
3 Hari kemudian.
Sudah 3 hari Rafael berada di rumah sakit dan masih menutup matanya rapat, Dira ia mengurus Rafael dirumah sakit dan Anak anak ia titipkan pada Bunda dan Bu Desi.
Anak anak juga tidak menjadi seceria dulu semenjak Ayah mereka masuk rumah sakit, mereka sering murung dan merindukan kedua orang tua mereka.
Diruang rawat.
Tok...
Tok...
Iki
Suara ketukan menyadarkan Dira dari lamunannya, Dira membuka pintu ternyata Bunda dan anak anak.
"Bunda ada apa? Baru pulang sekolah anak anak?" tanya Dira, Bunda menatap Dira sedih. Tubuhnya menjadi sedikit kurus karena Dira jarang makan dia selalu menjaga Rafael tanpa kenal lelah.
"Anak anak ingin menginap disini dan bersama orangtuanya. Lagiam besok minggu kok Dira." ucap Bunda, Dira menatap anak anak ya dan tersenyum mengangguk.
"Baju mereka udah ada di tas, jadi tinggal mandi aja dan kerjain pr yang ada." ucap Bunda lalu pamit pulang, Dira memgandeng anak anak masuk. Dira mengambil tas anak anaknya sedangkan kedua anaknya mengobrol dengan Rafael yang masih terpejam.
__ADS_1
"Kalian udah makan?" tanya Dira, kedua anak nya menggelengkan kepala.
"Yaudah, Raden Dafi ganti baju. dan jangan kemana mana Bunda mau beli makanan dulu ok." ucap Dira dan dijawab kedua anaknya iya dan patuh, Dira pun keluar pergi mencari makanan untuk anak anak.
Sedangkan Anak anak.
"Ayah kapan bangun yah kak? Dafi kangen banget." ucap Dafi menatap ayahnya yang terpejam, Raden mengelus rambut sang adik dengan lembut lalu mengecup kening nya.
"Sebentar lagi, dan sekarang Dafi ganti baju habis Dafi terus kakak." ucap Raden, sang adik mengangguk dan pergi menganti baju.
Sepeninggalan Adik menganti baju, Raden menatap sang ayah dan perlahan ia terisak.
"Hiks..Ayah Raden kangen...Dafi dan Bunda juga hiks...ayo bangun.." Ucap Raden terisak, perlahan Raden mengecup kening Rafael dan pipinya.
"Ayah cepat bangun..." gumam Dafi menatap sang ayah yang terbaring, tak lama kakaknya sudah selesai berganti baju.
Raden mengajak adiknya untuk mengerjakan pr dahulu, mereka pun mengerjakan Pr bersama sama.
2 jam kemudian, Ceklek...
Pintu ruang rawat terbuka menampakkan Dira yang telah kembali seusai mencari makanan untuk anak anaknya, Dafi dan Raden tersenyum mereka membereskan pekerjaan rumah mereka.
__ADS_1
Dira membeli 2 bungkus bubur ayam untuk kedua putranya, Dira membuka bungkusan pertama dan perlahan menyuapi kedua putranya.
"Bunda sudah makan?" tanya Raden, Dira tersenyum.
"Belum sayang, tapi nanti Bunda makan kok. Kalian makan yang kenyang yah." ucap Dira menyakinkan kedua anaknya.
Raden tidak percaya dia mengambil sendok, lalu juga mengambil bungkusan berikutnya dan menyuapi Dira.
"Makasih sayang." ucap Dira, Raden mengangguk. Mereka makan bersama sama.
Menjelang malam.
Pukul 20.00
Anak anak telah terlelap tidur di sofa dan Dira berjaga, Dira duduk di samping Rafael dan menggengam tangan Rafael sesekali juga mengecupnya.
"Cepat bangun Mas." gumam Dira meletakkan kepalanya di ranjang, perlahan matanya terasa berat dan tertutup.
Keesokan Paginya.
Ruang rawat.
__ADS_1
Raden dan Dafi masih tidur maupun Dira hingga sebuah mata terbuka perlahan dan tidak ada yang menyadarinya, Mata itu mengerjap dan memperhatikan sekitarnya dia sedikit merasa nyeri di kepala, tangan dan Kakinya.
Bersambung.