
rachel tiba-tiba merasakan sakit di bagian itu lagi, namun kali ini rasanya tidak sesakit sebelumnya. rachel tetap memaksakan diri untuk bekerja. rachel memegangi perutnya selama mengedit bab per bab.
"maaf membuatmu menunggu lama, rachel. besok aku akan berangkat sekolah. jadi kau tidak perlu datang bekerja." ucap arqan.
"begitu ya. aku akan sedikit kesepian." ungkap rachel.
keesokan harinya rachel mendapat sms mengejutkan dari ayahnya. sang ayah memberikan kabar kalau ibu rachel sakit keras. oleh karena itu sang ayah meminta rachel segera pulang, setidaknya satu hari.
rachel langsung bergerak untuk mandi, berpakaian, makan, dan sedikit berdandan. seorang gadis harus selalu tampil cantik kemanapun dia melangkah.
selama rachel beraktifitas, nein sedang sarapan. kucing itu rencananya akan ikut bersama rachel.
"miaw miaw miaw"
rachel menafsirkan bahasa nein. katanya nein bersemangat untuk berangkat. permainan tafsir bahasa itu selalu menyenangkan untuk rachel. dia dan nein pun berangkat setelah mengisi penuh bensin.
biasanya rachel tidak memberi bensin eceran pinggir jalan, hanya khusus untuk hari ini karena situasinya sedang mendesak.
rachel salah pilih jalan, dia malah masuk ke jalanan yang rawan macet. alhasil rachel pun terjebak macet. untungnya langit berawan pada hari itu dan sedikit mendung pula. rachel khawatir mereka akan kehujanan.
nein pun menggunakan kekuatannya untuk membuka jalan yang tertutup karena ulah arogan pengendali-pengendali egois. kemacetan itu disebabkan oleh banyaknya mobil yang dipanggil di pinggir jalan. akibatnya luas jalan yang sempit itu jadi tambah sempit dan terjadilah kemacetan.
"ehh... tiba-tiba jalannya macetnya berhenti." rachel yang terjebak di tengah-tengah kepadatan lalu lintas kembali melaju dengan tenang.
terlihat mobil-mobil yang menghalangi jalan berpindah ke trotoar. rachel tidak mengerti apa yang terjadi, dia melanjutkan perjalanan tanpa memperdulikan hal itu.
*
berkendara selama 3 jam membuat punggung rachel sakit. senyumnya terukir saat melihat pagoda yang atap menjulang tinggi.
rachel berhenti sejenak di depan pagoda itu. penjaga kampung tidak ada di siang hari jadi rachel bisa memasuki kampung dengan bebas. kalau ada pun tidak mungkin dia akan dilarang masuk.
pagoda beratapkan emas yang menjulang tinggi itu merupakan ikon wisata kampungnya. dulu rachel sering bermain kesana. tempat itu terlarang untuk dimasuki oleh anak kecil.
udaranya masih asli, tidak ada polusi maupun pencemaran udara lainnya. rachel menghirup nafas panjang untuk memastikan kesegaran udaranya.
"masih sama seperti saat aku meninggalkannya," gumam rachel.
rachel lanjut berkendara. dia sempat bertemu dengan masa kecilnya saat lewat di depan pagoda. "halo daniel..!!" teriak rachel.
pria berpakaian alim itu bernama daniel. dia teman baik rachel waktu sd. tapi sekarang hubungan mereka merenggang karena daniel merantau ke kota saat smp.
"rachel..! kamu pulang kampung..?!"
rachel memutar balik kendaraannya ke arah daniel. teman prianya itu sontak memeluk rachel, membuat rachel sedikit terkejut.
"aku tidak percaya ini kamu. padahal make up mu sedikit tapi kamu terlihat sangat cantik."
daniel menepuk bahu rachel berkali-kali.
"iya aku beruntung punya wajah kelas atas seperti ini. daniel, apa kau tahu ibuku sedang sakit?"
"astaga... aku tidak tahu. aku akan berkunjung dengan membawa bunga dan kue nanti." ucap daniel.
"ibuku belum mati. untuk apa kau membawa bunga." rachel menolak dengan sinis.
daniel terkejut melihat sikap rachel. ternyata dia masih sama seperti dulu, dia masih menganggap daniel sebagai teman baiknya.
"hahahahaa, kau masih sama seperti dulu. kalau begitu aku akan membawakan kue dan sirup. makanan dan minuman kesukaan ibumu.", " dan kesukaanmu juga, rachel." sambung daniel dalam hati.
"kalau begitu aku pergi duluan. ibuku ada di rumah, dia sedang sakit keras." rachel tancap gas, rumahnya tak jauh dari pagoda itu.
mata rachel terbelalak saat melihat lahan kosong yang dipenuhi tumpukan kayu dan tripleks. seingatnya di tempat itu pernah berdiri papan yang melindunginya dari panas dan dinginnya hari. di lahan itu juga dia pernah di menghabiskan berjam jam untuk menyisir dan mengepang rambutnya.
rachel meratapi tumpukan puing itu. "apa terjadi gempa bumi semalam? apa ibu lupa mematikan tabung gas sehingga terjadi ledakan? rachel tidak bisa menebak apa yang telah terjadi pada rumahnya.
pertama ibunya sakit keras, sekarang rumahnya rata dengan tanah. kedua musibah itu datang bersamaan. rachel menelepon nomor ayahnya, namun yang mengangkat teleponnya justru omnya.
"halo om, dimana ayah dan ibu sekarang?" rachel menggigit jarinya dengan panik. om memberikan alamat tempat tinggal orang tuanya yang baru. alamat menunjuk ke desa sebelah yang letaknya tidak terlalu jauh melewati hutan.
__ADS_1
sesampainya di depan gapura desa rachel melihat proyek pembangunan yang tampaknya baru saja dimulai. kalau dilihat dari desainnya sepertinya itu akan menjadi sebuah rumah.
anehnya alamat yang diberikan oleh pamannya mengarah ke kontrakan sederhana yang dilihat dari luar ukurannya cukup kecil. rachel tidak akan memaafkan dirinya kalau orang tuanya benar-benar tinggal di tempat kecil itu.
"ayah, ibu," panggil rachel dengan pelan ketik mengetuk pintu depan yang usang.
seseorang membukakan pintu, ternyata itu adalah pamannya.
"masuk rachel. jangan ribut, ibumu sedang sekarat." ucap pamannya.
rachel tidak percaya kata-kata pamannya. tidak hingga dia melihatnya sendiri. di atas kasur rendah, tubuh sang ibu yang terbaring lemah dan kurus kering seperti daun layu.
jantung rachel tidak kuat melihat kondisi ibunya yang memprihatinkan. rachel berlutut lalu mendekati kasur ibunya.
"kenapa ibu jadi seperti ini? padahal seminggu yang lalu ibu sehat." rachel tak bisa menahan air matanya. baru saja dewi fortuna menyertainya, sekarang dia harus kembali merasakan pahit yang tak disangka sangka.
nein si kucing mengusap kepalanya ke tangan ibu rachel. rachel yang melihat nein mengganggu ibunya langsung mengangkat kucingnya itu.
"miaw miaww"
nein terus mengeong. tidak ingin sang ibu terganggu rachel pun keluar dari kamar sambil menggendong nein.
ketika membuka pintu kamar rachel terkejut melihat sebuah kue ulang tahun dengan lilin bertuliskan 20 diletakkan di atas meja yang sebelumnya tidak ada disana.
belakangan rachel menyadari kalau kue untuknya. tapi ulang tahun rachel masih 5 hari lagi. rachel tidak mengerti apa yang sedang terjadi. tiba-tiba sorakan terdengar dari arah ruang tamu di sisi kanan rachel.
rachel menoleh dan dia melihat ibu, ayah, paman, dan tante miranda disana. juga teman-teman masa kecilnya kecuali daniel.
"selamat ulang tahun rachel...!!!!"
rachel menoleh ke ibunya di kamar lalu ke ibunya di ruang tamu, dia lakukan itu berulang ulang sampai mengerti apa yang terjadi. ternyata semua itu hanya prank. tidak ada yang sekarat dan tidak ada air mata buatan yang perlu dijatuhkan.
nein melompat dari pelukan rachel, rachel menyeka air matanya lalu menerima pelukan sang ibu yang sebenarnya.
"siapa yang di kamar itu bu?" tanya rachel.
"itu boneka prostetik. kamu kaget ya."
***
penjelasan, perihal apa yang terjadi pada rachel hari ini. dalam sudut pandang orang tuanya, mereka berencana mengadakan pesta ulang tahun dadakan untuk rachel. pesta ulang tahun yang dilaksanakan 5 hari sebelum tanggal ulang tahun rachel yang sebenarnya.
sebelum pesta dimulai sang ayah menyiapkan prank epik menggunakan boneka prostetik buatannya sendiri. usut punya usut sang ayah menggunakan uang ratusan juta pemberian rachel untuk membuka usaha pembuatan boneka prostetik.
kemampuan memahat ayah rachel berada di the next level. padahal sang ayah tidak pernah belajar memahat patung, namun dalam sekali coba memahat ternyata dia punya bakat alami setara pembuat patung profesional.
bakat inilah yang kemudian dijadikan ladang usaha oleh sang ayah. dan bineka pertama yang dibuat sang ayah adalah boneka berbentuk ibunya yang tengah sekarat.
"aku menampar ayahmu 2 kali saat menunjukkan boneka lilin yang mengerikan ini." tutur ibunya.
rachel mengusap dada. walaupun dia sempat akan berteriak, rachel sudah mendinginkan kepalanya. pesta ulang tahunnya dilaksanakan lebih cepat karena om nya akan berangkat ke singapura 3 hari lagi. meskipun begitu sang ayah berjanji akan merayakan ulang tahu rachel lagi di tanggal aslinya.
daniel datang membawakan hadiah. kue dan sirup seperti yang dia janjikan. teman teman yang lain sempat menertawakan daniel karena membawakan hadiah yang sangat murah.
"meskipun murah, makanan manis bisa membuatmu bahagia." ucap daniel sembari menyerahkan keranjang berisi hadiahnya ke rachel.
rachel menerima apapun hadiahnya dengan senyum manisnya yang biasa. daniel dan teman laki-laki lain yang melihatnya pun tersipu malu.
entah bagaimana setelah itu rachel menguasai obrolan. pengetahuannya tentang dunia orang dewasa sangat luar. dia menjadi mentor bisnis untuk temannya yang akan masuk kerja. rachel percaya diri ketika berada di rumah.
rachel memperkenalkan nein kucingnya, namun tidak dipedulikan. rachel sedih tidak ada teman yang menyukai kucing sepertinya. merasa sedih diabaikan nein pun pergi ke bawah kursi untuk beristirahat setelah perjalanan panjang.
"rachel, apa kamu punya pacar?" tanya teman gadis mewakilkan para pria yang penasaran dengan status rachel.
itu pertanyaan yang sensitif di telinga rachel, mengingat hubungannya dengan arqan saat ini sangat unik sekaligus spesial. rachel tidak mau memberitahukannya.
"belum, tapi ada seseorang yang aku sukai."
"ohh begitu, mudah mudahan kamu mendapatkan pacar yang baik ya. dan suami yang baik juga."
__ADS_1
gadis yang ramah itu bernama astrid. diantara anak-anak kampung lain dia dan daniel adalah yang paling dekat dengan rachel.
***
hujan turun dengan deras. teman teman rachel segera pulang karena harus mewaspadai air pasang yang bisa mengakibatkan banjir.
rachel duduk di ruang tamu, sementara ibunya menyiapkan makanan. rachel ingat terakhir kali dia memakan masakan ibunya. rasanya sungguh buruk.
rachel buru-buru mengambil alih dapur sebelum masakan yang mengerikan tercipta lagi. bukan karena apa-apa, ibu sudah lupa cara memasak karena mengidap suatu penyakit. jadi rachel dapat mentoleril rasa masakan ibunya.
saat makan siang jadi rachel mengambil piring dan gelas, menuangkan sirup pemberian daniel, lalu keluarga kecil itu makan bersama setelah sekian lama.
selesai makan sang ayah bertanya siapa pria yang disukai rachel. rachel melirik wajah ayahnya, kalau wajahnya serius rachel tidak akan menjawabnya.
"jawab aja nanda," perintah ibunya. rachel di panggil ananda kalau hanya ada dia dan orang tuanya.
"sebenarnya rachel ada rasa dengan si bos. bos arqan."
mata ayah dan ibunya tertuju sepenuhnya ke rachel. rachel pun menceritakan detail hubungannya dengan arqan selama ini. juga janji 3 tahun mereka. ayah dan ibu saling tatap lalu meminta waktu untuk diskusi berdua. sementara rachel membalikkan badannya.
"balik badan ananda." perintah ibunya.
"kami sudah memutuskan, akan merestui hubungan kamu atau tidak." sang ayah bicara serius.
"kamu dan pacarmu membuat janji yang unik. kalau menurut pengalaman ayah dan ibu, kemungkinan saat waktu itu tiba kamu akan menikah dengan arqan. tentu saja itu belum pasti."
"tapi kalau arqan memang anak baik seperti yang kamu bilang, ayah dan ibu harap... "
"...kamu menjaga hubungan baik denganya."
itulah yang ingin rachel dengar. restu dari ayah ibu tercinta. sekarang kehidupan masa depannya sudah terjamin. setidaknya untuk saat ini.
ayah dan ibunya tersenyum pada rachel. rachel pun bertanya mengapa rumah mereka di gusur.
"bukan digusur, tapi lahan itu diberi oleh pemerintah. gara-gara mereka rumah kita yang penuh kenangan digusur. untung saja lahan hijau peternakan kita tidak ikut digusur." terang ayahnya.
rachel kesal mendengarnya. walaupun penggusuran itu disertai uang ganti rugi, tetap saja merugikan.
sang ayah menyembunyikan kejutan besar untuk rachel. di siang hari yang basah itu rachel, ayah, dan ibunya berangkat ke lokasi konstruksi yang dilihat rachel di depan gapura tadi.
"itu adalah rumah kita yang baru." kata sang ayah sembari menunjuk ke konstruksi.
rachel tidak menyangka akan dan ibunya akan menggunakan uang itu untuk membeli rumah.
"apa ayah dan ibu masih memiliki uang?" tanya rachel.
melihat wajah khawatir anaknya sang ibu pun berucap. "masih ada ananda. kamu tidak usah mengkhawatirkan kami. justru kamilah yang khawatir karena meninggalkan kamu sendiri." sang ibu memegang pundak anaknya.
"ayah sih tidak khawatir karena ada ipar miranda dan bos arqan." ucap sang ayah. rachel bisa tenang sekarang.
"sebelum pergi kamu mau bertemu batok dan garing tidak? kedua ayam itu banyak bertelur belakangan ini."
ayahnya mengajak rachel ke peternakan mereka. rachel menolak dengan halus karena dia harus pulang jam 6 pagi. bos arqan selalu membutuhkan bantuannya. kata rachel.
rachel tidur jam 11 malam setelah berbincang dengan ayahnya. rachel tidak mau tidur terlalu malam karena akan membuatnya bangun kesiangan.
kamar rachel bersebelahan dengan kandang ayam tetangga, sehingga saat ayam itu berkokok rachel pun langsung terbangun.
air keran rumah itu mati setiap pagi. untuk mengatasi masalah tersebut sang ayah menimba air di sumur belakang rumah setiap hari. air itu membuat rachel menggigil kedinginan.
selesai bersiap siap rachel pamit kepada kedua orang tuanya. sang ayah sempat meminta nomor arqan dan rachel memberikannya.
rachel pun tancap gas namun ditengah jalan dia terkejut karena nein dan kandangnya tidak ada di jok belakangnya. alhasil rachel pun harus kembali lagi ke rumah orang tuanya.
sementara rachel merayakan peringatan ulang tahunnya kemarin, arqan mengalami hari yang unik.
.......................................................................................
Jangan lupa like, komen, dan favoritkan novel ini biar author cepat naik level ke gold 😁 sekalian follow author juga ya.
__ADS_1
.......................................................................................