan jendela bundar yang terbuat dari kayu, serta di setiap gerbangnya di tumbuhi tanaman yang membuat rumah terkesan asri dan sejuk.


Nadia masuk rumah melepas sepatu dan membersihkan diri, ia menyalimi Neneknya yang sedang mengaji mengenakan mukena.


Nadia solat dulu lalu makan siang setelahnya mengistirahatkan diri untuk melanjutkan nanti malam belajar, Nadia di rumah Neneknya tidur bersama sang kakak sepupu yang bernama Alina, sebenarnya orangtua Kak Alina sudah bercerai sejak kecil dan hak asuh gadis itu ke tangan bibinya Nadia. jadi bibinya sedang bekerja di luar negeri demi memenuhi kebutuhan Alina dan Neneknya.


“Nadia besok abis pulang sekolah mau diajak kakak ke rumah sakit jenguk Defani.” Ucap neneknya yang berada di ruang Televisi.


“Iya Nek. Aku mau istirahat buat tar malam.” Kata Nadia yang sedang merebahkan diri di atas Kasur kamar yang pintunya tertutup sambil memainkan handpone.


“Mau, eyang,” ucap Nadia.


“Ya udah istirahat dulu tidur siang.” Ucap sang nenek mengakhiri percakapan.


Nadia membersihkan diri sebelum istirahat saat ia merebahkan diri Nadia menatap langit-langit kamar dan matanya merasakan kantuk ia mulai melepaskan roh dari tubuhnya berjalan melewati waktu berputa-putar seolah suara jarum jam terdengar sampai ia terbangun setelah melewati pusaran waktu untuk menjalankan perannya sebagai seorang istri Hanson.


 Nadia terbangun di sofa dengan buku di dadanya ia melihat Hanson yang baru saja datang dari luar masuk ke dalam.


“Hanson.” Nadia membungkuk kakinya saat ingin berlalu Hanson menahan-nya, Bahkan Nadia merasakan sakit saat Hanson mencengkram erat lengan-nya. Lensa mata biru milik Hanson menatap Nadia penuh tanya, seperti ada sesuatu yang ingin Hanson tanyakan.


“Ik menemukan sebuah surat dari meja rias!!” Gentak Hanson marah.


“Su-rat?” Nadia yang terbata-bata seolah takut dengan Hanson.


“Jaa!! surat dari teman lama ik Willem dari Batavia.” Ucap Hanson sambil menyerigai ke wajah Nadia.


“Aku-aku gak pernah balas surat dari Willem.” Bantah Nadia dengan wajah ketakutan dan keringat dingin.


“Je, hou van Willem?” tuduh Hanson dengan mata itimidasi.


“Nee, seharusnya aku balik bertanya sama kamu?! kamu masih mencintai Elsje dan membalas suratnya!!!”  tanya Nadia dengan penekanan.


Hanson langsung mengendurkan cengkramannya di lengan Nadia dan wajahnya sedikit menjauh dari hadapan Nadia.

__ADS_1


“Lepaskan aku Sinyo!” Ucap Nadia menyingkirkan pelan tangan Hanson di lengannya.


“Aku tahu semua Hanson.” Ucap Nadia dengan mata yang memincing dan wajah yang sedikit menantang. Hanson melipat kedua tangan-nya lalu menatap istrinya bicara.


“KAMU MASIH MENCINTAI ELSJE, KAMU MENIKAHI AKU HANYA KARENA PELARIAN SAJA.” Ucap Nadia dengan mata yang berkaca-kaca dari mulutnya juga mengeluarkan isak tangis.


“DAN KAMU MASIH BERBALAS SURAT DENGAN ELSJE, BAGAIMANA BISA KALO KITA SUDAH PUNYA ANAK KAMU MASIH BERBALAS SURAT DENGAN WANITA LAIN DAN MASIH MENGHARAPKAN CINTANYA.” Setelah menyelesaikan ucapan-nya Nadia pergi berlalu sambil mengusap air mata di pipinya dengan kasar.


 Hanson hanya menatap punggung Nadia pergi setelah Nadia ke area belakang rumah atau taman. pemuda rambut pirang itu terduduk di sofa sambil memegang kepalanya dengan kedua tangan-nya dan mengusap rambut pirang-nya dengan kasar. Nadia berlari ke halaman belakang lalu terduduk di bebatuan khusus untuk duduk sambil menangis.


Ratih berusaha menenangkan majikan-nya dengan duduk di bawah kakinya Nadia, padahal Nadia sudah menyuruh Ratih duduk di sampingnya tetapi Ratih menolak dengan baik dan santun.


 Setelah beberapa lama Hanson menenangkan pikiran-nya ia menyusul istrinya ke halaman belakang dan melihat istrinya sedang bersama kacung.


Hanson mendekat dan mengisyaratkan kepada Ratih untuk pergi biarkan ia bersama Nadia, Hanson menghembuskan nafas lelah lalu duduk di batu sebelah kanan Nadia, ia mengambil tangan istrinya dan membuat Nadia otomatis menengadah melihat Hanson.


Hanson memandang wajah Nadia dengan mata serta hidung yang merah dan tak hentinya air mata mengalir di pipi tembam Nadia, saat Hanson ingin menghapus air matanya.


Nadia malah menghentikan-nya dengan mengambil tangan Hanson secara lembut.


“Biarkan aku menuntaskan rasa sakit ini dengan menagis.” Ucap Nadia kemudian mengalihkan pandangan-nya ke depan dengan tatapan kosong tak ada arti. Hanson yang masih setia mengengam tangan kanan Nadia.


Pria tersebut langsung mengecupnya, hal ini membuat isak tangis yang keluar dari mulut Nadia terhenti seketika dan menatap Hanson.


 Mereka berdua langsung saling menatap mata biru seindah awan milik Hanson dan mata hitam seperti malam milik Nadia.


“Ik minta maaf, Lieve...” Nada suara Hanson amat manis dan lembut.


Nadia memang berhenti terisak tetapi air mata masih setia mengalir membanjiri pipinya yang tembam.


“Ik sudah lupakan Elsje, ini adalah bukti atas nama pernikahan je dan ik.” Saat Hanson ingin mencium bibir Nadia untuk menghentikan air matanya, Nadia malah memeluk tubuh Hanson dan menghirup sepuasnya aroma tubuh Hanson.


Hanson membelai surai hitam milik Nadia yang tergerai tanpa di ikat atau di pakaikan riasan rambut apapun, awan yang mendung di Buitenzorg menjadi saksi perdamaian cinta diantara mereka berdua.


“Sekarang ayo masuk rumah.” Ajak Hanson, Nadia hanya mengaggukan kepala dengan patuh sambil tersenyum tetapi wajahnya masih seperti habis menangis.


Mereka berdua berpelukan saat ingin melangkahkan kakinya tiba-tiba hujan gerimis sontak Hanson langsung berlari ke dalam rumah tetapi Nadia tersandung dan terjatuh.


“Nadia!!” Teriak Hanson yang langsung berbalik arah kemudian melihat luka di dengkul Nadia dengan khawatir.


 “AKH...SAKIT...” Adu Nadia saat Hanson ingin menyeka lukanya hujan makin bertambah deras dan membasahi tubuh mereka berdua. Air mata yang di wajah Nadia serta luka yang dialiri darah menjadi terguyur air hujan.


Hujan yang turun semakin deras. Hanson membantu Nadia berdiri, Nadia terisak kembali sambil menatap Hanson, rambutnya yang pirang basah membangkitkan aura ketampanan dari dalam diri Hanson tiba-tiba saja Nadia kembali memeluk tubuh Hanson di tengah guyuran hujan deras, sambil mengatakan sesuatu.


 “Ik hou van je, letnan satu Hanson van buthjer. Aku takut kehilangan dirimu.” Ucap Nadia dalam bahasa belanda diawal kalimat sambil memeluk Hanson di bawah guyuran air hujan nan deras. Hanson juga membalas memeluk Nadia lalu mencium puncak kepala Nadia. Gadis itu memejamkan matanya seolah ia takut kehilangan Hanson karena pria yang sudah berstatus menjadi suaminya ini masih mencintai wanita lain, Nadia yang masih setia di peluk oleh Hanson perlahan kehilangan kesadaran-nya kemudian gadis itu pingsan.


Nadia terbangun karena mendengar panggilan neneknya, “Nadia bangun sayang!! Udah sore solat dulu!! Abis itu baksonya dimakan.” Nadia langsung bangun dengan perasaan yang setengah pasrah lantaran dirinya harus meninggalkan mimpi indahnya.


Gadis itu ke kamar mandi mengambil air wudhu kemudian melaksanakan solat ashar setelah melaksanakan solat ia merapikan mukena dan memakan bakso di ruang televisi bersama neneknya yang fokus melihat televisi, setelah makan neneknya menyuruh Nadia belajar di kamar.

__ADS_1


__ADS_2