Nekophilia

Nekophilia
Bab 40 : Lamaran Pertunangan (1)


__ADS_3

Selama beberapa hari Rachel tidak henti hentinya menangis. Dia sudah tidak punya keluarga. Seluruh keluarga besarnya memutuskan hubungan dengannya. Kini dia sebatang kara.


Rukaiyah mengerti betapa sakitnya cobaan seorang mualaf. "temanku dulu juga ada yang sepertimu, alhamdulillah dia sudah menemukan jalan hidupnya. Bersabarlah Rachel kami akan menjagamu. " ucap Rukaiyah.


Rukaiyah yang baik hati tidak pernah melewatkan waktu luangnya untuk menemani Rachel. Setelah pulang sekolah dia selalu berkunjung ke rumah Rachel, membuat hubungannya dengan Rachel menjadi dekat.


Sudah seminggu semenjak Rachel dibuang oleh orang tua kandungnya. Arqan sedang mengikuti olimpiade sains. Tim Arqan berhasil meraih juara pertama mengalahkan finalis dadakan dari SMK 7 Harapan.


Arqan menyampaikan kabar gembira itu ke Rachel lalu mengajaknya bertemu di cafe. Arqan ingin memberikan hadiah untuk Rachel, hadiah yang akan menghibur hati Rachel.


Rachel pun berangkat kesana ditemani Rukaiyah. Ke cafe milik orang tua temannya, yaitu Icha.


Arqan berkomplot dengan owner cafe yang merupakan ayah teman Icha untuk memberikan kejutan ke Rachel. "dia sudah memilih saya. Tapi pilihan itu tidak membuatnya bahagia. Karena itulah saya ingin membuatnya ceria kembali." ujar Arqan ke pemilik cafe.


Pemilik cafe pun mengosongkan lantai teratas cafe nya untuk Arqan. Sementara itu Rachel datang dan disambut oleh Icha. Icha berpura-pura tidak tahu apa yang akan dilakukan Arqan.


"eh kok kamu datang tidak bilang padaku dulu Rachel?"


"anu.. Aku lupa.. " sahut rachel pelan.


"tidak apa apa. Ayo masuk, temanmu Arqan menunggu di lantai atas. "


Arqan tidak menyiapkan apapun selain dirinya sendiri, kabar baik, dan hadiah untuk Rachel. Dia merasa tidak perlu menghias tempat itu.


Rachel melambaikan tangannya saat melihat Arqan tengah duduk di satu satunya meja disana. Arqan melambaikan tangan juga, lalu Rachel duduk di depannya.


"tumben sekali atap cafe ini kosong ya. " Rachel basa basi.


"i iya " Arqan sedikit gugup, terlebih saat Icha dan Rukaiyah meninggalkan mereka berdua.


"aku kaget saat kau bilang ingin memberiku hadiah. Jujur aku agak gugup. " wajah Rachel tersipu sepanjang obrolan basa basi mereka.


Arqan menceritakan apa yang terjadi selama olimpiade berlangsung. Arqan menceritakan kekagumannya pada tim lawan, dan ada cerita lucu. Saat peserta tim lawan menekan bel dia terlalu semangat dan malah menghancurkan bel itu. Berkah kecerobohan anak itu Arqan berhasil menang dengan skor tipis.


Arqan menatap Rachel, terlihat pupil mata Rachel sedikit membesar saat ditatap oleh Arqan. Tak ingin berlama lama lagi Arqan pun langsung mengutarakan isi hatinya ke Rachel. Termasuk perasaan yang telah dipendamnya selama ini, dan perasaan haru teramat dalam saat Rachel memilih dirinya.


"saat pertama kali kita bertemu dan beberapa waktu setelahnya aku kira kau adalah perempuan lemah yang harus selalu dilindungi, tetapi seiring berjalannya waktu aku sadar kalau kau lebih tangguh dari yang kukira. Kau hidup seorang diri di lingkungan yang tidak ramah dan kau mampu bertahan. Tapi aku tidak mau mengakui kalau kau sebenarnya kuat, karena itulah aku terus melindungi. Bahkan kalau kau sadar aku jarang menyuruh nyuruh dirimu seperti saat kita baru kenal. "


"ya, aku menyadari hal itu. Kau jadi sangat protektif terhadapku, jujur saja itu agak mengganggu profesionalitas ku dalam bekerja. "


Mendengar itu Arqan introspeksi diri. Supaya tidak ada yang mengganggu Rachel di luar rumah Arqan pun memberikan jam tangan rakitannya ke Rachel.


"ini salah satu hadiah yang ingin kuberikan padamu, namanya Archel. " Arqan sempat ingin mengganti nama jam itu jadi Arnanda. Tapi tidak jadi karena Arnanda mirip nama orang.


"jam tangan yang cantik~ kau beli dimana? "

__ADS_1


"buat sendiri~ lihat, jam ini multifungsi. Ada 2 lapisan di bawahnya. Lapis pertama berisi layar kendali, lapis ketiga dipasangi pelontar jarum listrik. Ini berguna untuk pertahanan dirimu. "


Arqan menerangkan fungsi fungsi lain dari jam itu.


(seluruh fungsi jam tangan Rachel sudah dijelaskan di bab 38)


Rachel menerima jam itu dan langsung memakainya. Desain yang dibuat Arqan sangat cocok untuk Rachel, walaupun jam itu akan tertutup lengan bajunya nanti.


"jam itu aku buat untuk membuatmu lebih bergaya, dan tentu saja untuk menjagamu. Sepertinya menjagamu adalah salah satu tujuan hidupku selain menemukan Marry. "


Rachel menyukai Arqan, bukan karena wajahnya, melainkan karena hobi dan impian  nya yang langka.


"ajari aku cara melontarkan jarumnya. " pinta Rachel.


Arqan pun menaruh 3 buah botol di atas semen pembatas lalu menunjukkan 2 buah tombol yang harus Rachel tekan bersamaan.


"mirip seperti mekanisme Screenshot di hp samsung. Saat membidik pastikan sedikit mengangkat ke atas."


Tembakan Rachel meleset dan malah kena seekor burung pipit yang sedang terbang. Alhasil burung itu pun jatuh ke tanah.


"ya ampun! " Rachel merasa bersalah dia segera turun ke lantai bawah. Arqan mengikutinya.  Terlihat burung itu kejang kejang dengan jarum listrik menancap di belakang sayapnya.


Rachel tersengat listrik di ujung jarinya saat akan mengangkat burung itu. "ayo kita bawa ke klinik hewan." ajak Arqan.


Arqan segera kembali untuk membayar makanan yang dia pesan lalu pergi tanpa mengatakan apa apa.


"ke klinik hewan, mau ikut? " ajak Rachel.


"emm enggak deh, hati hati di jalan. "


Rachel dan Arqan pergi ke klinik hewan yang dulu sempat menangani luka tusuk di tubuh Nein.


(klinik ini pernah muncul di bab 7)


Dokter klinik tampak senang bertemu Rachel lagi dan juga dia tahu siapa Arqan.


"kamu yang dulu punya kucing jantan belang 3 kan? Kalau tidak salah namanya Nein. Saya sempat tidak mengenali anda karena hijab yang anda kenakan. "


"iya selamat siang pak. " Rachel kagum dokter itu masih mengingatnya.


"lalu kamu. Kamu pemenang olimpiade sains SMK TEKNOLOGI ELIT kan. Ada apa sampai rajanya gen Z datang kesini?"


"tolong periksa burung pipit ini dokter. Kami tidak sengaja menembaknya dengan jarum listrik. " ungkap Rachel.


Dokter memeriksa burung pipit itu. Pertama dokter cabut jarum yang menancap lalu memeriksa detak jantungnya.

__ADS_1


"sudah selesai. Dia baik baik saja tapi burung kecil ini tidak akan bisa terbang lagi. Jarum itu menusuk tepat ke urat syaraf sayap kirinya yang menyebabkan urat itu putus dan burung ini tak akan bisa terbang lagi. "


Rachel pasti merasa bersalah. Pikir Arqan.


"kalau begitu saya akan merawatnya. Kau setuju kan Rachel? Nein bisa menyakiti burung ini kalau kau yang merawatnya. "


Rachel berpikir sejenak.


"aku setuju, sebaiknya kau jaga burung itu baik baik supaya kita berdua tidak kena karma. " pesan Rachel.


Dokter memanggil asistennya lalu menawarkan makanan burung ke Arqan. Ternyata klinik itu memiliki bisnis lain yaitu berjualan makanan hewan peliharaan.


Arqan membeli sekantung penuh biji bijian dan juga sangkarnya. Kemudian mereka pulang.


***


Di rumah Rachel menatap jam pemberian Arqan. Dia belum terbiasa memakai hijab jadi setiap masuk rumah Rachel akan langsung melepas hijabnya.


"Arqan susah payah membuatkan jam ini untukku. Aku juga harus memberkan hadiah persahabatan padanya. " Rachel membatin.


Rachel mencari buku masakan kemana mana tapi tidak kunjung ia temukan. Rachel pun ingat kalau buku itu sudah diambil lagi oleh ibunya.


Tidak menyerah Rachel pun mencari resep makanan manis di google lalu memutuskan membuat pai ceri untuk Arqan.


Setelah menemukan resep yang sederhana Rachel langsung membuatnya kemudian setelah jadi dia hias sedikit dengan potongan ceri lalu dia bawa ke rumah arqan.


Aroma manis pai ceri Rachel sampai membuat kakek yang tinggal di lantai atas batuk. Pasti rasanya sangat manis. Rachel menaruh kue itu di atas meja Arqan.


"assalamualaikum Arqan, " (Rachel)


"waalaikumsalam ukthi Rachel, ada apa ya? " (Arqan)


"aku buatkan pai ceri untukmu, ayo kita makan. "


Arqan dan Rachel pun naik ke atas atap. Saat itu para penghuni lantai 4 sedang nongkrong di atap. 


Arqan dan Rachel duduk di tempat yang berjauhan dari warga. Karena ada sunah nabi Arqan dan Rachel pun makan dengan tenang tanpa bicara sepatah katapun. Lalu saat selesai Arqan mengeluarkan sebuah kotak dari sakunya.


Isi dari kotak itu adalah bukti ikatan suci yang dimiliki oleh manusia. Cincin pertunangan, Arqan tawarkan kepada wanita yang dicintainya. 


"terima kasih sudah memilihku, maukah kau memilihku sekali lagi untuk jadi imammu?" pinta Arqan dengan lembut.


.................................................................................


Dukung author dengan cara baca sampai habis. Like, favoritkan, dan komen.

__ADS_1


Boleh memberikan kritik asal menggunakan bahasa yang sopan. Jadilah pembaca yang bijak dan jangan terlalu menghayati isi novelnya. Ini hanyalah cerita fiksi. 😁


.................................................................................


__ADS_2