
Lanjut kebanyakan skip gpp kan, ide ku kehabisan hehee....
.
.
.
.
2 Bulan kemudian, Tepatnya kandungan Dira mengapai 9 bulan Dira sering kecapean kadang jadi sering diwanti wanti Rafael.
Hingga suatu hari..
"Buna duduk ish Buna..." Raden dari tadi mengoceh karena ia tahu sang Bunda sering kecapean selain menjaganya juga membersihkan rumah, Dira yang melihat Raden yang kesal karena dirinya hanya terkekeh.
"Laden buatin cucunya ulu, Buna duduk nda oleh elak.." ucap Raden berkacak pinggang memasang wajah marah, Dira mengangguk dan duduk anteng di kursi meja makan.
Raden membuat susu secara perlahan, Ia mengambil gelas yang biasanya dibuat untuk Bundanya minum susu kehamilan.
__ADS_1
Setelah itu Raden mengambil susu ibu hamil bagaimana Raden bisa membedakan? karena setiap ayahnya membuat susu untuk dirinya dan Bundanya berbeda tempat.
Susu Raden di tempat warna biru dan bundanya warna kuning, Raden pernah bertanya kayak gitu.
Setelah menuangkan susu seperti ia lihat ayahnya membuat ia menuangkan air panas perlahan lahan dari Tumbler (bener gak sih lupa.). Air panas setengah gelas lalu ia aduk setelah itu campur air biasa dan jadihal susu hangat buatan kakak Raden.
"Udah celecai, cekalang Buna minum." ucap Raden, Dira tersenyum dan mengecup pipi Raden dan mengucapkan terima kasih. Dira pun minum rasanya seperti biasa ia minum putranya memang pintar membuat.
"Udah selesai nih bunda minum, bolehkan Bunda siram bunga." ucap Dira menggoda seketika wajah Raden merengut dan melarang kembali, "Nda oleh bial laden Buna duduk anyeng.." ucap Raden perlahan turun dari kursi dan berjalan ke halaman rumah untuk menyiram bunga.
Dira mengikuti dari belakang, sampai disana..
Raden mengambil selang yang sudah tertancap pada kran air, lalu ia menyalakan Kran air dan menyiram bunga seperti ia pernah perhatikan sang Bunda menyiram.
"Nda oleh titik, Buna duduk.." ucap Raden lalu kembali fokus menyiran bunga, Dira tersenyum dan geleng kepala melihat anaknya menjadi posesif mirip sang ayah.
Beberapa menit kemudian.
Menyiram sudah selesai, Raden mematikan lalu masuk ke dalam ia mencari sang Bunda dan ternyata Bunda tengah memasak makan siang.
__ADS_1
"Buna..." Raden merengut, Dira menoleh dan terkekeh.
"Gpp sayang kalau Bunda tidak masak kita makan siang gimana?" ucap Bunda Dira memberi pengertian, Raden mengangguk lalu duduk di kurso meja makan.
Selesai memasak mereka pun makan siang bersama,
"Abis maam, ita tidul nda oleh noyak Buna." ucap Raden memberi ketegasan. Dira mengangguk dan sesekali terkekeh, setelah mereka makan siang mereka pun tidur siang seperti permintaan Raden tanpa di ganggu gugat.
Sore hari.
"Ayah pulang.." Rafael membuka pintu namun terasa sepi, Rafael langsung menuju kamar ternyata Dira dan Raden sedang tidur seperti capek.
Rafael tersenyum ia meletakkan tasnya lalu segera memasak makan malam, mendengar alat masak beradu Dira terbangun.
Dira mengumpulkan kesadaran dan terkejut kala melihat jam sudah sore hari, dengan cepat ia beranjak dan berjalan ke dapur untuk memasak makan malam.
"Loh mas.." ucap Dira, Rafael menoleh lalu fokus lagi.
"Udah mandi, Mas aja yang masak kamu banyak istirahat jangan kecapean." ucap Rafael Dira memasang wajah datar dan...
__ADS_1
"Ayah sama anak sama sama Posesif, tadi anaknya dilarang gerak aku sekarang Ayahnya." ucap Dira masuk ke kamar ngambek, Rafael terkekeh ia tahu apa yang terjadi saat di sedang bekerja.
Bersambung.