
Gadis yang sedang menghafal pelajaran ia melihat jam dinding yang terpampang di kamar-nya ternyata waktu menunjukan pukul satu siang, tak lama sang ibu memanggilnya dari lantai bawah.
“Nadia!! Kemari dulu!!” panggil sang Ibu.
“Aduh apaan lagi sih?” Nadia segera turun ke bawah dengan menuruni tangga sambil memegang pinggang-nya.
Nadia hanya berdiri dari tangga di pegangan-nya.
“Ada apa, Bu?!” tanya Nadia dengan malas.
“Ibu mau jengguk orang sakit, kamu di rumah aja ya jagain Defani.” Ucap sang ibu sambil membenarkan kerudung pashmina warna biru dongker.
“Emang siapa yang sakit?” tanya Nadia kembali.
“Istrinya teman Ayah.” Ucap Sang Ibu lagi sambil memoles eyesdow di kelopak matanya.
“Ya udah Defani-nya suruh ke atas!” ucap Nadia lalu segera merapikan buku-nya di atas, Defani pun ke atas.
“Kak!” panggil Defani sambil mengetuk pintu.
“Masuk!” setelah mendapatkan izin dari sang kakak Defani pun masuk, Nadia malah semakin membulatkan matanya, bagaimana tidak tepat di belakang sang Adik ia melihat anak kecil berambut pirang keriting berjalan sambil memegangi kedua bahu sang Adik.
“Defani!! duduknya di bawah aja sini.” Anak kecil itu menurut saja.
“Kak mau seblak dong.” Ucap Defani.
“Ya udah kita mesen lewat go-food aja, emang kamu ada duit berapa?” tanya Nadia sambil memasukan buku-buku jadwal pelajaran-nya ke dalam tas.
Defani mengeluarkan uang dari saku celana-nya, “15 ribu Kak.” Ujar anak itu.
Nadia juga memeriksa uang dari kumpulan-nya saat sekolah, gadis itu selalu menyisihkan uang 5 ribu rupiah setiap hari sehabis pulang sekolah.
Ia melihat uangnya ada 150 ribu jadi ia mengambil-nya hanya 15 ribu untuk memesan seblak.
Dua anak itu makan seblak dengan santai serta di temani minuman susu kotak.
“Def, Kakak mau ngomong ama kamu?” jelas Nadia pada sang adik yang sedang lahap-nya memakan seblak.
“Ngomong apa si Kak?” ujar Defani dengan penasaran.
“Aku kemarin lihat lu lagi lari-lari ama anak-anaknya Bude Nani, lu di ikutin dari kotu ama anak bule hantu.” Sontak Defani saat sedang minum susu kotak langsung tersendak karena kaget.
“Serius lu kak?” ucap Defani.
“Iya, tapi coba gua komunikasi ama tu anak.” Defani hanya mengangguk karena ia juga ketakutan. Nadia mulai komunikasi setelah selesai Nadia menjelaskan pada adiknya yang sebenar-nya.
“Namanya Robert.” Ucap Nadia, ciri-cirinya rambutnya pirang keriting dan bola matanya warna biru, Robert anak seorang Kapten yang di tugaskan di Batavia waktu itu. Ia wafat karena kena luka tembak di kepalanya.” Jelas Nadia.
“Umurnya sama kaya kamu.” Lanjut Nadia, “Kak gua tahu pasti lu ada yang ngikutin juga kan.” Ucap Defani yang menebak-nebak.
Nadia hanya mengangguk tanda mewakili jawaban-nya.
“Siapa kak? coba certain gua penasaran.” Nadia awalnya ragu tetapi setelah Defani berjanji agar tidak membocorkan rahasia-nya pada sang ibu akhirnya Nadia menceritakan semuanya pada sang adik.
“Tapi lu harus janji ama gua buat tutup rahasia gua.” Ucap Nadia pada sang Adik.
“Iya gua janji gak bakal bocorin rahasia lu.” Ucap Defani sambil menyatukan jari kelingking-nya dengan jari kelingking Nadia.
Malam harinya Nadia tertidur lebih cepat ia sangat Lelah agar besok sekolah ia kembali sehat dan bugar, gadis itu merasa di peluk oleh seseorang dari belakang.
“Goede nacht, Lieve.” Ucap Hanson dalam bahasa belanda yang artinya selamat malam. Nadia tahu Hanson yang berwujud hantu sedang memeluknya dan mengucapkan selamat malam dalam bahasa belanda tetapi Nadia tak tahu harus membalas apa jadi ia malah mengulangi apa yang diucapkan Hanson.
“Goede nacht, Liefste.” Nadia tahu apa artinya Liefste waktu ia bermimpi sebelum bertemu Hanson ia sering mendengar pria itu menyebut-nya sebagai liefste yang berarti sayangku.
__ADS_1
Nadia mulai melepaskan roh dari tubuhnya berjalan melewati waktu berputa-putar seolah suara jarum jam terdengar sampai ia terbangun setelah melewati pusaran waktu.
Nadia mengedarkan pandangan-nya sambil berkedip menyesuaikan cahaya yang masuk dengan kepala yang berat, setelah di teliti lagi ia ternyata ada di rumah sakit lebih tepatnya rumah sakit jaman kolonial belanda.
Sesaat ia tersadar seorang perawat menghampirinya dan menyuntikan vitamin di lengan Nadia.
“Thanks, Nurse.” Nadia mencoba bicara dalam bahasa inggris, Perawat berwajah eropa itu mulai tersenyum dan bisa bahasa melayu dengan baik tetapi masih dengan logat asing.
“Nyai, je sebaliknya istirahat. Menner van buthjer akan datang sore ini.” Ucap-nya.
Nadia mulai bicara bahasa melayu, “apa terjadi sesuatu pada saya?” tanya Nadia.
“Nee!” ucapnya lagi sambil mencatat di papan jalan yang terbuat dari kayu lalu pergi berlalu.
Nadia hanya bisa melihat sekeliling ternyata ini yang Namanya rumah sakit jaman dulu, fasilitas-nya memang belum secanggih zaman-nya tetapi apakah ini nyata Nadia butuh informasi ia hanya bisa pasrah menjalankan mimpinya saat roh-nya di Tarik dari tubuhnya Perlahan rohnya di ambil oleh Hanson melewati waktu.
Baru saja memejamkan matanya ia melihat Hanson datang dengan masih memakai pakaian seragam militer-nya, di tangan-nya membawa bunga kemudian mendekati Nadia ia tersenyum.
“Hanson!” ucap Nadia, Hanson bisa melihat perubahan pada gadis-nya, yang awalnya banyak bicara jadi pendiam disertai bibir yang putih pucat.
“Bagaimana keadaan je?” kata Hanson sambil memberi bunga setelah Nadia menerima bunga itu ia tersenyum untuk membalas Hanson.
“Aku baik.” Ucapnya dengan Nada yang masih datar. Hanson hanya bisa menghembuskan nafas Lelah, “Hanson!” panggil Nadia dengan ragu.
“Kenapa, Lieve?” Hanson berhenti minum dari gelas yang terbuat dari besi.
“A-pa nama rumah sakit ini?” tanya Nadia dengan ragu. Hanson berdiri untuk melepas seragam militernya serta barret merah-nya kemudian menggantungkan-nya di tempat khusus gantungan baju yang di sediakan rumah sakit, dan hanya menyisahkan baju kaos militer.
“Rumah sakit Koningin Emma Ziekenhuis, di Tjikini.” Ucap Hanson lalu kembali duduk di kursi kayu.
“Aku tadi bertanya pada perawat kalo aku tidak ada sesuatu terjadi padaku, mungkin aku hanya kelelahan saja.” Ujar Nadia dengan menundukan kepala.
“Istirahatlah, ik pikir je akan hamil.” Nadia langsung membulatkan matanya saat Hanson bicara seperti itu.
“Aku tidak mau!” ungkap Nadia.
“Tentu saja aku bukan istrimu, dan kamu mencintai Elsje.” Ucap Nadia.
“Aku tahu kamu lagi ingin mencari Pribumi yang bergeriliya bukan?” kali ini ucapan-nya Nadia mampu membuat Hanson menoleh.
“Kamu menggunakan cara yang salah!” ucap Nadia.
“Kamu harus baik-baikin dulu rakyat pribumi, lalu dari situ kamu bisa adu domba antara geriliyawan dengan rakyat. Tentu saja tanpa dukungan rakyat, geriliyawan gak bisa apapun.” Ungkap Nadia kemudian memindahkan bukunya ke atas nakas di sampingnya.
Hanson langsung tersenyum hal itu justru malah membuat Nadia ketakutan. Takut ia salah di perkataan-nya, tak lama pria berambut pirang itu menempelkan dagu-nya pada tangan kanan-nya yang berkulit putih.
“Je sangat cerdas, pemikiran yang hebat.” Ucap Hanson.
“Baik kita ubah topik pembicaraan.” Ungkap Nadia.
“Kapan aku pulang?” tanya Nadia, “beri tahu ik satu hal, tentang topik pertama.” Ujar Hanson sambil memegang tangan Nadia, gadis itu mulai ketakutan tatkala Hanson melotot dan memperlihatkan kedua lensa matanya yang biru seperti ombak yang siap menengelamkan Nadia untuk makanan hiu.
“Pertama kamu ambil hati rakyat Pribumi dan kedua kamu bisa adu domba antara rakyat dan geriliyawan.” Ucap Nadia sambil melipat tangan-nya menyembuyikan wajah takutnya.
“Sangat cerdik.” Hanson memegang dagu Nadia lalu menggunakan kembali seragam militernya serta topi militer.
“Hanson!! mau kemana?” tanya Nadia sambil memegang pergelangan tangan Hanson sebelum pergi.
“Ke kantor ik, memberitahu atasan ik.” Ucap Hanson dengan senyum mengembang.
“Jadi kamu meninggalkan aku sendiri!!” bentak Nadia marah.
“Ik akan kesini lagi.” Ujarnya lalu Nadia melepaskan tangan Hanson dan membiarkan pria itu pergi. Nadia hanya bisa melihat punggung Hanson, gadis itu berpikir kalo ia hanya di manfaatkan saja kemudian berfikir benar juga apa yang di katakan rekan kerjanya Hanson yakni Willem, tak lama dari depan seseorang memanggilnya.
__ADS_1
“Nadia!!” gadis itu melihat sang empu berdiri dalam balutan gaun hijau muda dengan topi kecil di pinggir kepala.
“Madame Anna gorthen dan Madame Maria Dietje!!” Nadia tersenyum sumringah kemudian menundukan kepala tanda penyambutan.
“Maafkan aku Madame karena tak bisa menghadiri undanganmu untuk minum teh bersama di rumahmu.” Kata Nadia dengan wajah muram dan sedih.
“Jangan terlalu dipikirkan, Nak.” Ucap Maria sambil mengakat dagu Nadia.
“Je ingin menikahi Hanson kalian sangat serasi.” Ucap Maria Dietje.
“Thanks, jaa Madame Maria Dietje.” Ungkap Nadia yang memperlancar bahasa belanda nya.
Nadia memiliki firasat kalau Hanson akan datang dengan membawa atasan-nya ke rumah sakit ia sangat takut terjadi sesuatu, karena Nadia indigo ia hanya bisa merasakan.
“Nyonya aku merasa Hanson tidak mencitaiku.” Ungkap Nadia.
“Kenapa je bicara seperti itu.” Ujar Nyonya Dietje yang bergaun putih berenda sebawah mata kaki dengan ikat pinggang klasik serta topi lebar.
“Dia mencintai Elsje, putri dari Letnan Jenderal.” Kedua wanita itu saling memandang lalu melihat ke arah Nadia.
“Apa je——” Belum sempat Anna bicara tetapi ada suara laki-laki menyambut mereka.
“Nadia Sabrina!” sontak ketiga wanita itu menoleh ke asal suara.
“Letnan kolonel Gorthen.” Ucap Nadia serta dua wanita itu melihat letnan kolonel ke rumah sakit dengan di kawal anak buah serta ada Hanson juga, benar firasatnya gadis tersebut yang masih setia terduduk di ranjang rumah sakit hanya memejamkan mata-nya jika nanti ia kena hukuman biarkan saja karena ini semua hanyalah alam bawah sadarnya.
“Apa yang sebenarnya terjadi, Harry?” tanya sang istri dalam bahasa Belanda.
“Aku ingin bicara pada gadis ini.” Kedua Wanita itu menyingkir dan membiarkan Letnan kolonel bicara pada Nadia.
“Menner aku__” Belum sempat Nadia menyelesaikan kalimatnya tetapi sudah di potong oleh pria berkepala botak dengan di tutupi topi militer itu dia seperti raksaksa di mata Nadia yang siap menelan-nya hidup-hidup.
“Bagaimana keadaan je?” ujarnya.
“I’M FINE, MY LORD.” Ucapan Nadia dalam bahasa inggris mampu membuat semua orang berwajah eropa itu melihat ke arah gadis yang menunduk takut.
“Ik ingin je bertukar pikir tentang masalah ke geriliyawan.” Kata Harry Nadia langsung mendongkakan wajahnya lalu menatap sekeliling. Nadia hanya mengangguk dengan takut.
“Dan…di sebuah gunung ada mineral dan besi.” Ungkap Nadia yang ia tahu.
Semuanya di ruangan itu langsung semakin tercengang dengan pemikiran cerdas gadis ini. Nadia sudah tidak kuat lagi jadi ia mulai berkeringat dan wajahnya semakin pucat.
Nadia menatap Hanson dengan tubuh bergetar ketakutan saat pria berkepala botak dan berkumis ini terus menyerang-nya dengan berbagai perkataan.
Anna Gorthen istrinya sudah sangat kasihan melihat keadaan Nadia yang mulai ketakutan.
Anna Gorthen maju lalu menarik suaminya keluar dari kamar rumah sakit karena sudah melihat Nadia yang ketakutan, Hanson mendekati Nadia kemudian mengeluarkan sapu tangannya untuk mengelap keringat yang bercucuran di area wajah Nadia, dan untuk menenangkan gadis berambut hitam itu pria berambut pirang tersebut mendekap Nadia ke dalam pelukan-nya.
Pelukan yang dirasakan Nadia sangat menghangatkan seperti pelukan mendiang sang ayah yang telah tiada.
“HANSON!! KAMU BERHASIL MEMBUAT UMURKU NAIK 20 TAHUN!!!” ungkap marah Nadia.
“HAHAHA” Hanson tertawa menganggap ucapan Nadia hanya lelucon.
“Nadia Je akan menikahi ik setelah je sembuh.” Ujarnya sambil menghentikan tawa-nya lagi sambil melepas pelukan Hanson untuk meredam amarah Nadia.
“Beri aku waktu,” ucap Nadia.
“Bedoel, je?” tanya Hanson sambil mengeryitkan dahinya.
“Aku juga punya teman Namanya Sarah istrinya kapten van der Zind, dan sudah punya dua anak yang aku tahu salah satunya Namanya Antje Pauline van der zind.” Ungkap Nadia terus terang pada calon suaminya. Hanson malah tersenyum lalu mulai bicara.
“Kapten Van der Zind sekarang tinggal di Soerabaja (Surabaya) memang dulu dia dinas di Batavia.” Jelas Hanson.
__ADS_1
“Aku ingin pulang Hanson disini aku gak betah.” Ucap Nadia sambil menarik-narik tangan Hanson, “sebaiknya je istirahat saja.” Ucap Hanson.
Nadia mengangguk setelahnya ia menidurkan dirinya di ranjang rumah sakit dengan lembut Hanson menyelimutinya saat mata mulai terpejam, secara otomatis roh Nadia kembali ke dalam tubuh-nya.