
"Selamat Dira udah jadi ibu." ucap Kiran memeluk sahabatnya,
"Makasih Kiran."balas peluk Dira.
Kiran menggendong Dede Dafi dengan syarat dari Raden adeknya jangan dibawa pergi, Kiran terkekeh mendengar syarat Raden.
"Kenapa kalau tante bawapergi?" tanya Kiran
" Laden ngambek ama tante." ucap Raden menggembangkan Pipi, Kiran mengangguk lalu menatap Dafi perlahan air mata Kiran menetes kala mengingat dia sudah tidak bisa hamil kembali.
Xander menyadari Kiran yang sedikit menangis, perlahan ia menghapus air mata Kiran.
"Jangan diingat." ucap Xander, Kiran mengangguk dan tersenyum tipis.
Mereka pun berbincang bincang dan bercanda ria bersama sama, sesekali juga membuat Raden menangis namun bukan Raden yang menangis tapi Vier. Katanya kasihan Kakak Raden nanti sedih, dan itu membuat mereka tertawa melihat kelakukan anak anak mereka yang menggemaskan ini.
Skip, 4 Tahun kemudian.
Tak terasa sudah 4 tahun berlalu dan Anak anak mulai tumbuh, Vier dan Dafi berumur 4 tahun dan kakak mereka Raden berumur 5 tahun.
Mereka sudah memasuki area sekolahan.
Pagi yang cerah.
__ADS_1
Dafi dan Raden satu kamar bersama, terkadang juga tidur bersama orangtua mereka.
"Dafi adek bangun, pagi sekolah.." Goyang Raden membangunkan Dafi, perlaham Dafi tersadar dan menatap Raden.
" Kakak..." ucap Dafi,
"Ayo mandi.." ucap Raden mengajak Dafi mandi.
Raden menarkk Dafi kekamar mandi memandikan Adik kecilnya ini, semenjak Dafi mulai umur 2 tahun Raden membantu Bundannya mengurus Dafi dikala pagi karena terkadang Bundanya sedikit kerepotan.
Selesai mandi.
Mereka telah siap dengan seragam TK dan PG mereka, dan sekarang mereka bergandeng menuju meja makan.
"Pagi.." jawab Rafael dan Dira.
Dira memasukkan kotak bekal anak anak ke dalam tas mereka,
"Diantar ayah atau Bunda?" tanya Rafael.
"Emh Ayah.." ucap Keduanya bersamaan. Rafael mengangguk mereka sarapan dengan tenang di meja makan.
"Ayah ayah tahu kemarin Vier berantem sama anak kelas lain, gara gara Vier dibilang kulkas. tapi emang nyata sih soalnya Vier itu dingin banget." ucap Dafi, tapi orangtuanya terkekeh mendengar akan hal itu. Bagaimana tidak jadi kulkas lah bapaknya aja kulkas tapi kalau masalah berantem pasti menang Kiran.
__ADS_1
"Namanya juga Anaknya Om Xander, kalian tahukan kalau Om Xander itu rada Dingin." ucap Dira, Kedua anaknya menggangguk.
Selesai sarapan mereka berangkat ke sekolah, sampai di sekolah Taman kanak kanak.
"Gak boleh nakal loh yah, Dafi jadi anak baik, dan Raden hindari anak perempuan kalau tidak mau dikejar kejar kayak kemarin." ucap Rafael, Raden mengangguk. Raden cukup populer di kalangan anak perempuan.
Kemarin aja untuk hindari anak anak perempuan, dia harus manjat pohon deket sekolahnya kalau tidak jadi kejaran anak perempuan.
Dan bersamaan Vier datang bersama Ayahnya.
"Vier jangan berantem lagi, kalau tidak mau Bunda mu mengomel kayak kemarin." ucap Xander mengelus kepala anaknya, Vier hanya mengangguk saja dengan wajah dajarnya.
"-_ salah cetak kayaknya." gumam Xander menatap anaknya masuk bersama Dafi dan Raden,
"Bukan salah Cetak, tapi emang keturunan." celetuk Rafael seera naik sepeda motor dan pergi sebelum terkena omelan Xander.
Di sisi Ibu mereka.
Dira dan Kiran sekarang lagi berbincang di sebuah taman,
"Sungguh aku bingung banget Dir, anakku kyk es kayak bapaknya tapi yah suka berantem..." ucap Kiran, tapi Dira tertawa.
"Lah bukannya udah keturunan, esnya kayak Pak Xander dan nakalnya kayak kamu." ucap Dira tertawa, dan Kiran hanya cenggengesan saja.
__ADS_1
Bersambung.