
Menjelang malam hari.
Dira sedang memasak dan Rafael menjaga Baby boy mereka bermain,
"Kyayaya..." Boy tertawa tekitik dengan Rafael yang terus mengelitiknya.
Tak lama Dira pun datang.
"Ayo waktunya makan, Baby juga makan.." ucap Dira menggendong Baby boy, mereka pun ke meja makan lalu makan bersama.
"Afff...Nyam nyam..."Baby makan dengan nikmat dengan suapan lembut penuh kasih sayang kepadanya.
Setelah makan mereka kembali ke kamar.
Dira menganti popok Baby boy,
"Mas enaknya baby di panggil nama apa masak Boy." ucap Dira.
Rafael berfikir dan menatap Baby boy yang minum susu di dotnya sambil memainkan jari Rafael.
"Sementara dia dipanggil Raden." ucap Rafael mengelus tangan mungil Baby boy.
"Baiklah mulai sekarang kita panggil Raden..." ucap Dira mengecup pipi Raden.
Setelah itu mereka tidur karena hari sudah larut.
Skip yah..
Seminggu kemudian.
Sudah satu minggu Baby Raden bersama Rafael dan Dira, dan hari ini adalah minggu dan..
Tok...
Tok......
__ADS_1
"Permisi, dengan Pak Rafael?" ucap seseorang yang berseragam yang ternyata Polisi, Dira, Rafael dan Raden yang lagi bermain berhenti.
"Saya sendiri, Maaf pak ada apa?" tanya Rafael.
"Ibu bayi yang anda temukan, berada di rumah sakit. Apa bapak bisa kesana? permintaan sang ibu bayi." ucap Pak Polisi, Rafael bisa mereka pun bersiap setelah itu berangkat kerumah sakit.
Namun saat perjalan Baby Raden Rewel tidak tahu kenapa, Dira sampai kesusahan menenangkan Raden yang terus menangis tapi tidak mau minum susu juga dan juga ia tidak poop.
"Ada apa dengan Raden?" tanya Rafael fokus mengendarai
"Gak tahu mas, memangis terus...Cup yah sayang kenapa hem...mau susu atau apa...Raden..." Dira menenangkan Raden yang menangis.
Sampai di rumah sakit.
Kini mereka.berjalan menuju ruangan ibu kandung Raden, dan sedari tadi Raden menunjuk nunjuk ke arah jalan ruang rawat ibu kandungnya.
Bersamaan seorang dokter dan 2 orang perawat masuk dengan tergopoh gopoh kedalam suatu ruangan.
"Tolong pak jangan masuk dahulu, kami sedang memeriksa ibu ini." ucap seorang suster masuk dan menutup pintu, Raden menangis sambil menunjuk ruangan ibunya.
Dan akhirnya Raden tidur untuk sementara waktu.
Sekitar setengah jam kemudian.
Pintu ruang rawat terbuka seorang dokter keluar,
"Permisi, ibu itu ingin menemui kalian." ucap Dokter kepada Rafael.
Dira dan Rafael masuk kedalam, terlihat ibu itu terbaring dengan beberapa alat di tubuhnya lalu menatap mereka dengan sayu sambil tersenyum tipis.
"Pu...putraku.." ibu itu berkata dengan lirih namun terdengar oleh Dira dan Rafael, Dira mendekat dan meletakkan Raden di dekapan pada ibunya. Ibu itu tersenyum dan mengusap lembut rambut anaknya,
"Maaf sayang,Ma..mama tidak bisa bersama mu lagi untuk seterusnya.." ucap ibu itu menatap Raden yang tertidur pulas.
"Maaf bu,jika saya lancang. Saya mau tahu kenapa.ibu membuang anak ibu sendiri?" tanya Dira, Rafael masih diam.
__ADS_1
"Su..suamiku baru meninggal 2 minggu yang lalu, dan keluarga suamiku ingin menjual a..anakku. a..aku terpaksa membuang a..anakku.." ucap Ibu itu sedikit terbatuk dan perlahan Raden terbangun dan menatap seseorang yang mendekapnya.
"Mwa..mama.." ucap gemoy Raden menatap ibunya, Ibu itu hanya tersenyum.
"A..aku titip a..anakku, aku sudah tidak kuat.." ucap ibu itu perlahan memberikan Raden kepada Dira.
"Yayaha.." Raden ingin mendekap ibunya tapi tidak bisa, Ibu itu menatap sayu Dira tidak tega.
"Ibu jangan berkata seperti itu, ibu pasti sembuh dan hidup bersama anak ibu dengan bahagia.." ucap Dira mengenggam tangan ibu itu, ibu itu tersenyum lalu...
"A..aku ti..titip Pu...putraku, Ma..maaf sa..sayang..." perlahan mata ibu itu tertutup sempat juga beberapa ada tetesan air mata mengalir di matanya, Dira dan Rafael terkejut apalagi suara pendeteksi detak jantung berhenti.
"Mas cepat panggil dokter..." ucap Dira kaget dan berusaha membangun kan ibu itu, tak lama dokter datang Dira keluar sambil mendekap Raden yang menangis.
Satu jam kemudian.
Dokter keluar namun wajah penuh kesedihan, Dira bertanya bagaimana keadaan ibu itu.
"Maaf saya sudah berusaha semaksimal mungkin, ibu itu meninggal dunia. kemungkinan akibat kerusakan hati ibuitu juga memperburuk kondisinya." jelas Dokter.
Dira menutup mata rapat dan menunduk lalu menatap Raden menangis keras tanpa henti, tanpa sadar air mata Dira perlahan mengalir.
"Ibu mu sudah meninggal Raden." ucap Dira lirih dan memeluk erat Raden agar memberi kehanggatan pada Bayi kecil ini.
Rafael mendekap Dira dan Raden dalam dekapan hangatnya,
"Kita yang akan merawat Raden." ucap Rafael.
Dira menatap Rafael dan mengangguk memberi senyuman.
"Mulai sekarang Raden anak kita dan namanya akan bernama Raden Mahendra." ucap Rafael mengecup kening Raden lembut.
"Kita urus pemakaman ibu Raden, lalu surat surat Raden." ucap Rafael.
Mereka memgurus semua hal dari Pemakaman Ibunda Raden dan juga surat surat penting Raden. Dan sejak itu juga Raden menjadi anak angkat sekaligus anak pertama Rafael dan Dira.
__ADS_1
Bersambung.