Nekophilia

Nekophilia
Bab 34 : Arqan menjadi asisten


__ADS_3

arqan mulai bekerja sebagai asisten. besok harinya dia datang ke tempat syuting di dekat danau.


karena sikapnya baik dan menyenangkan arqan pun diajak makan bersama oleh para pemeran.


tentu saja suasana menjadi canggung saat dia bergabung dengan orang-orang berbakat itu.


"jadi... perkenalkan asisten mu pada kami rachel."


"iya nih, diam diam ternyata punya asisten. ganteng lagi... "


arqan kaget saat rachel memperkenalkannya sebagai asisten sekaligus pacarnya.


"ini arqan, di luar pekerjaan dia pacarku."


orang-orang menatap arqan. termasuk produser berkumis yang menguping pembicaraan para artisnya.


"seleranya sangat rendah. wajar saja sih, dia kan anak kampung pada awalnya. " ucap produser dengan sinis memberi tanggapan ke hubungan arqan dan rachel.


arqan tidak banyak bicara selama duduk dengan para artis.


arqan juga seorang introvert seperti rachel.


karena terus merasa tidak nyaman arqan pun berpura pura ke toilet.


rachel sadar kalau arqan merasa tidak nyaman bersama rekan kerjanya. dia tidak meminum menu yang dia pilih sendiri dan bayar sendiri. ditambah orang-orang menatapnya dengan aneh saat rachel mengungkapkan hubungan mereka.


rachel pun berpura pura sakit perut karena minuman dingin.


"hah kau juga sakit perut? "


"bilang saja kau mau berduaan dengannya di toilet, iya kan..? "


rachel digoda oleh laki laki itu. dia adalah pemeran adik laki laki dari tokoh utama, alias adik nya medea.


diam diam laki laki itu mengincar rachel. hatinya tertusuk saat mendengar rachel memiliki pacar.


"apa yang kau suka dari pacarmu? " tanya pria itu dengan spontan.


"apa sih reihan? aku mau ke toilet dulu!" ucap rachel sambil tertawa.


rachel tidak menemukan arqan di toilet pria. laki laki itu rupanya sedang menelepon seseorang di dekat parkiran.


"nanti kutelepon lagi, rachel kesini. " ucap arqan ke orang di telepon.


"kenapa kau kesini? kalau kau malu didekati banyak orang aku bisa mengerti kok. ke depannya aku tidak akan mengajakmu lagi. " ucap rachel.


arqan membantah, bukan itu katanya.


dia hanya merasa pernah melihat para aktor dan artis itu sebelumnya.


"rachel sebenarnya aku belum menonton drama mu makanya ini pertama kalinya bagiku melihat wajah mereka." tutur arqan.


"walaupun tidak menontonnya tapi kau melihat kami syuting kan. masa kau tidak melihat wajah pemainnya?" rachel merasa heran.


"yah... sebenarnya... sebenarnya fokusku hanya tertuju padamu selama proses syuting itu, aku tidak memperhatikan yang lainnya. "


"begitu ya. " rachel tersipu mengetahui arqan selalu memperhatikannya.

__ADS_1


"apa kau suka aku berakting dingin? " tanya rachel tiba tiba.


"kau lebih menawan dan cantik saat menjadi dingin, tapi aku lebih suka sifatmu yang ceria dan apa adanya. " jawab arqan. "jadi secantik apapun kau sebagai medea, bagiku rachel ketika di rumah masih lebih WoW!"


ucap arqan sambil tertawa. rachel hanya tersenyum malu mendengarnya.


sedang asik ngobrol mereka didatangi oleh asisten produser nona irina laurenz.


"syuting hari ini dibatalkan karena salah satu talent kita sakit. jadi kamu boleh pulang kalau mau."


"horee..."


rachel melompat girang, dia segera berpamitan dengan talent lainnya yang masih asik di cafe.


"sampai jumpa lagi." rachel berpamitan dengan teman temannya.


*


merasa belum lelah rachel pun bertekad membantu penelitian arqan.


setelah mandi, membersihkan rumah, dan memberikan makan kucing kesayangannya, rachel berpindah ke rumah arqan, tapi prianya tidak ada di rumah.


rachel telepon ternyata arqan sedang di sekolahnya. dia sedang membantu juniornya membuat mesin fotokopi.


rachel yang penasaran pun langsung tanpa gas kesana.


dilihatnya sebuah mesin fotokopi baru ditaruh sembarangan di depan gerbang sekolah.


"halo mbak rachel. sedang mencari arqan ya? "


rachel ingat siapa siswa itu. dia adalah farhan anak yang dulu memfitnah dia dan arqan mencuri obat kuat.


"dia masih marah karena kejadian itu? dasar ****** lemah hati." umpat farhan dalam hati.


setelah bertanya ke beberapa siswa rachel menemukan arqan sedang merenung di pojok laboratorium.


"ada apa arqan?"


arqan menoleh ke rachel. wajah cemberutnya langsung berubah menjadi senyum cerah.


"aku tanya apa apa? bukannya kalau melamun bisa kerasukan setan? "


"ahhahahaa... benar, aku hanya merasa bersalah pada marry. "


rachel mengambil kursi lalu duduk di samping arqan. arqan sendiri duduk bersila di atas meja.


"aku juga merindukanmu. walaupun sifatnya terlalu narsis, dia anak yang baik. apa yang kita lakukan sampai membuatnya pergi? " rachel tak menganggap pelukan itu sebagai alasan marry kecewa.


arqan tahu kalau marry sangat kecewa akan hal itu. dia memiliki mental anak-anak yang harus mendapatkan apa yang dia inginkan.


namun bukan itu yang membebani pikiran arqan sekarang. ketimbang menyalahkan marry dia lebih menyalahkan dirinya sendiri.


kalau dipikirkan lagi benar yang dikatakan marry hari itu.


kenapa arqan tidak membuat janji saja seperti yang ia buat dengan rachel.


rachel sendiri terinspirasi membuat janji dari komik yang dibawanya. di komik itu tokoh utama pria dan wanita dijodohkan oleh kedua orang tuanya saat masih bayi.

__ADS_1


saat anak-anak mereka membuat janji pra nikah, yaitu untuk pacaran sebelum menikah selama beberapa tahun saat umur 15 tahun.


"rachel, menurutmu apa aku bisa menemukan marry sebelum lulus smk? "


arqan tampak meragukan dirinya. rachel pun tertawa kecil mendengarnya.


arqan menatap rachel dengan penasaran. apa arti dari tawanya barusan?


"kenapa ragu begitu? kau kan bisa membuat apa saja dalam sekejap mata. seperti tony stark dalam film avengers. kau bahkan punya jarvis mu sendiri."


rachel menghibur arqan sekaligus memberinya dorongan yang besar untuk tetap optimis.


semangat arqan pun perlahan kembali. disaat mengingat satu teman membuatnya sedih, teman lainnya membuatnya bahagia.


"oke deh. aku percaya pada diri sendiri, aku pasti bisa membuatnya. pasti bisa!"


rachel memukul pundak arqan lalu duduk di sampingnya.


"begitu dong! jangan cemberut seperti african rain fog. "


arqan turun dari meja karena takut mejanya tidak bisa menahan bobot mereka berdua.


"bahaya kalau kaki mejanya patah."


"kalau begitu turunkan aku. " pinta rachel.


permintaan rachel tidak dimengerti oleh arqan.


"tapi kau kan bisa turun sendiri." ucap arqan dengan polos.


"aku sedang bermanja denganmu. kau harus lebih peka mulai dari sekarang. "


rachel meluluskan kakinya, "gendong aku. aku ingin tahu berapa lama kau bisa mengangkatku. "


arqan tidak tahu apa pentingnya hal itu. dia pun menggendong rachel dengan gaya pengantin.


"tahan selama yang kau bisa, aku akan menghitungnya sekarang. "


"1... "


"2... "


"3... "


arqan menguatkan ototnya.


tahta jadi yang pertama melihat kemesraan arqan dan rachel. dari balik jendela laboratorium dia mengintip kedua pasangan itu.


"mantap arqan! jangan lepaskan dia! kalau kau lepas tulangnya bisa patah! " tahta mengucapkan hal tidak berguna itu di dalam hati.


keseruan arqan dan rachel tidak akan berubah sampai cerita ini mencapai *******.


.................................................................................


Dukung author dengan cara baca sampai habis. Like, favoritkan, dan komen.


Boleh memberikan kritik asal membangun dan gunakan bahasa yang sopan. Jadilah pembaca yang bijak dan jangan terlalu menghayati isi novelnya. Ini hanyalah cerita fiksi. 😁

__ADS_1


.................................................................................


__ADS_2