
Masih di posisi yang sama.
"Stutsss jan teriak Di." ucap Xyli, Adi mengangguk. Perlahan tangan Xyli membuka lalu.
"Dikamar pojok sana kamar sapa?" tanya Xyli.
"Damian,emang napa?" tanya balik Adi,
"Di dalem kamar Damian ada Dira." ucap Xyli dan hampir saja Adi teriak,dengan cepat Xyli menutup mulut Adi kembali.
"Kok bisa, gk mungkin Damian kyk gitu jangan Fitnah lo.." ucap Adi sinis, Xyli memutar bola matanya malas.
Lalu tanpa basa basi dia langsung menunjukkan Video kegiatan dimana Damian menculik Dira diam diam.
Adi terdiam melihat itu dan juga kaget, "Itu gak mungkin..." Ucap Adi tidak percaya.
"Serah lo percaya apa kagk yang penting, Damian udah terobsesi ama Dira. Dira udah tunangan."ucap Xyli bersedekap.
"Ok gw bantuin," ucap Adi menatap Xyli, Xyli mengulurkan tangan untuk membuat kesepakatan.
"Deal yah..." ucap Xyli, Adi menerima jabatan itu.
"Gw sama yang lain habis ini pergi balapan, jadi lo ke kamar Damian bawa Dira keluar. dan juga nih kunci cadangan kamar Damian, masing masing dari kita punya kunci cadangan." ucap Adi memberikan kunci itu,
__ADS_1
"Dan lo kabur arah selatan nih baskem, jangan utara." ucap Adi.
Xyli menerima kunci dan mengangguk dan tak lama kemudian terdengar Ryan memanggil Adi, Adi pun pergi keluar dan mereka bersiap akan pergi balapan.
Tak lama terdengar pintu terbuka tapi suaranya dekat dengan kamar Adi kemungkinan Kamar Ryan atau Damian tapi Xyli masih menunggu saat yang tepat.
Hingga terdengar suara motor berbunyi sepertinya Damian Dkk telah pergi, perlahan Xyli keluar dan mengintip lewat jendela.
Benar mereka pergi tapi Adi terakhir menjalankan motor dan diam diam memberi kode ke Xyli agar segera melakukannya, Xyli yang mengintip mengangguk.
Setelah melihat mereka pergi, Xyli mulai ke arah kamar Damian dan membuka kamar itu.
Ceklek..
Berhasil, Xyli masuk dan kaget melihat Dira yang tidur dengan keadaan terikat..
Dira memeluk Xyli dan Xyli membalasnya,
"Udah kita harus cepet keluar sebelum mereka balik ayo.." ucap Xyli, mereka pun lari lewat pintu depan tak lupa di kunci lagi agar tidak ada yang curiga.
Sesuai perintah Adi tadi mereka lari ke seletan dengan cepat, hingga sebuah motor berhenti di depan mereka.
"Dira.." Pas sekali Rafael yang tadi perjalanan telat karena macet akhirnya datang dan mereka berpapasan.
__ADS_1
Rafael turun dan langsung memeluk Dira, Dia takut Dira kenapa napa apa lagi Dira lagi hamil muda.
"Siapa menculik mu?" tanya Rafael khawatir, lalu ia menatap Xyli.
"Damian Pak, tadi saat saya di toilet saya melihat." ucap Xyli, Rafael mengangguk.
"Dan sekarang ayo pergi sebelum mereka pulang Pak." ucap Xyli, Rafael pun pulang bersama Dira. Dan Xyli naik taksi tak lupa ia mengirim pesan ke Adi bahwa rencana berhasil namun pirikarannya tiba tiba melayang dan baru sadar kok pak Rafael begitu khawatir sama Dira.
"Mereka punya hubungan kah?"Gumam Xyli berfikir.
Di sisi Dira.
Rumah....
Dira di kamar tapi dia sama sekali dilarang bergerak dari tadi Rafael yang bekerja sampai sampai mengomel karena Dira mulai bandel.
"Dira pokoknya kamu duduk anteng aja." ucap Rafael tegas tapi malahan Dira merengek lagi hingga menangis.
"Eh.." Rafael kaget melihaat Dira mennagis, saat hendak menenangkan Dira menjauh dan menangis.
"Dira mas minta maaf." bujuk Rafael.
"Dira bilang ke ibu kalau mas jahat." ucap Dira sesegukan, Rafael memeluk Dira langsung.
__ADS_1
"Jangan lah sayang, mas yah mas takut kamu kecapean atau apapun." ucap Rafael menjelaskan, Dira sesegukan dan hanya mengangguk.
Bersambung.