
[ tidak perlu datang. Kau hanya akan menggangu waktu berduaku dengan rachel. ]
"lahh?" arqan menyuruhnya jangan datang. Tahta bersusah payah bangun hanya untuk dipermainkan oleh mereka berdua. Karena kesal dia pun langsung kembali tidur.
Arqan harus mengurus tetangganya yang kepo soal detektif tadi. Mereka adalah tetangga yang baru pindah ke samping rumah arqan, suami istri cina tua, ramah dan banyak bicara. Untunglah mereka tidak merasa terganggu dengan keributan yang arqan buat hampir setiap hari.
"memangnya keributan apa yang kau buat?" tanya rachel.
"tidak ada sih, aku hanya berisik saat membuat sesuatu." arqan mematikan teleponnya dengan rachel karena dia sudah sampai di atap, tempat rachel berada.
Rachel duduk di atas kursi panjang yang sengaja tuan tanah taruh di atas situ. Arqan minta izin duduk di samping rachel, rachel mengizinkannya. Tidak banyak yang bisa dilihat di tempat itu selain dari beton dan rumah penduduk yang tidak tersusun. Selokan kotor juga jalan berlubang semakin memperkumuh kawasan itu.
"tidak ada yang indah disini."
Arqan sangat ingin mengatakan 'hanya rachel yang indah disini' tapi dia masih memikirkan rangkaian kalimat yang lebih bagus.
Dalam hati rachel berharap arqan menggodanya. Dia berharap arqan lebih peka. Hubungan yang mereka jalin selama ini masih dia anggap hubungan bos dan karyawan.
Akhirnya arqan menemukan rangkaian kata yang pas untuk menggoda rachel, "tempat ini memang belum indah rachel. Tapi suatu saat nanti pasti akan jadi indah."
Rachel sadar itu sebuah teka teki, " kapan saat itu datang?" tanya rachel.
"saat kita menjadi pasangan ahli teknologi terkemuka suatu saat nanti."
Arqan menjadi malu, rasanya dia harus berlatih lagi membuat gombalan yang manis. Setidaknya poin utamanya yaitu mereka menjadi pasangan tersampaikan dengan baik ke si wanita.
"hahhaha... Kau bisa saja, nanti kalau anak kita laki-laki kau akan request nama apa..?"
Arqan tersentak mendengar pertanyaan rachel yang langsung ke fase final hubungan. Dia membeku selama beberapa detik lalu menjawab dengan spontan, " bagaimana kalau Araya?"
"araya itu kalau anak kita perempuan. Kalau laki-laki lebih baik chris."
Nama chris mengandung unsur agama yang kuat. Inilah masalah yang menghambat mereka di masa depan. Masalah kepercayaan.
"rachel maukah kau masuk agamaku?" arqan bertanya dengan muka serius namun bernada lembut.
"aku lahir di keluarga kristen, jadi itu mungkin akan sulit. Terlebih lagi ayah dan ibuku orang yang taat."
"kalau begitu akan aku bujuk ayah dan ibunya juga. Pertama aku akan menjadi pria yang mapan, lalu akan ku perdalam ilmu agamaku agar bisa meyakinkan ayah dan ibumu."
Rachel membisu dia tidak yakin hal itu akan berhasil.
"bagaimana denganmu rachel? Apa kau tertarik belajar tentang agamaku? "
"haruskah sekarang?"
"tidak harus. Tapi semakin cepat semakin baik, kau pun juga boleh mengajarkan agamamu padaku. Aku tidak akan menolak jika memang agamamu lebih baik dariku."
Semenjak hari itu arqan terus menceritakan kisah nabi dan rasul ke rachel. Arqan juga menceritakan kisah terbentuknya bumi, laut, dan langit, menurut mitologi islam.
Rachel pun menceritakan perjalanan roh yang mati sesuai kepercayaan, juga tentang akhir zaman dan dunia setelah kematian.
Hasil dari perdebatan agama ini terlihat nanti.
***
Detektif Norman Inklone kembali setelah menunda pemeriksa rachel selama berminggu minggu. Kali ini dia membawa polisi berseragam dan membawa surat perintah.
"masalah penyerangan makhluk halus ini tidak bisa dianggap remeh. Makhluk apapun itu pasti milik salah satu dari mereka berdua. Jika terbukti aku akan memenjarakannya, ingat pasal UUD baru tentang serangan ilmu gaib."
__ADS_1
Detektif Inklone bersama 2 orang polisi mendatangi rusun yang tidak pernah memiliki nama resmi. Rusun itu menjadi lebih ramai ketimbang beberapa minggu yang lalu. Banyak anak-anak mengantri untuk memainkan arcade game yang diletakkan di depan kantor sekuriti.
Kebetulan saat itu rachel dan arqan tidak di rumah, mereka sedang menguji coba iron gauntlet, penemuan terbaru arqan. "lihat ini arqan." rachel menunjukkan pantauan cctv di lantai 3. "si detektif aneh itu kembali lagi. Kali ini dia bersama polisi."
Terlihat pak nam terlibat cekcok dengan polisi yang menemani si detektif. Pak nam yang itu, yang meneror rachel saat awal dia pindah ke rusun. "ayo kita pulang!" ajak arqan.
Pak nam punya sejarah buruk dengan polisi. Dia berusaha mengusir mereka dengan sapu. Dianggap tidak berbahaya pak polisi pun mengusir pak nam dengan baik-baik, namun pak nam malah menyerang mereka.
Pak nam mendorong seorang polisi sampai terjatuh lalu merebut pistol polisi lainnya. Situasi jadi mencekam saat pak nam mengokang pistol dan menodongkannya ke si polisi yang masih meringkuk di lantai.
"aku benci kalian! Polisi negara berkembang!"
Detektif Inklone memanfaatkan kelengahan pak nam dengan memukul lehernya menggunakan tongkat polisi. Namun tindakannya itu berujung pelepasan tembakan secara tidak disengaja. Sang polisi pun tertembak tepat di perutnya.
Suara tembakan itu pun menarik perhatian warga dan pemilik tanah.
Pak nam dihajar habis habisan oleh rekan si polisi sementara si detektif berusaha menghentikan pendarahannya. Tak lama kemudian detektif Inklone terkejut melihat sekelebat hitam keluar dari tubuh pak nam yang tengah dipukuli.
Kelebatan hitam itu menggerakkan tangan pak nam lalu meraih kaki polisi. Bagai kesurupan setan pak nam menahan pukulan baton di wajahnya lalu menggigit tangan si polisi. Setelah itu pak nam menusuk mata kiri polisi malang itu dengan kunci rumahnya.
"bertahanlah salman!" saat berusaha menyelamatkan rekannya polisi yang tadi tertembak tampak dicekik oleh sesuatu.
Indra ke 6 detektif Inklone menajam. Terlihatlah sosok serigala raksasa tengah menaruh cakarnya di kepala si polisi. Tatapan si serigala membuat detektif inklone membeku. Dia ditarik masuk ke dunia yang penuh salju dan suhu dingin tidak tertahankan, hanya dalam beberapa menit manusia dengan pakaian setebal apapun akan mati membeku.
"siapa kau...?" mulut detektif inklone bergetar hebat.
Sosok serigala di depannya mengancam akan membunuh detektif inklone jika meneruskan penyelidikannya pada kasus tersebut. Menurut si serigala pengendara itu pantas mati karena berbuat kejahatan untuk alasan yang tidak baik.
Si serigala masih bisa mentolerir jika ada unsur keterpaksaan untuk berbuat kejahatan karena dia tidak ingin terlalu ikut campur dalam urusan manusia. Tapi yang satu itu lain, dia melecehkan seseorang karena nafsu duniawinya.
"aku tidak mengampuni tindak kejahatan tak beralasan jika itu terjadi di depan mataku." mata serigala itu berganti warna menjadi hijau terang.
Bulu bulunya yang berwarna abu-abu kehitaman dan tubuhnya yang besar semakin mempergarang penampilannya.
Para pria warga rusun datang ke tkp. Mereka sigap menolong para polisi yang terluka juga pak nam yang pingsan setelah dikendalikan sosok hitam.
Detektif inklone melihat ke pintu rumah rachel yang terkunci. Dia yang penasaran mencoba mengintip ke dalam rumah itu, dan disaat itu pula si serigala kembali mengambil alih alam bawah sadar detektif inklone dengan ekspresi yang sangat marah.
"sudah aku bilang berhenti menyelidiki..!!!"
Detektif inklone dia dorong hingga melewati pagar pembatas.
Malang tak dapat ditolak si detektif pun jatuh dari lantai 2 karena rasa penasarannya sendiri.
Bruk! Badannya serasa remuk, tulang belakangnya patah, hanya kepalanya yang selamat dari kejatuhan karena mendarat di atas keranjang jemuran.
Rasa sakit luar biasa membuat sang detektif kehilangan kesadarannya.
Selang beberapa menit kemudian rachel dan arqan datang dengan raut wajah pucat pasi. Mereka menyaksikan semuanya di jam tangan arqan. Amukan pak nam yang menembak, menggigit, sampai mendorong si detektif.
Rupanya serigala gaib itu memanipulasi persepsi semua orang yang melihat kejadian itu termasuk rekaman cctv. Di penglihatan mereka pak nam mendorong si detektif, kenyataanya si detektif didorong oleh angin.
Begitulah dunia mistis berjalan. Seekor kucing muda berbelang tiga yang langka mirip rachel ternyata adalah jelmaan sosok serigala bermata hijau yang sangat kuat. Rachel menyadari kalau kucingnya istimewa, karena bisa membawa keberuntungan. Tidak lebih dari itu.
Rachel mendengar kejadian nyatanya dari pak sekuriti. Pak nam berteriak kalau dia kecewa pada polisi negara berkembang. Mungkin hal itu ada sangkut pautnya dengan kepergian istrinya. Sayang sekali pria korea itu sudah hilang kewarasan untuk dimintai keterangan. Pengadilan pun memutuskan pak nam tidak bisa dihukum karena mengidap gangguan kejiwaan. Dia dipindahkan ke RSJ karena tidak ada yang mau merawatnya.
Rachel kembali ke rumahnya. Entah mengapa hawa rumahnya di hari itu terasa tidak enak. Rachel pun membawa keluar nein dari rumah itu karena perasaan tidak enak yang menyeruak. Malam harinya rachel dan nein menginap di tempat tante miranda.
*
__ADS_1
Keesokan harinya rachel dan arqan dimintai untuk mengangkuti barang mereka. "kenapa bu?!"
Nyonya tanah menjawab, "kami ingin memperbaiki atapmu yang rusak karena kejadian tempo hari."
"Kebetulan suamiku sedang mood untuk mengerjakannya. Untuk sementara kamu dan arqan pindahlah ke kamar di lantai 2 yang tengah."
Kamar yang dimaksud dapat dilihat dari tempat rachel berdiri saat ini.
"ini perintah, cepat pindahkan!" bentak nyonya tanah yang galak. Rachel pun memberitahu arqan. Arqan masih di kamar mandi menyelesaikan buang hajatnya. "ihh kau jorok!!"
Rachel kembali ke kamarnya lalu mengambil tas gendong berisi uang tunai. Nein melompat masuk ke dalam tas, rachel pun mengeluarkannya dan sedikit memarahinya. "jangan nein. Tidak boleh mengasah cakar di atas uang." rachel mengangkat nein lalu menaruhnya di dapur di depan sebuah papan kayu yang mulus.
"kakak meminta papan ini dari tante miranda, pakailah untuk mengasah cakarmu."
"Jangan menganggu selagi kakak berbenah ya."
Nein pun mengasah cakarnya disana, sementara rachel mengemasi barang-barangnya. Mulai dari pakaian yang cukup banyak, spray, bantal, guling, dan pernak pernik action figure yang dia ambil dari rumah orang tuanya beberapa hari yang lalu.
Dalam sejam rachel selesai mengemas semuanya, sementara itu arqan menggaruk rambut bingung harus memindahkan yang mana dulu.
Sadar arqan membutuhkan bantuan rachel pun langsung mendatangi bosnya itu. Rachel mengerutkan kening saat melihat arqan. Arqan sudah mengemasi barang-barang yang kecil seperti baju, pernak pernik kamar, perkakas. Tapi dia memiliki barang bawaan yang besar seperti komputer, kulkas bekas dan banyak komponen berharga.
Walau komponen itu terlihat seperti tumpukan rongsokan di tangan arqan semuanya bisa menjadi barang baru. Arqan menyuruh rachel minta bantuan para pria di lantai 4. "sampaikan ke mereka, ada bayarannya."
Arqan menyuruh rachel mendatangi 3 kamar. Penghuni kamar itu semuanya orang-orang nolep alias pengangguran.
"halo, permisi. Saya penyewa kamar nomor 11 bisa bantu saya mengangkut barang?"
Mendengar suara perempuan ketiga orang yang dikatakan arqan pun langsung membuka pintu dan mengintip rachel. "kalau bisa kamu, dan kamu juga bantu. Saya akan memberi kalian bayaran." tunjuk rachel ke 3 orang itu. Mereka pun setuju untuk membantu tanpa bertanya berapa bayaran mereka.
Ekspektasi mereka pun runtuh karena ternyata arqan lah yang meminta mereka. "ayo kawan-kawan. Satu orang seratus ribu. Lumayan untuk ngemil kan."arqan memancing mereka dengan uang.
Ke 4 orang itu pun memindahkan barang satu persatu ke kamar yang baru. Di kamar itu semua fasilitas lengkap sama seperti di kamar sebelumnya. Hanya pemandangan belakang rumahnya berbeda. Kini rachel maupun arqan dapat melihat dengan jelas rumah kosong terbengkalai menyeramkan di tanah lapang belakang rusun.
Arqan menyusun barang-barang dengan rapi. Ke 3 pengangguran menawarkan bantuan ke rachel namun ditolak. "barang-barangku sedikit jadi tidak perlu." para pengangguran itu pun menyebut rachel orang yang pelit.
Akhirnya mereka selesai mentransfer barang-barang ke rumah barunya. Rachel melihat seorang anak sedang bermain layang-layang di tengah taman. Dia kepikiran belum pernah berkenalan dengan penyewa lain selain arqan dan wanita yang melaksanakan aqiqah di lantai satu.
Rachel sedikit takut berkenalan dengan para penyewa karena banyaknya kejadian tidak mengenakkan di rusun itu.
Melihat rachel melamun arqan pun bercanda dengan mengejutkannya.
"BWAaaa...!!"
Rachel yang latah pun terkejut. Pipinya merona karena malu. "aku kira transformasi pipi merah ini hanya terjadi di anime. Ternyata di dunia nyata pun bisa." arqan tidak sengaja mencubit pipi rachel. Rachel yang kesal pun berusaha membalas arqan. Mereka pun saling kejar hingga ke atap rusun.
Merasa sudah berhasil memojokkan arqan rachel pun tersenyum licik. "hehe.. Mau lari kemana kau arqan! Tidak ada jalan lain lagi. Kemarilah agar aku bisa cubit pipimu."
Rachel mendekat perlahan lahan, arqan pun mendekatinya perlahan pula. Lalu saat jarak keduanya tinggal 30 cm arqan memeluk rachel.
Rachel pun terkejut dan berusaha melepas pelukan arqan. "apa-apa-apa yang kau lakukan arqan?!! " rachel merona seperti lobak merah. Semakin lama pelukan arqan makin erat.
"aku ingin kau merasakan senam jantung yang aku rasakan saat kau memelukku waktu itu." ucap arqan dengan lembut di telinga rachel.
Rachel menggigit bibirnya, lalu berkata dengan lembut "dasar. Kalau begini aku tidak bisa menolaknya."
Rachel menyilangkan tangannya di punggung arqan lalu lebih mendekatkan arqan sebagai balasan atas pelukannya yang tiba-tiba.
.......................................................................................
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, dan favoritkan novel ini biar author cepat naik level ke gold ๐ dah lama pengen crazy update tapi belum kesampaian ๐
.......................................................................................