
Hari minggu tiba Nadia masih di singgasana emasnya terlelap sampai sebuah tangan yang membuatnya terbangun karena sang Ibu membangunkannya untuk solat subuh saat dirinya sedang berada di singgasana emasnya, terpaksa gadis itu bangun dengan malas lalu mengambil air wudhu yang dingin setelahnya melaksanakan solat subuh. Tak lama ia memanggil sang Ibu dari lantai atas.
“Bu jadi gak nanti?” tanya Nadia dari lantai atas.
“Jadi sayangku ya udah kamu jangan tidur lagi.” Ujar sang Ibu yang sibuk mengolah bahan masakan yang akan di bawa nanti saat ke kota tua.
Sesaat Nadia ingin memasuki kamarnya lagi untuk menyiapkan pakaian yang nanti akan di kenakan seketika lampunya kembali mati dan menyala secara bergantian seakan ingin mengerjai Nadia.
“Defani jangan jail, woy!!” ucap Nadia dengan kesal dan aneh suara itu muncul lagi, Nadia tahu pasti ada sesuatu yang nanti akan terjadi pada dirinya ia memutuskan untuk menyembunyikannya dari siapapun.
Nadia memilih pakaian saat keadaan lampu sudah dalam keadaan normal ia memilih pakaian dengan celana hitam dan atasan blouse berwarna hitam, lengan di dominasi garis lolipop warna putih dan hitam, serta kerudung segi empat warna putih. Tak lupa gadis itu juga menggunakan parfum beraroma bedak.
“Nadia turun Nak!” panggil sang Ibu.
“Iya Bu, mau ambil tas dulu!” ucap Nadia sambil memasukan barang-barangnya ke dalam tas seperti: handpone, headset, dan power bank ke dalam tas selempang kecil, kemudian segera menuruni tangga untuk sarapan pagi.
Setelah sarapan pagi Nadia melihat sang Ibu sibuk memoles wajahnya dengan makeup Nadia melihat handponenya ternyata ada pesan yang tak terbaca dari Dian. Nadia segera membalas pesan yang masuk dari Dian.
“Ibu udah sarapan belum?” tanya Nadia pada sang Ibu yang masih sibuk memoles lipstick berwarna merah di bibirnya.
“Udah tadi pagi.” Jawabnya setelah memoles lipstick di bibirnya. Nadia terdiam sejenak lalu terlintas di pikirannya tentang Kota tua, ia membuka aplikasi google untuk mencari tahu.
Nadia amat terkejut setelah tahu dari penelusuran google apa yang terjadi tentang Batavia lama, pembantaian sadis para etnis Tionghoa oleh Belanda dan perang besar antara kaum Pribumi dan Belanda di Batavia yang banyak memakan korban jiwa bahkan anak kecil dan para wanita yang tak berdosa menjadi korban kekejaman dari pemerintah kolonial Belanda.
Nadia terdiam membayangkan yang ia baca tadi barusan. Tetapi tak lama sang Ibu membuyarkan lamunan Nadia.
“Nad!! Nadia!! Ayo, Bude Agni ama Bude Nani udah nunggu tuh! Malah bengong!!” ucap sang Ibu sambil meraih rantang makanan dan tas selempang.
“Oh iya Bu.” Nadia yang baru saja terbuyar dari lamunannya kemudian mengambil tas selempang sambil memasukan handponenya ke dalam tas yang ia kenakan.
“Ayo!” ucap Ibunya Nadia kepada dua wanita itu dengan membawa anak-anak masing-masing. Singkatnya mereka pergi menaiki kereta untuk menuju ke stasiun Jakarta kota.
Baru tiga langkah Nadia turun dari kereta ia merasa masalah akan di mulai.
Keadaan sekitar memang amat banyak sekali orang karena ini adalah hari weekend atau bersantai jadi suasana amat ramai, tangan Nadia dan Defani selalu di gandeng oleh sang Ibu karena begitu banyak sekali orang.
Setelah keluar dari stasiun para wanita mencari tempat teduh untuk istirahat dan mendiskusikan akan ke museum mana yang akan mereka tuju, para anak sibuk bermain handpone dan memakan permen sedangkan Nadia Bersama Tasya anak gadisnya Bude Agni sedang membicarakan Instagram dan rekomendasi aplikasi novel terbaru.
Setelah para Ibu memutuskan mereka akan kemana barulah mereka memanggil anak-anak mereka untuk mengambil barang-barang mereka agar tak ada yang tertinggal apalagi barang pribadi lalu beranjak berjalan untuk menuju museum yang dituju.
“Kak Tasya, males banget isi Instagram aku si dia mulu!” keluh Nadia.
“Semua juga sama, Nad!! emang lu doang!!” ucap Tasya yang tak kalah kesal. Nadia yang keasyikan mengobrol tak sadar kalo sudah sampai museum yang dituju.
“Ini semua jadi berapa orang?” ujar Bude Agni untuk memastikan saja lalu Ibunya Nadia menghitung berapa orang yang akan masuk ke dalam museum.
“Ada delapan orang Bu.” Ujar Ibunya Nadia.
“Anak-anak ada tiga orang, dewasa tiga orang, sama remaja dua orang.” Lanjut Ibunya Nadia.
“Ya udah saya bayar dulu.” Ucap Bude Agni untuk membeli tiket.
Mereka dua Ibu menunggu sambil mengawasi anak kecil bermain dan dua anak remaja sibuk membicarakan barang trend dan gossip artis, setelah Bude Agni membayar tiket masuk mereka semua segera masuk untuk mengelilingi museum tentang sejarah.
Nadia melihat benda-benda sejarah dari balik kaca bening, dan tentang sejarah Jakarta lama yang disebut Batavia.
Nadia tanpa sengaja berkonflik dengan Ibunya disebabkan Defani, anak itu tanpa sengaja menganggu mahluk lain penunggu museum.
“Defani jangan begitu.” Nadia yang indigo tahu kalo kelakuan Adiknya kurang pantas jadi sebagai Kakak Nadia berperan melindungi sang Adik, sebenarnya niat gadis itu sudah baik ingin membelot sifat Defani yang kurang pantas tapi caranya yang salah membuat sang Ibu marah.
“Nadia!” pukulan sang Ibu di lengannya membuat Nadia marah dengan menarik lengan Defani yang sedang berlari Bersama anak-anak dari Bude Nani karena mahluk penunggu museum sangat tidak suka dengan perilaku tiga bocah itu, membuat Nadia kena semprot oleh sang Ibu saat itu juga api konflik di mulai.
Para rombongan itu ke taman yang di sediakan museum tempatnya berada di pintu ke luar museum dan di situ juga ada bunker atau penjara jongkok, sebelum menuju taman pengunjung harus menuruni tangga tepat di bawah tangga terdapat penjara jongkok.
Di taman itulah banyak para pengunjung istirahat dan banyak anak-anak bermain termasuk Defani, Nadia orang yang cukup tempramen saat sang Adik mendekat ia malah mengusirnya bahkan tak segan meludahi anak menjengkelkan itu.
Nadia sudah berkali-kali di tawari makan tapi gadis itu hanya diam tidak berselera makan, Bude Agni dan Bude Nani sudah menawarinya makan tapi Nadia menolak dengan mengeleng kuat.
“Udah Bu, biarkan saja.” Ujar Ibunya Nadia sangat cuek dan masa bodo melihat tingkah gadis itu cukup sensitive dan pemarah.
Nadia yang tidak makan ingin mengunjungi penjara jongkok lagi, disaat itulah Defani mendekat dan Nadia memarahinya bahkan meludahinya.
“PERGI SONO!!” ujar Nadia sambil mendorong tubuh Defani dan sedikit memukul membuat ketiga anak itu menjauh dan ketakutan.
Nadia berjalan memasuki bunker itu kemudian memegang salah satu bola Meriam yang sudah tak berfungsi sedang tergeletak di lantai bunker ia menyentuhnya disaat itu sekelibat bayangan masalalu muncul.
__ADS_1
Gadis itu langsung bernafas tersengal seperti lari maraton dia langsung keluar bungker dan menuju rombongan, mereka duduk di tikar sedangkan Nadia memilih duduk di bawah pohon yang dilingkari semen khusus untuk orang duduk.
Mata Nadia melihat Defani sedang berlari dengan anaknya Bu Nani tapi yang ia lihat bukan tiga anak melainkan empat anak.
Ya, empat anak di belakang Defani di ikuti oleh anak kecil bule seumuran Adiknya.
Anak kecil bule hantu itu tidak menapaki kaki di tanah Tetapi sangat mengemaskan rambutnya keriting warnanya pirang, bola matanya biru dengan kemeja putih ditambah dasi kupu-kupu merah di kerahnya, dengan mengenakan celana warna coklat, serta kaus kaki putih dan sepatu coklat bertali.
Nadia juga mendengar suara rintihan kesakitan sejak memasuki bunker tadi, saat itu gadis tersebut mendengar suara seorang laki-laki tepat di sampingnya.
“Tidak baik seorang gadis menangis sendirian disini.” Ucap laki-laki itu dengan logat asing yang aneh.
Nadia langsung menoleh ke samping ia mendapati seorang laki-laki remaja duduk di sampingnya yang umurnya tak beda jauh dari dirinya, hal yang mampu membuat Nadia ketakutan dan diam adalah laki-laki itu bisa memutarkan kepalanya ke belakang seperti gangsing.
Senyum laki-laki bule itu mengembang di bibirnya yang penuh dan merah, Nadia langsung terdiam keringat dingin bercucuran memeperhatikan laki-laki bule di sampingnya mirip seperti Hanson.
“Ya ampun apa bener ini Hanson?” ucap Nadia dalam hati.
Nadia memperhatikan pemuda itu rambutnya pirang kecoklatan, warna mata biru yang menenangkan seperti ombak di lautan, serta memakai seragam militer yang sama waktu di kenakan Hanson saat ia mati di pangkuan Nadia.
Suara rintihan kesakitan dan minta tolong perlahan lenyap dengan hilangnya pemuda itu, setelah terbuyar Nadia segera bergabung bersama rombongan yang sedang duduk di tikar.
...⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦...
Tak terasa mereka ingin segera keluar museum untuk belanja di pasar yang agak sedikit jauh. Mereka pergi belanja Nadia pergi ke toko lalu mata hitam sekelam malam itu tertuju pada sebuah kalung berhuruf ‘N’ yang mengantung persis saat Hanson memberikan di mimpinya waktu itu, tetapi kalung yang diberikan Hanson terbuat dari emas sedangkan yang Nadia beli terbuat dari logam putih. Sang Ibu langsung membelikannya, Nadia berhuruf ‘N’ dan Defani Adiknya berhuruf ‘D’.
Setelah membayar rombongan itu keluar dari toko untuk melanjutkan belanja berhenti di keramain, “Bu aku ke sana dulu.” Tunjuk Nadia di toko elektronik. “Ya udah.” Setelah mendapatkan izin dari sang Ibu Nadia segera pergi memasuki toko itu.
“Mau beli apa Dek?” tanya penjual.
“Cassing handpone ada?” tanya Nadia.
Penjual itu mengeluarkan Cassing handpone berbagai kartun tetapi pilihan Nadia jatuh pada cassing berbentuk mickey mouse karena gadis itu sangat menyukai mickey mouse.
“Ini berapa mbak?” tanya Nadia. “35 ribu Dek.” Setelah membayar dan mengucapkan terimakasih Nadia langsung pergi dari toko itu untuk menemui sang Ibu.
Mata gadis itu tertuju pada tas selempang yang cukup besar dan ingin membelinya.
“Bu aku mau tas dong?” ucap Nadia yang memelas sambil menarik tangan sang Ibu menuju penjual tas itu.
“55 ribu, Bu.” Ujar penjual. “Gak bisa kurang Bang?” tawar sang Ibu tertuju pada tas bergambar kucing warna merah muda.
“Ya udah lima puluh ribu aja deh, Bu.” Ucap penjual.
“45 ya bang.” Tawarnya lagi, “waduh gak bisa bu murah banget itu.” Ucap sang penjual.
“Ya udah deh 50 ribu.” Ujar sang Ibu.
Nadia senang dirinya sudah berbaikan dengan sang Ibu ditambah mendapatkan tas yang di inginkan, tinggal menunggu rombongan yang sedang belanja sesudahnya mereka segera menuju stasiun karena sudah sore menjelang magrib.
Perjalanan yang dari pasar menuju museum cukup jauh membuat kaki Nadia pegal termasuk yang lain, sesampainya di stasiun kereta sambil menunggu kereta sang Ibu memberikan susu kotak karena melihat wajah Nadia yang pucat dan tidak memakan apapun dari tadi siang, saat ingin meraih susu dari tangan sang Ibu Nadia langsung mengeluh pada sang Ibu.
“Loh Bu kok ini berat.” Ujar Nadia sambil memegang lengan tangan kanannya, sang Ibu langsung berujar, “mungkin dari sana ada yang ngikutin kali, ya udah nanti sampai rumah di urut,” ucap sang Ibu lalu menyuapi Nadia roti.
Tak lama kereta pun tiba saat Nadia ingin beranjak dan berjalan menuju kereta lengannya semakin sakit setiap langkah semakin sakit dan karena tak kuat gadis itu mulai mengeluarkan air mata karena merasakan sakit yang luar biasa pada lengannya.
Bude Agni dan Bude Nani keheranan melihat gadis itu menangis sedangkan sang Ibu mengurut lengan Nadia yang merasakan sakit.
Rombongan itu turun dari kereta dan segera menaiki angkutan umum untuk sampai di rumah masing-masing, singkatnya setelah sampai di rumah masing-masing.
“Ya udah kamu mandi nanti Ibu teleponin tukang urut.” Ujar sang Ibu, Nadia mandi dan menganti pakaian dengan lebih santai.
Sehabis magrib baru tukang urut itu akan datang Nadia segera turun ke bawah agar badannya di urut karena Bu Rosidiah tukang urut telah tiba.
Sang Ibu menyiapkan teh dan beberapa camilan untuk Bu Rosidiah yang sedang mengurut badan Nadia.
Setelah selesai di urut Nadia di suruh sang Ibu untuk istirahat di kamarnya yang berada di lantai atas sebelum tidur Nadia langsung mengistirahatkan tubuhnya setelah solat isya.
Nadia tidur dengan nyenyak tapi itu tak berlangsung lama saat miring ke samping kiri tubuhnya seolah di peluk oleh seseorang bukan sang Ibu tetapi juga bukan Defani sang Adik tidak mungkin keduanya tidur di kamar ini, di saat itulah Nadia terbangun dari tidurnya matanya melihat sekilas jam dinding tepat berada di hadapannya menunjukan baru pukul tiga pagi.
“Apakah je baru bangun?” ucap suara pemuda dalam logat asing, Nadia menoleh kesana-kemari berusaha meyakinkan dirinya kalo suara itu hanyalah halusinasi saja jadi gadis itu memutuskan untuk mendengarkan music di handponenya lewat headset.
Suara lagu itu perlahan berubah menjadi lagu instrument asing, Nadia kembali membuka mata untuk mengecek music di handponenya perasaan dirinya tak pernah punya music instrument seperti ini, apalagi music klasik yang terkesan jaman dulu.
Setelah membenarkan lagu yang benar Nadia kembali merebahkan diri di kasurnya dan tak lama music kembali berubah menjadi instrument lagi, kali ini perasaan Nadia mengatakan ada hal yang tidak beres.
__ADS_1
Nadia membuka headsetnya lalu melepaskannya dari handponenya, suara halus tiba-tiba menyapanya dari belakang dengan logat asing.
“Apa je lupa dengan ik, lieve?” ucapnya dengan suara lembut tetapi ramah, Nadia menoleh ke samping Kasur.
Gadis itu terkejut saat menoleh ke samping saat yang ia lihat seorang pria bule sedang berdiri dengan pakaian militer di sertai membawa senapan Panjang, wajah pria itu seolah menyiratkan sesuatu. Nadia ingin sekali berteriak tetapi tubuhnya seakan kaku dan mulutnya ingin berteriak tetapi menjadi kelu.
“Tidak perlu takut! Ik tidak akan ganggu je!” ucapnya di sertai senyuman di kegelapan kamar, pemuda itu mendekat tetapi Nadia malah beringsut mundur.
“Kamu…kamu Hanson.” Ujar Nadia dengan terbata-bata.
“Jaa!! ik Hanson.” Jelasnya sambil menatap mata Nadia.
“Ayo jangan takut gengam tangan ik!” ucapnya sambil mengulurkan tangan kanannya.
“Tidak!!” tegas Nadia lalu berlari menyalakan sakelar jaalampu dekat pintu lalu berusaha membuka pintu kamar untuk keluar, dengan berusaha mengoyangkan gagang pintu tetapi hasilnya nihil pintu itu seolah terkunci padahal kuncinya tergantung di dalam.
Hanson berjalan mendekati Nadia yang terduduk di lantai karena ketakutan, tidak ada pilihan lain Nadia bangkit dengan memberanikan diri mendekati hantu itu, “apa yang kamu inginkan?” ucap Nadia.
“Ik ingin mengenal je.” Ujarnya lagi, tanpa basa-basi lagi Nadia langsung membalas uluran tangan Hanson.
Nadia mengikuti arahan Hanson kemudian pemuda bule itu memegang kedua bahu Nadia dengan masing-masing tangannya untuk memaksa gadis bermata hitam tersebut untuk menatap mata dan wajah milik Hanson.
Nadia melihat wajah Hanson masih sama seperti dulu sangat tampan hidungnya mancung dan tegas, kedua pipi putih yang sehalus gading, di sertai warna mata biru yang meneduhkan.
Nadia seolah yakin ini adalah Hanson yang telah tiada tepat di atas pangkuannya.
“Hanson.” Jeda, Nadia menatap Hanson berwujud hantu Belanda dengan senyum yang mengembang, “Hanson Van Butjer.” Lanjutnya sambil memeluk hantu itu ia merasakan tubuh hantu itu amat dingin sedingin es.
“Ikutlah dengan ik tinggalkan tubuh je.” Nadia langsung melepaskan pelukan Hanson dan menatap Hanson dengan tatapan yang sulit di mengerti.
“Aku tidak bisa!! kamu gimana sih!! disini aku punya keluarga!!” ucap Nadia yang berapi-api karena ketakutan.
“Maksud ik, je ikut ik setiap je merasa mengantuk dan kembali lagi seperti sekarang disini.” Nadia rada tak mengerti dengan ucapan si pirang.
“Ayo coba ikut ik.” Kali Ini hati Nadia sangat yakin apa yang di ucapkan Hanson ada benarnya seolah perkataan Hanson ini adalah keyakinan untuk cinta.
Nadia menganggukan kepalanya lalu membalas uluran tangan Hanson di saat itu pemuda bule itu mengarahkan gadis itu untuk kembali membaringkan diri di Kasur, kemudian Hanson mematikan sakelar lampu.
Nadia kembali mengantuk perlahan kelopak mata itu terpejam dan tak lama dirinya membuka mata gadis itu terkejut tatkala ia sudah berada di Kasur klasik dengan empat tiang dan seprai putih, gadis itu bangun dan menyadari dirinya tanpa busana jadi ia menutupi tubuh bagian atasnya dengan selimut putih.
Sesaat menoleh ke samping ia melihat Hanson yang juga terbaring di sebelahnya juga tanpa busana, Nadia menatap sekeliling lalu menyadari bahwa dirinya tidak lagi berada di gubuk-gubuk tetapi rumah biasa.
Hanson melihat gadisnya terbangun jadi ia kembali memeluk tubuh gadis itu kedekapannya, “Hanson ayo bangun!” ucap Nadia yang berusaha melepaskan diri dari pelukan Hanson yang posesif.
“Kita lanjutkan yang tadi.” Nadia mengerti apa maksud Hanson jadi ia hanya pasrah saat Hanson mulai mencumbu lehernya lagi.
Setelah adegan erotis mereka di Kasur Nadia sangat kelelahan jadi ia putuskan untuk tidur, Hanson tersenyum melihat gadisnya tertidur dengan pulas jadi ia bangkit untuk mandi.
Nadia ikut terbangun saat mendengar suara gemercik air dari kamar mandi yang tepat berada di kamarnya yang luas jadi Nadia meraba Kasur untuk mencari pakaian ia menemukan gaun satin tipis dengan renda lalu memakainya di tubuhnya yang gempal memang sedikit agak sempit tapi mau bagaimana lagi ia harus memakainya.
Hanson keluar kamar mandi amat terkejut saat melihat Nadia dengan gaun tipis sedang menatap ke arah cermin sambil menyisir rambut, di saat itu Hanson memeluk Nadia dari belakang kemudian memberikan kecupan di area bahu dan leher kanan milik Nadia.
“Nanti sore ik ingin ke kantor.” Hanson melepaskan pelukannya lalu pergi ke lemari untuk mengambil pakaian ia menggunakan kaos dinas dan celana Panjang.
“Hanson kamu pengen makan apa? Aku akan berusaha masak.” Tawar Nadia yang sudah selesai dengan ritual menyisir rambutnya lalu duduk di pangkuan Hanson.
“Je tak perlu repot, ada Daryu yang memasak.” Ujarnya.
“Lalu tugas aku ngapain?” tanya Nadia.
“Aku tak mau jadi gundik!” tegasnya. “Perempuan inlander seperti je memang pantas jadi gundik.” Perkataan Hanson ingin membuat Nadia meninju wajah Hanson mentah-mentah tetapi diurungkan olehnya.
“Baik kalo gitu, aku gak mau tidur sama kamu!!” ujar Nadia lalu keluar di hadang oleh Hanson.
“Ik belum selesai bicara.” Ucap Hanson.
“Aku bisa membantumu! kamu ingin pergi dinas aku ikut.” Ucap Nadia.
Hanson berfikir sejenak tetapi benar juga bisa di buat pemuas daripada harus menyewa dan membayar.
“Kita mau kemana?” tanya Nadia.
“Ikut saja.” Ujar Hanson yang hanya melihat para bendide memasukan barang-barang majikannya ke dalam koper.
__ADS_1