Nikah Dadakan Dengan Guru

Nikah Dadakan Dengan Guru
NDDG\\14.{Senggolan}


__ADS_3

Satu bulan kemudian.


Tak terasa sudah satu bulan tinggal sebulan lagi Anak kelas 12 bakal lulus dari SMA, Kini mereka tengah fokus ujian.


Kiran yang sudah menjadi ibu kadang kesulitan belajar karena Vier sering rewel, Dira? Dira baik tapi terkadang Damian mengusik nya memohon agar menerima lamaran darinya tapi kan Dira udah nikah, sudah berulang kali Dira berucap seperti itu tapi nihil ditambah lagi Damian mengancam dalam waktu dekat dia akan menghancurkan rumah tangga Dira dengan Rafael.


Dan itu yang membuat Dira kepikiran, Rafael tentu tahu dan berusaha untuk tidak membuat Dira stress takut Dira sakit kayak waktu itu.


Jam istirahat.


Dira dan Kiran tengah makan bekal di kantin sekolah sesekali sambil menenangkan Vier yang rewel,


"Kenapa yah Vier kok rewel mulu akhir akhir ini, kenapa sayang..hem.." Kiran berusaha menenangkan putra kecilnya yang menangis terus..


"Mungkin sakit atau apa Kiran, Coba aja nanti pulang sekolah kamu pergi ke dokter cek Vier." usul Dira.


Kiran mengiyakan, setelah Vier tenang dan tidur baru Kiran makan dengan tenang. Saat tengah makan....


Hampir Xyli mengebrak tapi dengan cepat di hentikan Dira agar tidak mengagetkan Vier yang tidur.


"Jan ngebrak, to the point mau apa?" ujar Dira berani, semenjak Dira berani tegas dengan Damiam dia juga tegas dengan Xyli dan Ririn.


"Jauhi Damian.." ujar Xyli


"Yaudah lo mau itukan, bantu gw jauhin. Lo berusaha deket ama dia lagian gw udah tunangan." ujar Dira menunjukkan cincinnya, Xyli kaget namun lalu bersikap biasa saja.


"Gimana gw deketin jika dia terus ngejar lo.." ujar Xyli menekan.

__ADS_1


Dira memutar bola matanya malas, lalu membisikkan sesuatu kepada Xyli lalu Xyli pergi. Dira kembali duduk dengan tenang, Kiran ia kepo apa yang di bisikkan Dira kepada Xyli.


"Gw cuma bilang tentang kesukaan Damian aja." ujar Dira lanjut makan bakso, dan Kiran hanya menjawab oh ria saja.


Tak lama bell berbunyi mereka pun masuk kekelas.


Skip pulang sekolah.


Mereka berjalan menunju halte bus menunggu suami mereka, 15 menit kemudian suami mereka telah datang. Mereka pun pulang kerumah masing masing.


Saat perjalanan.


Saat mengendarai sepeda motor, awalnya lancar saja dalam perjalanan namun...


Brak...


Rafael yang hanya mendapati luka ringan menoleh ke arah Dira yang pingsan akibat sempat terbentur sesuatu.


"Dira..." Rafael menggoyangkan tubuh Dira tapi Dira tidak kinjung sadar, dengan segera mereka membawa Dira ke rumah sakit terdekat.


Rumah sakit.


Sambil menunggu Dira di periksa, Rafael di obati salah satu perawat namun pikirannya melayang siapa yang menyenggol dia.orang itu juga tidak asing baginya.


Hingga Dokter yang memeriksa Dira keluar,


"Bagaimana Dokter?" Tanya Rafael.khawatir,

__ADS_1


"Apa pasien tengah hamil?" tanya Dokter, Rafael diam pikirannya tambah gelisah.


"Kami belum periksa dokter." ucap Rafael, Dokter hanya mengangguk.


"Saya akan panggilkan dokter Kandungan untuk di cek." ujar Dokter pamit, Rafael mengangguk lalu Rafael masuk melihat keadaan Dira yang tengah tertidur di atas ranjang Rumah sakit.


Tak lama Dokter kandungan datang dan memeriksa Dira dengan teliti, Beberapa menit kemudian.


Dokter selesai memeriksa, Dokter tersenyum lalu menatap Rafael.


"Emh umur gadis ini berapa?" tanya Dokter.


"18 tahun." jawab Rafael


"Masih muda, apa ia.." belum selesai Dokter bicara, Rafael paham arah mana pembicaraan ini.


"Istri saya dokter.." ujar Rafael


"Oalah, maaf tuan. Dan selamat Istri anda tengah hamil 2 minggu." ujar dokter, terbentuk senyuman lebar di wajah Rafael. Sebentar lagi ia akan menjadi ayah dan Dira menjadi seorang ibu.


Rafael mengusap kepala Dira dan mengecup kening Dira, Dokter tadi sudah kembali yah.


"Terima kasih.." ujar lirih Rafael tersenyum, lalu mengecup perut Dira yang masih rata.


"Baik baik Disana yah," ucap lagi Rafael tentu senyumannya begitu lebar.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2