Nikah Dadakan Dengan Guru

Nikah Dadakan Dengan Guru
NDDG\\45{Aaa...lucu}


__ADS_3

Hingga suatu malam..


"Oe...oe..."


Rosa sering kali menangis tengah malam, dan Rafael tentu selalu tahu seperti dulu Dafi pernah waktu bayi. Tapi biasanya Dira lah yang paling cekatan.


Rafael bangun dan menatap tempat tidur bayi, putrinya menangis kehausan. Rafael segera mengambil botol susu dan menghangatkannya di dapur. selesai menghangatkan Rafael segera memberikannya pada Rosa agar tenang kembali.


Rafael duduk sambil menggendong Rosa yang lahap meminum susu, Rafael menatap Rosa. Bibir dan mata Rosa mirip Bundanya cantik, itulah yang dipikiran Rafael.


"Rosa kangen bunda hem?" gumam Rafael menatap putrinya.


"Besok kita ke Bunda sama kakak Raden dan Kak Dafi yah.." ucapnya lagi.


Selesai minum susu, Rosa tenang dan tidur. Rafael meletakkan Rosa pada tempat tidur bayi dengan perlahan, setelah menidurkan Rosa.


Rafael mengecek ke kamar kedua putranya.


Kamar Raden & Dafi.


Ceklek..


Rafael melihat, kedua anaknya terlelap tidur tapi seranjang sambil sebuah foto di tengah mereka.


Rafael mendekat dan melihat ternyata Foto Dira, air mata Rafael menetes anak anak rindu Bundanya.


Rafael mengambil perlahan bingkai foto itu dan meletakkannta pada meja kecil, ia menarik selimut hingga menutip sebagian tubuh anak anak dan mengecup keningnya.


"Doakan Bunda cepat bangun, dan kumpul lagi." gumam Rafael perlahan keluar dan menutup pintu kamar.

__ADS_1


Rafael kembali ke kamarnya dan melanjutkan tidur malamnya.


Keesokan paginya.


Seperti pagi biasa namun sedikit berbeda, Rafael bangun pagi mempersiapkan anak anak sekolah, memasak, lalu ia memandikan Rosa dan bersiap bekerja.


Dimeja makan, Sarapan Pagi.


"Ayah Rosa di tempat nenek nanti?" tanya Raden.


"Iya, nanti kalian dijemput Nenek sama kak Cici." jawab Rafael sambil melirik Rosa yang minum susu.


Selesai semua sarapan, mereka menggunakan taksi menuju sekolah dahulu lalu ke rumah Bunda maya dan Ibu Desi.


Selesai mengantar anak anak sekolah, Rumah keluarga.


"Iya kamu jangan khawatir Rafael, dah sekarang kamu berangkat kerja ntar telat." ucap Bunda.


Rafael mengangguk, ia pun pergi berangkat menuju sekolah.


Di sekolah SMA.


Rafael fokus mengajar tentu namun kadang pikirannya memikirkan anak anak,terutama Rosa yang masih bayi.


"Pak Pak Rafael saya tanya.." ucap salah satu murid membuyarkan lamunan Rafael,


"Yah tanya apa?" jawab Rafael dia harus bersikap prefesional pada pekerjaan.


Sedangkan di sekolah TK.

__ADS_1


Dafi dan Raden idak terlalu bersemangat, Vier dan Adriana saling menatap mereka tahu apa yang terjadi pada Bunda Dafi dan Raden.


"Dafi kak Raden, jangan sedih terus dong. kasihan Bunda ntar tahu kalau kalian sedih. dan juga Rosa kecil." ucap Adriana mengurucutkan bibirnya.


Dafi menatap Adriana lalu ke arah sang kakak,


"Benar kata Adriana, kasihan Rosa.." ucap Vier datar mengiyakan perkataan Adriana tadi.


Kedua adik kakak ini saling menatap lalu menghela nafas, keduanya memasang senyum manis.


"Iya deh kita gak sedih, oh yah kalian mau lihat adek gak?" ajak Raden, keduanya mengangguk semangat terutama Vier ia ingin tahu baby Rosa secantik apa.


Skip..


Pulang sekolah.


Sesuai perjanjian mereka kerumah keluarga besar Mahendra.


Sampai dirumah.


Anak anak pergi ke kamar Rafael dan Dira, mereka melihat Rosa yang tidur sambil sedikit menggerakkan tangan mungilnya.


"Wah Rosa cantik banget." puji Vier sedikit menoel pipi mungil Rosa.


">_< Aaaa lucu..." ucap Vier lagi kegemasan, Dafi menatap Vier.


Vier sangat ingin punya adik makanya jika lihat adik bayi bakal kegemasan sendiri.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2