
Keesokan paginya, Pukul 3 pagi.
Dira bangun dari tidurnya sambil mengumpulkan kesadaran ia menoleh ke arah Rafael yang masih menjelajahi alam mimpinya, setelah kesadaran terkumpul Dira memutuskan cuci muka lalu membersihkan rumah.
Pukul 4.00 pagi
Pekerjaan selesai tinggal masak aja, Dira pergi ke dapur ia membuka kulkas dan melihat bahan apa saja yang bisa ia masak untuk sarapan pagi.
"Hem...Masak nasgor aja deh cuma ini aja bahannya." gumam Dira, ia pun mulai memasak dengan semangat.
30 menit kemudian.
Dira telah selesai memasak ia menatanya di meja makan, setelah itu pergi mandi.
Selesai mandi.
Sudah siap dengan seragamnya, Dira membangunkan Rafael.
"Pak bangun, sudah pagi.." ucap Dira sambil menggoyangkan tubuh Rafael, Perlahan mata Rafael terbuka dan menggumpulkan kesadarannya.
"Sarapan sudah siap, Bapak tinggal mandi aja." ucap Dira, Rafael mengangguk dia pun mengambil handuk tapi sebelum itu...
"Dira saya bawa bekal, dan juga jangan panggil bapak jika dirumah panggil Mas aja." ucap Rafael dibalas anggukan Dira.
Rafael pergi mandi, Dira mempersiapkan kebutuhan Rafael.
Pukul 5.30
Mereka telah siap dan kini tengah sarapan bersama di meja makan, selesai sarapan mereka bersiap memakai sepatu.
Setelah siap mereka berangkat ke Sekolah.
Perjalanan.
"Pak eh maksudku Mas nanti saya turunkan di halte bus saja, biar temen yang lain tidak tahu." ucap Dira,
"Iya." ucap Rafael sambil fokus mengendarai sepeda motornya.
Sampai di Halte bus.
__ADS_1
Dira turun dan bersamaan....
"Dira..." Kiran datang memeluk Dira, Dira heran menatap Kiran kok sekolah.
"Dira ttp Kiran, lrng dia kalau pecicilan." ucap Pak Xander datar menatap istri kecilnya yang tadi pagi merengek sekolah, Kiran hanya tersenyum manis lalu mengecup pipi Pak Xander.
"Baik Pak." ucap Dira.
Setelah kedua guru itu pergi atau kedua suami mereka pergi duluan mereka pun berjalan menunju sekolah mereka.
Sampai di Sekolah.
Banyak yang menatap ke arah mereka terutama Kiran yang sudah dua bulan tidak masuk, kini masuk dengan perut buncit.
"Kenapa sih mereka lihat Kiran gitu?" ucap Kiran heran dan tidak sadar Dira hanya geleng kepala kenapa tiba tiba sahabatnya jadi....
"Haish Kiran, kamu lupa sudah dua bulan gak masuk eh masuk masuk dah buncit aja perutmu." jelas Dira, Kiran hanya cengar cengir dan mereka lanjut ke arah kelas mereka hingga.
Bruk..
Seseorang sengaja menyenggol bahu Dira agak kasar,
"Pagi cupu..." ucap seorang gadis yang seumuran dengan mereka.
"HEH..." Kiran terpancing namun ditahan Dira karena takut kenapa napa apa lagi Kiran tengah hamil.
"Biarin Kiran, kita kekelas aja..." ucap Dira, mereka kekelas tanpa peduli kedua orang gadis yang sengaja mencari ribut.
Dikelas.
Keduanya duduk sambil bercanda hingga seorang laki laki mendekati mereka lalu...
"Dira ini buat lo.." ucap nya, Dira menoleh ternyata Damian cowok basket Dira menatap coklat itu lalu.
"Emh...Makasih." ucap Dira menerimanya,
"Nanti pulsek mau bareng?" tawarnya. Dira bingung harus menjawab apa.
"Eh gak bisa Dam, Dira bareng gw..." ucap Kiran membantu, Damian hanya menjawab oh sebelum pergi dia mengacak rambut Dira lalu pergi.
__ADS_1
"Masih naksir ternyata ama Lo Dir." ucap Kiran menatap Damian yang pergi, Dira hanya angkat bahu saja lalu menyimpan coklat di Loker bawah mejanya.
Namun di lain tempat tapi dekat kelas...
Seorang Pria berbadan tegap dan seorang guru diam di depan pintu sambil menatap ke arah Dira dan Kiran yang bercandaan, dia ia melihat semua dari Damian memberi coklat sampai Damian pergi.
Hingga keberadaannya di sadari salah satu siswa.
"Eh woy diem ada Pak Rafael." ucap ia, semua menoleh dan langsung ketempat duduk masing masing dan bel berbunyi.
"Selamat pagi semua.." sapa Pak Rafael.
"Pagi Pak." jawab semua.
"Kita lanjutkan pelajaran kemarin, lanjut pelajaran Struktur teks Eksposisi." ucap Pak Rafael, ia mulai menerangkan.
Sekitar ada 2 jam waktu Pak Rafael, setelah itu diganti guru lain satu jam, setelah itu mereka pun istirahat.
Kring..
Bel berbunyi Semua berhamburan keluar kecuali Dira dan Kiran mereka makan di kelas saja.
Sedangkan di Ruang guru.
Rafael makan bekal yang dibuat Dira tapi sambil melamun hingga tepukan pundak menyadarkannya,
"Napa ngelamun, gegara Dira dikasih coklat ama Damian?" celetuk Xander sambil makan siang juga.
"Gk tahu." ucap Rafael memberi suapan pada mulutnya,
"Cemburu." ucap lagi Xander dan Rafael menatapnya.
"Gak mungkin." ucap Rafael.
"Jangan beri dia harapan, Hatinya pernah hancur 2 kali." ucap Xander.
"Maksud?" Rafael tak paham lalu..
"Dira pernah menyukai seseorang tapi nyata dia sendiri nenghancurkannya, maksudnya Orang pertama tidak menerima Dira karena Dira miskin kurang cantik dan ia hanya memanfaatkan Dira karena Dira pintar. Kedua Dira menyatakannya namun ia ditolak dengan hinaan." jelas Xander, Rafael diam lalu menghela nafas.
__ADS_1
"Kau belum bisa membuka hati pada Dira karena belum bisa melupakan dia." ucap lagi Xander, Rafael tetap diam kepala nya hampir pecah menggingat kejadian di hari pernikahannya hingga menikah dengan Dira.
Bersambung.