
Pagi hari yang cerah.....
Pukul 08.00
"Dira, tolong tata kuenya di kotak itu..." ucap ibu Desi kepada Dira atau Anindira Maheswari,
"Baik bu." Dira melaksanakan perintah sang ibu.
Yah pagi cerah ini Ibu Desi dan Dira tengah sibuk mempersiapkan pesanan kue nikahan milik seseorang, setelah semua selesai mereka bersiap untuk mengantarkan nya.
"Oh ya, Dira hari ini libur bu soalnya guruku ada yang nikahan." ucap Dira sepertinya ibunya sempat heran sebelum membuat kue tadi.
" Oalah ibu pikir apa.." ucap Ibu, setelah mereka siap. mereka pun pergi mengantarkan pesanan kue.
Sampai Disana.
"Permisi Bu...."
"Eh ibu Desi, ini pesanan kue saya?" ucap seorang wanita yang memakai Dress panjang berwarna abu abu berkilau.
"Iy bu, totalnya 200 ribu." ucap Ibu, Ibu itu menerima pesanannya tapi ia sempat menatap Dira yang masuk membawa kue pesanan ke dalam.
Saat Dira masuk...
"Tadi itu anak ibu yah?" tanya ibu itu
"Iya, Namanya Dira bu." ucap bu Desi.
Sempat juga ibu itu termenung sebentar lalu,
"Ibu saya boleh minta tolong?" tanya Wanita itu menatap Bu Desi dengan serius.
"Tolong apa bu?" tanya Bu Desi, Wanita itu menghela nafas lalu mengatakan. " Apa ibu mau menikahkan putri ibu dengan putra saya yang jadi mempelai." ucap wanita itu sontak membuat Bu Desi kaget dan Dira yang baru selesai tersentak.
"Maksud ibu bagiamana?" tanya Bu Desi tidak paham, dan masih kaget.
"Sebelumnya saya monta maaf karena begitu lancang menanyakan akan hal tadi, tapi tolong bu acara pernikahan ini bisa berantakan."ucap wanita itu penuh rasa sedih.
"Maksud ibu acara ini akan berantakan bagaimana?" tanya lagi Bu Desi, Wanita itu pun menceritakan kejadian yang sempat terjadi...
"Sebelum Acara dimulai, tiba tiba calon pengantin Wanita saat di rias pingsan. Kami memanggil dokter,dan kami terkejut karena kata dokter ia kelelahan saat ia sedang hamil. ditambah lagi tiba tiba seorang pria datang mengaku sebagai ayah bayi itu..." jelasnya.
"Tolong bu didalam anak saya sampai menangis, dan juga undangan sudah tersebar jika tidak di laksanakan kami harus menahan malu." ucapnya lagi sedih mengingat bagaimana anaknya tadi begitu kaget dan menangis.
Bu Desi merasa kasihan lalu ia menatap putrinya yang dari tadi diam.
__ADS_1
"Huft...Dira....Dira tidak tahu Dira masih SMA bu, takutnya malah jadi merepotkan." ucap Dira menatap Ibunya.
"Hiks saya mohon Nak..." Wanita itu menangis dan memohon, melihat ini Dira tidak tega melihatnya .
"Baiklah Dira mau tapi terserah ibu..." ucap Dira menatap Ibunya..
"Baiklah Bu saya setuju, tapi kami terserah anak ibu setuju atau tidak." ucap Bu Desi, mendengar akan hal itu Wanita itu senang dan bersamaan seorang gadis kecil umur 9 tahun berlari ke arah mereka.
"Nenek, Om Rafael pingsan." ucapnya membuat wanita itu kaget, wanita itu pun meminta mereka masuk dan mereka langsung ke kamar anak Wanita ini.
Saat Dikamar.
Wanita itu langsung masuk dan duduk di samping anaknya yang pingsan, "Astaga Rafael nak...." Wanita itu khawatir dia mengelus lembut rambut putranya yang terbaring pingsan..
"Emh...Bun.." Putranya membuka mata, lalu ia duduk dan memeluk Wanita itu dengan sebutan Bunda dan ia menangis.
"Nak..." Ibu itu sedih menatap anaknya ini,
"Nak Acara harus tetap berjalan jika tidak kita akan menahan malu." ucap Bundanya anaknya menatap lalu...
"Siapa akan jadi pengantin wanita Bunda, Ia sudah pergi ia mengkhianatiku..." ucapnya masih dengan derai airmatanya...
"Bunda tahu, Bunda sudah siapkan Calonnya." Ucap Bundanya lalu...
"Bu Desi silahkan masuk bu ajak juga anaknya." ucap Bunda, Bu Desi dan Dira pun masuk dan...
"Pak Rafael..."
Keduanya kaget bukan main kala melihat satu sama lain,
"Nak Dira yang akan menjadi pengantinnya." ucap Bundanya.
Rafael terdiam sambil menatap Dira yang menunduk meremas jarinya,
"Rafel Mau Bunda.." Ucapnya semua yang mendengar gembira.
Mereka pun segera mempersiapkan keduanya,Setelah siap mereka pun dibawa ke depan dan acara pun dimulai.
Selesai Acara.
Kini mereka berada di kamar yang tadi hanya berdua namun hanya diam penuh kecanggungan suasana, Hingga Bunda datang.
"Dira Nanti kamu pakai ini yah, kalau pakai itu nanti kamu ribet." ucap Bunda, Dira mengangguk.
"Dan mulai sekarang panggil Bunda no tante Bibi atau apapun paham." ucap Bunda lagi dan Dira menjawab iya sambil tersenyum, Bunda lalu keluar.
__ADS_1
Dira perlahan bangkit lalu, melepas beberapa hiasan yang menempel sempatjuga ia lirik Rafael gurunya yang hanya diam melamun.
*Duh Canggung banget ya ampun... Batin Dira gugup.
Puk..
Rafael terkejut lalu menatap Dira,
"Emh bapak tidak mandi?" tanya Dira
"Tidak, kamu kalau mandi mandilah tidak usah ijin. lagian tidak di sekolah." ucap Rafael perlahan melepas jasnya dan melipat lengan kemejanya.
"Emh iya.." ucap Dira lalu langsung pergi mandi menganti baju karena gerah lagian acara lanjutnya nanti sore, Rafael memutuskan tidur menenangkan pikirannya.
Skip Sore hari.
Dira di persiapkan kembali dengan polesan make up tipis dan beberapa perhiasan kecil menempel pada dirinya, sedangkan Rafael sudah siap dengan jas abu abunya dan tatanan rambit yang rapi.
Setelah siap mereka pun keluar untuk menyambut para tamu yang sudah berdatangan.
"DIRA..."Sebuah suara melengking tepat di telinga Dira, membuat Dira menoleh dan menatap Sahabatnya Kiran datang dengan Drees Pink dan juga perut buncit membuat Dira Melongo.
Kiran berlari kecil dan memeluk Dira yang masih kaget,
"Kiran jangan lagi, nanti bayi nya kenapa napa." ucap seorang pria berbadan tegap yang juga di kenal Dira.
"Wah ternyata kamu yah yang jadi pengantin gak nyangka banget.." oceh Kiran lalu...
"Perut mu kenapa Kiran dan siapa yang hamilin kamu?" ucap Dira beruntun kaget, Kiran sadar lalu ia...
"Aku hamil dan aku udah nikah, Pak Xander suamiku." ucap Kiran dengan senyuman lebar.
Dira melirik Pak Xander yang berwajah datar, guru rada killer berwajah datar, orang tegas dan dingin.
"Berapa umurbaby mu?" tanya Dira.
"Baru 5 bulan, kalau nikah dah 7 bulan yang lalu pas liburan." ucap Kiran.
"Gak ngundang.." ucap Dira datar, Kiran hanya cengar cengir.
"Selamat yah dan cepat susul punya Baby nya yah.." ucap Kiran dan dijawab hanya dengan senyuman tipis Dira.
"Dah turun duduk anteng dan nikmati hidangannya." ucap Dira, Kiran mengangguk lalu turun bersama suaminya Pak Xander.
*Pantes kagak masuk 2 bulan ini, tapi kok bisa Kiran bisa mau nikah mah Pak Xander si guru serem.." Batin Dira geleng kepala.
__ADS_1
Bersambung.