
Jam istirahat.
Dira dan Kiran pergi keruang guru untuk mengambil Baby Vier, sampai di ruang Guru.
Kiran mengambil Baby Vier dan Dira diam di depan pintu,
"Dira ingin sesuatu?" tanya Rafael ingin membujuk Dira. Tapi Dira cuek masih ngambek, Rafael menghela nafas.
"Nanti kita ke panti asuhan pelangi deh mau gak?" tawar Rafael, seketika mata Dira berbinar dan menganggukkan kepala mengiyakan.
Setelah itu mereka pun pergi ke kantin, Rafael menghela nafas lega.
Tapi ada satu guru tentu guru baru perempuan ia bingung apa hubungan Dira dan Rafael, kalau Kiran ia sudah tahu dari Guru senior.
"Hubungan Pak Rafael dengan Dira apa?" Gumamnya sesekali melirik Rafael yang makan siang.
Sedangkan di Kantin.
"Buk Pesan Bakso yang satu campur pake sambel 2 sendok ditambah emh...selao coklat kayaknya enak, satunya lagi pentol sama somay putihan saja." ujar Dira, Bu Kantin melongo bingung dengan pesanan Dira.
"Minumnya Es jeruk nipis satu lagi teh hangat." ucap lagi Dira, Bu Kantin mengangguk setelah membayar ia pun ke arah Kiran yang menyusui Baby Vier.
"Bentar Kiranlagi dibuatkan," ucap Dira sesekali memainkan kecil jari mungil Vier.
"Bentarlagi Vier dapaet adek..." ucap Dira seketika Kiran terkejut dan bingung,
__ADS_1
"Maksud?" tanya Kiran.
"Aku hamil 2 minggu." ucap Dira, mendengar itu Kiran bahagia sebentar lagi sahabatnya ini akan menjadi seorang ibu seperti dirinya.
Tak lama pesanan datang dan mereka, tapi di sisi lain seseorang mendengar perbincangan Dira dan Kiran.
"A..apa, Dira hamil..." ucapnya yang tak lain Damian yang kaget mendengar, hatinya berdenyut sakit mendengar Dira sedang hamil.
Setelah itu Damian pergi entah kemana.
Selesai makan, mereka ke kelas karena sebentar lagi akan masik dan ujian sebentar lagi akan dimulia kembali.
Skip Pulang sekolah.
"Eh Kiran aku ke toilet bentar, kamu ke halte aja duluan." ucap Dira langsung pergi ketoilet karena sudah tidak tahan.
Di toilet saat baru saja keluar seseorang membekap mulut Dira dan Dira pun pingsan, Lalu orang itu menggendong Dira menuju suatu tempat. Tapi tanpa orang itu sadari ada seorang siswi yang melihat kelakuannya,
"Siapa tuh orang ngapa bawa Dira?" ucap ia yang tak lainXyli. Perlahan Xyli sengaja mengikuti ingin tahu.
Sampai di tempat.
"Lah ini bukannya baskemnya si Damian ma temen temennya." ucap Xyli, perlahan ia memvideo perilaku Damian sampai Damian masuk kedalam setelah itu Xyli mengirimnya ke Kiran.
"Mau gw tolong apa kgk yah? tolong aja deh lagian Dira mau bantuin gw deket ama Damian." ucap Xyli sendiri perlahan mengendap endap memgikuti Damian.
__ADS_1
Sedangkan di sisi Kiran.
Kiran baru saja sampai, dia kini tengah menganti baju Vier akibat kena air gegara bapaknya tidak tepat saat siram bunga.
Ting..
Notifikasi pesan menghentikan kegiatannya, Kiran pun membukanya ternyata Xyli aslinya males untuk membalas namun ia penasaran Video apa yang di kirimXyli.
"APA...." Refleks teriak Kiran membuat Vier kaget dan Suaminya kalamg kabut,
"Ada apa Kiran?" tanya Xander ngos ngosan dari dapur.
"Di...Dira mas...Cepet hubungi pak Rafael Cepet.." ujar Kiran khawatir terus mengoyang lengan suaminya, Xander menurut dengan segera ia menghubungi Rafael.
Setelah sambungan tersambung, Kiran langsung merebut..
"Pak Dira udh ketemu?" tanya Kiran
"Belum.." ujar Rafael lesu
"Pergi kejalan ****, Dira ada disana ada Xyli juga kalau udh sampe bapak hubungi Xyli Tidak ush banyak tanya kalau bapak masih sayang Dira sama calon anak bapak juga." jelas Kiran, dengan segera Rafael menutup dan pergi ke alamat yang diberikan Kiran.
"Ada apa sih Kiran kok khawatir?lihat baby vier menangis?" tanya Xander lembut menenangkan istrinya yang khawatir,
"Dira diculik.." ucap Kiran ingin menangis, dia takut terjadi sesuatu dengan sahabatnya.
__ADS_1
Bersambung.