
"ketahuilah hanya sedikit dedemit yang punya kekuatan sebesar aku. " Nein lagi lagi membanggakan dirinya di depan Arqan.
"darimana kau dapat kekuatan ini Nein? Sepertinya kau punya latar dan sejarah yang menarik."
"hmm... Aku sudah hidup sejak zaman kelahiran Firaun pertama. "
"ayo kita tes ilmu sejarahmu. Kalau jawabanmu tepat akan kuberitahu kemampuan lain yang bisa kau gunakan, bagaimana mau mencobanya?"
"mau, mau, " Tentu saja Arqan tidak akan melewatkan kesempatan menjadi manusia super.
"baiklah. Siapa nama Firaun pertama, dan kapan dia lahir? "
Arqan berpikir sejenak, dia ingat pernah melakukan riset tentang sejarah raja mesir untuk kebutuhan konten arcade game nya, "namanya Namer, aku tidak tahu dia punya nama panjang atau tidak. Aku juga tidak tahu kapan dia lahir. Di google dia diceritakan menaklukkan bagian lain mesir di tahun 3150 sm."
"hmm... Pengetahuanmu lemah. Nilaimu 30/100." (Nein)
"jadi kekuatan apa yang aku dapat dari nilai anjlok itu? " tanya Arqan penuh semangat. (Arqan)
"sebelum aku memberitahumu kekuatan lainnya, kau harus tahu dahulu apa yang tidak bisa aku lakukan. Pertama, aku tidak bisa menyembuhkan luka fisik maupun mental, kecuali orang yang terikat denganku. Kedua, tak bisa menghapus ingatan makhluk hidup. Ketiga, tidak bisa menghentikan pertumbuhan sesuatu termasuk umur manusia. Keempat, aku juga makhluk hidup yang bisa membuat kesalahan. " Tutur Nein.
"nah sekarang akan ku beritahu kau cara untuk menjadi seorang Alchemist. Mengubah barang apapun bahkan kotoran manusia menjadi logam mulia. "
"tunggu, bukankah tadi kau bilang tidak bisa menyembuhkan luka manusia? Harusnya kau juga tidak bisa mengubah susunan molekul suatu benda. " (Arqan)
"ada alasan mengapa aku tidak bisa mengobati luka manusia. Manusia memiliki takdir yang tidak boleh diganggu gugat sementara benda mati tidak. Cobalah sentuh plastik es di tempat sampah itu. " (Nein)
Arqan menyentuh sampah plastik itu dengan jijik. Dia baru tahu warga belakang sekolahnya sejorok ini. Tak lama kemudian sampah plastik itu berubah menjadi emas pipih seberat 1 kilo gram.
Dengan mata berbinar Arqan menguji kepadatan emas itu "jadi emas yang aku dapatkan hari itu tercipta karena ini? " Arqan menerka setelah mencoba sendiri kemampuan Alchemist.
"tidak bodoh. Itu emas asli. Aku juga kaget menemukannya tergeletak di pinggir jalan. "
"sekarang aku memikirkannya. Bagaimana kalau emas itu milik seseorang dan aku menjualnya untuk diriku sendiri?"
"bisa jadi. Tapi kalau pun tidak kau temukan, orang lain yang akan menemukannya. Mau tidak mau pemilik emas itu harus merelakannya. "
"...apa! Rachel kesini! Bersikaplah seperti biasanya dan jangan gunakan kekuatan di depannya."
Nein bersembunyi ke dalam tubuh Arqan. Tak lama kemudian gadis itu datang. Dia diberitahu oleh Aster kalau Arqan ada di belakang sekolah.
"Aster? Jangan jangan dia lihat aku bersenang senang tadi. Aku harus menyelidikinya. " Arqan membatin.
__ADS_1
"kau sedang mencari besi bekas ya? " tanya Rachel dengan maksud bercanda.
"tidak... Aku sedang cari sinyal." Arqan berdalih.
"ahh masa..? Daritadi sinyal di kantin baik baik saja. " Rachel membantah argumen Arqan.
"kenapa mencariku Rachel? Bukannya kau sedang ada urusan. "
Rachel mendekati Arqan lalu menunjukkan layar ponselnya. Icha mengirimkan brosur lomba ke Rachel. Rachel mengajak Arqan mengikuti lomba tersebut namun Arqan menolak karena dia sudah memiliki janji dengan seseorang. Dan tepat sekali dia akan berangkat di tanggal yang sama dengan lomba itu.
"aku bukannya kepo, tapi janji apa itu? Dan dengan siapa? "
Arqan melihat ini sebagai kesempatan untuk memperkenalkan Rachel dengan keluarganya. Karena janji yang dimaksud adalah janji untuk berhadir di ulang tahun adiknya yang ke 9.
"ohh ternyata adik iparku berulang tahun di tanggal itu. Memang bagus kau tidak ikut lomba. "
"syukurlah kau mengerti. Kau akan datang kan, sekaligus akan ku kenalkan kau dengan keluargaku. Calon mantu... Aku penasaran dengan ekspresi ibu nanti. "
Arqan tidak mengatakan apa apa tentang ayahnya. Karena beliau sudah meninggal dunia.
"ayo kita pergi dari gang yang bau ini. Kepalaku mulai pusing nih. " ucap Rachel dengan sedikit mengada ngada.
Nein bicara di kepala Arqan, "aku iri padamu yang bisa melakukan banyak hal. Kerjaanku setelah dilahirkan hanya makan, tidur, makan lagi, buang air, tidur, makan lagi." keluh Nein saat mengingat masa lalunya.
"tapi sekarang kau berakting dengan baik sebagai hewan peliharaan kan. " sela Arqan.
"aku terpaksa karena dia rapuh dan imut. "
Arqan sadar kalau Nein bukanlah sosok yang sepenuhnya baik. Dia melakukan berbagai hal tanpa memperdulikan dampaknya. Di satu sisi Arqan penasaran dengan entitas tersebut. Bisakah dia diteliti agar manusia dapat berumur panjang sepertinya.
Arqan duduk di kantin lalu menonton film horror di hp nya, menunggu Rachel dan Rukaiyah menyelesaikan pekerjaan mereka. Matanya ke film tapi pikirannya masih sibuk membahas soal Nein.
Agar tidak disangka gila oleh yang lain, Arqan pun bertanya ke Nein dengan suara perut. "apa kau bisa memberantas seluruh penyakit di dalam tubuhku? "
Nein menjawab, "bisa. Kau tidak akan terkena penyakit selama ada aku. "
Arqan tersenyum puas lalu bicara lagi. "kalau begitu apa darahku bisa digunakan untuk mengobati penyakit orang lain? "
"hufft... Sudah kuduga kau akan bertanya begitu. Bisa dengan cara mendonorkan darah. Tapi tidak hanya itu, syarat yang harus dipenuhi agar darahmu menjadi obat... "
__ADS_1
Pertama, pendonor harus mendonorkan 20 persen darahnya.
Golongan darah harus sama.
Penerima darah harus seumuran dengan pendonor. Umur Arqan saat ini 16 tahun, berarti umur penerima termuda adalah 12 dan tertua 20 tahun. 6 tahun adalah batasan yang ditetapkan oleh Nein.
Yang paling penting, sekaligus yang tidak bisa dihindari oleh kedua belah pihak adalah kontrak darah paksaan. Nein tidak mengizinkan siapapun memakai darahnya tanpa balas budi. Jadi penerima darah mau tidak mau akan terikat kontrak nyawa yang hanya diketahui oleh Nein.
Arqan tidak setuju dengan kontrak darah itu. Bagaimanapun Nein tidak berniat menghapuskannya jadi Arqan tidak bisa apa apa.
"pesanlah sesuatu jangan hanya nonton film tapi pikiran melantur kemana mana. "
"ngomong ngomong soal makanan, aku dulu jadi kuat berkat makan. Awalnya aku makan makanan manusia, tapi seiring bertambah besar kekuatan aku mulai memakan hal tidak lazim dan sampai ke memakan sesama jin. Memakan sesama jin adalah rahasia kekuatanku."
Nein terus menguji panca indera inangnya sampai Arqan tidak ingat sebagian besar cerita yang Nein sampaikan.
...........................................................................
Dukung author dengan cara baca sampai habis. Like, favoritkan, dan komen.
Boleh mengkritik asal menggunakan bahasa yang sopan. Jadilah pembaca yang bijak agar kita sama-sama merasa nyaman. 😁
...........................................................................
__ADS_1