Nikah Dadakan Dengan Guru

Nikah Dadakan Dengan Guru
NDDG\\35{Hujan Petir}


__ADS_3

Skip..


Sampai dirumah.


Mereka pun masuk ke dalam rumah, anak anak menganti seragam. Selesai menganti seragam mereka ke meja makan menanti makan siang yang sedang dibuatkan oleh Bunda.


"Bunda, Dafi laper." rengek Dafi,


"Bentar yah sayang, bentar lagi matang kok." ucap Dira, setelah makanan siap mereka pun makam siang bersama.


Selesai makan siang.


"Bunda kita main di halaman yah.." ucap Raden minta ijin, Dira mengiyakan. Anak anak pun pergi bermain di halaman rumah, Dira ia mencuci piring setelah itu menyetrika baju sambil mengawasi anak anak yang bermain.


Dihalaman.


"Ngeng....Tin..tin.." Dafi menarik mainan mobil mobilannya kesana kemari, Raden dia main bongkar pasang dari kayu dan juga mengawasi adiknya.


"Kakak ayo main mobil, kita balapan." ajak Dafi, Raden berfikir lalu menyetujui nya. Raden membuat Garis Start dan garis Finis, setelah siap Raden mengikat ujung depan mobilnya dengan tali seperti adiknya.


Setelah siap..


"1...


2....

__ADS_1


3....


Mereka berlari menuju garis finis bersama, siapa cepat dialah yang menang.


Dan..


"Yeee...Dafi menang.."Dafi tersenyum kemenangan karena ia menang dari kakaknya, Raden tersenyum menatap sang adik yang begitu ceria.


"DAFI...RADEN AYO MASUK MAU HUJAN.." Panggil Dira, keduanya membereskan mainan dan segera masuk dan seketika hujan turu. dengan deras.


"Yaudah istirahat dan tidur siang ok.." ucap Dira membawa anak anak ke kamar menidurkan mereka, setelah mereka tertidur.


Dira duduk di sofa sambil baca novel dan minum teh, Dira sempat menoleh ke arah luar perasaannya tiba tiba menjadi khawatir terhadap Rafael yang masih bekerja.


Dira menggelengkan kepala dan berusaha menghapus firasat buruknya,


JDERRR...


Petir menggelengar begitu kencang dan seketika dari kamar anak anak, ada suara tangis. Dira berlari ke kamar anak anak dan mendapati kedua anaknya menangis ketakutan sambil berpelukan.


"Anak..anak.." Dira segera memeluk kedua anaknya yang menangis, Dira menatap jendela di kamar anaknya Deras hujan sangat lebat. Perasaan Dira sangat sangat khawatir menatap hujan itu.


"Hiks..Bunda mau ayah...hiks.." Tiba tiba Dafi merengek minta Ayah Rafael, disusul Raden juga. Dira berusaha menenangkan dan memberi pengertian bahwa ayah sedang bekerja.


Tapi anak anak terus menangis dan merengak, ia lalu membawa anak anak keruang tamu dan mereka duduk di sofa dan memeluk anak anak. Dan anak anak terus menangis meminta ayah Rafael, tanpa sadar air mata Dira menetes perasaannya membuat ia takut.

__ADS_1


Perlahan sebuah bayangan berkelebat di hadapan Dira, dan Dira terkejut menatap bayangan yang begitu cepat melewatinya.


"Mas Rafael, cepat pulang.." Dira berucap lirih air matanya terus menetes berharap suaminya segera pulang.


Dan..Blam..


Lampu padam, Dira segera meraih hp dan menyalakan senter hp ia masih tetap mendekap anak anak dalam pelukannya.


"Bunda hiks..suruh a..ayah pulang.." ucap Raden sesegukan, Dira mengecup kening kedua putranya dalam hatinya semoga suaminya baik baik saja.


Sejam dua jam keheningan dan suara tangisan dan termasuk hujan disertai petir masih menggelengar.


Tring...Tring...


Hp Dira berdering, Dira menatap siapa yang menelefonnya ternyata Rafael.


Dira mengakat telfon itu..


Dan...


Jderr...


Tak.....


Petir menggelengar dan seketika Hp Dira terjatuh dari tangan Dira air mata Dira menetes, ia menangis anak anak menatap Bundanya.

__ADS_1


"Bunda..Bunda kenapa?kenapa Bunda me..menangis.." ucap Raden menatap Bundanya Menangis.


Bersambung.


__ADS_2