Nadia, The Indigo Girl

Nadia, The Indigo Girl
BAB 53


__ADS_3

Malam harinya saat yang lainnya sudah tidur kecuali Nadia, Jendral Willem, pejabat Baron, serta para serdadu yang sedang berjaga. Nadia membuat alat pelacak dan pemantau seperti kamera untuk memudahkan ayah mertuanya dalam pekerjaannya.


Nadia juga mengajarkan serta memberikan instruksi bagaimana alat yang ia buat bekerja untuk merekam setiap gerak-gerik di kadipaten angalarang lewat kamera serta speaker untuk merekam apa rencana mereka.


 Setelah selesai Nadia di suruh istirahat oleh Willem. “Nadia sebaliknya je istirahat...ik tidak mau Kleinzoon atau cucu ik terjadi apa-apa.” Nadia mengangguk kemudian tersenyum.


“Iya papa.” Jawab Nadia sambil menekuk kakinya kemudian keluar ruang kerja Willem untuk menuju kamarnya.


Nadia berjalan menuju kamarnya dengan melewati lorong yang menghubungkannya dengan taman dan halaman yang luas, saat sedang ingin membuka pintu kamarnya tiba-tiba gadis bergaun biru renda sebawah lutut itu mendengar suara gamelan membuat ia menghentikan keinginannya untuk masuk ke dalam kamar.


Nadia sangat takut jika itu penyusup jadi ia putuskan untuk memeriksanya sendiri meskipun takut dan tubuhnya sudah mengeluarkan keringat dingin.


 Suaranya terdengar dari arah belakang taman biasa para kacung maupun bendide pribumi yang bekerja sebagai pembantu sebagai tempat melepaskan lelah. ‘Mungkin para pembantu lagi nonton jaipongan kali ya.” Batin Nadia dalam hati.


Betapa terkejutnya Nadia saat yang ia lihat di pavillium tempat para kacung melepaskan lelah tak ada siapapun, ‘Perasaan gua aja kali ya, ya allah mungkin ini efek gua hamil terus kecapean.


Masa bodo deh mending balik ke kamar tidur.’ Hati Nadia bicara sambil mengusap perutnya yang sedikit membuncit. Tapi saat Nadia berjalan menjauh dari pavillium terdengar suara gamelan lagi dari pavillium dengan penasaran gadis itu pergi memeriksanya lagi.


Kali ini sungguh diluar dugaan ada seorang penari yang waktu itu membuatnya serta Bella, Putri, maunpun Vella jadi terjebak di alam gaib atau di bawa ke dimensi berbeda.


Penari itu menggoyangkan tubuhnya menari dengan indah, saat membalikan badannya wajahnya masih sama seperti waktu itu hanya terlihat tengkorak berwarna hitam saja sedangkan tangan dan anggota tubuh lainnya tertutup daging dan kulit.


Penari itu berusaha membuat Nadia takut dengan mengeluarkan ular-ular di tubuhnya dan di bawah kakinya, Nadia melihatnya bukan takut tapi malah kesal bercampur marah di tambah penari itu tertawa menyeramkan.


“Nadia!!” Vella berlari di belakangnya sambil berlari mendekati Nadia, “gua denger suara berisik makannya gua...AAAAA.” Vella belum menyelesaikan ucapannya tapi sangat terkejut dengan yang ia lihat jadi ia berteriak lalu membekap mulutnya dengan tangan.


“Sumpah demi apa? dia lagi.” Ujar Vella sambil memegang bahu Nadia dengan posisi ketakutan.

__ADS_1


“Eh Nad, sumpah gua takut mana di bawahnya ada snake lagi...ya ampun kenapa sih jadi creepy begini.” Dumel Vella yang ketakutan.


“Mau apa lagi kamu?!” akhirnya satu kata terlontar dari mulut Nadia.


Wanita penari berwajah tengkorak tersebut hanya tertawa mengerikan membuat Vella semakin merapat di belakang Nadia, “Nad, gua takut.” Ucap Vella.


“Nadia Sabrina van buthjer, kamu akan menerima bayarannya!!!!” ucapnya penuh dendam.


Tapi Nadia menyipitkan matanya saat melihat sebuah yang berkilau berwarna perak dari matanya yang bolong tanpa ada bola mata di mata kanan penari itu.


“Gua juga takut vel...” Ucap Nadia yang mengaku.


“Kita akan selesaikan ini Nadia!! Dendamku pada buyutmu Puspasari.” Setelahnya ular-ular itu hilang dan selendang di pinggang penari itu berubah menjadi ular.


Wanita berwajah tengkorak itu menerbangkan tubuhnya kemudian menghilang di tengah kegelapan malam.


“Nad...puspasari? dendam apaan? Masalahnya apa sih? Bisa di omongin baik-baik?” ucap Vella yang ingin tahu alias kepo menyerang Nadia dengan berbagai macam pertanyaan.


“Jawab dulu 'kan lu tahu gua orangnya kepo...” Ucap Vella yang penasaran, “yaelah palingan...” Nadia mencari alasan agar Vella bungkam.


 “Palingan utang bisalah cewek-cewek kaya lu kagak tahu aja.” Ucap Nadia yang membuat Vella tertawa.


“Yaudah ayo tidur.” Ajakan Nadia kali ini membuat Vella mau akhirnya Nadia tidur di kamarnya sambil menatap langit-langit kamar memikirkan apa masalahnya dengan eyang puspa.


Di dalam kamarnya, Nadia menidurkan dirinya sambil menatap langit-langit kamar tak lama ada sesosok laki-laki yang berdiri di sampingnya menatap dengan tatapan ke arah Nadia, gadis itu langsung terduduk mulutnya bergetar untuk mengucapkan satu kata dan kalimat.


“So__fu. Sofu.” Nadia langsung berdiri dari kasurnya untuk mendekati eyang buyutnya yang berada tepat di samping kasurnya.

__ADS_1


Sofu adalah bahasa Jepang yang di artikan dalam bahasa Indonesia kakek.


“Sofu apa yang kamu lakukan disini?” tanya Nadia pada kakek buyutnya yang berwajah jepang, pria jepang berseragam tentara itu membelai rambut cicitnya lalu tersenyum dengan bibirnya yang tipis kemerahan.


“Watashi anata ni au, nazenara watashi anata to hanashitai. Anata dake.” Ujarnya. Nadia mengeryitkan keningnya tanda tak mengerti apa yang Kakek buyutnya bicarakan.


“Sofu aku gak tau apa yang kamu bicarakan...” Aku Nadia yang keheranan dan tak mengerti apa yang kekeknya bicarakan.


“Aku temui kamu karena ada hal yang harus aku bicarakan...” Ucapnya dalam bahasa melayu yang fasih.


Nadia heran tak seperti biasanya kakek buyut jepangnya menemuinya kecuali dalam keadaan bahaya atau kesulitan, hanya Nenek buyut penarinya yang selalu menemaninya kemana pun dan dimana pun ia berada dalam keadaan sulit maupun keadaan baik.


“Apa yang ingin Sofu bicarakan?” tanya Nadia.


“Kamu...akan tahu tentang masalalu aku dan sobo Anata.” Ucapnya di akhir kalimat yang membuat cucunya kembali mengeryitkan dahinya.


“So__bo?” tanya Nadia.


“Nenek kamu yang penari.” Nadia langsung melebarkan matanya.


Nadia menatap kakeknya penuh harap agar bercerita sekarang juga tetapi sang kakek buyut malah menganggukan kepala tanda agar cicitnya ini mencari tahu sendiri untuk melatih kemapuan indigonya.


“Masa lalu apa maksud Sofu? silsilah keluarga ayah atau cerita masa lalu Sofu saat bertemu Sobo?” Nadia bertanya tapi sang kakek yang berwujud hantu jepang hanya tersenyum sambil membelai rambut cicitnya.


“Jika kamu tahu tentang cerita masalalu saya maka kamu juga akan tahu silsilah keluargamu.” Ujar sang Kakek.


“Aku harus pergi, Arigatogozaima.”  Di akhir kalimatnya sang kakek malah membungkukan tubuhnya ke depan atau di sebut ojigi.

__ADS_1


“Hai...hai.” Ucap Nadia berusaha melakukan ojigi juga. Setelah Nadia melakukan ojigi sang kakek langsung menghilang.


Gadis itu untuk tidur kembali menatap langit-langit kamar, pikirannya melayang entah kemana memikirkan hidupnya yang penuh teka-teki.


__ADS_2