
Ayahnya dan ibunya Rachel sampai ke rusun Rachel satu hari setelah mendapat kabar dari Miranda. Disaat mereka menghampiri ke kosan Rachel mereka malah bertemu dengan orang lain.
"permisi pak, bapak kenal anak perempuan yang namanya Rachel gak? " tanya ibu Rachel.
"ohh mbak Rachel. Dia pindah ke sebelah sana buk. " tunjuk penghuni baru kamar Rachel yang sudah direnovasi.
Saat mereka datang Rachel sedang tidak ada di rumah. "kemana anak itu? Ditelpon juga tidak diangkat, betul betul mau dihajar! "
"jangan emosi pah... Siapa tahu Rachel cuma main main... Seperti kita dulu... " ucap si ibu dengan gugup.
"keterlaluan sekali kalau dia main main, tapi lebih baik begitu. "
Sang ayah kaget Rachel tiba tiba saja anaknya mengangkat teleponnya. Sang ayah pun langsung membentak Rachel dan menanyakan lokasinya.
"halo Rachel! Kamu dimana sekarang?! Beraninya reject panggilan bapak! "
"apa benar kamu jadi mualaf? Jawab yang jujur Rachel."
[ benar pak. Aku jadi mualaf karena suka sama bos Arqan. ] jawab Rachel apa adanya.
"oohhh jadi si Arqan itu motivasi kamu. Tunggu aja, bapak akan hajar dia! "
Telepon dimatikan. Rachel saat ini berada di pondok pengajian bersama Arqan, Tahta, Rukaiyah dan guru mengajinya. Mereka bersiap nenghadapi amukan ayahnya Rachel.
"selamat berjuang ya bro. Aku mau bersembunyi dulu, nanti kalau terjadi kekerasan barulah aku tampil. " tahta pergi karena tidak ingin membuat situasi terasa aneh.
Tahta berselisihan dengan ayah ibu Rachel. Tahta mengenal mereka dari foto yang ditunjukkan Rachel. Sementara mereka tidak mengenal Tahta sebagai sahabat karib Arqan.
"sebentar lagi perang religi dimulai." gumam Tahta dalam hati.
Penampilan yang Rachel yang mengenakan baju model daster dan kerudung panjang membuktikan kalau dia benar-benar telah hijrah.
Sang ibu menangis sejadi jadinya lalu berlutut ke tanah. Hati sang ayah pun panas, dia segera mendatangi kemudian menarik kerah baju Arqan yang berdiri di samping ustadzah.
"kamu...! Kamu apakan anak saya...?!!"
Arqan melawan ayah Rachel. Melawan dengan cara melepaskan kerah bajunya dengan cengkeraman pria paruh baya itu. "saya tidak melakukan apapun ke Rachel. Dia pindah agama karena mendengarkan cerita saya tentang nabi dan rasul umat islam. " tutur Arqan.
__ADS_1
"itulah yang kau lakukan!! "
Ayah Rachel melayangkan tinju ke Arqan, beruntung Arqan dapat menangkis pukulan itu.
Rachel melindungi Arqan dan dia pun kena pukulan yang membuat area di bawah matanya lebam. "jangan pak! "
"minggir kamu! Anak ini harus diberi pelajaran. Ayahnya susah susah menyekolahkan dia, dianya malah mualaf karena laki-laki."
Rukaiyah menolong Rachel begitu pula dengan sang ibu yang ikut melindungi anaknya. Sementara sang ayah ditahan oleh Arqan dan Tahta. "jangan sampai lepas tah, kita ikat bapak ini ke pohon." ucap Arqan dengan suara tercekik.
"kemari kamu Rachel!! "
Rachel ketakutan melihat ayahnya menggila seperti itu. Seumur hidupnya dia tak pernah melihat ayahnya semarah itu. Rukaiyah menenangkan Rachel dengan cara memeluknya. Si ibu mendekati suaminya yang dijerat di pohon, memintanya untuk tenang dan berpikir dengan kepala dingin.
"suruh anakmu itu berpikir dengan kepala dingin! Aku tidak akan menganggapnya anak lagi kalau pindah agama! Kau dengar ayah Rachel? Mulai saat ini kau bukan lagi anakku!!! "
Air mata Rachel tumpah mendengar kata-kata ayahnya.
Arqan sudah menyiapkan obat bius jika hal seperti ini terjadi, tapi untuk menggunakannya diperlukan izin dari Rachel.
"tidurkan ayahku Arqan... " Rachel berikan persetujuan.
"apa yang kamu lakukan ke suami saya?! " si ibu mencengkeram lengan Arqan dengan kuat.
"saya sudah minta izin ke Rachel untuk membius suami ibu. Bius itu tidak berbahaya, sekarang kami akan membawanya ke rusun agar bisa memulai kembali pembicaraan dengan kepala dingin. " tutur Arqan.
Si ibu tidak menyukai Arqan karena sikap sok berkuasanya. "jangan lupa kamulah penyebab semua ini. Saya tidak akan memaafkan kamu, semoga anak saya mendapat hidayah dari yesus dan roh kudus. " si ibu memanjatkan doanya di depan Arqan.
Rachel tidak tahu doa apa yang dibaca ibunya. Dia tidak pernah belajar agama dengan serius itulah salah satu faktor yang membuatnya dapat dengan mudah meninggalkan agama tersebut. Karena dia tidak mengenalinya.
Rachel memohon kepada ibunya agar mau ikut ke rusun untuk membicarakan masalah ini.
Si ibu pun setuju. Amarahnya seketika hilang saat melihat wajah anak perempuannya, dia begitu polos dan rapuh. Si ibu menyangka Arqan memaksa anaknya untuk pindah agama.
***
5 jam kemudian di rumah Arqan. Rachel, Arqan, Ayah dan Ibu Rachel, Tante Miranda, Ustadzah Okky (ustadzah yang membimbing Rachel pindah agama), Tahta, dan Rukaiyah duduk bersama sama di ruang tamu.
__ADS_1
Kenapa di rumah Arqan? Tidak ada alasan khusus, hanya kebetulan saja.
Ayahnya Rachel sudah lebih tenang, dia bertanya ke putrinya kenapa tiba tiba saja pindah agama. Sang ayah meminta jawaban yang lebih jelas dari sebelumnya.
Rachel yang duduk di depan mereka lalu menjelaskan, "aku tidak pernah belajar agama ayah dan ibu dengan baik. Dan aku tidak pernah pergi ke gereja atas kemauanku sendiri. Itu adalah 2 alasan kenapa imanku tidak kuat. "
"lalu alasan mengapa aku memilih agama islam. Pertama, karena pengaruh pergaulan. Kedua, karena orang yang aku sukai beragama islam. Dan ketiga, aku merasa sejuk saat mendengarkan kisah arqan tentang nabi dan rasul. Ketiga alasan itu sudah cukup untuk jadi motivasiku menjadi mualaf."
Ibunya terdiam mendengar penjelasan anaknya. Tante Miranda berteriak dalam hati, menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian ini. Nein memperhatikan orang orang itu dari balik dinding.
Akhirnya sang ibu berani berbicara setelah bungkam cukup lama. "Rachel, ibu tidak merestui hubungan kamu dengan laki-laki ini. Dia rubah. Dia memanfaatkan permintaan ibu waktu itu untuk mendekati kamu dan menarik kamu ke jalan yang salah. " ungkap ibunya dengan sangat kecewa.
Kita semua tahu kalau Arqan tidak pernah memanfaatkan pesan ibunya Rachel. Mereka menjadi dekat dan jatuh cinta karena seleksi alam yang mereka lalui.
Arqan membela dirinya dengan berkata, "saya tidak pernah memanfaatkan pesan anda. Saya dan Rachel menjadi dekat karena kami sering tolong menolong saat mengalami musibah. Saya menolong Rachel saat dia membutuhkan pekerjaan, saat diganggu pak Nam ODGJ yang sekarang sudah tidak ada disini, juga saat Rachel diincar oleh penguntit, lalu saat dia kesakitan karena datang bulan."
"dalam tempo waktu yang cukup lama itu saya jadi mengenal dekat Rachel."
Kini gantian si ayah yang bungkam dan ibu yang bicara.
"saya hargai semua kebaikan kamu ke anak saya. tapi saya tetap tidak akan merestui kalian. " ucap si ibu memberi tanda tanda.
"Rachel, sekarang kamu pilih. Mau bersama kekasihmu atau tetap menjadi bagian dari keluarga, dalam artian kamu tinggalkan agamamu itu. "
Pertanyaan itu membuat Rachel dilema. Di satu sisi dia menyayangi keluarga besarnya. di sisi lain dia menyayangi Arqan dan kenangan unik saat bersamanya.
Disaat seperti ini Rachel memilih Arqan. Karena dia orang yang mengajarkan agama lebih banyak daripada kedua orang tuanya. Rachel sampaikan jawabannya dengan lembut agar tidak menyakiti hati kedua orang tuanya.
"Rachel memilih Arqan. maaf ayah ibu. " jawab Rachel dengan mantap.
"kalau begitu mulai sekarang kamu bukan anak kami lagi. " ucap ibu Rachel kemudian beranjak pergi bersama sang ayah.
Rachel tak mencoba menghentikan orang tuanya, mungkin itulah yang terbaik. "besok ayah akan coret nama kamu dari kartu keluarga. " ancam ayahnya, tapi besok itu tidak akan jadi sekadar ancaman.
.................................................................................
Dukung author dengan cara baca sampai habis. Like, favoritkan, dan komen.
__ADS_1
Boleh memberikan kritik asal menggunakan bahasa yang sopan. Jadilah pembaca yang bijak dan jangan terlalu menghayati isi novelnya. Ini hanyalah cerita fiksi. 😁
.................................................................................