Nadia, The Indigo Girl

Nadia, The Indigo Girl
Bab 22: melepaskan roh dari tubuh


__ADS_3

Hanson telah sampai di tempat pertemuan dengan mengajak Nadia turut serta, semua Prajurit Belanda memandang Nadia dengan raut wajah yang sulit di mengerti tetapi Nadia hanya melemparkan senyuman tipis dari bibirnya yang di poles lipstick warna merah.


“Welkom, Letnan van Butjer.” Ucap salah seorang yang sepertinya lebih tua dari Hanson tetapi pangkat-nya sama.


“Bedankt hoor, Letnan Der zind.” Balas Hanson, dua pria bule itu saling bersalaman tanpa menyadari keberadaan Nadia yang tepat di belakang Hanson.


Nadia berjalan di belakang mereka berdua yang sedang berbincang hangat, gadis malang itu di campakan seolah Hanson sibuk dengan teman-nya.


 Nadia berjalan sambil menundukan kepala saat melihat banyak orang-orang Eropa tinggi dan besar.


 Nadia bisa di kategorikan tinggi karena tinggi gadis itu 165 cm, sangat pas untuk tinggi wanita asia atau mungkin lebih. 


Gadis itu mengenakan gaun berwarna krem dengan topi jaring-jaring berwarna hitam dan krem serta rambut Panjang yang di gerai setengah dan atas-nya di kepang.


Semua mata memandang Nadia cukup membingungkan dari tatapan mereka, semua-nya beranggapan bahwa Nadia berasal dari Inlander (Pribumi) atau mungkin kalangan orang melayu lain-nya.


Sudah terlihat dari wajah gadis itu, hidung yang bisa di bilang tidak mancung serta pipi yang tembam.


Hanson sibuk berbincang dengan teman-teman dari kemiliteran-nya sambil meminum anggur oleh karena itu Nadia memutuskan untuk mengelilingi bangunan ini, memang cukup panas karena ini Batavia udah gitu tanpa adanya AC atau pendingin ruangan mana mungkin jaman ini ada alat yang seperti itu, memang ruang pertemuan ini terbilang cukup elegan dan berkelas di tambah lampu besar di langit-langit gedung yang hanya mengandalkan lilin untuk cahaya.


Mereka semua berbincang saat Nadia ingin mengambil lemon tart dari atas meja ia menoleh ke samping kiri hal itu yang membuat-nya rishi, bagaimana tidak para wanita Belanda yang terlihat seumuran dengan-nya berbisik-bisik seolah sedang membicarakan diri-nya dengan bahasa melayu tetapi logat orang Bule.


“Siapa dia?” tanya wanita yang sedang memegang kipas dengan gaun selutut warna merah muda serta topi lebar.


“Gundik baru-nya letnan Van buthjer.” Jawab wanita di sebelah kiri bergaun biru muda sepanjang mata kaki.


 “Oh, sepertinya perpendidikan.” Ujar wanita di sebelah-nya dengan gaun salem.


“Entahlah, tetapi tetap saja ia inlander.” Ucap seorang wanita yang awalnya bertanya lalu di sambung gelak tawa ketiga-nya, Nadia yang tidak bisa menahan emosi menarik nafas dalam-dalam lalu keluar gedung dengan kesal sambil menaruh lemon tart-nya kembali.


“Dasar wanita-wanita a*j*ing emang lu pada siapa gua kagak takut!” Nadia keluar Gedung dengan mulut yang masih ngedumal sendiri.


Tak lama saat gadis itu sedang menghirup udara malam ia melihat dari kejauhan sambil menyipitkan mata ia langsung membulatkan mata tatkala melihat para pasukan Pribumi siap menyerang dengan cepat ia masuk ke dalam dan mencari Hanson.


Saat matanya melihat Hanson yang sedang berbincang Nadia buru-buru ke arah Hanson, dengan marah Nadia merebut gelas anggur dari tangan Hanson.


“Kalian sedang enak-nya merumpi!!” perkataan Nadia membuat para pria kalangan militer itu menatap marah.


“Para pasukan musuh ingin menyerang!!! aku tadi keluar!!” sontak wajah para pria langsung pada menegang.


“Kalian boleh berfikir aku ini pembohong!! sekarang ke gudang senjata!! mungkin mereka mengincar senjata!!” ucap Nadia yang berapi-api. Sontak yang lain kalang kabut dan memerintahkan semua-nya untuk ke Gudang senjata.


”Tapi jangan semuanya takut para pribumi menyerang kesini!! ayo semuanya waspada dari setiap pintu.” Ucapan Nadia di benarkan oleh para perwira muda itu, para wanita yang tadi menjelekan Nadia menjadi heran dengan ucapan gadis itu yang membuat-nya menjadi kacau.


 Nadia meminta Hanson memberikan satu pistol padanya. “Hanson berikan aku satu pistol.” Pinta Nadia.


“Niet!!” tolak Hanson dan benar saja dari luar terdengar suara tembakan para pasukan pribumi sudah masuk aula yang membuat para wanita belanda berteriak ketakutan.


“Hanson cepat beri aku satu pistol!!” pinta Nadia yang sudah benar-benar marah.


Tetapi Hanson mengacuhkan-nya sama sekali dan berlari untuk menyerang dengan pistol, Nadia juga berlari untuk menyelamatkan wanita-wanita belanda untuk menuju tempat yang aman.


“Ayo kemari!!!” teriak Nadia pada wanita-wanita itu ada yang menurut dan ada yang masa bodo. Para wanita yang menurut di masukan Nadia di sebuah ruangan yang aman.


“Tenang semua-nya disini aman!” ucap Nadia pada para Wanita bule itu. Meskipun dari luar masih terdengar suara tembakan yang membuat takut.


“Kalian tetap disini, aku akan keluar menyelamatkan wanita lain!!” ujar Nadia yang langsung berlari keluar pintu sebelum keluar salah seorang wanita bergaun salem dan mengenakan topi lebar menarik tangan Nadia.


“Tunggu!! siapa nama je?” tanya salah seorang wanita yang tadi menjelekan Nadia.


 “My name is Nadia.” Ucap Nadia singkat dengan bahasa inggris karena tak mengerti bahasa belanda. Setelah mereka saling tersenyum Nadia membuka kenop pintu lalu berlari keluar.


Nadia berlari dan di sugguhkan pandangan banyak wanita belanda yang terluka dan ada yang telah tiada karena terkena peluru, sedangkan yang terluka di bawa Nadia ke tempat yang sama di mana ia mengungsikan para wanita belanda ke ruangan yang sama.


Saat membuka kenop pintu para wanita juga ikut membantu membawa wanita yang lengan-nya terluka.


“Madame kamu di sini saja dulu.” Nadia menenangkan wanita yang sedang merintih kesakitan.


“Disini ada yang memiliki sapu tangan atau kain aku minta tolong.” Pinta Nadia kepada seluruh wanita itu. Salah satu Wanita dengan rambut kepang samping dan gaun ungu tua maju ia terlihat sudah paruh baya, dan menyerahkan sapu tangan nya, lalu digunakan Nadia untuk menghentikan darah yang terus keluar.


“Madame tahan sedikit aku akan mengeluarkan peluru-nya ini akan sangat sakit.” Ucap-nya. 


“Bungkam mulutmu dengan tanganmu seperti ini agar para pribumi tak mendengar atau mengetahui keberadaan kita.” Ujar Nadia.


“AAAAKH!!” teriaknya sambil membekap mulut setelah Nadia mengeluarkan peluru itu ia menghentikan darah yang mengalir dengan sapu tangan yang di berikan wanita bule tadi.

__ADS_1


“Ini hanya akan membantumu untuk menghentikan darah yang keluar.” Ucap Nadia, saat darahnya sudah berhenti semua wanita melihat ke seorang gadis inlander yang awalnya mereka tatap jijik menjadi kagum, kemudian Nadia kembali membantu memapah wanita Bule itu untuk menyandarkan tubuh wanita itu ke tembok dan meluruskan kakinya.


“Madame aku minta maaf karena tidak bisa menyembuhkan lukamu sepenuhnya. Aku hanya bisa menghentikan darah yang keluar.” Ucap Nadia.


Nadia pernah ikut pramuka dan di ajari cara menyembukan luka menganga dan darah yang terus mengalir ia di ajari oleh kakak pembinanya waktu kelas 8 SMP sekarang ia kelas 9 SMP dan ingin lulus.


“Tak apa, thanks telah menyelamatkan ik.” Ucapnya.


“Kita disini dulu sampai keadaan aman.” Ujar Nadia pada semua wanita.


“Siapa nama je?” tanya wanita yang sudah Nadia selamatkan.


“Nadia.” Ucapnya singkat sambil tersenyum tipis.


“Kalo nama anda siapa madame?” tanya Nadia kembali.


“Mijn naam is Elsje.” Ucap Elsje dalam bahasa Belanda.


“Nama yang indah seperti pemiliknya.” Puji Nadia.


“Thanks.” Ucap wanita itu sambil tersenyum. 


Sesaat setelah keadaan aman Nadia keluar sebentar untuk mengambil air minum sambil memeriksa keadaan.


Saat di buka memang keadaan sudah aman karena sudah tak ada bunyi suara tembakan terdengar, ia malah mencari Hanson.


Dia takut Hanson ada di salah satu tumpukan mayat yang tergeletak di lantai ia baru saja bersama Hanson dan tak rela harus dipisahkan kedua kalinya dari Hanson.


Nadia melihat para penyelamat datang dia berteriak memanggil mereka semua yang berwajah Eropa dan campuran Indo-Belanda, “para wanita di dalam ruangan itu.” Tunjuk Nadia ke lantai atas dan salah satu ruangan.


Para wanita dan anak kecil di keluarkan dari ruangan itu. Wanita-wanita yang selamat karena di masukan oleh Nadia ke tempat yang aman dan ada juga yang bersembunyi di tempat lain yang aman, setiap wanita ditanyai kemiliteran siapa nama suaminya dan dicatat, Nadia mencari Hanson ia tak melihat sama sekali satu persatu prajurit berseragam di tanyai tetapi hanya menatapnya sinis.


Sampai akhir-nya salah satu wanita memberitahu bahwa Nadia yang menyelamatkan mereka semua termasuk putri dari letnan jendral de wotcher, yaitu Elsje.


“Nyai!” petugas kemiliteran mendekat dan mulai bertanya membuat Nadia menoleh berusaha tersenyum sambil menyembunyikan wajah paniknya.


“Siapa nama Tuan je?” ujar nya dalam bahasa melayu logat asing tetapi sangat ramah.


“Nama saya Nadia sabrina.” Ucap Nadia polos.


Saat semuanya di keluarkan dari Gedung para suami juga sudah ada di depan mereka saling mendekap dan menangis haru sedangkan yang istri atau suaminya tiada hanya menangis sedih.


Lantai di penuhi oleh tumpukan mayat yang tergeletak, Nadia berjalan lunglai untuk mencari tempat duduk lalu hanya bisa pasrah.


Gadis itu terkejut tatkala bahu-nya di tepuk oleh seseorang, “Nadia sabrina, Letnan van buthjer di sana.” Ujar salah seorang prajurit berseragam militer dengan barret hijau Nadia segera melangkah senang tetapi ia malah melihat Hanson tak mencarinya malah mengkhawatirkan Elsje yang di bawa menggunakan tandu.


“Hanson…ELsje.” Ucap Nadia yang membuat keduanya menoleh.


“Nadia…” Ujar Elsje sambil tersenyum, Nadia menunduk dengan topi jaring-jaring berwarna krem untuk menutupi wajah sedihnya.


“Kalian saling kenal.” Kata ayahnya Elsje.


“Papa dia yang menyelamatkanku.” Ujar Elsje yang lukanya sedang diobati.


Nadia awalnya takut ia menunduk tetapi Ayahnya Elsje yang menggunakan seragam dengan penuh lencana berjalan mendekat, dan mengucapkan terimakasih sambil tersenyum.


“Elsje apa Hanson kekasihmu?” tanya Nadia yang saling memandang bergatian berharap jawaban-nya tidak.


“Aku tidak memendam perasaan tetapi Hanson sudah lama memendam perasaan padaku.” Ujar Elsje dengan jujur.


“Oh, kalo begitu semoga kalian bahagia.” Ucap Nadia sambil tersenyum di paksakan.


“Aku permisi Menner dan Madame.” Nadia tidak tahu cara menyapa seseorang dalam bahasa belanda ia ingin memanggil Elsje dengan sebutan miss tapi takut salah.


Nadia berlari keluar tempat perawatan dengan berlari air mata tak dapat terbendung lagi, Hanson memang kejam di saat ia mencari dan mengkhatirkan Hanson ia malah sedang asyik dengan gadis lain.


 “Nadia!!! Nadia!!!” Hanson berlari mengejar Nadia yang sudah terlanjur kecewa.


Nadia malah duduk di sebuah tangga yang agak jauh dari banyak orang tetapi Hanson seperti kehilangan jejak, namun salah satu teman Hanson mendekati Nadia yang sedang duduk bersandar di tangga.


“Je sedang apa disini?” suara itu sukses membuat Nadia menoleh.


“Kamu teman Hanson.” Ucap Nadia lalu mengusap kedua air matanya.


“Jaa!” jawabnya.

__ADS_1


“Mijn naam is Willem.” Pria itu memperkenalkan diri, Nadia menjabat tangan pria berambut pirang dan bermata hijau daun ini dengan ragu.


“Nadia.” Ucapnya singkat lalu tersenyum.


“Mengapa je menangis disini?” Willem menanyai-nya.


“Tak apa aku han…” Perkataan Nadia terputus tatkala Willem mendekatkan wajahnya pada dirinya.


“Apa Hanson menyakitimu?” tanya Willem.


“Sinyo aku tak apa. Tapi kalo boleh aku ingin bertanya padamu?” ucap Nadia yang bicaranya berusaha hati-hati.


“Tanyakan saja.” Setelah mendapatkan izin untuk bertanya Nadia mulai mengajukan sebuah pertanyaan.


“Kamu kenal Elsje, anak dari Letnan Jendral?” kata Nadia.


“Jaa, ik kenal dia cantik banyak rekan kerja ik yang mengicar gadis itu.” Ujar Willem.


 “Apa Hanson punya hubungan special maksudku…” Ucapan Nadia di potong Willem.


“J**aa termasuk Hanson juga menyukai Elsje.” Ucap Willem. Nadia menghembuskan nafas Lelah lalu tersenyum dengan terpaksa.


 “Kamu juga tak menyangka ia hanya mempermainkan diriku.” Ujar Nadia, Willem tersenyum ada rencana terselubung di hati dan pikiran pemuda bule ini. 


Nadia berfikir kalo teman Hanson yang satu ini ingin bekerja sama dengan-nya untuk memisahkan Hanson dan Elsje, atau juga ikut mempermainkan dirinya tapi itu semua hanya tuduhan Nadia yang hanya bisa menghakimi orang ini.


  “Ik ingin je…” Kalimat Willem terputus tatkala Nadia memotong-nya.


“Willem aku tak mau berbuat jahat dengan memisahakan antara Elsje dan Hanson, biarkan Hanson saja yang memilih.” Ucap Nadia dengan mata yang berkaca-kaca seperti menahan air mata.


Willem tersenyum dengan gadis ini cara bicaranya halus dan santun.


“Aku juga harus pergi mungkin Hanson mencariku.” Saat Nadia ingin bangkit berdiri Willem memegang pergelangan tangan-nya. Disaat itu Hanson datang dan melihat semuanya.


“Nadia!!” panggil Hanson, Nadia langsung menunduk kepala.


“Nadia je mengenal, Willem. Dan apa yang kalian berdua lakukan disini?!” umpat Hanson dengan mata memincing.


 “Kita baru saling kenal.” Kata Nadia singkat. Tak lama dua nyonya belanda yang tadi di selamatkan Nadia datang menghampiri Nadia dan Hanson serta Willem temannya.


“Nadia.” Ujar sang empu dengan gaun hijau muda.


“Madame.” Nadia membungkukan kaki tanda kesopanan, itu hanya ia lihat dalam film barat di aplikasi film.


“Hanson apa dia…” Ucapan Anna terputus Hanson menjawab dengan cepat.


“Calon tunanganku. Aku akan bilang pada letnan kolonel gorthen suamimu.” Ungkap Hanson sambil melingkarkan tangan kanan di pinggang-nya.


“Madame senang bertemu kembali denganmu.” Ucap Nadia.


“Oh, Nadia sebut nama ik saja, jangan sungkan.” Ucap-nya.


“Je sangat hebat.” Ujar salah seorang bergaun biru tua.


“Sudah kewajibanku menyelamatkan sesama.” Ucap Nadia sambil menunduk.


“Aku akan bilang ke atasanku untuk melangsungkan pernikahan.” Ujar Hanson dalam bahasa belanda.


“Bagaimana dengan Elsje.” Ucap Nadia yang mengkhawatikan gadis pirang itu.


“Kita memutuskan hanya teman.” Ucap Hanson.


“Teman! je bilang hanya ingin bermain-main dengan Nadia, Hanson.” Ungkap Willem sambil memiringkan bibirnya yang merah dan tipis.


“Nadia aku ingin mengajakmu minum teh besok sore di rumahku.” Ajak Anna Gorthen.


“Tentu saja Madame suamimu Letnan Kolonel pasti sedang mencarimu. Sepertinya aku sangat pusing aku harus pulang.” Ucap Nadia dengan wajah pucat.


“Hanson kalo kamu masih mau disini aku akan pulang sendiri.” Ucap Nadia secara halus.


“Nadia ik biar antar je?” tawar Willem.


“Ayo kita pulang bersama, Nadia!” kata Hanson dengan menyambar lengan Nadia, sontak gadis itu langsung terpekik kaget.


“Bagaimana dengan tugasmu disini?” ucap Nadia.

__ADS_1


“Banyak vrieden(teman) ik yang sudah pulang.” Ujar Hanson dengan ketus sambil mencengkram erat pergelangan tangan Nadia menuju mobil, saat perjalanan pulang dengan mengunakan dongkar mereka berdua berkelahi dan cek-cok tiada henti tentang masalah Elsje dan ucapan Willem rekan kerja Hanson.


__ADS_2