
Keesokan harinya.
"Yak Dira jangan marah dong Mas minta maaf..." bujuk Rafael, karena melakukan hal kemaren tanpa ada persetujuan dari Dira. Membuat Dira ngambek bagian bawahnya masih sakit akibat 2 hari lalu malah ditambah kemaren jadi tambah sakit.
"Masih sakit loh mas..." ngambek Dira sambil pakai sepatu sambil menengkuk wajahnya, Rafael bingung lalu terlintas satu Ide di kepalanya.
"Nanti mau ikut mas gak kesuatu tempat habis pulang sekolah?" tawar Rafael namun hanya di jawab deheman oleh Dira.
Setelah itu mereka pun berangkat ke sekolah.
Sampai di sekolah, seperti biasa Dira turun di halte bus dan Rafael pergi ke area sekolah terlebih dahulu baru si Dira dengan keadaan masih marah dengan suaminya.
Di kelas.
Dira duduk sambil baca novel hingga seseorang datang dan duduk di depannya sambil memandanginya,
"Dira kenapa leher mu ada tanda merah?" ujar orang itu yang tak lain adalah Damian yang masih ingin mendekati Dira.
Dira menatap datar Damian, "Bukan urusan mu." ujar datar Dira tanpa peduli Damian. Saat Damian hendak menyentuh tangan Dira, dengan segera Dira tepis.
"Pleesa Dam jangan ganggu aku, aku udah Punya." ucap tegas Dira karena sudah mulai risih dengan kelakuan Damian.
"Tapi lo kan bisa putusin dia Dir.." ujar Damian kekeh, Dira hanya memutar mata malas.
"Maaf aku sudah di lamar dengan dia." ujar Dira menunjukkan cincin pernikahannya dengan Rafael.
Deg...
Jantung Damian seakan berhenti melihat Cincin yang telah bertengger di jari manis Dira, hingga bell pun berbunyi Damian pergi ketempat duduknya namun masih dengan rasa kaget dan sakit hatinya.
*Ternyata Dira udah di lamar, berarti gw udah keduluan. Batin Damian kecewa sudah lama dia mengejar Dira namun ternyata Dira sudah di miliki orang lain maksud hampir itu menurut Damian.
"Tapi gpp, masih lamaran blm nikah masih bisa di tikung." gumam Damian menggeluarkan smriknya sambil melirik Dira yang fokus dalam pelajaran.
__ADS_1
Skip Pulang sekolah.
Dira berjalan menuju halte bus karena menunggu Rafael, namun diam diam seseorang mengikuti Dira dari kejauhan.
Di sisi Dira.
Dira duduk sambil baca novel hingga...
Rafael telah datang, "Masih ngambek nih sama Mas?" ucap Rafael Dira menatap Rafael dan menggelengkan kepala.
Dira naik di motor Rafael lalu memeluk Rafael, Rafael tersenyum ia pun segera menjalankan motor menuju tujuan yang ia janjikan tadi pagi pada Dira. Sedangkan orang yang memata matai Dira tadi juga mengikuti mereka.
Kembali kedua Pasutri ini.
Tujuan.
"OM RAFAEL..." Seorang laki laki kecil berlari ke arah Rafael dan Dira, dan laki laki itu memeluk Rafael. Rafael tersenyum ia menggendong anak itu.
"Panti asuhan Pelangi." ujar Rafael, Dira menatap suaminya ini. Rafael hanya tersenyum lalu menarik tangan Dira untuk ke arah anak anak yang menunggu mereka kesana.
"Om Lafael Nini tangen." ujar seorang balita perempuan umur 3 tahun memeluk kaki Rafael,
"Nini udah besar yah, dulu Om kesini Nini masih merangkak loh.." ujar Rafael kini gantian menggendong Balita kecil itu.
Lalu Balita itu menatap Dira ia langsung merentangkan tangannya pada Dira sambil menampilkan senyuman manisnya,
"Ih nama mu siapa manis.." tanya Dira
"Nini Tante, Tante namanya ciapa?" tanya Balita kecil itu.
"Nama Tante Dira." ucap Dira, Balita itu mengangguk mereka pun bermain bersama. melihat itu Rafael tersenyum Dira tertawa bebas bersama anak anak panti dengan senyuman bebas dan bermain bersama.
Sedangkan dilain tempat.
__ADS_1
"Kenapa Dira memanggil pak Rafael Mas yah?" ucapnya orang itu yang tak lain adalah Damian, yah dia ingin tahu siapa calon Dira.
"Tapi tunggu tadi ku lihat di tangan kiri pak Rafael juga ada cincin pernikahan, dan cincinnya sama dengan Dira apa..." Damian tadi juga melihat cincin di jari Rafael dan berfikir...
Hingga hari pun menjelang sore, Rafael dan Dira pamit pulang.
"Iya hati hati kalian, cepet punya baby juga yah biar tambah rame rumah kalian.." ujar bu Panti, keduanya hanya tersenyum dan sedikit terkekeh. setelah itu mereka pun pulang.
Sedangkan Damian, ia malah tersentak kaget mendengar kalimat atau ucapan yang di lontarkan Bu panti asuhan. Ingin memastikan Ia pun berani mendekat dan bertanya pada Bu Panti.
"Permisi bu saya boleh bertanya?" tanya Damian, dan Bu Panti menginjikan.
"Saya tadi melihat guru saya maupun teman perepuan saya tadi, Pak Rafael dan Dira apa ibu kenal mereka?" tanya Damian.
"Yah saya kenal." jawab Bu Panti
"Maaf bu, tadi saya sempat mendengar ibu mengatakan cepat punya Baby juga yah biar rumah kalian tambah rame. Itu maksudnya gimana yah bu?" tanya Damian hati hati
"Loh Mas ndak tahu, saya pikir tahu Rafael dan Nak Dira itu udah suami istri 4 bulan lalu menikah. tapi kok mas ndak tahu?" tanya Bu Panti balik, Damian hatinya hancur berkeping keping.
"Saya waktu itu ada urusan jadi tidak tahu." jawab Damian tersenyum tipis, lalu pamit pulang.
Diperjalanan.
Damian memandang jalanan raya sambil mendengar perkataan Bu panti yang terngiang di kepalanya. Hatinya sakit kala mengibgat bahwa Dira sudah menikah dengan Pak Rafael.
Saat lampu merah.
"Kiran dekat dengan Dira, pasti dia udah tahu semuanya." ucap Damian, Damian niat ingin kerumah Kiran tapi tidak jadi karena Mamanya sudah menghubunginya agar cepat pulang.
Damian pun langsung pulang.
Bersambung.
__ADS_1