
Nadia dengan malas bangun untuk beranjak ke kamar mandi, setelahnya ia memakai celana training dan kaus dalam lalu melaksanakan solat subuh setelah selesai Nadia memakai seragam sekolahnya yang semalam sudah di setrika oleh Kak Alina yang mengantung di gantungan, hari ini adalah selasa jadi Nadia memakai kerudung putih, seragam putih-biru di sertai rompi hitam. Kemudian tak lupa memakai lotion, lip balm dan parfum.
Pagi ini sang Nenek menyiapkan sarapan sosis dan telur di sertai teh hangat, selesai sarapan Nadia diantarkan sang kakak dengan menggunakan motor ke sekolah sesampainya di sekolah ia menaiki anak tangga untuk menuju kelasnya lagi-lagi dirinya harus berurusan dengan Budi dan the geng-nya.
“Pagi ini sudah ada bidadari yang datang,” ucap Budi sambil menaik-turunkan alisnya lalu mengeluarkan sisir berwarna peach untuk membenarkan rambutnya.
“Budi ini masih pagi...” Belum tuntas Nadia menyelesaikan ucapan-nya tiba-tiba pak Mawan berdiri tepat di belakang Budi.
“BUDI!!!” teriak lantang Pak Mawan.
“Eh Bapak, Astaga pak pagi ini bapak ganteng banget deh.” Ucap teman salah satu di geng Budi.
“Kalian ini pagi-pagi udah godain cewek, masuk kelas!!” Sontak para masa pada membubarkan diri, Nadia memasuki kelasnya tak lama Sari mendekat teman sekelasnya.
“Tadi Papa Zola ngapain, Nad?” tanya Sari pada Nadia, tetapi gadis bertubuh padat itu hanya tertawa menanggapi pertanyaan yang diajukan Sari.
“Hahaha...Lu pasti ngakak dah kalo lu ada di TKP.” Ucap Nadia Sari hanya mengaggukan kepala tanda mengerti yang berhubungan dengan Papa Zola pasti sangat lucu dan jadi trending satu sekolah.
Nadia sedang asyik membaca buku tiba-tiba Rini si biang gossip membawa bahan baru untuk di jadikan gossip.
“Guys, hari ini gua bawa kabar yang mampu menguncangkan semesta!!” Ucap gadis si biang gossip.
“Apaan Rin?!” ujar para betina yang siap berkumpul untuk mendengarkan gossipnya.
“Si Nailani mukanya ancur!!” ucap Rini yang sangat mengejutkan.
“Whatt!!” Ujar para betina yang tak kalah terkejut.
“Yaelah gua udah tebak!! 'kan dia pake susuk wajarlah!!” tuduh Arin dengan kejam, “iya juga.” Ujar Rini.
__ADS_1
“Eh nanti kita...” belum sempat seorang betina menyelesaikan kalimatnya bel sudah berbunyi melalu speaker dan suara wakil kepala sekolah menyuruh para murid memasuki kelas masing-masing agar bisa memulai UANBM.
Hari ini ada empat pelajaran, jadi dua pelajaran dulu kemudian istirahat selanjutnya di sambung dengan dua pelajaran lagi.
Setelah solat zuhur berjama’ah baru di perbolehakan pulang. Hari ini pelajaran bahasa inggris, fikih, sejarah islam, dan ilmu pengetahuan social. Setelah menyelesaikan bahasa inggris lalu dilanjut dengan pelajaran Fikih.
Nadia mengerjakan soal-soalnya dengan tenang tanpa menanya kesana kemari bukan berarti gadis berkulit putih langsat tersebut cerdas, tapi hanya karena dia berpegang teguh dengan prinsipnya.
Tak terasa waktu ujian telah berakhir Nadia sudah di samperi oleh Ananda dan Ningrum di depan pintu kelas, tiga gadis itu memutuskan untuk ke kelas 9B karena mendapatkan undangan dari Aprilia mereka semua menuju ke kelas 9B.
Saat itu tiga gadis tersebut berpapasan dengan Nailani sesaat melewati pintu kelas 9B, ya Naila berwajah jerawatan dan di bagian atas jidatnya ada sedikit koreng melewati tiga gadis yang selalu di jadikan bahan perundungan dengan kepala tertunduk.
“Eh itu kok Nailani mukanya ancur gitu ya,” Ananda berujar kepada Ningrum dan Nadia.
“Ya udah biarin aja, apa Nan.” Ucap Ningrum yang nampak cuek.
Akhirnya para sahabat itu makan bekal mereka di kelas 9B dengan sangat riang mereka semua, si Aprilia, ningrum, Dian, Nissa, Rika, Nita, dan Dini. Nadia membuka bekalnya ia membawa telur dan sosis, sedangkan Ananda membawa nasi kuning.
“Maksud lu?” tanya Rika, “lu liat aja mukanya ancur begitu.” Ucap Dini kepada semua sahabatnya.
“Dini gak boleh gitu, siapa tahu aja dia salah pakai skincare.” Tegur Nadia.
“Eh tapi gua denger-denger dia...” Seketika bel berbunyi saat Nita belum menyelesaikan kalimatnya, hal itu menandakan waktunya melanjutkan UANBM, sontak Nadia langsung merapikan bekalnya termasuk Ananda yang kembali membungkus nasi kuningnya untuk kembali ke kelas. Di lanjutkan dengan Sejarah islam dan IPS.
Sesampainya di kelas Nadia di tatap oleh sekumpulan gadis tukang gossip, Nadia yang tak mau ambil pusing memilih duduk di kursinya.
Para murid segera mengumpulkan kertas soal beserta jawaban karena waktu dan jam sudah habis lalu bersiap mengambil mukena, sarung dan sajadah untuk melaksanakan solat zuhur berjama’ah di Aula yang luas karena masjid sekolah sedang di renovasi, Nadia mengambil Wudhu bersama Nissa.
Setelahnya dua gadis tersebut berjalan menuju Aula yang sudah di siapkan sambil bercakap-cakap ringan.
__ADS_1
Saat di Aula mereka tak hentinya berbicara. mereka semua menjadi terhenti tatkala pak Anton sudah komat langsung para makmum merapikan barisan solatnya.
Setelah selesai melaksanakan solat zuhur para siswa maupun siswi kembali ke kelas masing-masing untuk merapikan barang-barang mereka untuk kembali ke rumah masing-masing.
“Nad, tuh Ningrum nungguin lu di depan kelas,” ucap Hani.
“Oh ya bilang suruh tunggu!” ujar Nadia sambil memasukan barang-barangnya ke dalam tas, setelah selesai Nadia keluar kelas dan melihat Ningrum yang sudah menunggu di depan kelas.
“Ayo balik!” ajak Nadia sambil menarik tangan Ningrum segera menuruni tangga.
“Sellow aja apa, Nad?” ucap Ningrum sambil melepaskan tangannya dari gengaman Nadia.
“Nih tangan gua sakit!” tambah Ningrum.
“Iya maaf, Rum.” Ucap Nadia.
“Yaudah gua ambil sepeda dulu! lu tungguin gua jangan ninggalin gua!” perintah Ningrum.
“Iya Maemunah!” ucap Nadia dengan melempar ledekan kepada Ningrum.
Singkatnya dua gadis tersebut berjalan kaki, tetapi Ningrum berjalan sambil menuntun sepedanya dengan berjalan di samping Nadia lalu dua gadis tersebut saling bicara dan bercanda, seperti biasa juga para anak laki-laki yang melewati area komplek, yang berisi rumah bergaya khas kolonial dengan Nadia dan Ningrum.
Dua gadis berseragam putih-biru dengan rompi hitam itu melihat kumpulan anak laki-laki di sebelah dan di belakang mereka, sontak tatapan mata mereka terus terfokus kepada Nadia yang selalu mengembangkan senyuman saat bercanda bersama Ningrum.
“Ningrum jalannya cepetan deh, gua takut!” keluh Nadia saat semua anak laki-laki menatap ke arah mereka.
“Yaudah biasa aja,” ucap Ningrum yang nampak cuek tanpa ada ketakutan sedikit pun.
Sesaat sudah sampai di persimpangan jalan Ningrum dan Nadia berpisah sambil tos ala persahabatan, Ningrum ingin mengarah ke luar area komplek sedangkan Nadia terus berjalan memasuki komplek.
__ADS_1
Setelah Nadia berpisah dengan Ningrum, anak laki-laki yang sedang berjalan dan naik sepeda memperhatikan Nadia yang berjalan sambil diam dengan memegang tas ranselnya, dengan rasa takut yang luar biasa Nadia mempercepat langkah kakinya.