
Malam hari tiba.
Kini keluarga besar makan malam bersama dan sesekali mendengar celoteh dari Raden entah apa yang ia celotehkan dan membuat semua gemas lantaran pipi gembul Raden memgembang.
"Raden udah yah, fokus makan sayang kenapa hem?" Dira menyuapi Raden, Raden mengayunkan tangan ke arah Dira dan pipinya tiba tiba kembang kempis seakan ingin menangis.
"Hwa...Buna..hiks.." dan pecalah tangis Raden, Dira terkejut kenapa tiba tiba Raden menangis.
Dira segera menggendong dan menenangkan namun tidak kunjung tenang, Dira khawatir ada apa dengan Raden tiba tiba menangis.
"Kenapa hem.." Dira menenangkan dan saat memegang dahi Raden...
"Kenapa Dira?Raden?" tanya Bunda juga khawatir melihat cucunya menangis tanpa sebab,
"Badannya hangat Bunda.." ucap Dira menenangkan Raden yang menangis.
Dira segera pamit ke kamar ia mengambil tas bayi, Dira mengambil KulFaver dan menempelkannya pada Raden.
Dira segera meminumkan Raden susu namun Raden tidak mau dan menangis, Dira hampir kewalahan karena Raden terus menangis dan Rewel.
Tak lama Rafael datang sambil membawa bubur Raden tadi dan obat,
"Raden makan dulu yuk sama ayah.." bujuk Rafael. Raden menoleh dan ia pindah alih dan makan walau sedikit rewel. setelah itu meminum obat, setelah minum obat perlahan Raden tertidur dan tenang.
__ADS_1
Cup..Cup..
"Tidur nyenyak yah.." ucap Rafael
"Cepat sembuh sayang.." ucap Dira lalu menatap Rafael,
"Makan dulu gih ntar kasihan baby yang di dalam, bentar aku ambilin." ucap Rafael pergi sambil membawa nampan berisi bekas makan Raden, dan mengambil makanan untuk Dira.
Tak lama Rafael kembali membawa makanan, Dira pun makan drngan tenang sambil sesekali melirik Raden.
"Mas.." panggil Dira,
"Apa.." tanya Rafael.
"Beliin Siomay yah..Pengen.." Ucap Dira manja, Rafael mengangguk ia mengambil jaket dompet kunci motor dan helm ia pergi mencari Siomay pesanan Istrinya.
Puk..
Dira dikejutkaan dengan seseorang menepuknya,
"Astaga Bunda kagetin aja, ada bunda?butuh sesuatu?" tanya Dira namun Dira heran wajah mertuanya agak pucat beda tadi saat makan malam bersama.
"Raden bagaimana?" tanya Bunda memberi senyuman tipis
__ADS_1
"Udah tidur syukur tadi mau minum obat dan panasnya rada turun kok Bunda." ucap Dira mengelap tangannya dengan serbet, Bunda mengangguk lalu pergi.
Dira kembali ke kamar namun saat perjalanan menuju Kamar,
"Loh bunda mau kemana?" tanya Dira
"Mau ke dapur kenapa?" tanya Bunda
"Lah tadi bukannya udah ke dapur Bun, dan Bunda apa sakit?" tanya Dira beruntun merasa heran.
"Lah Bunda loh baru aja keluar kamar kapan Bunda ke dapur? dan juga bunda gak sakit kok." ucap Bunda, Dira terdiam lalu melirik seseorang yang duduk di pinggir kasur kamar Dira dan Rafael.
"Kenapa nak?" tanya Bunda khawatir, Dira menggelengkan kepala ia hanya bertanya saja.
Dira segera ke kamar siapa yang duduk di kasur apalagi dekat Raden, takut kenapa napa Raden.
Baru saja masuk satu langkah ke kamar, Orang itu mengecup kening Raden dan perlahan menghilang. Dira seketika tersentak kaget dan hampir terjatuh kalau tidak berpegangan.
Dira segera mengambil Raden dan keluar, Dira berjalan menuju ruang tamu ia ingin menunggu suaminya datang perasaan khawatir dan takit menyelimuti hatinya.
Tak lama Rafael datang membawa Siomay pesanan Dira, Baru saja sampai Rafael di herankan dengan Dira yang sedikit takut bahkan tadi ia panggil malah kaget dan ketakutan.
"Ada apa sayang kenapa?kenapa kamu takut?" tanya Rafael, Dira menggelengkan kepala lidahnya terasa keluh untuk berbicara.
__ADS_1
"Yasudah nih siomaynya udah mas beliin, ayo dimakan." ucap Rafael, Dira mengangguk dan berusaha menghapus apa yang ia lihat tadi di dapur sekaligus di kamar.
Bersambung