Nadia, The Indigo Girl

Nadia, The Indigo Girl
Cinta yang Sulit


__ADS_3

Malam harinya para Bendide menyalakan lampu lilin sebagai penerang benar saja Hanson sudah pulang, Nadia bersikap selayaknya istri yang menyambut suaminya pulang dengan memeluk Hanson sebaliknya Hanson malah mencium puncak kepala istrinya.


 “Kamu mandi air hangat dulu, baru makan malam!!” Ujar Nadia yang antusias dengan menjingkrak seperti anak kecil lalu menarik tangan Hanson menaiki tangga untuk menuju kamarnya.


Nadia menyiapkan air hangat dengan aroma yang menenangkan agar suaminya lebih santai.


Nadia bisa membaca situasi kalo suaminya ini sangat tertekan karena pekerjaan-nya, Hanson melepas pakaian-nya kemudian berendam di bathtup yang berisi air hangat dan mengambil shampoo untuk menaruhnya di kepala lalu Nadia memijat suaminya.


“Apa kau merasa rilex?” tanya Nadia.


“Jaa.” Ucap Hanson.


Nadia membantu Hanson untuk memakai pakaian yang lebih santai setelah selesai mandi dan saling berpelukan menatap cermin lalu mereka saling memandang.


 “Ik hou van je, Nadia van buthjer.” Ucap Hanson belum sempat Nadia mengucapkan sepatah kalimat, Hanson sudah mencium bibir orange milik Nadia dengan rakus saat ingin membuat tanda kepemilikan di area leher.


TOK!! TOK!!! TOK!!


Hanson melepaskan Nadia saat tahu ada orang yang mengetuk pintu.


“Nyai! Menner! Makanan kalian teh udah siap!” itu seperti suara Ratih Bendide yang seumuran Nadia tetapi sudah bersuami dan memiliki anak.


 “Iya Ratih saya akan ke ruang makan.” Ucap Nadia dengan sopan santun.


  Setelah itu Nadia melihat wajah kecewa suaminya tetapi Nadia selalu punya cara agar suaminya selalu tersenyum, dengan cara membuat senyuman di bibir penuh dan merah milik Hanson menggunakan jarinya membentuk setengah lingkaran.


“Ayo!” Nadia menarik tangan Hanson menuju ruang makan selayaknya anak kecil yang menarik teman-nya saat bermain.


Ruang makan di dominasi warna keemasan karena cahaya lilin dan makanan yang tersaji di meja makan adalah sosis panggang dengan di baluri cream keju dan saus lada.


Hanson memilih minuman anggur atau yang memabukkan, tetapi Nadia melarang-nya malah menyuruh Hanson meminum air putih awalnya pria itu menolak tetapi karena paksaan istrinya, akhirnya Hanson mau di perintah istrinya.


Nadia senang akhirnya Hanson menuruti keinginan-nya untuk meminum air putih saja, sesudah makan malam Nadia beranjak dari kursi makan untuk menuju perpustakaan yang terletak tak jauh dari patio (taman di bagian tengah rumah), untuk membaca sebuah buku.


Saat sedang mengambil buku Hanson berdiri tepat di belakang-nya yang hampir membuat gadis bertubuh padat tersebut terjatuh. Beruntung Hanson dengan sigap meraih tubuh istrinya dan mereka berdua dalam keadaan setengah berpelukan, Nadia yang menyadari langsung tersadar lalu melepaskan diri.


“Hanson kamu belum tidur?” tanya Nadia. “Ik lagi ingin****ayo.” Ujar Hanson Nadia hanya bisa pasrah tatkala Hanson membopong tubuh-nya ala bride style menuju kamar mereka. Hanson berjalan menuju kamar mereka yang berada di lantai atas.


 Nadia hanya bisa pasrah tatkala tubuhnya di baringkan di atas Kasur oleh Hanson sedangkan Nadia memejamkan matanya dan tak ingin melihat apapun, ia menyadari kalo Hanson juga tanpa busana memeluknya dari belakang.


Nadia juga merasakan perut yang keras dan menonjol, dia pasrah tatkala gaun-nya di lucuti oleh Hanson.


Tanpa di jelaskan secara detailnya mereka akhirnya melakukan hubungan selayak-nya suami-istri, diakhir percintaan mereka Nadia membisikan sesuatu yaitu Namanya Hanson tepat di telinga-nya.


Pagi hari suara burung berkicau tepat di teralis jendela sinar matahari juga dengan pantulan-nya mengenai mata Nadia membuatnya terbangun, Nadia menyadari bahwa dirinya berpelukan dengan Hanson karena udara Buitenzorg yang sangat dingin pagi ini.


 Dirinya juga menyadari kalo tak berbusana. Nadia dengan cepat mencari pakaian-nya dengan mengandalkan tangan-nya yang mencari tetapi tak membangunkan Hanson, perkiraan-nya salah saat Nadia ingin memakai gaun-nya tiba-tiba saja Hanson menariknya lagi dari belakang dengan meraih tubuh kecil dan padat milik Nadia.


“Hanson lepas!!” Ucap Nadia yang kesal tatkala Hanson memeluknya dengan posesif, “Ik ingin....” Kalimat Hanson yang setengah masih mengantuk terputus tatkala Nadia menyelaknya.


“Cukup Hanson!!! lepaskan aku hari ini sangat dingin!!!” Hanson melepaskan pelukan posesifnya tetapi sebelum ia melepaskan istrinya, si pirang malah mencumbu semua area leher dan bahu milik Nadia.


Nadia yang sudah mengigil kedinginan karena udara Buitenzorg pagi ini cukup dingin segera memakai bajunya.


“Ratih!! Siapkan aku air hangat untuk mandi!” Perintah Nadia membuka pintu kamar lalu setelah Ratih mengatakan.

__ADS_1


 “Baik Nyai.” Nadia menutup pintu kamarnya kembali. Pagi ini memang sangat dingin karena semalam hujan deras menguyur kota Buitenzorg.


“Nadia nanti ik akan pulang cepat je ingin berjalan-jalan?” ucap Hanson.


“Kenapa tidak.” Ucap Nadia yang tersenyum lalu mendekati Hanson yang terduduk di tepi ranjang, kemudian Nadia mendekati Hanson dan duduk di atas pangkuan suaminya.


“Ik hou van je.” Ucap Hanson sambil mengencangkan pelukan-nya lalu mencium pipi kanan istrinya namun mampu membuat Nadia terdiam pipinya merah ******** berikutnya tangan gadis tersebut mengalungkan diri di leher Hanson.


Ratih datang ke kamar untuk menyiapkan air hangat sesuai pesanan Nadia, Ratih melihat hal seperti itu sudah biasa di karenakan sering melihat hal yang lumrah saat bekerja di rumah tuan eropa-nya dahulu.


“Hanson.” Ucap Nadia berbisik sensual di telinga suaminya yang membuat Hanson melakukan hal seperti itu pada Nadia.


“Nyai air-nya sudah siap, kalo gitu saya mau ke bawah menyiapkan sarapan.” Ucap Ratih sopan, terkadang Nadia juga sangat iri pada Ratih sang pelayan yang sudah memiliki seorang anak.


 Setelah kepergian Ratih, si pirang menutup pintu kamar tidur untuk melakukan adegan erotis di kamar mandi bersama istrinya.


Setelah selesai mandi Nadia mengeringkan rambutnya dengan Handuk lalu memakai gaun pendek berwarna putih di tambah sedikit brukat di bawah gaun-nya.


Selesai berpakaian Nadia membuka jendela kamar nampak segar dengan langit yang sedikit mendung dan angin pagi hari yang menenangkan di kota Buitenzorg ini, Nadia menoleh ke belakang ternyata Hanson sedang memakai seragam dinas.


Nadia mendekati Hanson lalu membantu memakaikan seragam dinas sebelum pergi bekerja selayaknya seorang istri, terakhir ia memakaikan suaminya topi baret merah di kepala.


Hanson yang sudah siap berpakaian langsung menarik tubuh Nadia mendekat untuk mencium bibir orange milik Nadia, tangan Hanson mewadahi kepala belakang Nadia.


“Tunggu ik,” bisik Hanson di telinga Nadia dengan suara gairah.


Hanson menatap cermin di lemari yang seukuran orang dewasa lalu melingkarkan tangan-nya di pinggang padat dan berisi milik Nadia, sambil memeluk pinggang Nadia sesekali Hanson memegang perut Nadia.


“Setelah ik dan je punya anak bersama maka akan ada sesi foto keluarga kecil van buthjer,” Nadia melingkarkan tangan kanan-nya di dagu Hanson sambil tersenyum terpaksa.


“Sekarang ayo kamu berangkat.” Ucap Nadia yang melepaskan pelukan Hanson sambil menyatukan tubuhnya dengan suaminya lalu menarik Hanson ke bawah untuk sarapan.


Di ruang makan para Bendide telah menyiapkan sup ercis dengan macaroni di campur daging ham dan cream sup.


Nadia mengamit lengan suaminya menuju depan rumah untuk melepaskan sang suami kerja beberapa kali juga Nadia membenarkan rambut pirang Hanson serta topi barret merah-nya lalu Hanson menaiki mobilnya untuk berangkat dinas.


Nadia mencium sang suami sebelum berangkat bekerja begitu juga sebaliknya Hanson mencium puncak kepala Nadia, setelah kepergian Hanson.


Nadia memilih membaca buku di dalam perpustakaan dekat dengan patio sesekali Ratih mengantarkan-nya teh tanpa gula untuk menemani Nadia membaca buku, gadis itu menunggu suaminya pulang bekerja karena berjanji untuk berjalan-jalan berkeliling kota baru mereka yakni Buitenzorg.


Tak lama saat sedang asyiknya membaca buku seorang bendide yang bernama Arum datang dengan menyerahkan dua surat sekaligus. “Nyai ada surat?” ucap Arum, wanita itu berusia paruh baya yang bekerja sebagai kacung baru di rumahnya sekarang dan untuk keluarga kemiliteran nederland (netherland). “Dari siapa, bu?” tanya Nadia yang menaruh bukunya di atas meja lalu berdiri.


Nadia memanggil embel-embel bu atau pak bagi para bendide atau pembantu di rumahnya yang lebih tua darinya hanya untuk kesopanan dan secara tak langsung juga menghormati, “saya gak tahu nyai, yaudah saya mau lanjut nyiram taman di bagian tengah.” Ucap Sarinah lalu pergi sambil membungkukkan badan Nadia hanya menganggukkan kepala kemudian tersenyum.


 Nadia membaca kedua surat itu setelah kepergian kacung tersebut, yang pertama dari Elsje dan yang kedua dari letnan Willem untuknya, pertama Nadia membuka surat dari Elsje di dalam surat-nya Elsje menulis dengan bahasa belanda Nadia yang mengartikan suratnya sedikit-sedikit karena Hanson sering mengunakan bahasa belanda saat bicara dengan-nya.


 


Isi surat dari Elsje,


Hanson hari sabtu aku akan segera menikah dengan kolonel van bough atas perjodohan yang diatur oleh papaku, maaf Hanson hubungan kita harus berakhir dan kau sudah mempunyai Nadia gadis inlander cerdas yang akan membantumu dalam karirmu.


Aku mendengar kabar kamu pindah ke Buitenzorg untuk menghindari hari pernikahanku padahal aku sangat mengharapkan kehadiranmu sebagai sahabatku di hari pernikahanku meskipun aku tak mampu membalas perasaanmu padaku. Aku sudahi surat ini.


Salam dari,

__ADS_1


Elsje.


 


Setelah membaca surat dari Elsje untuk Hanson Nadia merasa telah di bohongi oleh Hanson bagaimana tidak jadi selama ini dirinya cuman di jadikan pelarian sekaligus pelampiasan saja, tanpa sadar satu bulir air mata meluncur mengenai pipinya, gadis itu terduduk di kursi perpustakaan.


 Nadia dengan rasa kesal memasukan kembali surat dari Elsje ke dalam amplop lalu memanggil salah satu Bendide untuk di berikan sendiri oleh Hanson karena Nadia tak kuat menahan rasa sakit ini, meskipun tak semuanya ia tahu tetapi Nadia sudah menyimpulkan bahwa Hanson pindah tugas sekaligus kota hanya untuk menjauhi rasa sakit hatinya tetapi disini Nadia yang seharusnya lebih sakit karena gadis malang itu sudah jadi korban.


 Setelah memberikan surat itu pada kacung laki-laki dan berjanji akan di berikan pada Hanson, giliran surat dari Letnan Willem hellmus yang akan di baca oleh Nadia, saat dibuka ternyata suratnya untuk Nadia sendiri.


Gadis itu menuangkan teh hangat di cangkirnya lalu meminum teh tersebut agar menenangkan pikiran dan rasa sakit-nya.


 


Isi surat dari Willem,


Embun di atas mawar hatiku yang mewarnai diriku, kau yang telah memanahku dengan senyum-mu, Nadia. Aku minta maaf karena aku ingin mengatakan yang sebenarnya tetapi lidahku seakan kelu untuk mengatakan-nya padamu Nadia mawar hatiku.


 


Nadia terdiam dan terhenti saat belum selesai membaca surat dari Willem apa maksud pria ini, sungguh Nadia membenci hal yang berbasa-basi kenapa tak langsung intinya. Nadia meminum teh-nya di cangkir setelahnya baru mulai melanjutkan membaca isi surat dari Willem.


 


Ik hou van je, Nadia mawar hatiku. Pertama kali aku melihatmu, aku mulai merasakan debaran mengelitik dalam hatiku. sayang sekali Hanson menyia-nyiakan dirimu saat aku pertama kali melihatmu waktu itu, mawarku kau tak perlu berbohong padaku kalo sebenarnya mawarku ini sedang sangat sakit hati karena ulah sahabatku sudah terlihat dari matamu yang berwarna hitam sekelam malam milikmu. Aku juga melihatmu menangis waktu itu dari tangga seolah hatiku ini sangat perih tatkala melihat mawarku di buat menangis oleh sahabatku sendiri.


Aku ingat waktu hari pernikahan-mu dengan sahabatku. Aku seperti kehilangan Bunga mawarku selayaknya setangkai mawar yang dipetik dari pohon-nya butuh waktu lama agar tumbuh mawar yang baru, sama seperti hatiku ini Nadia kaulah mawar hatiku yang mampu membawa getaran mengelitik di dadaku bahkan Elsje tak akan mampu membangkitkan getaran ini.


 


Ik hou van je dari


Willem Hellmus.


 


Nadia langsung mematung sambil duduk mencerna apa yang sebenarnya terjadi apakah ini drama yang sengaja di buat untuk sejarah hidupnya, atau apakah ini rencana dari seseorang agar rumah tangga-nya dengan Hanson terombang-ambing.


“Gua gak boleh ambil keputusan sekarang, gua harus tetap tenang dan berusaha selesain masalah ini baik-baik.” Setelah itu Nadia menyimpan surat dari Willem dan langsung pergi meninggalkan ruang perpustakaan. Malam harinya Nadia menyambut Hanson seperti biasa dengan senyum terpaksa agar Hanson tak curiga.


 “Kamu sudah makan?”  tanya Nadia tetapi Hanson yang masih dengan pakaian dinasnya melingkarkan tangan-nya di pinggang Nadia untuk menyatukan tubuh mereka berdua Nafas mereka saling beradu.


Hanson menatap mata Nadia dengan sedikit curiga tak biasanya istrinya menatap matanya seperti itu, meskipun Nadia berusaha sekuat tenaga untuk bersikap normal tetap saja Hanson bisa curiga hanya karena malam ini mereka saling menatap.


 Di ruang makan hari ini Ratih sudah menyiapkan Daging dengan saus lada hitam serta sup keju sebagai pemanis, Hanson sudah mencium gelagat aneh dari istrinya karena tak biasanya sang istri hanya diam tak mengeluarkan lelucon yang membuat Hanson tertawa.


Setelah makan Nadia menyuruh Ratih menyiapkan air hangat untuk Hanson mandi lalu Nadia berganti pakaian dan tidur meninggalkan Hanson. Pria itu melihat tingkah istrinya dengan gelagat aneh selesai mandi ia pergi ke ruang kerja-nya. Nadia terbangun dan mengikuti Hanson sampai ruang kerja-nya, sebelum Hanson sampai di ruang kerja-nya Arum bendide yang tadi siang di titipkan surat dari Elsje datang menghampiri Hanson.


“Menner ada surat dari Batavia!” Ucap Arum mendekati Hanson sambil sedikit membungkuk sopan, Hanson hanya mengangguk kaku terus mengambil surat itu lalu memasuki ruang kerjanya. Nadia mengintip sedikit dari ruang kerja Hanson melihat sedang membaca surat itu sambil duduk di meja dan kursi kerjanya.


Setelah selesai membaca suratnya Hanson melemparkan kertas surat-nya ke sembarang arah lalu memijat pelipisnya dengan meja sebagai tumpuan tangan, “Elsje....” Ucap Hanson, tak berapa lama satu bulir air mata kembali jatuh di pipi Nadia yang membuat hatinya teriris saat tahu bahwa suaminya masih mengharapkan cinta dari wanita lain, gadis tersebut memutuskan kembali ke kamar dengan menahan tangis.


 Nadia membaringkan dirinya di atas Kasur dengan posisi miring ke samping kanan sambil menangis hatinya seolah teriris melihat Hanson seperti itu, jujur dia harusnya tahu posisi selama ini, ia pikir Hanson mencintainya tetapi suaminya itu malah menjadikan dirinya tak lebih sebagai pelarian dan mencintai wanita lain.


Hanson memasuki kamar Nadia berusaha menghentikan isak tangisnya dan masih memiringkan tubuh-nya membelakangi Hanson.

__ADS_1


“Nadia ik....” Kalimat yang belum tuntas dari mulut Hanson malah di potong cepat oleh Nadia. “Jangan sekarang Hanson aku sangat Lelah.” JEDA “juga jangan katakan apapun lagi malam ini.” Nadia yang masih setia memiringkan tubuhnya ke samping. Hanson menarik nafas dalam lalu membaringkan diri sambil menatap langit kamar dan tak lama mereka terlelap.


__ADS_2