
Akhir pekan datang, rachel mengajak arqan ke pantai untuk pertama kalinya. Pantai tidak terlalu jauh dari lokasi tempat tinggal mereka itulah mengapa rachel sangat bersemangat.
"kau boleh ajak 1 atau 2 teman, aku sendiri akan mengajak nein dan teman alumni ku. " rachel mengajak arqan lewat telepon, padahal rumah mereka bersebelahan.
"kalau begitu aku akan mengajak tahta, 4 orang dan seekor puss sudah cukup untuk meramaikan piknik... Uhukk.. Huk.. " arqan tersedak karena bicara sambil minum.
Wacana mereka berjalan lancar rachel mengajak icha, arqan mengajak tahta, mereka berempat sendiri sendiri ke pantai karena rumah mereka berjauhan.
Sesampainya di pantai rachel langsung mengajak icha ganti baju. Bukan bikini ataupun baju renang, tapi baju kaos biasa. Ingat ini pantai indonesia, siapapun harus berpakaian sopan.
Hari sangat panas dan pengunjung pantai sedang sedikit. Rachel dan icha pun bisa bersenang senang dengan bebas.
Mereka melompat ke air yang setinggi lutut mereka. Icha meminta rachel berhati-hati karena seingatnya rachel tidak bisa berenang.
"kau selalu menghindar saat ujian renang kan. Hati-hati!"
Rachel mendayung air ke wajah icha. Icha pun membalas dengan menendang air.
"jangan khawatir, aku bukannya tidak bisa berenang, tapi aku takut teman-teman melihat 'asetku'."
Ternyata selama ini rachel memiliki aset yang cukup besar. Cuman dia sembunyikan dengan cara membalutnya dengan kain tali. Hari ini rachel melepaskan kainnya itu.
Icha pun iri melihatnya. "tapi kau masih pakai bh kan?" (icha)
"tentu saja hahahahaa... " (rachel)
Kenakalan rachel muncul jika tidak ada arqan.
Sedangkan arqan dan tahta tertinggal karena membeli suvenir terlebih dulu. "kau ini... Harusnya kita berenang dulu baru berbelanja." protes tahta. Dia kesal karena dipaksa ikut oleh arqan.
"kalau kelamaan bisa kehabisan. Lagipula ini untuk rachel. Kau belilah untuk icha."
Arqan berjalan cepat. Karena kurang hati-hati dia tersandung botol dan suvenir yang dia bawa jatuh dan pecah. Arqan pun kembali lagi ke toko suvenir diikuti tahta.
Di tempat yang sedikit jauh dari pengunjung lainnya. Rachel dan icha menyewa senapan air untuk bermain.
Saat asik main tembak tembakan rachel kaget melihat nein berenang di dekatnya.
"nein!! Nein!! " (nein, tidak)
Rachel berhenti bermain dan membawa nein ke pinggir pantai. Namun kucing itu melompat dan kembali masuk ke air.
Rachel heran melihat kucingnya bisa berenang. Diingat ingat kucingnya itu memang suka mandi, alias suka air.
Merasa nein baik-baik saja di air rachel pun membawanya main bersama. Sambil menggendong nein rachel lanjut main tembak-tembakan.
Sementara itu di sebuah pondok kayu yang berdiri tidak terlalu jauh dari lokasi pantai, seorang pria tiongkok berkumis sedang duduk santai di teras rumah.
Seorang wanita cantik berkacamata keluar dari pondok, dia membawakan kue pandan untuk si pria.
"ini list pendaftar yang anda tunggu." si wanita memberikan kertas berisi foto.
"semuanya jelek! Tidak ada yang cocok memerankan karakter medea!" pria berkumis itu marah dan melempar kertas itu. Sekretaris nya si wanita berkacamata memungut kertas itu.
"jadi apa harus saya tolak semuanya? Ada baiknya kita coba audisi dulu. Masalah wajah biar tim penata rias yang mengurusnya." saran dari si sekretaris.
"kau kira kita penata rias kita sehebat apa? Tidak ada satupun wanita di daftar itu yang wajahnya memenuhi 20 persen kecantikan pemeran medea sebelumnya. Jika sampai tanggal 10 kita tidak menemukan pemerannya, terpaksa kau yang maju."
"hei kau dengar tidak!! " si kumis marah karena sekretarisnya tidak memperhatikannya.
"iya, aku dengar. Tapi bos, ada seseorang yang cukup cantik di sana."
Si bos langsung berdiri dan mengangkat hp nya, menjadikan fitur zoom di kameranya sebagai teropong.
__ADS_1
"yang mana?!" (bos kumis)
"yang itu, yang sedang main pistol air." sekretaris cantik menunjuk ke rachel.
"oohhh, wow, wow, dia cantik. Cepat tawari dia perannya! Janjikan uang muka 5 juta kalau dia setuju mengikuti audisi." (bos kumis)
Si sekretaris pun langsung menghampiri rachel dan icha.
"permisi mbak, bisa minta waktunya sebentar."
Rachel penasaran melihat seorang perempuan berjas memanggil mereka. "ada apa ya?" tanya icha.
"maaf, saya mau bicara dengan teman anda. Siapa nama anda mbak?"
Rachel tidak mau memberitahunya karena orang itu mencurigakan. Rachel pun memancing si wanita memperkenalkan dirinya dahulu, "maaf, siapa anda?"
Si sekretaris menunjukkan kartu namanya.
Irina Laurenz, sekretaris produser rumah produksi short film indonesia.
Rachel membeku saat tahu wanita itu seorang sekretaris produser.
"saya hendak menawari anda untuk ikut audisi pencarian bakat kami. Kami sedang mencari artis wanita baru untuk memerankan tokoh protagonis di seri berjudul cherry blossom. Seri short film terbaru kami yang lisensi dan akan tayang di play film."
(Play film adalah aplikasi berisi konten film pendek buatan sutradara dan artis tidak dikenal)
"kalau anda berminat silahkan daftar disini. Kecantikan anda sudah cukup untuk memerankan tokoh protagonis, tapi kami masih harus meninjau bakat berakting anda."
Rachel memikirkan tawaran ini matang-matang. Mbak irina pun memberinya lebih banyak waktu untuk memikirkan tawaran ini. Diberikannya kartu namanya ke rachel, audisi ini terbuka untuk semua orang. Icha juga diizinkan mengikutinya.
Mbak irina kembali ke pondok kayu.
"bagaimana? Dia menerimanya?"
Rachel keluar dari air untuk mengamankan kartu nama irina. Dia penasaran kenapa arqan dan tahta tidak juga datang, padahal mereka sudah bermain selama 30 menit.
"para laki-laki lama sekali. Semoga tidak terjadi hal buruk pada mereka." (icha)
Rachel menelpon arqan tapi tidak diangkat, tahta juga sama.
"ayo kita cari mereka."
Setelah berganti baju kering rachel, icha, dan nein menyusul ke toko suvenir. Alangkah terkejutnya mereka saat melihat toko suvenir itu ditabrak oleh sebuah truk pengangkut semen.
"permisi pak, apa yang terjadi disini? " tanya rachel ke pedagang kaki lima.
"sepertinya masalah lem neng." jawab pedagang.
Hp rachel berbunyi, arqan meneleponnya. Arqan tidak bisa menemukan rachel di manapun karena dia memang tidak di pantai.
Rachel dan icha pun segera kembali dan mendapat kedua pria itu sedang bersantai membuat istana pasir.
"arqan!! " rachel melambaikan tangan.
"daripada membuat istana pasir lebih baik kau jadi pondasinya." kata rachel.
Arqan pun dikubur dalam pasir. Tahta asik menenggak minuman soda disaat temannya pasrah dikubur dengan pasir.
"kalau airnya pasang segera bebaskan aku." ucap arqan sedikit takut.
Rachel pun mengambil fotonya bersama arqan, icha, nein, dan tahta yang duduk jauh di belakang mereka.
Arqan lega terbebas dari pasir. Rachel pun menarik tangan arqan mengajaknya bermain air, rachel juga mengajak tahta namun tahta menolak.
__ADS_1
"dia takut air." bisik arqan ke rachel dan icha.
Tahta yang mendengar itu pun langsung melemparkan botol soda kosong ke kepala arqan.
"aku tidak takut air, aku hanya malas karena kebanyakan makan hari ini." ucap tahta mencari alasan yang bagus.
Mereka pun meninggalkan tahta. Dia tidak sendirian di tepi pantai, ada nein menemaninya.
"ayo main voli air." rachel dapat bola dari pengunjung lain.
"yang kalah harus makan semangka sampai habis." timpal icha.
"waduh aku benci semangka berair." ucap arqan dalam hati.
Permainannya sederhana, saling oper bola, yang pertama jatuh dan yang jatuh 10 kali yang kalah. Jadi 2 orang akan menghabiskan semangka bersama sama.
Tahta menatap mereka dari kejauhan. Jujur saja dia sangat senang pada rachel. Gadis itu berhasil menarik hati arqan, menjauhkannya dari obsesi masa depan.
"kita tidak tahu bagaimana masa yang akan datang, karena itulah ada baiknya untuk menikmati masa muda sebelum usia tua datang."
"aku bicara dengan kucing... "
Nein bersikap biasa saja ke tahta.
Arqan memenangkan permainan. Rachel dan icha pun dihukum menghabiskan sebutir semangka. Tahta mengupas semangka itu lalu arqan menyiapkan stopwatch.
"yang lebih dulu habis dianggap juara kedua." arqan menjadi hukuman itu ajang kompetisi lagi.
"santai saja, ini perlombaan makan santai."
Rachel dan icha makan semangka secepat mungkin. Gigitan rachel lebih besar dari icha, membuatnya berhasil memenangkan lomba itu. Namun tak lama setelah itu rachel sakit perut.
Liburan akhir pekan pun berakhir setelah rachel keluar dari kamar mandi.
***
Di rumah rachel mengganti profilnya dengan foto dia dan icha setelah makan semangka. Merasa lelah rachel pun rebahan di kamar.
Ditatapnya kartu nama pemberian wanita tadi. Pujian wanita bernama irina itu membekas di hatinya. Apa benar aku secantik itu. Tanyanya dalam hati.
Tertarik dengan tawaran itu rachel pun segera menghubungi irina laurenz. Teleponnya diangkat dalam sekejap, seakan tahu kalau penelponnya adalah rachel.
"halo, saya ingin bicara dengan mbak irina laurenz. Tadi siang saya bertemu dengannya di pantai mentari."
[ iya dengan saya sendiri. Kamu sudah membuat keputusan? ]
"iya, saya mau ikut audisi. Tapi apa boleh saya minta bocoran serinya?"
"Seandainya saya terpilih sebagai pemeran wanita, saya tidak mau melakukan kontak fisik seperti berciuman atau semacamnya."
[ saya mengerti. Kami tidak akan menampilkan adegan seperti itu di platform indonesia. ]
Rachel menjadi lega, dia pun berjanji akan datang untuk audisi. Irina mengirimkan sharelock lokasi pendaftaran.
Keesokan harinya rachel mendatangi tempat itu di jam 9 pagi. Lokasinya agak jauh berpotensi membuatnya terlambat kerja. Tapi dia yakin bos arqan tidak akan memarahinya hanya karena terlambat.
Rachel sampai di tempat pendaftaran. Dari luar studio itu tampak lebih bagus dari imajinasi rachel. Di seberang jalan yang cukup sempit berdiri papan reklame yang menampilkan audisi tersebut.
Rachel dipanggil oleh resepsionis saat masuk studio lalu ditanya apakah datang untuk mendaftar audisi.
Setelah mendaftarkan diri rachel langsung diantar ke ruang audisi. Audisi yang tiba-tiba itu membuat rachel gugup setengah mati. Dia belum berlatih sedikitpun untuk hari ini.
Diantara 3 orang yang duduk di belakang meja panjang bertuliskan juri, ada mbak irina, si bos berkumis, ada seorang artis sinetron.
__ADS_1