Nekophilia

Nekophilia
Bab 46 : Misteri di kampung halaman (1)


__ADS_3

Tibalah hari Rachel bertemu keluarga Arqan di pesta ulang tahun adiknya laki laki nya yang bernama Amir Kencana.


Anggota keluarga besar yang berhadir di pesta ulang tahun itu antara lain, sepupu perempuan dari keluarga ibu dan tante dari keluarga ayah. Tidak ada nenek dan kakek karena mereka sudah berpulang.


Pesta ulang tahun kecil itu dihadiri oleh beberapa tetangga dan Arqan serta Rachel sebagai tambahan.


Rachel memasukkan lebih dari satu jenis hadiah ke dalam kadonya untuk meluluhkan hati calon adik iparnya. Sementara ibunya bertanya siapa perempuan yang dibawa Arqan, tentunya setelah pesta ulang tahun selesai dan tetangga pulang.


Si ibu memiliki insting yang kuat dan sudah menghafal kebiasaan anaknya. Arqan tak akan membawa perempuan ke rumah kecuali sudah kenal dekat dengannya. Ibunya kenal Marry, dia satu satunya teman perempuan Arqan.


"akhirnya ibu bertanya. Kenalin ini Ananda Rachel, calon istri aku. "


Rachel menyembunyikan sedikit wajahnya dengan kerudung karena malu dipanggil seperti itu.


Ibu dan adik Arqan pun langsung menyalami Rachel. Seakan tak peduli dengan kapan dan bagaimana Arqan bertemu Rachel si ibu langsung saja mengajukan tanggal pernikahan untuk mereka berdua.


Si ibu memiliki uang dari pensiunan suaminya juga uang pemberian Arqan. Arqan juga sudah sering menceritakan tentang Rachel ke ibunya, tetapi si ibu tidak pernah menduga Rachel akan menjadi pasangan anaknya.


"jadi ibu sudah tahu tentang hubungan kami? " tanya Rachel dengan wajah berseri-seri.


"tentu saja ibu tahu. Ibu tidak menyangka kamu akan pindah agama untuk menikahi anak saya. "


"harusnya Lina dan Astrid tidak pulang dulu tadi. " Lina adalah sepupu Arqan. Dan Astrid adalah tantenya, mereka berdua langsung pulang setelah pesta ulang tahun berakhir.


Ibu sangat bahagia dengan berita pertunangan yang diceritakan Arqan tempo hari. Rachel dapat menjaga tutur bahasanya dan bisa memikirkan topik obrolan yang menyenangkan ibu Arqan. Arqan pun ikut bahagia melihat keakraban ibunya dengan Rachel.


Di tengah suasana suka cita itu insting Nein dalam diri Arqan bangkit dan seorang dukun lewat di depan rumah Arqan. Rumah orang tua Arqan terletak di kampung yang berada di pinggir hutan. Jika rumah ortu Rachel dengan hutan masih dipisahkan ladang dan hamparan tanah kosong, rumah ortu Arqan langsung bersebelahan dengan hutan tersebut.


Tak jarang warga sekitar melihat penampakan dari dalam hutan. Sementara dukun tidak pernah terlihat di kampung itu.


"buka mata batinmu, mata manusia tidak akan bisa melihat sifat asli seseorang. Berpakaian biasa, tapi berkemampuan luar biasa, bermain api secara sembunyi sembunyi."


Perhatian Arqan terpaku sepenuhnya pada pria di seberang jalan sana. Pria itu menunduk di bawah pohon pinus, tangannya melakukan sesuatu seperti sedang menanam sesuatu.

__ADS_1


"apa yang dia lakukan Nein? "


"entahlah, dari auranya dia belajar ilmu hitam. Sebaiknya kau periksa bawah pohon itu setelah ini. "


Setelah si pria pergi Arqan langsung mendatangi bawah pohon itu dengan alasan ingin menghirup udara segar.


Terlihat bekas galian dan sebuah lidi ditancapkan di sana.


"hari apa ini? " Arqan bertanya lagi ke Nein.


"hari Jumat. Harusnya kau lebih tahu dari aku." jawab Nein.


Arqan tertawa geli. Batang lidi yang ditancapkan pria itu bukanlah jimat ataupun barang sihir lainnya, melainkan dia sedang mengikuti saran orang tua zaman dulu. Ingat kata orang tua dulu, ukur ekor kucing di hari Jumat lalu tancapkan ke tanah, niscaya kucingmu tidak akan berak sembarangan lagi.


Teori Arqan langsung terbukti saat seekor kucing hitam buang air di bawah pohon itu.


"kita terlalu berprasangka buruk kepada orang itu. Duh, mana aku sudah menghafal wajahnya..." Arqan meremehkan insting Nein. Nein sangat yakin kalau orang itu adalah dukun dan termasuk orang yang berbahaya.


"aku yakin dia seorang dukun. Penilaianku pada aura seorang penyihir tidak pernah salah! Mungkin kebetulan saja dia melaksanakan mitos itu. Aku yakin dia akan melakukan sesuatu yang buruk terhadap warga kampung ini! "


Arqan terima saja keinginan partner nya itu. Kebetulan sekali ibunya ingin mereka menginap malam itu. Hatinya sangat baik, dia mendengarkan cerita Rachel dan merasa iba padanya. Benar-benar ibu yang baik, walaupun bukan orang tua kandung.


Rachel dipinjamkan kamar adik laki lakinya Arqan. Rumah itu sebenarnya memiliki 2 kamar kosong tapi keduanya dialih fungsikan menjadi gudang perkakas dan barang-barang yang dibuat Arqan ketika SMP.


Rachel melihat lihat barang itu, Arqan sendiri menyebut barang-barang buatannya semasa SMP sebagai produk gagal.


"kenapa gagal? Apa kemampuan merakitmu belum mumpuni?" Rachel menerka nerka jawaban Arqan.


"tidak.. Aku selalu gagal karena tidak memiliki bahan yang layak. Soal kemampuan aku yakin kemampuan waktu dulu tidak beda jauh dengan sekarang." terang Arqan sembari menyalakan AC.


"sombong sekali kau. Apa yang biasanya kau lakukan saat malam Hari di rumah ortu mu ini? " Rachel ingin membandingkan keseruan malam harinya dengan Arqan. Dulu Rachel sangat senang bermain saat malam hari karena kampungnya sangat ramai, dan warganya tidak tahu waktu. Termasuk Rachel sendiri.


Arqan menjawab "kalau maksudmu nongkrong di pos ronda aku tidak pernah melakukan itu. Pos ronda jatuh dan aku tidak suka keramaian yang tidak penting." jawab Arqan dengan sedikit pedas.

__ADS_1


**


Malam semakin larut.


Arqan menunggu sampai semua orang terlelap. Setelah semua terlelap tibalah saatnya untuk Arqan pergi keluar rumah.


Tubuh asli Nein yang ditinggal di rusun bangun dengan mata tertutup alias berjaga sambil tidur. Nein membagi jiwanya menjadi 3, begitu pula dengan kekuatannya. Satu di Rachel, satu lagi di Arqan, satu lagi di rusun.


"duduklah di bangku teras rumahmu." perintah Nein.


Arqan menuruti perintah Nein. Walaupun menakutkan Arqan terpaksa melakukan ini untuk membuktikan tuduhan Nein terhadap pemuda yang tadi siang.


"sangat menyedihkan melihat anak muda itu memiliki aura yang kotor dalam dirinya. Tebakanku dia menganut ilmu hitam jenis pesugihan. Terasa jelas dari auranya yang suram dan berbau busuk. " tutur Nein.


Arqan tidak bisa mencium seperti Nein. Tapi dia bisa melihat aura suram yang menyelimuti pria itu.


Secara spesifik manusia biasa memiliki aura berwarna putih atau jika manusia itu sedang depresi auranya akan berubah menjadi abu abu. Sementara pria tadi siang auranya berwarna hitam, yang menandakan ada makhluk asing menumpang dalam tubuhnya.


Mata Arqan terbelalak saat melihat sesosok manusia dengan pakaian serba putih berjalan di antara pepohonan di samping rumahnya. Dengan segera Arqan bersembunyi dan mengikuti sosok putih itu yang ternyata ada 2 sosok.


Suara burung gagak terdengar. Tidak biasanya ada gagak di kampung Arqan.


Nein meminta Arqan tetap waspada dan tidak mengikut dua sosok putih itu. Tidak terlihat aura aneh dari tubuh kedua orang itu. Mereka hanyalah manusia dengan pakaian putih menyeramkan di tepi hutan.


Semakin Arqan memperhatikan mereka semakin jelas kalau mereka saling gandeng.


"aku akan mengikutinya. Bisa jadi mereka pengikut kultus sesat atau semacamnya."


...........................................................................


Dukung author dengan cara baca sampai habis. Like, favoritkan, dan komen.


Boleh mengkritik asal menggunakan bahasa yang sopan. Jadilah pembaca yang bijak agar kita sama-sama merasa nyaman. 😁

__ADS_1


...........................................................................


__ADS_2