Nadia, The Indigo Girl

Nadia, The Indigo Girl
BAB 33


__ADS_3

 


Malam harinya Nadia masih sibuk belajar karena besok ada 4 pelajaran sekaligus, tak lama Kak Alina pulang dari kampus dan membelikan-nya martabak telur di sela-sela Nadia sedang serius Alina menepuk pundak adik sepupunya.


“Ciee... yang lagi serius.” Ledeknya.


“Ya udah makan dulu nih di luar kamar martabaknya.” Ujar Alina.


“Iya Kak.” Nadia merapikan buku-bukunya lalu mengikuti kakak sepupunya keluar kamar untuk makan martabak telor.


Setelah memakan martabaknya ia meminum jus mangga kemudian kembali ke kamar untuk mencatat sumber sekaligus belajar.


Nadia terus fokus tak berapa lama udara menjadi sejuk di saat itulah ia menoleh ke samping kiri gadis tersebut melihat Hanson sambil melayang.


Nadia tersenyum manis lantaran Hanson begitu sangat perhatian padanya karena membuat senyaman mungkin untuk ia belajar, tak lama kakak sepupunya yang juga lagi mengerjakan tugas dari dosen-nya memukul Nadia menggunakan buku yang sedang ia pegang lantaran ia takut melihat tingkah adik sepupunya.


 “Au!! Sakit kak!” keluh Nadia. “Jangan suka ngomong ama senyum sendiri apa?! serem tahu!!” ucap Alina yang tahu kalo adik sepupunya punya kemampuan indigo.


“Iya...iya maaf kak Alina yang cantik.”  Ledek Nadia di sertai cengirnya.


“Ya udah lanjut belajar.” Perintah Alina langsung beralih kembali ke laptopnya.


Waktu terus berlalu tak terasa sampai sang nenek membuka pintunya memperingatkan cucu-nya untuk segera tidur.


CKLEK!!


Suara pintu terbuka memperlihatkan neneknya yang menyuruh cucunya tidur karena sudah pukul 10 malam.


“UDAH PADA TIDUR!! UDAH MALEM!!” peringat sang nenek pada cucu-cucu perempuan-nya.


 “Iya Eyang!” Ujar Kak Alina mewakili jawaban Nadia lalu perempuan setengah baya tersebut menutup kembali pintu kamar tidur.


Nadia menyelesaikan belajarnya ia ke kamar mandi membersihkan diri kemudian memakai lotion serta cream malam di wajahnya.


“Kak Alina aku tidur duluan ya.” Ujar Nadia.


“Ya udah tidur lagian kamu kan masuk pagi, kalo aku 'kan jadwal kuliah siang.” Ujar Kak Alina yang masih berkutat dengan laptopnya, Nadia tertidur.


Dia mulai melepaskan roh dari tubuhnya berjalan melewati waktu berputa-putar seolah suara jarum jam terdengar sampai ia terbangun setelah melewati pusaran waktu.


Nadia membuka matanya ia sudah berada di kamar-nya yang biasa ia tempati bersama Hanson.


“Je sudah sadar.” Nadia hanya mengangguk lemah sebagai jawabannya, Hanson mendekat untuk duduk di sebelah Nadia sambil mengenggam erat tangan Nadia.


 “Kenapa je memalingkan wajah? apa je masih meragukan cinta ik?” Nadia menurunkan kelopak matanya kemudian menghembuskan nafasnya.


“Kamu bisa tanyakan sendiri dalam hatimu Hanson.” Ucapan Nadia mampu membuat Hanson kehilangan kata-kata.


Nadia melihat Hanson mengusap rambutnya yang pirang dengan kasar lalu keluar kamar guna menenangkan diri.


Nadia sama sekali tidak membalas satu pun surat dari Letnan Willem Hellmus tetapi Nadia tahu kalo secara diam-diam Hanson masih bertukar surat dengan Elsje mulai Hari ini Nadia harus bisa berfikir bijak agar rumah tangganya tidak terombang-ambing.


“Hanson...Hanson.” Nadia memanggil Hanson merasa sang empu tak menjawab, Nadia berusaha berdiri tetapi tubuhnya oleng atau tak seimbang dan membuatnya terjatuh di saat yang tepat Hanson memasuki kamar dan menangkap tubuh Nadia.


 “Nadia apa yang je lakukan?” tanya Hanson yang langsung membopong tubuh Nadia dan menidurkan-nya kembali di atas Kasur.


“Aku tadi memanggilmu...” Ujar Nadia dengan suara yang parau.


“Ada apa jika je butuh sesuatu tinggal panggil salah seorang bendide.” Ucap Hanson.


 “Aku ingin bicara padamu Hanson?” ujar Nadia yang langsung membuat Hanson melihat ke arah Nadia, Hanson mengangguk sebagai jawaban ingin mendengarkan pembicaraan Nadia.


Hanson duduk di Kasur membantu Nadia menyandarkan diri dengan bantal.


 “Aku berusaha untuk percaya...sama kamu...sekarang aku minta...satu hal...” Nadia mengengam salah satu tangan suaminya dengan kedua tangannya lalu bicara dan membuat janji atas nama pernikahan mereka, berjanji untuk melupakan Elsje dan Willem serta menganggap mereka hanya sebagai sahabat tidak lebih.


Hanson dan Nadia tidur dengan posisi berpelukan seolah mereka sudah saling memaafkan.


Nadia bangun lebih awal untuk menyiapkan seragam dinas untuk suaminya serta air hangat agar suaminya mandi lalu Nadia turun ke bawah ingin membantu para kacung yang sedang menyiapkan dan menata makanan di atas meja.

__ADS_1


Nadia yang sedang memoles roti dengan selai coklat merasakan dua tangan melingkar di pinggangnya yang padat dan Hanson menaruh dagunya di pundak Nadia.


 “Hanson lepaskan aku...aku sedang memoles roti untukmu.” Ucap Nadia yang tak menyadari kalo Hanson sudah menuruni tangga dan menuju ke ruang makan.


“Sekarang kamu sarapan dulu.” Ujar Nadia, ditengah sela mereka sarapan Nadia mulai membuka percakapan.


“Hanson bolehkah aku pergi jalan-jalan tetapi tetap di kawal Bendide?” Nadia meminta hal seperti itu kepada suaminya.


 “Jaa, kenapa tidak, tetapi jangan pulang terlambat.” Jawab Hanson.


Gadis itu tersenyum bahagia mendapat persetujuan suaminya untuk berjalan-jalan mengelilingi Buitenzorg atau Bogor.


Selesai sarapan Nadia mengamit lengan suaminya menuju depan rumah, mereka merengut kenikmatan dengan bibir yang saling memanggut setelah selesai Nadia merapikan rambut pirang kemerahan milik pria itu serta memakaikan topi barret di kepala sang suami.


Hanson berangkat dengan seragam lengkap serta menggunakan mobil setelah kepergian Hanson Nadia masuk kembali ke dalam rumah.


Nadia kembali ke ruang makan membantu para Bendide merapikan piring kotor, “Nyai sudah jangan, biar ini pekerjaan kami semua.” Rupanya salah seorang Bendide yang berusia paruh baya dan lebih tua dari Nadia berkata sesopan mungkin.


“Tak apa mbok saya bantu biar cepat selesai, lagian salah satu dari kalian akan ikut saya jalan-jalan keluar.” Ucap Nadia dengan senyum mengembang.


Para jongos saling menatap dengan pasrah dan mereka melakukan pekerjaan yakni mencuci piring kotor, sedangkan Nadia pergi bersiap-siap ke kamarnya ia memakai gaun pendek berwarna biru dongker yang panjangnya sampai betis dengan lengan pendek mengembang kecil dan di depan dada terdapat pita warna putih berukuran besar.


Setelah selesai memakai baju sambil bercermin di depan kaca yang berukuran orang dewasa ia beralih ke cermin dan duduk di meja rias.


Nadia membiarkan rambutnya tergerai kemudian menjepitnya ke samping dengan jepit rambut berwarna hitam dan untuk mempercatik ia memakai bando warna hitam juga, selesai dengan rambut ia memakai lipstick dan bedak tipis-tipis.


“Lipstick-nya warna-nya merah banget.” Guman Nadia dalam hati. Tetapi Nadia tetap memakainya dengan sangat tipis agar tak terlalu merah.


Setelah selesai Nadia memakai sepatu tanpa hak tinggi berwarna hitam kemudian dia memakai topi bundar warna putih dengan pita berwarna pink yang melingkari topi itu, Topi pertama kali yang dibelikan oleh Hanson waktu di Batavia.


Nadia tidak nampak seperti pribumi pada umumnya karena kulitnya bisa di bilang seperti anak Indo-Belanda tidak putih tetapi juga tidak sawo matang, hidung gadis itu juga tidak mancung dan bisa di bilang pesek tetapi karena tinggi badan yang 167 cm bisa di bilang Nadia ialah anak indo.


Setelah selesai Nadia turun ke bawah sambil membawa tas cluth-nya, “Nyai mau pergi?” tanya arum dengan pakaian kebaya dan rambutnya tergelung asal.


“Iya Bi Arum, bibi emang mau nemenin saya.” Ujar Nadia, Arum hanya menunduk dan ingin sekali ikut.


“Yaudah kalo Bi Arum mau ikut, siap-siap sana.” Ucap Nadia.


“Ya udah ayo ikut.” Nadia keluar rumah dengan memakai topinya, Nadia sangat kasihan melihat Bi Arum berjalan tanpa alas kaki memang tidak panas seperti Batavia tetapi hati nurani gadis itu tak tega.


Nadia mencari tukang sandal tetapi tak menemukannya untuk Bi Arum, setelah cukup sampai di area perkotaan Nadia melihat banyak orang-orang ramai, mobil antik, sado, yang melewati jalan dan para orang Pribumi maupun Belanda dengan menaiki sepeda tak lupa para Nyai bersama anak Indo mereka, di tambah para pekerja Pribumi yang membawa beban berat saat sedang bekerja dengan majikan Eropanya.


 Nadia ingin memasuki toko tetapi diurungkan karena isinya orang Eropa tulen semua jadi ia putuskan membeli kue untuk suaminya saja dan beberapa kebutuhan dapur.


“Nyai mau membeli kue, tapi saya nunggu di luar.” Ucap Arum.


“Loh kenapa gak boleh masuk, Bi?” tanya Nadia yang heran melihat tingkah Arum.


“Itu Nyai.” Tunjuk Arum ke salah satu papan yang bertulisan, Nadia mengagguk mengerti lalu masuk toko kue untuk membelinya.


Aroma kue yang keluar dari panggangan tercium, “Pak aku mau kue yang ini?” tunjuk Nadia, pelayan toko berparas Pribumi itu hanya mengagguk, para pembeli yang kebanyakan orang Eropa melihat Nadia dengan tatapan yang aneh.


Tentu saja hal itu membuat Nadia risih tak terkecuali anak remaja indo-belanda yang seumurannya melihatnya dengan tatapan genit.


“Ini Non? Jadi 3 picis.” Kata penjualnya, Nadia mengangguk kemudian memberikan uang pas dan segera keluar dari toko.


“Bi Arum ayo kita belanja ke butuhan dapur?” ajak Nadia.


“Tapi Nyai, nanti kalo Menner tahu nyai belanja kebutuhan dapur bukan saya yang belanja atau yang lain nanti saya bisa kena marah.” Ucap Arum dengan suara bergetar ketakutan.


“Soal suami saya biar nanti saya yang ngomong.” Nadia segera pergi berlalu dari sana karena sendari tadi remaja berdarah Indo sudah memperhatikannya penuh minat.


 “Nyai sini biar saya bawa saja.” Tawar Arum. Nadia tersenyum lalu memberikan bungkusan kue nya kepada Bi Arum, untuk remaja berdarah Indo-Belanda tadi langsung berhenti mengejar Nadia karena mendengar pembicaraan Nadia dengan kacungnya bahwa ia sudah bersuami.


Nadia memilih sayuran dan beberapa lauk pauk berbahan mentah seperti ikan, “ini jadi berapa, Bu?” tanya Nadia ramah pada penjual ikan berparas Pribumi.


 “10 gulden Nyai.” Nadia memberikan uang pas pada penjual ikan serta penjual sayuran yang juga berparas pribumi.


“Nyai sini biar saya bawa?” Nadia mengangguk.

__ADS_1


“Nih Mbok bawa belanjaan dapur saja biar kue saya yang bawa.” Ucap Nadia.


Nadia dan kacung-nya berjalan di area kota Buitenzorg yang cerah udaranya pun masih tetap terasa sejuk, gadis itu memilih berjalan kaki menikmati udara Bogor tempo dulu daripada menaiki dongkar atau mobil, saat sedang membeli beberapa jahe, kunyit, dan temulawak untuk membuat jamu.


“Stomme vrouw!! Snel mijn dure spullen ophalen!!!” Artinya: (Wanita bodoh!! Cepat ambilkan barang-barang saya!!)  Suara itu membuat Nadia dan orang-orang sekitar menoleh ke seorang nyai yang sedang di pukuli oleh Tuannya karena tanpa sengaja menjatuhkan beberapa barang belanjaan seperti rempah dan kain.


Tetapi tiada seorang pun yang mau membantu wanita malang itu entah karena apa tidak tahu.


“Mbok tolong di pilih dulu, saya mau kesana.” Tunjuk Nadia yang di maksud adalah nyai yang sedang menangis sambil mengumpulkan barang-barang-nya yang terjatuh ke tanah.


 “Jangan Nyai!” Cegah Bi Arum kepada Nadia, “Kenapa mbok?” tanya Nadia dengan dahi berkerut, “Nanti takut terjadi masalah...” Ucap Bi Arum sambil mengelengkan kepalanya, Nadia mengangguk paham apa yang dimaksud dengan Bi arum.


  “Jaman apa ini?! Kenapa semua orang tak ada hati nurani!!” Ucap Nadia dalam Hati sambil membenarkan topinya di kepala.


“Ini jadi berapa bu?” tanya Nadia.


“8 Gulden.” Ucap penjual yang memakai kebaya sambil mengunyah sirih, setelah membawa beberapa jahe, kunyit dan temulawak Nadia pulang ke rumah dengan berjalan kaki.


“Mbok ngapain jalan di belakang saya? sini samping saya.” Ucap Nadia.


“Ndak apa Nyi, lagian ini emang udah biasa.” Nadia melanjutkan berjalan sambil membawa kue dan tas clutch di tangan-nya karena tak tega melihat Bi arum membawa semua belanjaan-nya jadi ia mempercepat langkahnya.


Sesampainya di rumah ia baru saja menutup gerbang rumah dan baru beberapa langkah ia mendengar suara dengan bahasa asing dari dalam rumah.


“Sarto!” panggil Nadia saat ingin menghampiri bendide atau kacung yang bernama Sarto saat sedang mengurusi rumput dan tanaman rumah, Sarto menghampiri Nadia terlebih dahulu dengan jalan tergopoh-gopoh menuju Nadia yang baru berjalan 3 langkah ingin menghapiri Sarto.


“Saya Nyai!” ucap Sarto dengan menunduk.


“Itu di rumah ada siapa?” tanya Nadia kepada Sarto.


“Menner sudah pulang dan ada teman-temannya juga.” Ucap Sarto.


“Terimakasih Sarto kamu boleh lanjutkan.” Ujar Nadia kepada Sarto dengan senyum tipis di bibirnya.


Nadia masuk ke dalam rumah saat baru sampai di depan rumah, ia melihat Hanson dan beberapa orang teman dari kemiliteran-nya.


“Hanson!” ucap Nadia sontak Beberapa teman dari kemiliteran Hanson yang sedang adu panco dan ada yang menyalakan cerutu jadi terhenti karena melihat Nadia datang.


“Arum tolong siapkan minuman dan potong kue ini sajikan untuk mereka!” perintah Nadia kepada Bi Arum sambil memberikan kue yang di beli tadi di toko.


Hanson berdiri menghampiri istrinya yang sedang berdiri lalu Nadia membungkukan kaki di depan mereka semua.


 “Aku akan masuk.” Sebelum Nadia melengang pergi karena risih di tatap oleh teman-teman Hanson terlebih dahulu suaminya menarik lengan-nya.


“Hanson apa yang kamu lakukan?” ucap Nadia dengan berbisik pelan, Nadia takut dimarahi oleh Hanson atau di dorong ke tanah untuk menjaga wibawanya agar tak rendah di depan teman-temannya.


 “Tolong jangan,” perkiraan Nadia salah Hanson malah memeluk pinggangnya dengan satu tangan lalu memperkenalkan-nya kepada teman-teman kesatuannya yang rata-rata masih bujang.


“Hello mister,” Ucap Nadia melepaskan topinya untuk kesopanan.


“Hanson aku akan masuk rumah, kalian lanjutkan selamat bersenang-senang.” Ucap Nadia sambil tersenyum manis membuat 1 dan 2 orang teman suaminya yang berparas Eropa balik tersenyum. Saat Nadia melengang masuk banyak teman-teman Hanson yang memandang gerakan Nadia sampai pintu.


 “Dedrick, Benhard. Aku akan mencongkel mata kalian jika kalian masih mentap istriku seperti itu!” ucap Hanson bercanda tetapi Nada suara yang kesal dalam bahasa Belanda.


“Hanson, waar heb je het inlander meisje ontmoet is?”  artinya (Hanson, dimana kau bertemu dengan gadis inlander itu?). Tanya Benhard.


Nadia hanya mendengar dari balik pintu dan tak tahu artinya tapi dengan masa bodo ia memasuki kamarnya yang terletak di lantai atas, Nadia melepaskan topinya dan mengantungnya di tempat yang di sediakan lalu berjalan menuju meja rias yang terbuat dari kayu jati kemudian duduk didepan cermin setelahnya melepas jepitan dan bandonya dari rambutnya, sambil bercermin ia menyisir rambut-nya yang Panjang sedada.


Nadia memejamkan matanya sejenak ia ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya, setelah selesai Nadia mengikat rambutnya menjadi kepang satu ke samping dengan di bantu Ratih.


“Nyai teh beruntung dapat menikah secara sah sama Menner, ” Nadia yang sedang membaca buku langsung mendongkak ke cermin melihat Ratih yang sedang menyisirkan rambutnya.


“Maksudnya?” tanya Nadia dengan kening berkerut.


“Para Nyai teh hanya di jadikan gundik atau simpanan sangat jarang Tuan Belanda yang mau menikahinya.” Jelas Ratih yang sudah selesai merapikan rambut Nadia.


“Saya undur diri, nyai.” JEDA “mau membersihkan taman di bagian tengah rumah,” Ucap Ratih yang usianya sepantaran, Nadia menyunggingkan senyuman sambil mengangguk.


Entah mengapa tiba-tiba Nadia merasa mengatuk jadi dia putuskan untuk tidur sebentar di Kasur berhias 4 tiang tersebut, perlahan ia mulai terlelap sampai suatu ketika neneknya membangukannya dengan menguncang-guncangkan tubuhnya.

__ADS_1


 “Bangun juga kamu Nduk, mandi abis itu solat subuh!” Perintah sang Nenek untuknya Nadia hanya menjawab lenguhan saja.


__ADS_2