
Keesokan paginya sinar matahari masuk melalu celah jendela membuat Nadia mengedipkan matanya ia menoleh ke samping ternya Hanson sangat posesif memeluknya, secara pelan Nadia melepaskan pelukan Hanson lalu mulai membersihkan diri ke kamar mandi karena nanti agak siangan ada acara di kantor Hanson ia sudah menyiapkan gaun yang nanti ia akan kenakan pagi ini Nadia ingin keluar sebentar menikmati udara Batavia dan berusaha berkenalan dengan tetangga barunya. Saat baru keluar rumah Nadia melihat Ardi sedang membersihkan halaman.
“Pagi Pak.” Sapa Nadia ramah.
“Pagi juga, Nyai.” Ardi menjawab karena Nadia merasa Pak Ardi seumuran Bapak-Bapak ia juga berusaha bersikap santun kepada para pekerja di rumah dinas suaminya.
Baru saja Nadia keluar gerbang rumah ia melambaikan tangan kepada Nyonya Belanda bertubuh gempal di depan rumahnya tetapi wanita itu malah mengabaikannya seolah sangat angkuh.
Nadia mulai bersikap biasa saja ia mulai berjalan-jalan mengelilingi rumah yang rata-rata di huni oleh keluarga tentara Belanda ini.
“Hallo Nyonya Van Buthjer!” Sapa di belakang Nadia.
“Hai Elsje!” Sapa hangat Nadia. Pagi ini Elsje berjalan-jalan sambil membawa anjing peliharaannya.
“Mari kita menikmati pagi ini.” Ucap Nadia. Dua gadis berbeda kulit itu berjalan sambil berbicang hangat.
“Aku tinggal di situ.” Kata Nadia.
“Elsje aku heran rumah yang di depanku...” Belum sempat Nadia berucap Elsje malah.
“Astaga!! Nadia ik harap je menghindari keluarga yang rumahnya di depan itu.” Kata Elsje sambil menunjuk rumah yang tadi ada seorang wanita angkuh.
“Memang ada apa, Elsje?” tanya Nadia sambil mengerutkan keningnya.
“Itu keluarga yang suka mabuk dan memiliki reputasi buruk, memang sangat berpengaruh tapi ia tak tahu kalo je Nadia van buthjer. Kalo tahu pasti akan baik pada je. Ik harap je jauhi keluarga itu!” Perintah Elsje.
“Apa mereka punya anak?” tanya Nadia.
“Nee!” Ucap Elsje. “Tapi tuan dari keluarga itu punya seorang putri dari gundiknya.” Jelas Elsje sambil membawa anjingnya dengan tali.
“Baiklah ik harus pulang suami ik akan cari ik, sampai jumpa.” Pamit Elsje.
“Sampai jumpa juga.” Nadia menjawab.
Nadia juga berkenal ramah dengan seorang wanita Belanda yang bernama Karren seumuran dengan Elsje yang berprofesi sebagai guru ia adalah istri dari teman Hanson tapi sayang ia juga belum punya anak apalagi hamil beruntung Nadia sedang hamil
__ADS_1
“Kenapa kamu tidak ingin mendengarkan saya!!” suara itu sangat di kenal oleh Nadia membuat Nadia menoleh ke belakang mendapati seorang kakek tua dengan tongkat yang selama ini selalu menyuruhnya menjauhi Hanson.
Tentu saja Nadia amat kesal malah ditinggal pergi pulang ke rumah, “jika kamu tak mau dengarkan saya kamu akan menerima ganjarannya sebelum anak itu lahir!” Ucap lantang sang kakek membuat Nadia terhenti dan menoleh ke belakang mendapati kakek tersebut sudah hilang.
Sontak Nadia yang ketakutan segera kembali ke rumah dan baru juga melepas lelahnya di depan pintu Hanson berdiri sambil berkacak pinggang dengan seragam dinas yang sudah rapih.
“Darimana je?!” suara bariton itu membuat Nadia berdiri tegak sambil menundukan kepala. “Aku tadi berjalan pagi kan sangat baik untuk kesehatan calon anak kita, dan tanpa sengaja bertemu Elsje.” Ucap Nadia dengan jujur tapi tak menceritakan saat dirinya bertemu dengan kakek misterius itu.
Hanson tersenyum lalu mengandeng tangan istrinya masuk ke dalam rumah untuk sarapan, meskipun belum menjelang siang tetap saja udaranya sangat panas.
Pagi ini mereka sarapan susu dengan roti isi daging dan sayuran. Setelah selesai makan Hanson berangkat dinas dan menyuruh istrinya datang ke kantornya nanti siang karena ada acara.
“Iya sayang aku pasti akan datang.” Ujar Nadia setelahnya Hanson langsung pergi.
Siang harinya Nadia bersiap memakai gaun flannel kotak-kotak berwarna coklat tua, rambut yang di cepol sederhana dan dengan topi lebar yang biasa ia kenakan untuk ke acara nonformal suaminya dengan diantar Ardi sang supir sekaligus kacung di rumah barunya. Sesampainya di kantor Hanson, sebelum masuk gedung Nadia di tanyakan dulu identitasnya.
“Saya Nadia, istri Mayor Van Buthjer.” Kata Nadia dua penjaga yang berseragam melihat Nadia langsung mempersilahkan Nadia masuk.
Nadia menggunakan topi dengan sedikit miring agar nampak stylish berbeda dengan istri rekan kerja suaminya yang kebanyakan membawa kipas tangan, Nadia memilih membawa tas clutch kecil di tangannya ia melihat sekeliling ruangan jarang ada yang membawa clutch.
“Ehm...Nadia.” Panggil seseorang di belakangnya.
“Ik dengar je hamil? benarkah itu?” tanya Maria Dietje. Nadia menganggukan kepala sebagai jawabannya.
“Selamat untuk je.” Ucap Maria.
“Thankyou, mevrouw.” Ucap Nadia.
“Panggil ik Maria saja.” Ucap Maria.
“Oke, Maria.” Ujar Nadia. Maria berbicara soal pertambangan Mutiara di laut yang sudah Nadia rencanakan.
“Je cerdas, lulusan mana je?” tanya Maria.
“A...ku.” Tak lama Hanson menyahut dari belakang dengan seragam militer.
__ADS_1
“Baiklah boleh aku bawa istriku pergi karena dansa akan di mulai.” Hanson mengamit lengan istrinya setelah mencium punggung tangan Maria Dietje yang terbalut sarung tangan, Maria Dietje istri dari letnan kolonel Dietje atasannya.
Nadia sadar sedari awal masuk ia sudah merasa di perhatikan oleh sepasang mata tapi bukan Hanson melainkan orang lain. Apa mungkin itu adalah kakek-kakek misterius yang tadi pagi.
Nadia dan Hanson berdansa banyak dari pasangan yang berdansa di ruangan tersebut saat music mengalun, selama berdansa Nadia terus di perhatikan oleh seseorang entah siapa dia.
Hanson dari tadi matanya memperhatikan kerumunan diantaranya ada teman-teman Hanson salah satunya ada Kapten Willem Hellmus saingan Hanson.
Nadia merasa belakangan ini Willem memperhatikannya karena minat, itu sungguh biadab bagaimana bisa ia mencintai seorang gadis yang sudah berstatus sebagai istri orang lain.
“Hanson sudahlah, aku tahu kamu cemburu.” Ucap Nadia sambil meneguk minumannya.
“Tentu saja ik cemburu!!” ujar Hanson tak suka.
“Hanson!. Hei ayo lihat aku.” Nadia memegang kedua pipi Hanson dengan tangannya.
“Aku mencintaimu, kalo aku tak mencintaimu bagaimana mungkin bisa dia ada disini.” Kata Nadia sambil menaruh tangan kiri Hanson di perutnya.
“Aku percaya dia akan membuat hubungan kita menjadi selamanya.” Ucap Nadia membuat Hanson mengukir senyum.
Hanson membuat Alibi agar Willem cemburu dengan mencium bibir Nadia di depannya sontak hal itu membuat beberapa orang melihatnya.
Tak kuat dengan pemandangan tersebut Willem berusaha mengalihkan diri dari sana, “Hanson apa yang kamu lakukan?” tanya Nadia yang tak suka tingkah Hanson.
“Ik tak suka je dilihati oleh Willem apalagi laki-laki lain!!” Ucapan Hanson sangat posesif.
“Iya Hanson.” Nadia mencubit kedua pipi milik Hanson membuat si pirang mengadu kesakitan.
Nadia tipe orang yang sekali bicara tak akan berhenti membuat beberapa wanita belanda yang seumuran Elsje istri atasan suaminya dan Anne teman kerja di pertambangan juga bicara banyak soal fasion dan beberapa mata uang perancis.
Sampai acara selesai Nadia pulang bersama Hanson dengan mobil saat baru di pertengahan tangga, Hanson malah mengendong Nadia membuat gadis itu langsung mengalung tangannya di leher Hanson.
“Ayo kita lakukan lagi.” Rupanya Hanson meminta Nadia melakukan hubungan selayaknya suami dan istri.
Nadia di jatuhkan di atas ranjang, Hanson hanya melepaskan baju dinasnya dan melemparnya ke sembarang arah tanpa memperdulikan lagi yang ia harus tuntaskan adalah hasratnya.
__ADS_1
Tapi Nadia melarang Hanson menyentuhnya seperti orang tak waras karena dokter Stefania Van Buthjer sudah meperingatkan Hanson maupun Nadia untuk tak berlebihan saat melakukan hubungan mengingat kondisi Nadia yang bisa saja drop.
Malam harinya Nadia makan malam setelahnya ia meminum obat agar tak muntah-muntah lagi serta menghilangkan rasa nyeri, karena efek obat Nadia mulai mengantuk dan tertidur. Disaat itu ia mulai keluar dari lorong pusaran waktu dan kembali ke dalam tubuhnya.