Nikah Dadakan Dengan Guru

Nikah Dadakan Dengan Guru
NDDG\\28{Kesedihan Kiran}


__ADS_3

Setelah kejadian itu tidak ada lagi kejadian di mana Ibu Raden datang, karena mungkin baru sebulan yang lalu pergi meninggalkan Raden.


Aku skip yah maaf..


7 Bulan kemudian.


Kandungan Dira mengapai 7 bulan dan tentu perutnya makn membesar dan Raden sekarang berumur 13 bulan atau 1 tahun lebih 1 bulan dan tentunya sudah bisa berjalan bahkan suka berlarian, dan Vier umurnya 8 bulan dan juga sudah bisa merangkak.


Pagi yang cerah.


Dira dan Raden dirumah dan Rafael kerja di sekolah tentu menjadi guru. Dira tengah menjemur dan Raden berlarian kesana kemari menarik mobil mobilannya.


"Raden awas jatuh loh yah." ucap Dira memperhatikan Raden,


"Iya Buna.." ucap Raden bermain hingga sebuah motor ojek berhenti di halaman rumah mereka.


"Makasih yah pak." ucap seorang perempuan memberikan uang kepada pak ojek, setelah itu pak ojek pergi.


"Tata Den.." ucap seorang bayi mungil di dekapan perempuan itu, Raden berhenti dan menatap bayi mungil itu sambil tersenyum lebar.


"Dira apa kabar?" tanya perempuan itu yang tak lain adalah Kiran, Dira tersenyum dan mengatakam bahwa ia baik baik saja maupun anak dalam kandungannya.


"Dede Viel ayo main mobil.." ucap Raden membawa mobilnya menuju Vier yang duduk di rumput.

__ADS_1


"Yoyo.." ucap Vier gembira, kedua anak ini pun bermain bersama dengan riangnya.


Dira habis menjemur membuat Minuman lalu membawanya di teras sambil ada cemilannya juga.


"Berapa bulan Dir?" tanya Kiran


"7 Bulan Kiran." ucap Dira, keduanya pun bercanda canda ria bersama sambil mengawasi anak anak yang bermain bersama.


"Oh ya Dir kamu maunya punya anak berapa?" tanya Kiran


"Kalau yang ini lahir perempuan cukup dua aja tapi kalau gak yah paling banyak yah 3 aja." ucap Dira ia pernah membahas hal ini dengan Rafael.


"Oalah." ucap Kiran sambil menganggukkan kepala


"Kamu Kiran berapa?" tanya Dira, Kiran tersenyum lalu menatap Vier.


"3Bulan yang lalu Rahim ku hancur Dir.." ucap Kiran menahan tangis, Dira terkejut mendengar akan hal ini dia segera memeluk Kiran.


"Ma..maksudnya gimana?" ucap Dira.


"3 Bulan lalu waktu aku, Mas Xander dan Vier perjalanan ke kota C untuk kerumah keluarga Mertuaku. Di perjalanan kami mengalami kecelakaan, kami tertabrak mobil di jalur lawan akibat mobilnya ugal ugalan." jelas Kiran menahan tangis.


"Dan... disaat itu juga ternyata aku hamil baru 2 bulan Dira...Aku keguguran sekaligus kehilangan Rahim ku hiks..." ucap Kiran dan menangis, Dira memeluk sahabatnya erat dan menahan tangisnya.

__ADS_1


"Sabar Kiran." ucap. Dira memeluk sahabatnya erat.


"Aku juga ingin punya anak perempuan Dira hiks..ta..tapi.." Kiran menangis dan itu terlihat oleh anak anak Vier yang melihat bundanya menangis merangkak menuju Bunda Kiran.


"Buna yayan anyis.." ucap Vier matanya berkaca dan pipinya kembang kempis, Kiran menatap Vier dan memeluknya kini anak satu satunya adalah Xavier.


"Kiran jangan sedih, jika aku punya anak perempuan kita rawat bersama anggap saja juga ankmu.." ucap Dira, Kiran menatap Dira tidak percaya dan tersenyum.


"Makasih Dira hiks..." ucap Kiran tersenyum, Dira mengangguk. Tanpa sadar ada dua orang pria mengawasi mereka.


"Sabar Xander, gw yakin Kiran bakal balik lagi kayak dulu." ucap orang itu yang tak lain Rafael ,Rafael menepuk pundak Xander.


Xander menghela nafas dan mengangguk ia menghampiri kedua perempuan itu.


"Kiran.." panggilnya, Kiran menatap suaminya.


"Gpp, kita masih punya Vier kan.." ucap Xander mengelus lembut kepala Kiran dan Vier.


"Yaya...Tue Iel anya?" tanya Vier polos, Xander memukul dahinya oelan kelupaan beli kue coklat pesananan anaknya.


"Maaf ayah kelupaan, bentar ayah beliin dulu. Raden mau juga dibeliin kue coklat?" tanya Xander tawar,


"Tue Coklat uga au, ama Tue amond buat dede ayi di peyut Buna.." ucap Raden mengelus perut buncit Bunda Dira.

__ADS_1


"Baiklah pesanan akan segera siap, lo Fael ikut gw.." ucap Xander menyeret Rafael kalau tidak begini makan Rafael tidak mau ikut.


Bersambung.


__ADS_2