
Skip Sore hari.
Bunda dan Bu Desi sudah pulang, dan kini Rafael tengah memasak dan Dira hanya duduk lihat nunggu makan malam.
"Mas.." panggil Dira
"Hmm..." jawab Rafael.
"Tadi siapa sih?kok bisa nawarin Dira progam kehamilan." tanya Dira ingintahu, sempat Rafael menghela nafas.
"Dia dulu calon istri mas dan sekarang dah milik orang lain, untuk masalah progam kehamilan dia kena hormon bayinya makanya ke sekolah nawarin." jelas Rafael.
"Tapi kok tahu Dira udah Nikah sama Mas?" tanya lagi Dira.
"Katanya sih ada orang suruhan buat mata mata waktu pernikahan." lanjut Rafael, dan...
"Sudah siap.." ucapnya, dan kini tersajikan Nasi goreng telur mata sapi telah siap.
Mereka pun makan malam bersama dengan tenang tanpa kendala, selesai makan malam Rafael mencuci piring lalu menggendong Dira ke kamar karena waktunya tidur.
"Besok Dira sekolah?" tanya Dira,
"Tidak, kamu masih sakit besok juga kan hari minggu." ucap Rafael.
Dira diam dan juga baru ingat, setelah itu mereka pun tidur.
Keesokan paginya.
"Emh..." Dira terbangun kala sebuah sinar mentari menebus jendela kamar, Dira duduk mengumpulkan kesadaran setelah tersadar Dira terdiam kala melihat sebuah tangan melingkar pada perutnya.
Perlahan Dira melepas pelukan itu lalu beranjak dari tempat tidur, Dira mengambil handuk dan pakaian lalu pergi mandi.
__ADS_1
30 menit kemudian.
Dira telah selesai mandi, saat membuka pintu. Dira di kagetkan dengan tiba tiba Rafael sudah di depan pintu, hampir ia terjatuh terpeleset kalau tidak ditahan Rafael.
Rafael menggendong Dira ke tempat tidur,
"Kalau mau kemana mana bilang Mas." ucap Rafael.
"Tadikan Dira cuma mandi." Ucap Dira lirih tapi di dengar Rafael,
"Tapi kalau jatuh terus kepentok lagi dahi mu gimana?" jawab Rafael.
"Jelek amat doanya." celetuk Dira
"Sapa juga doa in kalau beneran?" jawab Rafael.
Entah apa pagi ini di awali adegan perdebatan Rafael dengan Dira karena masalah Dira ngilang cuma mandi doang.
Dan kali ini mereka di meja makan, Rafael tengah memasak dan Dira diam karena kakinya belum sembuh total tapi karena remaja yah biasa gak mau diam.
"Bosen." itulah kata yang terus di ucapkan Dira.
"Mas Dira bolehyah..." Dira mulai merenggek satu kata untuk itu...
"Tidak." jawab Rafael, wajah Dira cemberut kenapa pula kakinya keseleo juga bosen lagi ditambah itulah yang dipikiran Dira hingga sebuah motor berhenti di halaman rumah mereka.
"DIRA..." Kiran datang yang tadi cemberut jadi senang Dira menghampiri dan memeluk Kiran tak peduli kakinya sakit atau tidak.
"Gimana keadaan kamu?" tanya Kiran
"Udah baikan." ucap Dira mereka duduk dirumput sambil becandaan tidak peduli ada suaminya aatau tidak.
__ADS_1
"Dari mana kok bisa mampir?" tanya Rafael sibuk menjemur.
"Dari Dokter, Kiran periksa dan ngerenggek minta ke Dira." ucap Xander, lalu...
"Sejak kapan lu bisa cuci? perasaan waktu masih sendiri sering lu laundry?" celetuk Xander heran.
"Kalau gw pergi laundry istri gw bisa ngilang." ucap Rafael masuk untuk menaruh bak cucian.
Tak lama Rafael kembali sambil membawa minuman dan cemilan, mereka berempat duduk di rumput.
"Gak lu kasih racun kan?" tatap tajam Xander,
"Gak, palingan gw kasih garem khusus buat lo..." ucap santai Rafael sambil makan cemilan dan...
Byur...
Tepat sasaran Xander menyembur minumannya tak sengaja tepat di wajah Rafael, membuat kedua orang wanita yang tadi bercanda menoleh ke arah mereka.
"Apa apaan lo. ntenbur segela ke gw.." ucap Rafael, Dira menganvil sapu tangannya lalu memberikan kepada Rafael.
"Yeh...tadi bilang lo masukkin garem ke minuman gw yah gk sengaja kesembur." ucap Xander, Kiran memcubit lengan Suaminya.
"Kurang debest itu mah..." ucap Dira.
"Hah?" ketiganya bingung.
"Kenapa gak sekalian pakek selang tuh, biar puas." ucap Dira menunjuk selang dekat mereka.
Rafael hanya geleng kepala.
"Bener juga." ucap Xander.
__ADS_1
"(¬_¬)" seperti inilah wajah Rafael.
Bersambung.