
Lanjut
.
.
.
.
.
3 Bulan kemudian.
Bulan berganti Bulan, Menurut Rafael dan beberapa teman Dira tingkah Dira semakin hari kadang makin aneh. Dira gampang merengek dan kadang muntah tanpa sebab.
Kadang selalu menginginkan sesuatu tak masuk akal ditengah malam, dan sering kadang kram di perutnya.
Hingga suatu hari, Hari Minggu.
Taman.
Dira dan yang lain sedang piknik bersama, dari keluarga kecil Adi Jovanka, Keluarga Xander Wiliam, dan Keluarga kecil Rafael Mahendra.
Hari ini mereka Piknik bersama, menemani anak anak bermain dan saling berbagi cerita masing masing.
"Dira perut mu kok agak besar yah?" tanya Kiran menatap perut Dira yang agak besar dikit, Dira menatap perutnya dan mengelus.
"Gak tahu." ucap Dira mengakat bahunya.
__ADS_1
Xyli menatap perut Dira intens hingga,
"Kamu hamil Dira?" celetuk Xyli membuat anak anak dan para ayah menoleh terutama Rafael.
"Masak sih Li?" bingung Dira lalu beralih pandangan ke Rafael.
"Kayak deh, dulu waktu aku hamil Adriana baru ketahuan pas kandungan 3 bulan lebih seminggu." ucap Xyli mengingat pertama kali ia hamil Adriana,
"Sepertinya, mending Dira cek ke Bidan." ucap Adi juga menyahut.
Rafael dan Dira saling menatap, Rafael mengangguk setuju bisa saja sih.
Sedangkan anak anak malah bingung kecuali Raden, Hamil? apa itu. Itulah yang berada di benak Vier, Dafi, dan Adriana. Ketiga anak ini lalu langsung berlari ke arah orangtua mereka.
"Papa Hamil itu apa?" tanya Adriana polos kepada Papanya,
"Hamil itu bentar lagi ada Adek bayi baru." ucap Adi mengelus rambut Putri kecilnya ini.
Vier berlari memeluk Bundanya lalu mengecup kedua pipi Bunda Kiran,
Kiran tahu Vier juga mau adek cuma...
"Maaf yah sayang.." ucap Kiran mengelus kepala Vier lembut, Vier hanya mengangguk dan menenggelamkan wajahnya di leher sang Bunda.
"Vier mau adek?" tanya Dafi, Vier menoleh ke Dafi dan mengangguk semua diam.
"Kalau benar Bundaku hamil, Adik Dafi bakal juga jadi Adeknya Vier. Nanti kita urus bersama." ucap Dafi tersenyum cerah.
Vier tersenyum manis hingga...
__ADS_1
"Wah..Vier senyum, biasanya kayak es batu." celetuk Adriana seketika semuanya tertawa memang ada benarnya Vier jarang tersenyum.
"Yaudah Yok lanjut main." ajak Raden, ketiga adeknya berlari mendekati Raden.
Mereka berempat bergandeng bersama menuju tempat bermain.
Menjelang siang, anak anak kelelahan. Piknik telah usai mereka pulang kerumah masing masing namun sebelum Pulang, Rafael membawa Dira menuju Bidan atau dokter kandungan.
Sampai Rumah sakit, Ruang dokter kandungan.
Dira di baringkan di sebuah ranjang, Dokter memeriksa Dira sebentar. Lalu membuka baju atasan Dira hanya bagian perut lalu mengoleskan sebuah gell keperut Dira.
Setelah itu sebuah alat menempel pada perut Dira dan digerakkan oleh Dokter, alat itu menyambung pada sebuah layar monitor kecil dan menampakkan sesuatu bulatan kecil yang berada di perut Dira.
Dokter tersenyum, selesai menjalani pemeriksaan mereka duduk berhadapan dengan Dokter.
"Bagaimana Dokter?" tanya Rafael, kedua anak mereka di pangku dan menatap Dokter polos.
"Selamat Ibu Dira tengah hamil 3 bulan lebih 3 minggu, sebentar lagi naik ke 4 bulan." ucap Dokter.
Seketika terbentuk raut wajah senang di antar Rafael dan Dira,
"Bu Dokter jadi Bentar lagi ada dedek bayi?" tanya Dafi
"Iya.." jawab Dokter, Dafi tertawa senang.
"Besok kan dokter lahir adeknya?" tanya Dafi polos,yang mendengar terkekeh dengan pertanyaan Dafi.
"Bukan besok Dafi, tapi tunggu 5 bulan lagi." jelas Raden menunjukkan jari angka 5, Dafi mengangguk paham.
__ADS_1
Setelah itu mereka pamit pulang kerumah, tak lupa menebus vitamin untuk Dira juga.
Bersambung.