
Sesampainya di rumah neneknya yang dari luar terlihat sangat antik dengan jendela bundar yang terbuat dari kayu, serta di setiap gerbangnya di tumbuhi tanaman yang membuat rumah terkesan asri dan sejuk. Nadia masuk rumah melepas sepatu dan membersihkan diri, ia menyalimi neneknya yang sedang membuat kue.
“Eyang, aku pulang!” ucap Nadia menyalimi neneknya.
“Eh udah pulang, Nduk.” Kata neneknya, gadis berseragam sekolah tersebut hanya menganggukan kepala sebagai jawabannya. “Yaudah istirahat dulu, nanti kakak pulang langsung jenguk Defani.” Sekali lagi Nadia hanya menjawab ‘iya’ sebagai jawaban.
Nadia makan siang setelahnya mengistirahatkan diri untuk melanjutkan nanti malam belajar setelah selesai berganti seragam, ia bersiap-siap untuk ke rumah sakit sambil menunggu kakak sepupunya.
Nadia memilih celana Panjang berwarna hitam, tunik berwarna kuning, serta kerudung berwarna senada dengan tuniknya.
Gadis itu memilih memainkan handpone tak lama terdengar suara motor.
“Nadia!! Ayo!!” panggil Alina kepada adik sepupunya.
Mendengar panggilan kak Alina gadis itu keluar ia mengambil tas selempangnya dan memasukan handpone serta headset ke dalam tasnya.
“Alina kamu gak solat!! Gak makan dulu!!” Ucap sang nenek.
“Gak lagi halangan, kalo makan tadi udah di campus.” Nadia menaiki motor untuk menuju rumah sakit tempat Defani di rawat.
Sesampainya di rumah sakit ia menyalimi ibunya dulu lalu memeluk sang ibu.
“Gimana tes nya?” tanya sang Ibu.
“Yah bisa aja.” Ucap Nadia, dia melihat Defani sedang asyik memainkan handponenya.
“Woy HP mulu!” tegur Nadia yang tak terima.
“Biarin apa, kak?” Bela Ibunya.
“Kapan Defani boleh pulang?” tanya Alina.
“Belum ada keputusan dari Dokter, kita tunggu aja.” Ucap ibunya Nadia.
Singkatnya sang ibu menyuruh Nadia pulang agar nanti malam ia bisa sambung belajar karena masih ulangan.
“Belajar yang rajin jangan main HP mulu!” perintah sang Ibu.
Nadia yang pendiam hanya mengaggukan kepala kemudian menyalimi sang ibu begitu juga Alina.
“Yaudah kita pulang...” Ucap Alina.
“Iya kalian hati-hati.” Ujar sang Ibu, setelah itu dua gadis berbeda usia tersebut menuju parkiran rumah sakit untuk mengambil motor agar bisa pulang lebih cepat, langit siang ini tak seperti biasa sangat mendung.
__ADS_1
“Yaudah Nad, buruan udah mendung soalnya takut ujan.” Ujar Alina.
“Lah, emang Kak Alin gak bawa jas ujan?” tanya Nadia dengan kening berkerut.
“Kalau bawa ngapain kita buru-buru Nadia Sabrina.” Kata Alina sambil mengeluarkan motor dari parkiran lalu menyuruh Adik sepupunya segera naik karena langit akan menurunkan rintik hujan.
Saat malam tiba Nadia makan dulu sehabis solat isya dengan nasi omellet buatan Alina.
“Nadia aku mau nanya dong?” ucap Alina yang membuka pembicaraan sambil memakan nasi omellet.
“Nanya aja Kak?” kata Nadia sambil menyuapkan Nasi ke mulutnya.
“Kamu tahu gak rumah antik yang mau ke luar gang? Terus kaya gak berpenghuni gitu sejak tahun 70-an itu pun aku denger-denger.” Ungkap Alina lalu menyuapkan Nasi ke mulutnya.
“Kak itu rumahnya bukannya ada perempuan berkebaya, terus pakai sanggul.” Ucap Nadia.
“Berarti bener dong!” Ucap Alina yang sudah selesai dengan nasi kunyahnya.
“Kenapa Kak? bukannya ada penghuninya ya?” ucap Nadia.
“Eh Sabrina itu kosong, coba aja lu check kosong tahu.” Ujar Alina.
“Aku denger-denger dari ibu-ibu sini, itu rumah dulunya bekas di rampok terus keluarga itu di bunuh.” Lanjut Alina kemudian memakan nasi goreng ke mulutnya, sedangkan Nadia rada percaya dan tak percaya apa yang di katakan kakak sepupunya ini.
Nadia memasuki kamarnya yang di tempati ia dan Alina, gadis tersebut memilih jadwal pelajaran yang besok akan Ujian, yakni Matematika, bahasa indonesia, ilmu pengetahuan alam, dan PKN.
Nadia membaca beberapa buku dan tak lupa mencatat sumber, untuk matematika ia mencatat rumus di kertas.
Sesaat tangan lentik Nadia sedang menulis ada suara sayup-sayup membisik di telinganya dalam bahasa belanda.
“Mijn liefste, ik zal mijn mannen sturen om je morgen beschermen, wanner je het huis binnengaat.” Ucap Hanson yang sepertinya tak ingin ambil resiko jika istrinya terluka, saat Nadia terhenti dan ingin menjawab perkataan Hanson tiba-tiba Alina berdehem membuka pintu kamar.
“EHem...Tuh baju sekolah udah aku gosokin.” Ujar Alina lalu membuka laptopnya.
“Kak Alina rumah itu bukannya ada penghuninya, orang waktu itu aku liat kok.” Kata Nadia.
“Hah serius kamu!!” Kata Alina yang kaget lalu menepuk pundak adik sepupunya.
“Dua rius, Kak.” Ujar Nadia yang bersungguh-sungguh tetapi masih mencatat rumus.
“Ibu-ibu pakai kebaya, liatin aku mulu waktu pulang sekolah.” Alina langsung mentap horror adik sepupunya.
“Nadia aku nanya dong kemampuan indigo kamu kaya gimana?” tanya Alina yang menanyai adiknya sambil mengalihkan pandangannya dari laptop.
__ADS_1
“Selain bisa berkomunikasi dengan mahluk begituan, aku juga bisa ngeliat masa lalu mereka, dan bisa melepas arwah dari raga.” Jawab Nadia dengan santai.
Sejenak keheningan melanda kamar, Alina sibuk menyusun skripsi sedangkan Nadia masih setia mencatat sumber-sumber.
“Nad, udah malem tidur!” perintah Alina.
“Nanggung kak, bentar lagi.” Ucap Nadia, sedangkan gadis itu terus melanjutkan mencatat rumus.
Setelah selesai semua Nadia menyelipkan kertas sumber ke dalam buku-buku mata pelajaran sesuai sumbernya.
Tanpa sadar mulutnya menguap karena sudah merasakan kantuk yang luar biasa, lalu mata gadis tersebut melihat ke atas ranjang terlihat kakak sepupunya sudah terlelap.
Terasa tenggorokannya jadi mengering dan minta di puaskan dahaganya jadi ia ke dapur untuk mengambil air minum agar dahaganya terpuaskan.
Saat di dapur betapa terkejutnya Nadia melihat seorang wanita berbaju long dress putih dengan rambut Panjang yang menutupi wajahnya, hampir saja Nadia menjatuhkan gelas kaca yang berisi air minum itu karena terkejut.
Wanita berbaju putih itu cekikikan dan minta di tolong tetapi di halangi oleh anak buah si Hanson yang berwujud prajurit Belanda agar hantu liar itu tak mendekati Nadia.
“Nak...aku ingin bicara...” Nadia ketakutan tetapi hatinya merasa iba pada hantu wanita itu lantaran suara cekikikannya berubah menjadi isak tangis.
“Kopral David Orsten!” Ucap Nadia yang berusaha menetralkan perasaan takutnya.
“Kopral David Orsten!! Suruh mereka lepaskan dia biarkan wanita itu bicara!!” ujar Nadia tegas.
“Tapi nyai...” Ucap David ragu.
“Lepaskan dia!!” perintah Nadia sekali lagi, mereka melepaskan hantu liar itu dan membiarkannya bicara.
“Apa yang membawamu kemari?!” tanya Nadia berusaha menghilangkan rasa takutnya.
“Aku ingin bicara padamu...cahyu.” Ucapnya tetapi masih di tahan oleh anak buahnya David.
“Siapa namamu? dan apa tujuanmu menemuiku?” tanya Nadia sekali lagi.
“Aku minta tolong padamu kuburkan aku dengan layak!” ujarnya lagi. Nadia mulai ketakutan tatkala rambutnya mulai memperlihatkan setengah wajahnya yang menyeramkan dan di penuhi luka segar serta belatung yang ke luar dari mata kirinya tetapi Nadia tetap tegar meskipun aroma bunga melati bercampur bau busuk mulai tercium.
“Apa kamu tinggal di rumah yang...” Ucap Nadia terputus tatkala hantu liar itu mulai mengiyakan.
“Iya aku tinggal di rumah tua itu, tubuhku dan keluargaku di kuburkan secara tidak layak di belakang rumah itu.” Ucapnya lagi.
“Inyaallah saya sebisa mungkin bantu kamu.” Ucap Nadia.
“Sekarang kamu bisa pergi karena saya lihat kamu sudah kesakitan!” Perintah Nadia, setelahnya hantu itu terbang sambil cekikikan dan tak lupa mengucapkan terimakasih.
__ADS_1