
Pulang sekolah.
Dira dan Kiran berjalan menuju Halte bus.
Haltebus.
Dira dan Kiran menunggu suami mereka sambil bercanda, tak lama kemudian suami mereka sampai mereka pun berpisah jalan.
Sampai Rumah.
Dira pergi mandi dan berganti baju lalu melakukan perkerjaan Rumah sedangkan Rafael sedari tadi fokus dengan laptopnya entah sedang apa yang ia kerjakan, Dira membersihkan dengan telaten.
"DIRA BUATKAN SAYA KOPI GULA DIKIT AJA.." Teriak Rafael,
"IYA.." jawab Dira. ia bergegas mrmbuat kopi untuk Rafael sesuai permintaan Kopi dengan Gula sedikit sudah selesai, ia segera membawanya ke kamar menuju Rafael.
"Mas ini kopinya." ucap Dira
"Taruh sini." ucap Rafael, Dira meletakkannya di samping meja kecil dekat Rafael lalu lanjut untuk menjemur pakaian.
Di depan Rumah.
Dira sibuk menjemur dan beberapa tetangga berbisik tentangbya entah apa itu,
"Eh kamu istrinya Pak Rafael yah?" ucap salah satu tetangga depan rumah.
"Iya bu." jawab Dira sambil tersenyum, sambil berjemur dan berbincang dengan tetangga tak masalah hal itu menyenangkan hingga sebuah telinga menangkap perbincangan Dira dan Tetangga.
"Dira sudah menikah?Pak Rafael?" Gumam orang itu sambil menatap Dira dari jauh yang habis menjemur dan masuk ke dalam rumah.
Skip Malam hari.
Malam hari telah tiba kini mereka makan malam bersama dengan nikmat,
"Dira.." Panggil Rafael
__ADS_1
"Iya Mas, ada apa?" jawab Dira menatap Rafael.
"Hubungan mu dengan Damian apa?" tanya Rafael balik tatap Dira serius, Dira menelan suapannya perlahan lalu...
"Kami hanya teman." ucap Dira.
"Teman?" Rafael berucap lirih dan bergelut dengan pikirannya dan menjadi tak fokus makan malamnya membuat Dira heran,
"Memang kenapa Mas?" Tanya Dira Rafael tersadar dia mengatakan bahwa ia hanya bertanya saja.
Dira mengangguk selesai makan malam, Dira mencuci semua alat sehabis makan malam, selesai mencuci Dira masuk kamar ia melihat Rafael sudah tidur mungkin lelah.
Dira mempersiapkan buku, tak lupa ia belajar sebentar.
15 menit kemudian.
Dira telah selesai ia membereskan semuanya lalu ia merebahkan tubuhnya dan mulai memejamkan matanya.
Keesokan paginya.
Setelah mereka siap mereka sarapan bersama dengan tenang, selesai sarapan sebelum memakai sepatu Dira mempersiapkan bekal untuk Rafael dan dirinya.
Setelah siap mereka berangkat ke sekolah.
Di perjalanan.
Tepat lampu merah berhenti, Rafael fokus namun kefokusannya teralihkan kala melihat sampingnya sebuah mobil sedan dengan kaca samping turun memperlihatkan seorang perempuan mempunya paras cantik rambut terurai bersama seseorang di sampingnya yang tak lain adalah suaminya.
"Dia..." Rafael bergumam lirih dan menatap samping terus, dan perempuan itu juga melihat Rafael keduanya terdiam.
Lampu telah hijau.
"Pak Lampunya hijau." ucap Dira menyadarkan Rafael, Rafael sadar lalu lanjut perjalanan dan perempuan tadi diam dan tertegun menatap Dira yang di belakang Rafael.
Tapi yang membuat ia gagal fokus adalah Cincin yang sempat tak sengaja ia lihat di jari manis Rafael, Cincin pernikahan.
__ADS_1
"Dia menikah?" ucapnya lirih.
Sedangkan di sisi Rafael.
Halte bus.
"Dira nanti kamu pulang naik bus saja ssya ada urusan mendadak." ucap Rafael lalu langsung pergi tanpa menunggu jawaban Dira, Dira heran ada apa dengan Rafael tidak biasanya dia begitu.
Hingga Tepukan di pundaknnya menyadarkan Dira.
"Kenapa Dira?" tanya Kiran baru sampai, Dira menggelengkan kepalanya bahwa tidak ada apa apa.
Setelah itu mereka pergi berjalan ke arah sekolah.
Sedangkan di sisi Rafael.
Rafael diam saja sedari tadi sambil fokus dengan laptop, tapi pikirannya terus terusik oleh wajah seseorang di pikirannya membuat ia frustasi.
"Kenapa Kau Rafael?" tanya Xander baru saja sampai,
"Dia..." Rafael menghela nafas menginggat kejadian di lampu merah tadi.
"Lu ketemu dia?" ucap Xander menebak, Rafael mengangguk.
"Lupakan dia Rafael, lu udah nikah udah ada Dira. ingat Dira istri lu sekarang hargai dia. jangan sampai lu jadi orang ketiga yang bakal hancurin hati Dira." Ucap Xander memberi nasihat.
"Maksud" Rafael tak paham...
"Kgk peka, Dira mau membuka hati untuk suaminya." ucap Xander
"Jika lu hancurin kepercayaan Dira yang ini, tiati lu nyesel." ucap Xander tak peduli Rafael suka atau gak dengan Dira cuma memperingatkan saja.
Rafael diam pikirannya bingung harus apa.
"Jadi laki laki yang tegas Rafael, kasihan Dira." celetuk salah satu guru ia tahu kejadian yang ditimpa Rafael, guru itu juga kasihan pada Dira.
__ADS_1
Bersambung.