Nadia, The Indigo Girl

Nadia, The Indigo Girl
BAB 56


__ADS_3

Hari ini Nadia masuk sekolah memakai atasan baju putih dengan dasi abu-abu dan rok warna abu-abu, di sertai jas warna kuning yang di pakai setiap hari senin dan selasa.


Gadis tersebut akhirnya sudah boleh pulang dari rumah sakit tentunya saat masuk sekolah banyak para murid menanyainya ini dan itu membuatnya harus menghindar dari kejaran para pencari berita, saat di kelas sebelum pelajaran matenatika ada Budi.


“Nadia lu gak kenapa-kenapa kan?” tanya Budi dengan sedikit drama. “Gak.” Jawab Nadia malas.


“Apa yang sebenarnya terjadi, Nadia. Nadia...oh...Nadia betapa aku mengkhawatirkanmu.” Ucap Budi yang dramatis.


“Apaan sih lu!” Nadia paling malas jika menaggapi Budi.


“Kalo...lu kenap-kenapa 'kan...gua...juga...yang...terluka.” Ucap Budi yang so puitis.


“Aduh! so puitis banget lu kaya drama kolosal.” Ucap Nadia.


“Hehehe...iya juga sih.” Budi sambil nyengir kuda.


Ke kantin pun Nadia juga tak luput dari pertanyaan untuk Vella dan Bella mereka berdua tentu tak ingat apapun. “Nadia gimana bisa lu ilang waktu ospek?” tanya teman sekelasnya.


“Gua gak ingat apapun...” Ujar Nadia sambil menyuapkan batagor ke mulutnya.


“Hallo!! Justin Bieber minum sekuteng...wahai cewek-cewek orang ganteng sudah dateng!!” Budi tiba-tiba datang entah dari mana.


“Ueks...” Rini brakting muntah yang selalu berkonflik bersama Budi.


“Eh Sarminah sirik aja lu...gua kan mau nemuin Nadia wahai tulang rusuk gua...” Ucap Budi diakhir kalimat mengedipkan matanya genit pada Nadia.


“Nadia ik tidak suka je di goda oleh laki-laki itu...” Ucap Hanson yang berdiri di sebelahnya. Rini dan Budi masih saja berdebat membuat teman-teman kelas 10 IPS 2 pada memilih pergi ke kelas sedangkan Nadia memilih ke perpustakaan yang terletak di lantai paling bawah.


Sekolahnya di depan perpustakaan juga terdapat taman bagian tengah atau patio, Nadia menelusuri perpustakaan ia senang membaca novel termasuk buku sejarah.


Gadis itu ingin mengambil buku di bagian atas tetapi tak sampai ia berusaha mengapai tapi ia malah kejatuhan 3 buku membentur kepalanya.


‘Buku apaan nih? aneh bener?’ batin Nadia ia mengambil buku tersebut dan melupakan novel yang ia ingin baca, buku itu seperti ada kuncinya mirip kompas.


Nadia bingung cara membaca buku ini sampai membolak-balikan bukunya mencari siapa tahu ada kunci yang dapat membuka buku ini, ruang perpustakaan sangat panas karena AC nya mati tukang perbaikan AC akan datang sore ini.


Nadia tanpa sadar mengelap peluhnya di kening yang tertutup kerudung dengan jari tangan lalu buku itu terbuka karena terkena peluhnya. KREKK!! Kunci di buku tersebut memutar seolah sudah terbuka, Nadia dengan penasaran membaca buku tersebut.


“Apaan nih tulisannya bahasa jawa semua...” Ucap Nadia yang heran, tak lama bel masuk berbunyi Nadia membawa buku itu masuk ke kelas yang berada di lantai 3 paling atas.


‘Ada apa liefste?’ tanya Hanson.


‘Ini buku aku gak tahu artinya Hanson’ Ucap Nadia berbisik membuat para murid yang berlalu Lalang tak terlalu memperhatikan Nadia saat sedang bicara dengan Hanson, sesampainya di kelas Nadia beruntung belum ada guru yang masuk kelas.


“Nad lu abis darimana?” tanya Vella.


“Nih gua dari perpus.” Nadia melihatkan bukunya, singkatnya guru geografi masuk dan menjelaskan peta. Nadia pikirannya melayang sampai akhirnya.

__ADS_1


“Apa yang kamu pikirkan, Nduk?” Nadia menoleh ke asal suara itu memperlihatkan Puspasari yang menggunakan pakaian penari Jawa.


“Nadia...” Panggil Bu Dita.


“Iya bu...” Ucap Nadia terbuyar.


“Nadia perhatikan karena besok ada ulangan...” Ujar Bu Dita.


“Iya bu...” Nadia menganggukan kepala lalu mulai memperhatikan ke depan.


“Woi vin...” Bisik Nahwa pada Vina.


“Di samping Nadia bau melati...anjir.” Ucap Nahwa.


“Iya juga.” Ucap Vina sambil mengendus.


Tak hanya dua gadis itu yang mencium aroma melati tetapi seisi kelas juga mecium aroma melati. Setelah istirahat kedua Nadia memainkan ponselnya untuk menghubungi Sarah.


“Woy sar, gua nemu buku nih di perpus sekolah...” Ucap Nadia yang dilihati oleh teman seisi kelas.


“....” Ujar Sarah di panggilan telepon.


“Yaudah kita ketemu di kopi janji jiwa tempat nongki kita.” Setelahnya Nadia mematikan ponselnya. Nadia bersiap untuk solat zuhur di musolla sekolah sampai jam pulang Nadia ke janji jiwa untuk bertemu Sarah.


Nadia melihat Sarah yang juga masih mengenakan seragam sekolah, atasannya putih dan rok abu-abu. Tetapi jas almamater yang dikenakan warna biru.


“Yaudah santuy aja kali.” Ucap Nadia. “Nih gua pengen nunjukin lu buku ini.” Lanjut Nadia yang menceritakan semuanya waktu di perpustakaan dan bagaimana kunci bukunya terbuka saat terkena keringatnya.


“Coba gua liat.” Nadia menyodorkan bukunya pada Sarah, saat ingin mengambil makanan yang berupa donat yang di pesan tangan Sarah tanpa sadar tergores meja yang sudah tumpul kayunya, secara otomatis ia menjatuhkan bukunya ke lantai beruntung pengunjung tempat itu tak terlalu ramai.


Nadia melihat darah dari jari Sarah mengenai bukunya dan seketika kunci bukunya memutar dan terbuka sendiri.


KREEKK!!


Dua gadis berseragam sekolah tersebut langsung kaget bukan main, Sarah meraih buku tersebut kemudian ia memiliki ide untuk memfoto tulisan di buku itu untuk menerjemahkannya lewat aplikasi di ponselnya.


“Nad, ini mantra tahu...” Nadia yang sedang meminum cream latte langsung tersendak.


“Mantra apaan?” tanya Nadia pas ia cek ternyata benar itu adalah mantra yang dalam bahasa jawa.


“Sar gua baru inget...lu tahu kan kakek Jepang gua.” Ucap Nadia.


“Iya tahu malah gua sering liat sama lu, emang kenapa?” tanya Sarah.


“Dia nyuruh gua buat nyari tahu masalalu dia sama eyang gua yang penari itu...di tambah lagi ada penari muka tengkorak yang bikin gua sama teman-teman gua waktu ospek masuk ke alam siluman.” Jelas Nadia Panjang kali lebar.


“Serius lu!! OMG!!” Sarah membulatkan mulutnya kemudian menaruh tangannya.

__ADS_1


“Sar kayaknya yang penari itu dendam deh sama Eyang Puspa tapi yang kena malah gua, masalahnya apaan?” Tanya Nadia.


“Mana gua tahu, gini aja deh gua bakal ajak lu ke hutan dekat UI.” Ajak Sarah.


“Ngapain Ijah?” Nadia yang heran.


“Lu mau ikut gua gak biar masalah lu kelar.” Ucapnya.


“Yaudah jadi alasannya sama nyokap mau olahraga nih,” Nadia sambil meminum cream lattenya.


“Iya...” Sarah langsung terdiam saat dirinya merasa ada yang membuntutinya.


“Nad...kita harus pergi deh dari sini...” Ucap Sarah berbisik.


“Kenapa emang? nanggung nih minuman gua.” Ucap Nadia dengan Santai.


“Lu tahu penari tengkorak itu ada disini ayo buruan cabut! Daripada nyawa lu nanti gua yang di salahin ama om-om Jepang.” Nadia di tarik paksa keluar café setelah membayar mereka kabur dengan menggunakan motor menuju sebuah tempat.


Sarah mengajak Nadia ke area kali ciliwung yang masih terdapat banyak pohon, Nadia langsung menaburkan garam ke sekeliling mereka membentuk lingkaran, penari itu menembang atau nyanyi tetapi belum menampakan wujudnya.


Nadia yang lengah ia ditarik oleh penari itu dan lehernya di cekik sambil melayang.


“Woy lepasin temen gua!!” Sarah rupanya marah sambil dilempari garam juga tak mempan tak ada pilihan lain Sarah memanggil suaminya Kapten Rudolf johanes van der zind, untuk membantunya.


Saat itu Nadia lepas dari pengawasan Hanson, anak buah Hanson segera melaporkan padanya, Nadia dilepaskan dari cekikannya.


“AKH! Siapa yang berani menembakku?!” ucapnya marah.


“IK!! Ik yang berani tembak je!!” Suara lantang itu dari Hanson.


“Kurang ajar!! Londo asu!!” Ucapnya.


“Hanson!” Nadia menghambur kepelukan Hanson.


“Beraninya je melukai istri ik!!”  Hanson sambil memeluk Nadia.


“Aku tak punya urusan sama londo!! Aku ingin balas dendam pada Puspasari.” Ucap penari itu. Nadia dan Sarah saling memeluk mereka berkelahi di atas air membuat hujan deras.


“Sarah! Nadia! ayo je berdua naik ke atas air akan naik!!” Perintah suami Sarah. Kapten Rudolf johanes van der zind.


“Liefste...hati-hati aku yakin dia bukan hanya hantu tetapi juga iblis...” Sarah memperingatkan suaminya.


Nadia naik ke permukaan dan Sarah mengajak Nadia ke rumah Sarah, sesampainya di rumah Sarah hujan turun dengan lebat, dua gadis itu mengakhawatirkan suaminya.


Nadia segera mengeluarkan bukunya yang terkunci ia membuat tangannya terluka dengan jarum hingga berdarah, buku itu terbuka saat terkena tetesan darah Nadia.


Dia melanjutkan membaca saat itu Sarah dan Nadia tahu cara menyelesaikan permasalahannya tinggal menunggu hari sabtu ia akan pergi ke hutan untuk melakukan sesuatu.

__ADS_1


__ADS_2